Dalam dunia bisnis yang kejam, Alara Davina—seorang desainer berbakat—terjebak dalam pernikahan kontrak dengan Nathan Erlangga, CEO dingin yang menyimpan luka masa lalu. Yang Alara tidak tahu, wanita yang selama ini ia anggap sahabat—Kiara Anjani—adalah cinta pertama Nathan yang kembali untuk merebut segalanya.
Ketika pengkhianatan datang dari orang terdekat, air mata menjadi teman, dan hati yang rapuh harus memilih. Bertahan dalam cinta yang menyakitkan, atau pergi dengan luka yang tak pernah sembuh.
*Cinta sejati bukan tentang siapa yang datang pertama, tapi siapa yang bertahan hingga akhir.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi Bedah, Ibu!
Rumah sakit pada jam empat pagi tidak pernah sunyi.
Selalu ada bunyi. Bunyi mesin. Bunyi roda brangkar. Bunyi langkah sepatu perawat di koridor. Bunyi telepon yang berdering. Bunyi tangis dari ruangan entah di mana.
Naura duduk di bangku tunggu ruang operasi dengan tangan meremas ujung jilbab. Jilbab putih yang dia pakai terburu buru tadi malam saat dapat telepon dari rumah sakit bahwa ibu akan dioperasi darurat pagi ini.
Operasi jantung.
Operasi yang ditunggu tunggu sejak seminggu lalu.
Operasi yang biayanya lima ratus juta itu.
Operasi yang Naura bayar dengan pernikahan kontrak.
Dengan menjual dirinya.
Dokter bilang operasinya akan lama. Delapan sampai sepuluh jam. Tergantung kondisi jantung ibu saat dibuka.
Delapan jam.
Naura harus menunggu delapan jam sambil berdoa ibu selamat.
Sambil berdoa ini semua tidak sia sia.
Sambil berdoa pengorbanannya tidak berakhir dengan kematian.
Karena kalau ibu mati...
Kalau ibu tidak selamat setelah operasi ini...
Naura tidak tahu dia akan jadi apa.
Tidak tahu dia masih bisa bertahan atau tidak.
Ruang tunggu sepi. Cuma ada Naura dan satu keluarga lain yang juga nungguin pasien operasi. Mereka bergerombol. Ada suami. Anak anak. Kakak adik. Semua saling pegangan tangan. Saling menguatkan.
Naura sendirian.
Tidak ada yang menemani.
Tidak ada yang pegang tangan.
Tidak ada yang bilang semuanya akan baik baik saja.
Naura meraih ponselnya.
Menatap layar yang gelap.
Haruskah dia telepon Nathan?
Haruskah dia minta suaminya datang?
Tapi Nathan bukan suami beneran. Nathan tidak peduli. Nathan bahkan tidak tahu ibu Naura dioperasi hari ini.
Atau... mungkin Nathan perlu tahu?
Mungkin sebagai suami, meski cuma kontrak, Nathan harus tahu kalau istrinya sedang sendirian di rumah sakit nungguin ibunya dioperasi?
Tangan Naura gemetar saat mencari nama Nathan di kontak.
Jantungnya berdegup kencang.
Tekan tombol panggil.
Nada sambung pertama. Kedua. Ketiga.
Diangkat.
"Apa?"
Suara Nathan sedingin biasa. Seperti sedang bicara sama orang asing yang ganggu waktu tidurnya.
Naura menarik napas dalam. Suaranya serak. "Nathan... ibu... ibuku dioperasi sekarang... aku... aku di rumah sakit..."
Hening sebentar.
"Terus?"
Terus?
Naura tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Aku... aku sendirian di sini... aku takut... bisa... bisa kamu datang?"
"Naura." Suara Nathan semakin dingin. "Ini jam setengah lima pagi. Aku ada rapat penting jam delapan. Aku harus prepare. Kamu bisa urus ibumu sendiri kan? Buat apa aku ke sana?"
Buat apa?
Buat temani.
Buat jadi sandaran.
Buat bikin Naura tidak merasa sendirian.
Tapi Naura tidak bisa bilang itu.
Tidak bisa bilang dia butuh Nathan.
Karena Nathan tidak peduli Naura butuh dia atau tidak.
"Aku cuma... cuma pengen kamu tahu aja..." suara Naura mulai bergetar. "Sebagai... sebagai suami..."
Nathan tertawa sinis. Tawa yang sakit di telinga Naura.
"Suami kontrak Naura. Suami kontrak. Aku tidak punya kewajiban untuk jadi sandaran emosional kamu. Kamu sudah dibayar. Itu cukup. Jangan minta lebih"
Klik.
Telepon ditutup.
