NovelToon NovelToon
A Love That Grows

A Love That Grows

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heynura9

Yura, 23 tahun, adalah seorang wanita cerdas, cantik, dan tulus. Setelah kehilangan ayahnya yang selalu menjadi inspirasinya, Yura memutuskan untuk mewujudkan mimpi lama mereka membuka toko kue Prancis yang pernah ayahnya impikan.
Namun, langkahnya tak semulus yang ia kira. Di dunia bisnis, ia bertemu Arkan, CEO tajir, dingin, dan terlalu posesif. Pria yang selama ini menutup hati dari semua wanita tiba-tiba tertarik pada Yura bukan karena bisnis, tapi karena ketulusan dan keberanian yang jarang ia temui.
Pertemuan pertama mereka di restoran biasa berubah menjadi serangkaian kejadian tak terduga: mulai dari pertolongan Yura pada orang tua dan ibu hamil, hingga pertemuan bisnis yang membuat batas profesional mereka teruji.
Bisnis, mimpi, dan rasa kehilangan bercampur menjadi satu, ketika Yura harus memilih antara menjaga mimpinya, menghadapi masa lalunya, dan… menghadapi seorang pria yang mulai terlalu ingin memilikinya.
Apakah Yura akan menyerah pada bisnis dan mimpi ayahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 Ketika Obsesi Menjadi Penjara

Mobil melaju dalam keheningan yang mencekam.

Yura duduk di sudut kursi belakang tubuhnya masih gemetar, air matanya tidak berhenti mengalir. Ia memeluk dirinya sendiri, berusaha membuat dirinya sekecil mungkin seolah dengan begitu ia bisa menghilang.

Arkan duduk di sampingnya tenang, terlalu tenang menatap keluar jendela dengan ekspresi datar. Tidak ada penyesalan. Tidak ada rasa bersalah. Hanya… kepuasan. Yura akhirnya bersamanya. Tidak ada Adrian. Tidak ada yang menghalangi. Hanya mereka berdua.

Arkan melirik Yura dari sudut matanya melihat tubuhnya yang gemetar, wajahnya yang basah oleh air mata. Sesuatu di dadanya… sakit. Tapi ia mengabaikannya.

Ini untuk kebaikannya, pikirnya. Dia hanya… belum mengerti. Tapi nanti dia akan mengerti.

Ia mengulurkan tangannya mencoba menyentuh bahu Yura dengan lembut.

"Yura.."

"JANGAN SENTUH AKU!" teriak Yura sambil menepis tangan Arkan keras mundur lebih jauh ke sudut.

Arkan menarik tangannya kembali tatapannya tidak berubah.

Ia hanya… tersenyum tipis.

"Baik," ucapnya pelan. "Aku tidak akan sentuh kamu. Belum."

Yura menatapnya dengan tatapan penuh kebencian napasnya memburu.

"Kamu… kamu gila," bisiknya dengan suara bergetar. "Kamu benar-benar gila…"

Arkan tidak menjawab.

Ia hanya kembali menatap keluar jendela seolah tidak mendengar apa-apa.

Di Mansion Arkan...

Mobil memasuki gerbang besar mansion melewati taman luas yang gelap, lalu berhenti tepat di depan pintu utama.

Sopir membukakan pintu.

Arkan turun dengan tenang lalu berbalik, mengulurkan tangannya pada Yura.

"Ayo," ucapnya lembut. "Kita sudah sampai."

Yura tidak bergerak. Ia hanya menatap tangan Arkan dengan tatapan penuh kebencian.

Arkan menunggu beberapa detik lalu menarik tangannya kembali dengan senyum tipis.

"Baiklah. Kalau kamu tidak mau… aku yang akan bawa kamu."

Sebelum Yura sempat bereaksi

Arkan membungkuk, lalu mengangkat tubuh Yura dengan mudah memanggulnya di bahunya seperti karung beras.

"LEPASKAN AKU! TURUNKAN AKU!" teriak Yura sambil memukul punggung Arkan dengan kedua tangannya meronta sekuat tenaga.

Tapi Arkan… bahkan tidak terpengaruh.

Pukulan Yura sekuat apapun terasa seperti sentuhan lembut baginya.

