NovelToon NovelToon
Mantu Koplak Menjadi Penguasa

Mantu Koplak Menjadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Mafia
Popularitas:992
Nilai: 5
Nama Author: richard ariadi

Tanda tangani ini, dan semua hutangmu dianggap lunas," ucap Minghua Zhang sambil melemparkan kontrak pernikahan ke atas meja yang penuh puntung rokok. Chen Song menatap angka di kertas itu, lalu menatap wajah dingin Luna di pojok ruangan. Baginya, ini bukan pernikahan, ini adalah tiket keluar dari neraka—yang tanpa ia sadari, justru akan membawanya ke neraka jenis baru.

Chen Song adalah seorang pria dari kelas menengah ke bawah yang memiliki kecanduan judi yang parah. Dalam sebuah permainan berisiko tinggi di kasino bawah tanah, ia kehilangan segalanya. Ternyata, lawan mainnya adalah seorang kolektor hutang kejam yang bekerja untuk relasi bisnis keluarga Zhang. Chen Song berhutang dalam jumlah yang mustahil ia bayar miliaran yuan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richard ariadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

intimidasi

Malam yang seharusnya tenang di Restoran Seafood Ghu Dik mendadak berubah menjadi mencekam ketika David Zhang muncul dengan langkah angkuh. Ia tidak menyadari bahwa dinamika kekuatan di tempat itu telah berubah total.

David yang melihat Chen Song duduk di meja mewah bersama Tuan Suhai langsung tertawa mengejek. Ia berjalan mendekat tanpa menyadari siapa orang tua yang duduk bersama sepupunya itu.

David: "Wah, lihat siapa ini! Chen Song, si pembuang sampah dan tukang sayur pasar Gou. Beraninya kau masuk ke restoran semewah ini? Apa kau mencuri kartu kredit Luna lagi untuk pamer di sini?"

David kemudian menoleh ke arah Tuan Suhai dengan tatapan meremehkan, mengira Tuan Suhai hanyalah orang tua biasa yang ditipu oleh Chen Song.

David: "Pak Tua, berhati-hatilah dengan orang ini. Dia ini sampah keluarga kami, seorang pecandu judi yang tidak punya harga diri. Dia pasti sedang mencoba menipumu untuk mendapatkan uang!"

Suasana restoran seketika menjadi sunyi senyap. Wajah Tuan Suhai Ming, yang baru saja diselamatkan nyawanya oleh Chen Song, perlahan berubah menjadi merah padam karena murka. Baginya, menghina Chen Song sama saja dengan menghina malaikat penolongnya.

Tuan Suhai Ming menggebrak meja hingga gelas-gelas berdenting keras.

Tuan Suhai Ming: "Tutup mulutmu, bajingan tidak tahu adat! Kau tahu siapa yang kau sebut sampah? Dia adalah penyelamat nyawaku dan tamu kehormatanku!"

David Zhang tertegun, wajahnya pucat pasi saat menyadari bahwa orang tua di depannya adalah Suhai Ming, penguasa industri biologi yang pengaruhnya jauh di atas keluarga Zhang cabang Gou Tun.

Namun, Tuan Suhai tidak memberi kesempatan bagi David untuk meminta maaf. Ia melambaikan tangan kepada dua pengawal bertubuh kekar yang berjaga di dekat pintu privat.

Tuan Suhai Ming: "Bawa sampah ini keluar. Aku tidak ingin melihat wajahnya merusak selera makanku. Dan karena dia telah menghina Tuan Chen... patahkan kedua kakinya agar dia ingat bagaimana cara bersikap sopan kepada atasannya!"

Para pengawal itu langsung meringkus David. David mencoba berteriak meminta tolong kepada Luna, namun Luna hanya mematung, shock melihat betapa besarnya pengaruh yang sekarang dimiliki suaminya. David diseret keluar restoran, dan tak lama kemudian terdengar suara jeritan memilukan dari arah tempat parkir—suara tulang yang patah.

Chen Song tetap duduk dengan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia perlahan menyesap tehnya, sementara Mata Dewanya tetap memantau ke arah luar gedung, melihat David yang tergeletak tak berdaya di aspal.