Sepihak.
Naura menatap layar ponsel yang gelap.
Tangannya gemetar.
Matanya mulai panas.
Ditutup.
Nathan menutup teleponnya.
Bahkan tidak sempat Naura bilang dia takut. Bahkan tidak sempat Naura bilang dia butuh seseorang. Siapa aja. Asal jangan sendirian.
Tapi Nathan tidak peduli.
Tidak akan pernah peduli.
Air mata Naura jatuh.
Jatuh ke layar ponsel. Membuat layar berembun.
Dia menangis dalam diam.
Bahunya bergetar pelan. Isakan ditahan di tenggorokan biar tidak keluar.
Keluarga di seberang ruangan meliriknya. Wanita yang sepertinya ibu dari pasien menatap Naura dengan pandangan iba. Dia bangkit dan mendekat.
"Dik... kamu tidak apa apa?"
Naura cepat usap air matanya. Tersenyum paksa. "Iya Bu... aku tidak apa apa..."
"Kamu sendirian? Tidak ada yang antar?"
Naura mengangguk. Tenggorokannya tercekat.
Wanita itu duduk di samping Naura. Tangannya yang hangat menepuk bahu Naura lembut. "Kamu kuat ya Dik. Tuhan tidak akan kasih ujian melebihi kemampuan kita. Ibu kamu pasti selamat"
Kata kata sederhana itu membuat Naura menangis lagi.
Lebih keras.
Karena kehangatan dari orang asing ini lebih besar dari kehangatan yang dia dapat dari suami sendiri.
Karena kasih sayang dari wanita yang baru dia kenal lima menit lebih tulus dari kasih sayang yang dia harap dari Nathan.
"Terima kasih Bu..." Naura berbisik di sela isakannya.
Wanita itu memeluk Naura. Memeluk erat seperti memeluk anak sendiri.
Dan Naura menangis di pelukan itu.
Menangis untuk semua kesepiannya.
Menangis untuk semua sakitnya.
Menangis untuk ibu yang sedang berjuang antara hidup dan mati di ruang operasi.
Menangis untuk dirinya yang harus kuat sendirian.
Selalu sendirian.
Jam duabelas siang.
Delapan jam sudah berlalu.
Naura masih duduk di bangku yang sama. Punggungnya pegal. Kakinya kram. Tapi dia tidak bergerak.
Matanya terus tertuju pada pintu ruang operasi.
Menunggu pintu itu terbuka.
Menunggu dokter keluar dan bilang operasinya sukses.
Menunggu kabar bahwa ibu selamat.
Tapi pintunya masih tertutup.
Masih belum ada tanda tanda.
Naura berdoa dalam hati. Terus berdoa. Bibir bergerak mengucap doa doa yang dia hapal. Doa untuk kesembuhan. Doa untuk keselamatan.
Tuhan kumohon.
Kumohon selamatkan ibu.
Aku sudah korbankan segalanya.
Kumohon jangan ambil ibu juga.
Kumohon.
Jam dua belas lewat tiga puluh menit.
Pintu ruang operasi terbuka.
Naura langsung berdiri. Kakinya nyaris tidak kuat menopang tubuh karena kebas terlalu lama duduk.
Dokter keluar.
Masker masih di wajah. Baju operasi masih hijau. Mata terlihat lelah.
Naura berlari mendekat. "Dokter... ibu saya... bagaimana?"
Dokter melepas maskernya pelan.
Dan tersenyum.
"Operasinya sukses. Ibu kamu selamat"
Selamat.
Ibu selamat.
Naura tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Beneran Dok? Beneran ibu selamat?"
"Iya. Operasinya berjalan lancar. Katup jantungnya sudah diganti. Sekarang ibu kamu sedang di ruang pemulihan. Nanti beberapa jam lagi akan dipindah ke ICU untuk observasi. Kalau kondisinya stabil, besok bisa pindah ke ruang rawat biasa"
Naura jatuh berlutut.
Di situ.
Di tengah koridor rumah sakit.
Tidak peduli orang orang menatap.
Tidak peduli apa apa.
Dia jatuh berlutut sambil menangis.
Menangis lega.
Menangis bahagia.
Menangis karena beban seberat gunung di bahunya akhirnya terangkat.
Ibu selamat.
Ibu tidak mati.
Pengorbanan Naura tidak sia sia.
Pernikahan kontrak yang menyiksa ini... setidaknya ada hasilnya.
Setidaknya ibu hidup.
Dokter membantu Naura berdiri. "Kamu harus kuat ya. Ibu kamu butuh kamu untuk pulih"
Naura mengangguk berkali kali sambil mengusap air mata. "Terima kasih Dok... terima kasih banyak..."
