"Kamu emang jenius, kenapa dingin banget sih?"
"Gapapa."
"Gapapa apanya? kamu tuh dingin kayak... Es krim ini."
"Iya. Es krim itu juga kan.... manis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alfphyrizhmi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 18
BAB 18 — Pembelaan Naufal
Kabar burung di SMA Pelita Bangsa terbang lebih cepat daripada kecepatan cahaya.
Hanya dalam waktu dua jam setelah insiden di kelas matematika, narasi sudah bergeser. Vivie, dengan kemampuan manipulasi sosialnya yang luar biasa, berhasil memutarbalikkan fakta. Di kantin, di toilet, di grup WhatsApp angkatan, cerita yang beredar bukanlah "Vivie kalah adu rumus", melainkan "Mayang mencuri kunci jawaban Pak Hendra saat piket kebersihan".
Manusia lebih suka percaya pada skandal yang menjatuhkan orang miskin daripada mengakui prestasi mereka. Itu hukum alam di sekolah elit ini.
Mayang duduk di bangkunya, mencoba fokus membaca novel sastra lama yang dia pinjam dari perpustakaan daerah. Tapi sulit. Bisik-bisik di sekelilingnya seperti dengungan lebah yang mengganggu.
“Gila ya, tampang polos tapi maling.” “Katanya dia buka laci Pak Hendra pas lagi nganter teh.” “Pantesan 98. Einstein aja nggak mungkin ngerjain soal itu dalam dua menit.”
Mayang membalik halaman bukunya dengan kasar. Sabr. Sabr.
Naufal belum kembali ke kelas sejak istirahat tadi. Bangkunya kosong. Vino juga tidak ada—mungkin sedang di markas OSIS atau di lab komputer.
Mayang sendirian di tengah kepungan musuh.
Pintu kelas terbuka.
Vivie masuk. Matanya masih sembab sisa menangis, tapi dagunya diangkat tinggi. Dia dikawal oleh Sarah dan Oline. Seperti ratu yang kembali dari pengasingan, siap merebut tahtanya kembali.
Vivie berjalan lurus ke arah Mayang.
Dia berhenti di depan meja Mayang. Tangannya menggebrak meja. Brak!
Mayang tidak terlonjak. Dia hanya menaikkan pandangannya pelan dari buku.
“Ada apa lagi, Vivie? Belum cukup malunya?” tanya Mayang tenang.
“Lo yang harusnya malu!” jerit Vivie. Suaranya pecah, histeris. “Lo pikir gue nggak tahu trik lo? Lo hapal mati kunci jawaban itu, kan? Lo manfaatin akses piket lo buat nyuri data!”
“Itu tuduhan serius, Vie. Tanpa bukti, itu fitnah.”
“Bukti? Nilai 98 lo itu buktinya! Mustahil anak pasar kayak lo bisa ngalahin gue yang les di Brain Academy!” Vivie menunjuk wajah Mayang dengan telunjuk yang gemetar.
Kerumunan mulai terbentuk. Siswa-siswa lain merapat, menyiapkan ponsel untuk merekam. Drama babak kedua dimulai.
“Ngaku aja, Mayang! Lo curang kan? Lo nggak pinter, lo cuma licik!” hasut Sarah.
“Iya! Ngaku! Kita laporin ke Yayasan biar beasiswa lo dicabut! Maling nggak pantes sekolah di sini!” timpal Oline.
Tekanan massa. Mayang dikeroyok.
Mayang menutup bukunya. Dia berdiri.
“Saya mengerjakan soal itu di depan mata kalian semua. Di papan tulis. Langkah demi langkah. Apa itu belum cukup?”
“Itu akting! Lo cuma nyalin hapalan lo!” bantah Vivie. “Lo sampah, Mayang. Sampah yang nyusup ke istana. Lo bikin sekolah ini kotor!”
Kata sampah itu memicu memori Mayang. Vino pernah menggunakan kata itu untuk membungkam Vivie. Sekarang Vivie menggunakannya balik.
Mayang mengepalkan tangan. Emosinya mulai naik. Dia manusia biasa. Dia punya batas.
“Tarik ucapanmu, Vivie,” suara Mayang memberat.
“Nggak mau! Lo sampah! Lo miskin! Lo curang!” teriak Vivie makin menjadi-jadi, mendorong bahu Mayang keras.
Mayang terdorong ke belakang, pinggangnya menabrak meja. Sakit.
“Heh! Cukup!”
Sebuah teriakan laki-laki menggelegar dari ambang pintu.
Semua menoleh.
Naufal berdiri di sana. Wajahnya merah padam, rambutnya berantakan, napasnya memburu seolah dia baru saja lari maraton dari gerbang depan. Seragamnya basah oleh keringat.
Naufal menerobos kerumunan siswa. Dia menepis tangan Oline dan Sarah yang menghalangi jalan. Dia berdiri tepat di depan Mayang, memasang badannya sebagai tameng hidup.
“Mundur lo semua!” bentak Naufal. Matanya nyalang menatap Vivie.
“Naufal, minggir. Jangan belain maling ini,” kata Vivie sinis. “Dia pake pelet apa sih sampe lo sebucin ini?”
