Masih tahap revisi PUEBI 🙏
Andy Frederica, seorang mahasiswi magang di sebuah perusahaan multinasional. Suatu hari, ia harus berurusan dengan seorang presdir dingin yang sudah memiliki seorang istri.
Takdir mempertemukan mereka terus-menerus dan membuat Andy masuk lebih jauh ke kehidupan pribadi sang presdir. Mampukah ia bertahan dari jeratan cinta yang kapan saja bisa mengambil alih pikiran logisnya? Lantas, bagaimana dengan istri sang presdir?
"Ini bukan sembarang cincin. Bukan cincin pertunangan ataupun pernikahan. Cincin ini adalah simbol kalau aku adalah pembantunya. Dia adalah majikanku. Jangan pernah jatuh cinta pada majikanmu!"
"Apa!"
"Narsis sekali dia bicara begitu. Memang ini bukan cincin pertunangan. Apalagi cincin pernikahan. Ikatan cincin ini lebih sakral karena ini adalah cincin perbudakan!"
[ Andy Frederica ]
Genre : Adult Romance, friendship, family
Setting : Jakarta, Indonesia
Alur : Maju
Status. : Tamat 124 Episode
Cover : Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayu Assanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Upik Abu Dan Cinderella
Apa yang kuharapkan? Kata sambutan hangat setelah tiga hari kami tidak bertemu? Hah! Aku terlalu berlebihan.
Lift berdenting, pintu pun terbuka di lantai tujuh.
"Permisi, Tuan," kataku pelan sambil menunduk, berjalan keluar dari lift.
"Haaah....."
Untuk sesaat kuhirup udara kebebasanku usai berhasil lolos dari ruangan segiempat yang begitu menggundahgulanakan hati.
Setibanya di ruangan kantor bagian pemasaran. Mbak Sheryn menyambut kedatanganku dengan sebuah pelukan hangat. Kami banyak bercerita di sela-sela jam kerja sedang tidak sibuk. Aku mengabarkan kalau operasi mama berhasil, hanya masih harus menjalani proses pemulihan satu setengah sampai dua bulan lagi di rumah.
Selebihnya terjadi seperti biasa di kantor hari ini. Aku bekerja seperti biasa. Makan di kantin seperti biasa dan pulang dengan ojek online seperti biasa pula.
**
Pukul 7.00 malam aku bersiap untuk berangkat kerja lagi di bar bersama Yolanda. Ini semua kulakukan agar bisa cepat mengumpulkan uang untuk membayar utang pada Tuan Asland. Saat tiba di bar, hiruk pikuk suara musik begitu keras kudengar. Mungkin ada yang sedang merayakan sebuah pesta.
Sammy, manajer bar sekaligus mantan pacar Yolanda tidak banyak berbasa-basi setelah melihatku masuk kerja lagi. Ia pun menyibukan diri dengan pekerjaannya.
'Tidak apa-apa.' Aku membatin. 'Yang penting dia sudah tidak mengingat kejadian tempo hari.'
Seperti dugaanku, ada seorang wanita yang menyewa bar untuk merayakan hari ulang tahunnya. Pekerjaanku jadi lebih sibuk karena banyak tamu yang harus dilayani. Saat aku sedang membantu menyiapkan makanan di kitchen bar. Seorang wanita muda yang belum kuketahui namanya mendatangiku.
Aku baru bekerja sehari di bar kemarin. Setelah itu langsung pulang kampung, jadi belum banyak mengenal karyawan lain yang bekerja di bar ini juga.
"Andy!" panggil wanita itu.
Dia tahu namaku. Mungkin aku jadi terkenal setelah insiden bermasalah dengan Tuan Asland waktu itu.
"Iya," sahutku ramah.
"Tolong antar ini ke ruang VIP, ya." Wanita itu menyodorkan nampan berisi sebotol minuman beralkohol dan gelas.
'Tunggu dulu, kenapa kejadian ini terulang lagi? Apakah aku sedang bermimpi? Bukankah aku pernah mengalami kejadian ini? Saat seseorang menyuruhku menggantikannya mengantar minuman ke ruang VIP.'
"Andy!"
Panggilan wanita muda itu cukup keras, membuat lamunanku buyar.
"Ah, ya...."
"Tolong antar ini ke ruangan VIP, ya. Aku disuruh cepat datang ke ruangan manajer."
'Ternyata aku tidak bermimpi dan kejadian ini memang kualami lagi.'
"Tapi tunggu dulu, aku ... Eh!"
Belum selesai aku bicara, wanita itu sudah buru-buru memberikan nampannya padaku.
"Tolong ya, Ndy."
"Tapi ... Tapi, aku juga...."
Wanita itu menepuk bahuku pelan kemudian tergesa-gesa pergi.
"Masih banyak pekerjaan...."
Suaraku menguar pelan melanjutkan kalimatku yang tadi belum sempat kusempurnakan. Apa boleh buat, terpaksa harus kulakukan pekerjaan ini. Kulihat nampan yang sudah berganti posisi, berada di tanganku sekarang.
"Hhmmm...." Aku berdeham mengiringi embusan napas panjang.
Ada banyak orang di dunia ini dan masing-masing tidaklah sama. Kuharap tamu VIP kali ini juga bukan orang yang sama seperti waktu itu, amin. Kubuang pikiran buruk yang sempat hinggap lalu beranjak menuju ruang VIP White Lines Lounge And Bar.
Tok! Tok! Tok!
"Permisi!" seruku setengah berteriak agar tamu yang berada di dalam mendengarnya.