Dua jam kemudian Naura diizinkan masuk ICU sebentar untuk lihat ibu.
Ibu Sari terbaring dengan mata tertutup. Wajahnya pucat. Bibir kering. Selang oksigen masih terpasang. Kabel kabel monitor jantung menempel di dada. Bunyi mesin yang teratur. Pip. Pip. Pip.
Tapi kali ini bunyi itu terdengar seperti musik.
Bunyi kehidupan.
Bunyi bahwa ibu masih hidup.
Masih bernapas.
Masih bersama Naura.
Naura duduk di kursi samping ranjang. Tangannya meraih tangan ibu yang dingin.
Tangan yang kurus.
Tangan yang penuh bekas suntikan.
Tapi tangan yang masih hangat.
Masih hidup.
"Ibu..." bisik Naura pelan sambil air matanya mengalir lagi. "Ibu selamat... Naura bersyukur banget... bersyukur ibu masih ada... masih sama Naura..."
Ibu tidak menjawab. Masih tertidur dalam pengaruh bius.
Tapi Naura terus bicara.
"Maafkan Naura Bu..." suaranya bergetar. "Untuk menyelamatkan ibu... Naura harus menjual kebahagiaan Naura sendiri..."
Air matanya jatuh ke tangan ibu.
Membasahi kulit yang kering.
"Naura nikah sama orang yang tidak mencintai Naura... Naura hidup di rumah besar tapi kesepian... Naura punya suami tapi seperti tidak punya... Naura sakit Bu... sakit setiap hari..."
Tangisnya makin keras. Bahunya bergetar.
"Tapi tidak apa apa... tidak apa apa Bu... asalkan ibu selamat... asalkan ibu hidup... Naura rela... Naura rela sakit... rela sendirian... rela tidak bahagia..."
Naura menundukkan kepala sampai dahinya menyentuh tangan ibu.
"Janji ya Bu... janji ibu harus sembuh... harus kuat... jangan sakit lagi... karena Naura tidak sanggup kehilangan ibu... Naura cuma punya ibu... cuma ibu... kalau ibu pergi... Naura tidak akan punya siapa siapa lagi di dunia ini..."
Isakan Naura memenuhi ruangan ICU yang sepi.
Perawat yang jaga di luar menatap dengan pandangan iba tapi tidak masuk. Membiarkan Naura melepas semua beban di dadanya.
Naura menangis sampai tidak ada air mata lagi.
Sampai matanya kering.
Sampai dadanya kosong.
Tapi di tengah semua kesedihan itu...
Ada rasa syukur.
Rasa syukur yang mengalir hangat di dada.
Ibu selamat.
Itu yang terpenting.
Itu satu satunya hal yang membuat semua pengorbanan Naura terasa tidak sia sia.
Meski dia harus hidup tanpa cinta.
Meski dia harus hidup tanpa kehangatan.
Meski dia harus hidup seperti bayangan.
Setidaknya ibu hidup.
Setidaknya masih ada satu orang di dunia ini yang mencintai Naura dengan tulus.
Satu orang yang keberadaannya membuat Naura masih mau bertahan.
Masih mau hidup.
Masih mau bernapas.
Naura mengecup tangan ibu lembut.
"Naura sayang ibu... sayang banget... lebih dari apa pun di dunia ini..."
Dan di luar jendela ICU, matahari mulai terbenam.
Langit berubah jingga kemerahan.
Indah.
Tapi Naura tidak melihatnya.
Yang dia lihat hanya ibu.
Hanya wajah ibu yang tertidur tenang.
Hanya tangan ibu yang masih hangat di genggamannya.
Dan itu cukup.
Untuk saat ini, itu cukup untuk membuat Naura bertahan.
Cukup untuk membuat Naura tidak menyerah.
Cukup untuk membuat Naura ingat kenapa dia mau menderita seperti ini.
Kenapa dia rela jadi istri tanpa cinta.
Kenapa dia rela sakit setiap hari.
Karena cinta seorang anak pada ibu...
Itu cinta yang tidak pernah tergantikan.
Tidak pernah terlupakan.
Tidak pernah mati.
Meski segalanya hancur.
Meski hidupnya berantakan.
Meski hatinya remuk.
Cinta itu tetap ada.
Tetap menyala.
Tetap jadi alasan Naura untuk tidak menyerah.
Dan malam itu Naura pulang ke mansion dengan hati yang sedikit lebih ringan.
Ibu selamat.
Itu satu satunya hal yang dia butuh untuk tetap hidup.
Untuk tetap bertahan.
Untuk tetap bernapas di tengah kegelapan yang terus menyelimutinya.