“Tutup mulut lo, Vivie!” Naufal menunjuk wajah Vivie, jaraknya hanya beberapa senti. “Lo nggak tahu apa-apa soal dia!”
“Gue tahu dia curang! Nilai 98 itu nggak masuk akal!”
“Masuk akal!” teriak Naufal. Suaranya bergetar karena emosi yang meluap.
“Gue saksinya! Gue liat sendiri usahanya!”
Naufal berbalik menghadap teman-teman sekelasnya. Dia membuka kedua tangannya lebar-lebar, seolah sedang bersaksi di pengadilan Tuhan.
“Kalian tahu Mayang ngapain setiap malem? Hah? Kalian tahu?!”
Hening. Tidak ada yang menjawab.
“Saat kalian sibuk nongkrong di kafe, saat kalian main game, saat kalian tidur nyenyak di kasur empuk ber-AC... Mayang belajar!”
Naufal menatap Vivie tajam.
“Minggu lalu, gue mampir ke rumahnya malem-malem buat balikin buku. Jam sebelas malem. Kalian tahu gue liat apa?”
Naufal menelan ludah, menahan tangis yang mendesak keluar. Bayangan malam itu masih menghantuinya.
“Gue liat dia ketiduran di lantai, di samping gerobak buburnya. Di tangannya ada buku Matematika bekas yang udah sobek-sobek. Dan di idungnya...”
Suara Naufal pecah.
“...di idungnya ada tisu penuh darah. Dia mimisan! Dia belajar sampe mimisan, sampe pembuluh darahnya pecah karena kecapekan! Tapi dia nggak berhenti. Dia bangun, dia cuci mukanya, terus dia lanjut ngerjain soal lagi sampe subuh!”
Air mata menetes di pipi Naufal. Dia tidak malu. Dia terlalu marah untuk merasa malu.
“Itu harga nilai 98 dia, Vivie! Darah! Keringat! Bukan duit les kayak lo!”
Naufal maju selangkah lagi, mendesak Vivie mundur.
“Lo bilang dia curang? Lo yang curang! Lo lahir dengan semua fasilitas, tapi lo masih kalah sama cewek yang belajar pake lampu 5 watt! Siapa yang sampah sekarang? Hah?!”
Vivie terdiam seribu bahasa. Wajahnya pucat pasi. Kata-kata Naufal menamparnya lebih keras daripada rumus matematika mana pun.
Seluruh kelas terpaku.
Kisah "belajar sampai mimisan" itu menghantam nurani mereka. Bagi anak-anak orang kaya ini, belajar adalah kewajiban yang membosankan. Tapi bagi Mayang, itu adalah pertaruhan nyawa. Narasi Naufal mengubah Mayang dari "tersangka" menjadi "martir".
Mayang menatap punggung Naufal. Matanya basah.
Dia tidak tahu Naufal melihat kejadian itu. Malam itu memang dia mimisan karena kelelahan ekstrem setelah membantu Budhe mengangkat beras karung. Dia pikir tidak ada yang tahu.
“Naufal...” bisik Mayang, menyentuh lengan cowok itu.
Naufal berbalik. Dia melihat Mayang dengan tatapan yang begitu dalam, begitu terluka, sekaligus begitu memuja.
“Gue nggak akan biarin siapa pun nyakitin lo lagi, May. Gue janji. Siapa pun yang nyentuh lo, harus ngelangkahin mayat gue dulu.”
Naufal memegang kedua bahu Mayang. Erat.
“Lo hebat, May. Lo pantes dapet nilai itu. Jangan dengerin mereka.”
Mayang tidak bisa berkata-kata. Dia hanya mengangguk.
Di luar kelas, di dekat pintu belakang yang setengah terbuka.
Vino berdiri.
Dia sudah ada di sana sejak Naufal mulai berteriak. Dia mendengar semuanya.
Tangan Vino yang memegang gagang pintu, perlahan turun.
Dia melihat pemandangan di dalam sana. Naufal yang berdiri gagah sebagai pahlawan. Naufal yang menangis demi Mayang. Naufal yang tahu detail kecil seperti "mimisan jam sebelas malam".
Vino mundur selangkah. Bersandar di tembok koridor yang dingin.
Ada rasa sakit yang aneh di ulu hatinya. Bukan sakit fisik seperti aritmia kemarin. Ini rasa sakit yang berbeda. Rasa pahit. Rasa asam.
Kalah start, batin Vino.
Logikanya menganalisis situasi dengan cepat dan kejam.
Vino tahu Mayang cerdas. Dia tahu Mayang logis. Dia tahu Mayang berintegritas. Tapi Vino tidak tahu Mayang berdarah.
Vino tidak pernah melihat Mayang tertidur di lantai. Vino tidak pernah melihat darah di tisu itu. Yang Vino lihat hanyalah Mayang yang tangguh, Mayang yang siap debat, Mayang yang "Partner".
Naufal melihat sisi Mayang yang rapuh. Sisi manusiawinya. Dan Naufal menerima sisi itu dengan sepenuh hati, bahkan menjadikannya senjata untuk membela Mayang.