Seperti ciuman.

Arkan tersenyum tipis bahkan sedikit menikmati perlawanan Yura.

"Kamu boleh pukul aku sebanyak yang kamu mau," ucapnya tenang sambil berjalan masuk ke mansion. "Tapi itu tidak akan mengubah apapun."

Yura terus memukul menangis meronta tapi tidak ada gunanya.

Arkan terlalu kuat.

Dan ia… terlalu lemah.

Lantai 3 Kamar Pribadi yang Sudah Disiapkan

Arkan masuk kedalam Lif dengan langkah mantap melewati lantai satu, lantai dua lalu berhenti di lantai tiga.

Di ujung koridor, ada satu pintu besar dengan ukiran kayu mewah.

Arkan membuka pintu dengan satu tangan lalu masuk.

Ruangan itu… luar biasa.

Kamar tidur yang sangat luas tempat tidur king size dengan seprai sutra putih, jendela besar menghadap taman belakang, lemari pakaian yang penuh dengan pakaian-pakaian wanita semua ukuran Yura.

Ada meja rias dengan cermin besar. Ada sofa di sudut ruangan. Bahkan ada kamar mandi pribadi dengan bathtub marmer.

Semua… sudah disiapkan dengan sempurna.

Seperti kamar untuk seorang ratu.

Atau… penjara mewah.

Arkan menurunkan Yura dengan hati-hati meletakkannya di atas tempat tidur.

Yura langsung mundur merangkak ke sudut tempat tidur, memeluk lututnya dengan tubuh gemetar.

Arkan berdiri di samping tempat tidur menatap Yura dengan tatapan lembut.

"Ini… kamarmu," ucapnya pelan. "Aku sudah siapkan semuanya untukmu. Pakaian. Kosmetik. Apapun yang kamu butuhkan."

Yura menatapnya dengan tatapan penuh air mata suaranya bergetar.

"Aku… aku tidak butuh semua ini… aku cuma… aku cuma mau pulang…"

Arkan tersenyum tipis lalu duduk di pinggir tempat tidur. "Kamu sudah pulang, Yura," ucapnya lembut. "Ini… rumahmu sekarang. Rumah kita."

Yura menggelengkan kepala keras menangis. "Ini bukan rumahku! Ini… ini penjara!"

Arkan tidak menjawab.

Ia hanya menatap Yura dengan tatapan yang sulit dibaca campuran antara kelembutan dan obsesi yang gelap. "Kamu akan terbiasa," ucapnya akhirnya. "Percaya padaku."

Lalu ia berdiri berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar, ia berbalik menatap Yura satu kali lagi. "Jangan coba-coba kabur. Semua pintu dan jendela terkunci. Dan ada penjaga di setiap sudut mansion."

Yura menatapnya dengan tatapan penuh kebencian.

Arkan tersenyum tipis. "Selamat malam, Yura. Istirahat yang cukup."

Lalu ia keluar menutup pintu dengan pelan.

KLIK.

Suara pintu terkunci terdengar dari luar.

Yura terdiam menatap pintu itu dengan tatapan kosong.

Lalu ia memeluk lututnya menangis tanpa suara.

Sementara itu, di tempat lain

Adrian dibawa ke sebuah gudang tua di pinggiran kota. Kepalanya ditutup dengan kain hitam tangannya diikat di belakang punggung.

Ia ditendang keras jatuh ke lantai beton yang dingin.

BUGH!

Ia merintih kesakitan tapi tidak berteriak.

Kain di kepalanya ditarik kasar cahaya redup menyilaukan matanya.

Ia melihat dua pria besar berdiri di depannya wajah mereka dingin, tanpa emosi.

Salah satu dari mereka bicara dengan nada datar. "Pak Arkan bilang… kamu harus dijaga di sini. Jangan coba-coba kabur."

Adrian menatap mereka dengan tatapan penuh kemarahan napasnya memburu.

"Kalian… kalian tidak akan lolos dari ini… aku polisi… kalian"

BUGH!

Pukulan keras mengenai perutnya ia terbatuk, napasnya tersengal.