"Masuk!" Seseorang menjawab
Aku tambah yakin sekarang. Walaupun aku kembali ke ruang VIP yang sama, tetapi kejadiannya tidaklah akan sama. Waktu itu aku mengetuk pintu beberapa kali hingga cukup lama. Namun, kali ini baru sekali kuketuk sudah ada jawabannya. Aku pun yakin untuk masuk ke dalam.
Ceklek!
Dan ternyata, deng! Deng! Deng!
Hasil penerawanganku salah besar! Ini adalah ruangan VIP yang sama dan tamu yang sama pula!
Aku terkejut setengah mati. Mataku membulat saat melihat sosok tamu VIP tersebut.
"Kamu masih bekerja di sini?" tanya Tuan Asland, langsung to the point.
"I-iya Tuan, mau bagaimana lagi. Aku harus mengumpulkan banyak uang untuk membayar utang sama Tuan."
Aku yang gugup menghadapi Tuan Asland cepat menunduk lagi. Dengan hati-hati kuletakan botol minuman beserta gelas agar tidak tumpah dan menimbulkan kekacauan baru.
"Berapa gajimu di sini?" tanya Tuan Asland lagi dengan sorot mata yang masih mengawasi kegiatanku.
Kutoleh ia sebentar. "Standar, Tuan. Berharap dari uang masuk, baru bisa ada lebihnya."
"Kamu mau gaji yang lebih banyak?"
Jujur saja mataku langsung bersinar terang seperti lampu 1000 watt begitu mendengar kata "Gaji Lebih Banyak". Antusias aku bersitatap muka dengan Tuan Asland.
"Kerja apa, Tuan?"
"Jadi asistenku."
"A-apa? Asisten Tuan?" Dahiku mengernyit bingung. "Bukannya Tuan sudah punya Asisten June?"
"Maksudku jadi asisten rumah tangga," jelas Tuan Asland lagi.
"Asisten rumah tangga?"
Aku masih belum mengerti dengan ucapan Tuan Asland.
"Kalau kamu belum paham juga, maksudnya adalah jadi pembantuku. Membersihkan apartemenku. Melakukan apa yang kusuruh. Lebih tepatnya pekerjaan pembantu. Aku bisa membayarmu 3x lipat lebih tinggi dari gajimu sekarang."
Tuan Asland menjelaskan secara terperinci.
"Oh ... Jadi pembantu Tuan?"
"Ya."
"Bisa tidak kalau aku naik jabatan di kantor saja? Hehehe!"
Aku mencandainya agar suasana percakapan di antara kami tidak terlalu kaku.
"Apa kamu pikir akan jadi Cinderella? Kamu akan jadi Upik Abu!"
Tuan Asland menyeringai sinis.
'Upik abu? Malangnya nasibku.'
Sebenarnya bukan pekerjaan jadi pembantu yang kupermasalahkan. Namun, kepribadian Tuan Asland-lah yang membuatku takut untuk berada di sekitarnya.
"Kamu mau gaji lebih banyak, kan? Aku cuma berusaha membantu. Tidak ada uang jatuh dari langit secara tiba-tiba. Kalau kamu mau mendapatkan yang lebih. Kamu juga harus bekerja lebih keras."
'Wah, kata-kata bijak seorang pengusaha. Sekarang dia menyeramahiku.'
"Mau tidak?" sergah Tuan Asland.
"Tuan, aku masih...."
"Bukan aku masih, jawabannya mau atau tidak?"
Belum selesai aku bicara, Tuan Asland sudah memotong.
"Iya, aku mau, Tuan."
"Mulai besok malam kamu pindah ke apartemenku."
"Haah, pindah?" Sontak aku terkesiap.
"Ya, kamu harus tinggal di apartemen itu."
"Kenapa aku tinggal di sana, Tuan?"
"Kamu bekerja jadi pembantu. Jadi kamu tinggal di sana untuk bersih-bersih."
"Eum ... Maaf. Kalau boleh tahu, apa Tuan tinggal di situ juga?"
"Aku cuma sesekali datang untuk bekerja. Itu bukan tempat tinggal utamaku. Tidak ada orang yang mengurusnya. Makanya perlu pembantu untuk mengurus apartemen itu."
"Oh, begitu."
"Ya sudah. Besok malam kamu datang."
"Kenapa harus malam, Tuan?"
"Karena dari pagi sampai sore kamu bekerja di kantorku."
"Oh iya juga, ya. Hehehe!" Aku cengengesan.
"Kalau mau jadi asistenku, kamu harus bersikap lebih tegas. Sigap menjawab dan segera melakukan apa yang kuperintahkan. Jangan terlalu linglung seperti ini. Seperti orang bodoh!" omelnya panjang lebar.
"A-apa, linglung?"
Sumpah, aku luar biasa malu disebut seperti itu.
"Karena kamu mau menjadi pembantuku, orang yang akan membantuku. Makanya aku mau kamu bersikap lebih tegas!"
"Baik Tuan!"
Aku mencebik dan menekuk sedikit wajahku. 'Tidak apa-apa dipanggil linglung. Demi gaji besar, Andy!'
"Kamu sudah mengerti?"
"Sudah Tuan."
"Sekarang pergi dari sini!"
"Ya Tuan, permisi."
Kuanggukan kepala singkat untuk menghormatinya sebagai tamu VIP, barulah aku keluar dari ruangan itu.
***
BERSAMBUNG...
andykqn udh di katai prlacur di maluin pas tmt orang ramai di katai pembantu
coba andynya tegas sedikit thor punya harga diri gitu
jangan mudah luluh lg dengan aslannya
Apa novel nya sudah direvisi yak ?
coz aku caba dikolom komentar banyak yg bingung sama alurnya 😅
serem² nagih yg modelan begini
bisa untuk d rekom pada teman untuk d bacz