Vino merasa... kecil.
Semua bantuan logisnya—payung, penghapus, buku arsip—terasa tidak ada apa-apanya dibandingkan ledakan emosi tulus Naufal barusan.
Vino adalah arsitek yang memberi Mayang alat untuk membangun atap. Tapi Naufal adalah rumah tempat Mayang berteduh saat atap itu belum jadi.
“Sial,” desis Vino pelan.
Dia merogoh saku celananya. Mengeluarkan fidget spinner logamnya. Memutarnya kencang. Zzzznggg.
Suara putaran logam itu menenangkan sarafnya yang tegang.
Dia melihat ke dalam kelas lagi.
Vivie sudah mundur, kalah mental. Teman-teman sekelas mulai bubar, berbisik-bisik dengan nada simpati pada Mayang. Naufal masih berdiri di samping Mayang, menghapus air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya.
Gerakan itu. Sentuhan itu.
Vino menutup mata sejenak. Dia tidak suka pemandangan itu. Sangat tidak suka.
Ada dorongan impulsif untuk masuk ke dalam, menarik Mayang menjauh, dan bilang ke Naufal: "Minggir, itu partner gue."
Tapi Vino menahannya. Logikanya menahan kakinya.
Apa hak gue? Gue cuma rekan kerja. Gue cuma senior beda kelas. Gue nggak punya sejarah 'jam sebelas malam' sama dia.
Vino menyimpan spinner-nya. Dia membetulkan letak jas almamaternya.
Dia memutuskan untuk tidak masuk. Panggung hari ini milik Naufal. Vino tidak mau menjadi peran pembantu dalam drama orang lain.
Vino berbalik. Berjalan menjauh dari kelas X-1 menuju tangga. Langkahnya cepat, seolah ingin lari dari perasaan "kalah" yang menyebalkan ini.
Saat dia menuruni tangga, dia berpapasan dengan Pak Hendra yang baru mau masuk kelas untuk jam pelajaran berikutnya.
“Lho, Vino? Kamu mau ke mana? Bukannya jam ini kamu ada kelas Bahasa Inggris?” tanya Pak Hendra.
“Bolos, Pak,” jawab Vino singkat tanpa menghentikan langkah.
“Hah? Vino Al-Fatih bolos?” Pak Hendra terkejut. Murid teladan nomor satu mau bolos?
“Saya butuh udara segar. Oksigen di kelas X-1 lagi tipis. Banyak drama,” sahut Vino sambil melambaikan tangan tanpa menoleh.
Pak Hendra geleng-geleng kepala.
Vino berjalan menuju atap sekolah. Tempat favoritnya untuk menyepi.
Di atap, angin bertiup kencang. Langit mendung lagi.
Vino berdiri di pinggir gedung, menatap pemandangan Jakarta yang padat.
“Mimisan, huh?” gumam Vino pada angin.
Dia mengeluarkan ponselnya. Membuka aplikasi belanja online.
Dia mengetik di kolom pencarian: Suplemen penambah darah terbaik. Lampu belajar LED pelindung mata (anti lelah). Kursi belajar ergonomis (mencegah sakit punggung).
Jari jempolnya melayang di atas tombol Beli Sekarang.
Dia memasukkan alamat pengiriman: Jalan Merdeka Gang 3 No. 4B (Warung Bubur). Penerima: Mayang Sari. Pengirim: Hamba Allah (Jangan sebut nama).
Vino menekan tombol Checkout. Transaksi berhasil. Total tiga juta rupiah. Uang jajan seminggu lenyap dalam sedetik.
Vino memasukkan ponselnya kembali.
“Lo boleh jadi pahlawan di depan kelas, Naufal,” gumam Vino dingin. “Tapi gue yang bakal pastiin dia nggak perlu berdarah lagi.”
Vino tersenyum miring. Senyum kompetitif.
Ini bukan lagi soal siapa yang lebih pintar. Ini soal siapa yang lebih berguna.
Dan Vino Al-Fatih tidak pernah mau kalah guna.
Kembali di Kelas X-1.
Suasana sudah mulai tenang. Pak Hendra sudah masuk dan memulai pelajaran.
Naufal duduk kembali di kursinya. Napasnya sudah teratur, tapi tangannya masih gemetar sisa adrenalin.
Mayang menyobek secarik kertas kecil dari buku tulisnya.
Dia menulis sesuatu dengan tulisan rapi:
“Makasih, Fal. Kamu berisik, tapi hari ini berisiknya indah. :)”
Mayang melipat kertas itu, lalu menggesernya ke meja Naufal diam-diam.
Naufal membukanya. Dia membacanya.
Senyum lebar merekah di wajah Naufal. Senyum paling tulus yang pernah dia miliki.
Dia menoleh ke Mayang. Mayang tersenyum balik.
Untuk sesaat, Naufal merasa dia sudah memenangkan segalanya. Dia tidak tahu bahwa di atap gedung, ada seorang "Arsitek" yang sedang merancang pondasi baru agar rumah Naufal runtuh pelan-pelan.
Perang dingin segitiga ini baru saja memasuki fase nuklir.
Bersambung......