"Polisi?" salah satu pria itu tertawa dingin. "Polisi yang lagi di-non-aktifkan? Kamu pikir ada yang peduli?"

Adrian menatap mereka dengan tatapan penuh kebencian tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa.

Pria itu berjongkok di depan Adrian menatapnya dengan tatapan mengintimidasi.

"Dengar baik-baik, Inspektur. Pak Arkan memberi kamu pilihan. Kalau kamu diam… kamu akan selamat. Tapi kalau kamu coba ganggu… kamu tahu akibatnya."

Adrian tertawa pahit meski kesakitan. "Kamu pikir… aku akan diam… sementara dia bawa Yura?!"

BUGH!

Pukulan lagi kali ini di wajahnya.

Darah mengalir dari sudut bibirnya.

Tapi Adrian… tetap tersenyum.

"Aku… tidak akan berhenti… aku akan cari dia… apapun yang terjadi…"

Pria itu menatapnya lama lalu berdiri.

"Terserah kamu. Tapi… kamu tidak akan kemana-mana."

Mereka keluar meninggalkan Adrian sendirian di ruangan gelap itu.

Tangan masih terikat. Tubuh sakit. Tapi tekadnya… tidak hancur.

Yura… tunggu aku. Aku akan cari kamu. Aku janji.

Kembali ke Mansion Arkan....

Yura duduk di sudut tempat tidur masih memeluk lututnya, masih menangis.

Ia menatap keliling ruangan melihat semua kemewahan yang tidak ia minta.

Pakaian-pakaian mahal di lemari.

Kosmetik mewah di meja rias.

Tempat tidur yang lembut.

Semua… tidak ada artinya.

Karena ia… terkurung.

Ia berdiri dengan pelan berjalan ke jendela besar.

Ia mencoba membukanya tapi terkunci rapat.

Ia memukul kaca dengan tangan tapi tidak ada gunanya.

Kaca itu terlalu tebal.

Ia berbalik menatap pintu.

Ia berjalan mendekat memutar kenop pintu.

Terkunci.

Ia mengetuk pintu keras. "BUKA! BUKA PINTUNYA! AKU MAU KELUAR!"

Tidak ada jawaban.

Hanya keheningan.

Yura mundur lalu jatuh terduduk di lantai.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan menangis tanpa suara.

Adi… maafin aku… aku… aku tidak bisa melindungi diriku sendiri…

Di Ruang Kerja Arkan

Arkan duduk di ruang kerjanya menatap layar CCTV yang menampilkan kamar Yura.

Ia melihat Yura menangis di lantai tubuhnya gemetar.

Sesuatu di dadanya… sakit.

Tapi ia tetap tenang.

Bagas masuk dengan langkah hati-hati. "Pak… Nona Yura sudah diantarkan makan malam."

Arkan mengangguk tanpa menatap Bagas. "Bagaimana dengan Adrian?"

"Sudah… dikurung, Pak. Di gudang seperti perintah Bapak."

Arkan tersenyum tipis. "Bagus."

Ia menatap Bagas dengan tatapan serius. "Besok pagi… aku mau kamu sampaikan pesan pada Yura."

Bagas menegang. "Pesan apa, Pak?"

Arkan menarik napas lalu bicara dengan nada dingin. "Kalau dia tidak mau menikah denganku… Adrian akan menderita. Setiap hari. Sampai dia setuju."

Bagas terdiam shock. "Pak… itu "

"Lakukan," potong Arkan dingin. "Itu satu-satunya cara."

Bagas terdiam lama lalu mengangguk pelan. "…baik, Pak."

Arkan kembali menatap layar CCTV menatap Yura yang masih menangis.

"Maafkan aku, Yura," bisiknya pelan. "Tapi aku tidak punya pilihan lain. Kamu… harus jadi milikku."

1
Nur Halida
ngeri ngeri sedep nih si arkan🙀
Bunga
suka
NR: Makasih banyak ya sudah baca dan suka sama ceritanya 🥺✨
Seneng banget tau kalian menikmati perjalanan Yura & Arkan.
Doain aku bisa konsisten update dan kasih cerita yang makin berasa 🤍
total 1 replies
Bunga
cerita yang menàrik😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!