Ia kemudian melirik ke arah Minghua Zhang yang ternyata mengintip dari kejauhan dengan tubuh gemetar hebat. Minghua menyaksikan bagaimana keponakan kesayangannya dihancurkan dalam sekejap karena menghina Chen Song.

Chen Song: (Tersenyum tipis kepada Tuan Suhai) "Tuan Suhai, Anda terlalu repot. Orang seperti dia memang perlu diberi sedikit pelajaran tentang hierarki."

Dampak dari Kejadian Ini:

Keluarga Zhang Gempar: Berita tentang David yang dipatahkan kakinya oleh orang suruhan Tuan Suhai karena Chen Song akan segera sampai ke telinga Tibet Zhang.

Minghua Terintimidasi  Minghua sekarang sadar bahwa ia tidak bisa lagi meremehkan Chen Song. Rasa takutnya berubah menjadi kepatuhan yang dipaksakan.

Berita tentang dipatahkannya kaki David Zhang menyebar seperti api di kalangan klan Zhang. Keesokan harinya, Luna Zhang dipanggil paksa ke Puri Utama untuk menghadap Tibet Zhang. Suasana di aula utama sangat mencekam; semua anggota keluarga besar hadir dengan wajah penuh amarah.

Tibet Zhang menghantamkan tongkatnya ke lantai hingga suaranya menggema. Di sampingnya, David Zhang duduk di kursi roda dengan kedua kaki dibalut gips, wajahnya penuh dendam.

Tibet Zhang: "Luna! Kau adalah darah daging keluarga Zhang! Bagaimana bisa kau diam saja saat orang luar mematahkan kaki sepupumu sendiri? Dan semua itu karena suamimu yang sampah itu!"

Satu per satu kerabat mulai menyudutkan Luna. Mereka tidak berani menyalahkan Tuan Suhai Ming secara langsung, jadi mereka melampiaskan semuanya kepada Luna dan Chen Song.

Yoana Zhang (Nenek Luna): "Kau membiarkan martabat keluarga kita diinjak-injak di restoran umum! Apa kau sudah tidak punya otak karena terlalu lama tinggal dengan pecandu judi?"

Ibu David: (Sambil menangis histeris) "Lihat anakku! Dia cacat karena suamimu! Luna, kau harus bertanggung jawab! Serahkan Chen Song untuk kami hukum, atau kau akan kami coret dari silsilah keluarga!"

Luna Zhang berdiri di tengah aula, menunduk dengan tubuh gemetar. Ia mencoba menjelaskan bahwa David yang memulai provokasi, namun tidak ada yang mau mendengar. Ia menoleh ke arah Chen Song yang berdiri beberapa langkah di belakangnya, berharap suaminya akan membela atau setidaknya mengatakan sesuatu.

Namun, Chen Song hanya terdiam. Ia berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya datar tanpa emosi. Tindakannya ini membuat keluarga Zhang semakin geram, menganggapnya sebagai pengecut.

Namun, di balik diamnya, Chen Song sedang beraksi:

Mata Dewa Aktif Chen Song sedang memindai seluruh ruangan. Ia melihat aliran energi Qi di tubuh Tibet Zhang yang sudah sangat rapuh dan dipenuhi sumbatan mematikan. Ia juga melihat ke dalam saku jas beberapa paman Luna yang membawa dokumen rahasia—ternyata mereka sedang merencanakan kudeta untuk menggulingkan Tibet Zhang.

Melihat Kebohongan David Melalui Mata Dewanya, Chen Song melihat bahwa luka kaki David sengaja "diperparah" oleh dokter pribadinya atas perintah David sendiri agar terlihat lebih tragis di depan Tibet Zhang demi mendapatkan simpati dan kompensasi harta.

Saat suasana mencapai puncaknya dan Tibet Zhang hendak menjatuhkan hukuman pengusiran kepada Luna, Chen Song melangkah maju satu tindak dan berbisik sangat pelan di telinga Luna:

"Jangan menangis, Luna. Katakan pada kakekmu... jika dia terus berteriak, pembuluh darah di lobus kiri otaknya akan pecah dalam tiga menit. Dan katakan padanya, aku tahu apa yang disembunyikan pamanmu di dalam tas kerja itu."

