Antares Bagaskara adalah dosen dan ilmuwan antariksa yang hidup dengan logika dan keteraturan. Cinta bukan bagian dari rencananya—hingga satu malam tak terduga memaksanya menikah dengan Zea Anora Virel, mahasiswi arsitektur yang ceria dan sulit diatur.
Pernikahan tanpa cinta.
Perbedaan usia.
Status dosen dan mahasiswi.
Terikat oleh tanggung jawab, mereka dipaksa berbagi hidup di tengah batas moral, dunia akademik, dan perasaan yang perlahan tumbuh di luar kendali.
Karena tidak semua cinta lahir dari rencana.
Sebagian hadir dari orbit yang tak terencana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Gravitasi di Ruang Kuliah
Pagi itu, aula besar Universitas Indonesia terasa lebih dingin dari biasanya—atau mungkin itu hanya perasaan Zea. Ia duduk di barisan tengah, berusaha fokus pada buku sketsa arsitekturnya, namun setiap kali ia bergerak, rasa linu di paha dan pinggangnya mengingatkannya pada keganasan Antares semalam.
Pintu aula terbuka. Dr. Antares Bagaskara masuk dengan langkah tegap. Ia mengenakan kemeja biru navy yang lengannya digulung hingga siku, jam tangan perak melingkar di pergelangan tangannya yang kokoh—tangan yang sama yang semalam mencengkeram pinggang Zea tanpa ampun.
"Selamat pagi," suara bariton itu bergema, dingin dan profesional.
Zea menunduk dalam, wajahnya memerah hebat. Ia bisa merasakan tatapan Antares menyapu seluruh ruangan dan berhenti selama dua detik tepat di arahnya. Hanya dua detik, tapi cukup untuk membuat bulu kuduk Zea meremang.
Di Ruang Dosen: Batas yang Dilanggar
Setelah kelas berakhir, Antares memberikan kode kecil yang hanya dipahami Zea. "Zea Anora, tolong ke ruangan saya. Ada masalah dengan tugas simulasi orbit Anda."
Begitu pintu ruang dosen yang kedap suara itu tertutup dan terkunci, suasana formal langsung menguap. Antares bersandar di meja kerjanya, menatap Zea yang berdiri canggung di depan pintu.
"Capek?" tanya Antares singkat, namun matanya menelusuri wajah Zea dengan kilat posesif.
Zea cemberut, sifat manjanya keluar. Ia berjalan mendekat dan berdiri tepat di antara kedua kaki Antares yang terbuka. "Sakit, tahu. Kamu nggak kira-kira semalam."
Antares terkekeh rendah, suara yang tidak pernah didengar mahasiswa lain. Ia menarik pinggang Zea, membawa gadis itu duduk di atas meja kerjanya. "Saya sudah bilang jangan memancing, kan?"
"Iya, tapi kan sekarang udah sah," Zea memberanikan diri. Ia melingkarkan tangannya di leher Antares, lalu berbisik tepat di telinga suaminya, "Terima kasih ya, Mas Antar."
Antares membeku. Panggilan itu—Mas—terasa jauh lebih provokatif daripada umpan Zea semalam. Ia melepaskan kacamatanya, menatap Zea dengan tatapan yang mendadak gelap.
"Panggil saya apa tadi?"
"Mas. Kan kita udah nikah. Masa panggil Bapak terus? Nanti kalau di rumah aku panggil Mas ya?" Zea tersenyum polos, tidak sadar dia baru saja menyalakan api di sumbu pendek.
Antares mencengkeram tengkuk Zea, menarik wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. "Panggilan itu... berbahaya kalau kamu ucapkan di ruangan ini, Zea."
"Kenapa?"
"Karena 'Mas' kamu ini sedang berusaha keras untuk menjadi dosen yang profesional, tapi kamu malah membuatnya ingin mengunci pintu ini lebih lama," bisik Antares sebelum mencium bibir Zea dengan penuh penekanan.
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu.
"Dr. Antares? Ini Dekan. Ada berkas dari Bagaskara Health Group yang perlu Anda tinjau secara pribadi."
Zea tersentak kaget, hampir jatuh dari meja. Antares dengan sigap menahan pinggang istrinya, matanya menegang. Nama keluarganya kembali menghantui di saat yang paling tidak tepat
Ketukan pintu itu terdengar seperti vonis mati bagi Zea. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa ke kerongkongan.
"Sembunyi. Di bawah meja. Sekarang," bisik Antares, suaranya tidak menerima bantahan.
Zea tidak punya waktu untuk protes. Dengan gerakan gesit yang membuat tubuhnya kembali linu, ia merosot masuk ke kolong meja kerja Antares yang luas dan tertutup rapat oleh panel kayu di bagian depan. Di sana, ia meringkuk, memeluk lututnya sendiri, menghirup aroma kayu jati dan wangi maskulin Antares yang menempel di sana.
.