Luna tersentak. Ia menatap mata Chen Song yang berkilat keemasan sesaat. Meskipun ragu, Luna tidak punya pilihan lain. Ia mengangkat kepalanya dan mulai berbicara dengan suara yang lantang, mengulangi kata-kata Chen Song.

Seketika, seluruh aula menjadi sunyi senyap. Wajah Tibet Zhang berubah dari merah menjadi pucat pasi, sementara para paman Luna mulai berkeringat dingin.

Saat seluruh anggota keluarga Zhang menatap Luna dengan penuh kebencian, Luna menarik napas dalam-dalam. Mengikuti instruksi bisikan Chen Song, ia melangkah maju dengan keberanian yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Luna menunjuk ke arah Paman Besar, kakak tertua dari ayahnya, yang sejak tadi paling vokal menyudutkan dirinya.

"Kakek," suara Luna menggema di aula. "Sebelum Kakek menghukumku karena membiarkan David dipatahkan kakinya, sebaiknya Kakek lihat apa yang dibawa Paman Besar di dalam tas kerja kulitnya itu. Dia tidak peduli pada kaki David, dia hanya butuh alasan agar Kakek marah dan segera menandatangani pengalihan aset Puri Utama kepadanya."

Paman Besar tersentak, wajahnya pucat pasi. "Apa yang kau bicarakan, anak bodoh?! Ini hanya dokumen bisnis biasa!"

Tanpa menunggu perintah, Chen Song bergerak secepat kilat. Sebelum para pengawal keluarga bisa bereaksi, ia sudah merebut tas tersebut dan menyerahkannya kepada Tibet Zhang.

Tibet Zhang dengan tangan gemetar membuka dokumen tersebut. Matanya membelalak saat membaca isinya:

Surat Warisan Palsu Dokumen yang menyatakan bahwa Tibet Zhang sudah tidak cakap secara mental dan menyerahkan seluruh kendali klan kepada Paman Besar.

Laporan Penjualan Aset: Rencana untuk menjual sebagian besar lahan di Distrik Gou Tun—termasuk mansion tempat Luna tinggal—kepada pihak asing tanpa sepengetahuan kepala keluarga.

Bukti Suap Dokter Sebuah catatan kecil mengenai pembayaran kepada dokter yang merawat David untuk memperparah diagnosis lukanya agar Tibet Zhang memberikan kompensasi besar yang nantinya akan dipotong oleh Paman Besar.

Aula yang tadinya penuh teriakan kini menjadi sunyi seperti kuburan. Tibet Zhang menatap putranya sendiri dengan kekecewaan yang mendalam.

"Jadi... kau ingin aku mati lebih cepat agar kau bisa menguasai klan ini?" suara Tibet Zhang terdengar serak dan berbahaya.

Paman Besar jatuh berlutut, mencoba membela diri, namun bukti di tangan Tibet sudah terlalu jelas. David Zhang yang duduk di kursi roda pun tidak bisa berkutik, karena dokumen itu juga membuktikan bahwa dia bekerja sama dengan pamannya untuk menipu kakeknya sendiri.

Di tengah kekacauan itu, Chen Song kembali ke posisinya semula di belakang Luna. Ia menatap Minghua Zhang yang berdiri tak jauh dari sana. Minghua melihat segalanya—bagaimana Chen Song dengan sekali pandang bisa menghancurkan rencana besar yang telah disusun paman-paman Luna selama berbulan-bulan.

Minghua menyadari satu hal yang mengerikan Chen Song bisa melihat segalanya. Rahasianya, tubuhnya, dan setiap rencana jahatnya, tidak ada yang tersembunyi dari pria itu.

Tibet Zhang mengalihkan pandangannya dari dokumen itu ke arah Chen Song. Untuk pertama kalinya, sang Patriark menatap menantu "sampah" itu dengan rasa takut sekaligus penasaran.

"Bagaimana... bagaimana kau tahu tentang dokumen ini?" tanya Tibet Zhang.

Chen Song hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat semua orang di ruangan itu merinding. "Saya hanya seorang menantu yang suka mengamati, Kakek. Terkadang, orang yang paling sering kalian abaikan adalah orang yang melihat segalanya dengan paling jelas."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!