NovelToon NovelToon
Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Kebetulan Menjadi Legenda Murim

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Fantasi Timur / Epik Petualangan / Antagonis
Popularitas:12.3k
Nilai: 5
Nama Author: Drunk Cats

Geun hanya ingin cepat kaya dan hidup nyaman.

Tapi setiap kebohongan kecil dan pertarungan nekat demi uang justru melahirkan legenda baru.

Saat dunia bela diri mulai menyebutnya monster dan iblis, Geun sendiri hanya sibuk mencari kerja dengan bayaran tinggi.

Geun yang awalnya hanyalah pemuda gelandangan yang ingin hidup bebas dan nyaman, namun tanpa sadar meninggalkan jejak yang mengubah dunia bela diri selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Drunk Cats, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab #33: Kenikmatan

Lantai teratas Red Flower Pavilion tidak lagi terlihat seperti kamar penginapan.

Tempat itu kini terlihat seperti lukisan surga duniawi yang biasa digambarkan dalam buku-buku terlarang.

Asap dupa cendana merah yang mahal mengepul tipis dari pembakar emas di sudut ruangan, memenuhi udara dengan aroma manis yang memabukkan dan membangkitkan gairah.

Tirai-tirai sutra transparan berwarna merah muda menjuntai dari langit-langit, memisahkan ruangan luas itu menjadi bilik-bilik imajinasi yang samar.

Dan di tengah lautan bantal sutra itu, berbaringlah sang "raja" baru Nanjing.

Geun.

Dia tidak mengenakan jubah sutra besarnya. Dia bertelanjang dada, hanya mengenakan celana longgar yang nyaman.

Tubuhnya, yang dulu kurus kering seperti ranting pohon mati, kini adalah sebuah karya seni pahat yang membingungkan.

Otot-ototny tidak besar menggembung seperti beruang, tetapi padat, kering, dan terdefinisi dengan tajam seperti kawat baja yang dipilin. Setiap kali dia bergerak sedikit saja, serat-serat otot di perut, dada, dan lengannya berkedut dengan kekuatan yang membingungkan.

"Aah... Tuan Muda... badanmu keras sekali..." desah seorang gadis cantik berbaju hijau tipis yang sedang memijat bahu Geun.

Jari-jari lentiknya mencoba menekan otot bahu Geun, tapi rasanya seperti memijat batu granit yang hangat.

"Tentu saja keras," gumam Geun malas, matanya terpejam nikmat. "Itu hasil ditempa palu dan makan ayam rebus di sekte yang vegetarian."

"Tuan Muda lucu sekali," kikik gadis lain di sebelahnya.

Bukan hanya satu atau dua.

Ada sepuluh gadis penghibur tercantik di paviliun itu yang mengelilinginya.

Dua memijat kakinya. Dua memijat bahunya. Satu mengupas kulit anggur ungu dan menyuapkannya ke mulut Geun. Satu lagi menuangkan Arak Nada Cahaya ke cawan keramik. Sisanya hanya duduk di sekelilingnya, membelai lengan atau menyandarkan kepala mereka di dada bidang Geun, seolah-olah dia adalah patung dewa kesuburan.

Suasana di ruangan itu penuh dengan tawa manja, desahan napas yang tertahan, keringat, aroma tubuh, dan gesekan kulit halus melawan kain sutra.

Tidak ada pembicaraan berat.

Hanya kenikmatan murni.

Geun membuka mulutnya, menerima suapan anggur yang dingin dan manis.

Lidahnya tanpa sengaja menyentuh ujung jari si gadis pengupas anggur. Gadis itu tersipu malu, wajahnya memerah, tapi matanya menatap Geun dengan tatapan mengundang.

"Manis," komentar Geun singkat.

"Anggurnya?" tanya si gadis lembut.

"Bukan. Uang yang kupakai untuk bayar ini," jawab Geun jujur.

Geun meraih cawan araknya. Dia meneguk cairan mahal itu. Panas arak menjalar di tenggorokannya, bertemu dengan hawa panas alami di tubuhnya.

Dia menatap pantulan wajahnya di permukaan arak yang tersisa di cawan.

Mata merah itu menatap balik.

Geun terdiam sejenak, melamun.

Pikirannya melayang mundur ke beberapa sebulan yang lalu.

"Lucu banget hidup ini," batin Geun.

Dia ingat saat dia berdiri gemetar di depan gerobak hitam Silvercrane.

Waktu itu, dia cuma seorang bocah gembel 16 tahun yang kelaparan lalu nekat berbohong.

Dia mengaku sebagai Pendekar Liar cuma supaya bisa dapat uang 7 tael perak.

Sebuah kebohongan kecil.

Kebohongan yang seharusnya berakhir dengan dia kabur di kota berikutnya.

"Siapa sangka bohong itu malah bikin aku ada di sini sekarang?"

Dia melihat sekeliling.

Wanita-wanita cantik ini... Wanita-wanita mahal ini... Dulu, mereka bahkan tidak akan sudi meliriknya. Jika Geun lewat di depan rumah bordil mewah sebulan lalu, mereka mungkin akan menyiramnya dengan air cucian kaki.

Tapi sekarang?

Mereka berebut menyentuh kulitnya. Mereka menempelkan tubuh harum mereka ke badannya. Mereka menatapnya seolah dia adalah pria paling tampan di dunia.

Dan alasannya cuma satu.

Peti perak di sudut ruangan.

"Benar..." Geun menyeringai sinis pada cawannya sendiri. "Dunia ini emang pelacur. Asal kau bayar, dia bakal senyum."

Meski gemetar karena terseret lebih dalam ke dinamika Murim, Geun tidak merasa bersalah atau merasakan penyesalan.

Rasa bersalah adalah kemewahan orang yang perutnya kenyang. Bagi Geun yang pernah makan tanah, moralitas itu nomor sekian. Yang penting dia bisa menikmati hal yang selama ini hanya ada di dalam mimpi terindahnya... Uang, kemewahan, kenikmatan.

"Tuan Muda... kenapa melamun?" bisik gadis di sampingnya, meniup pelan telinga Geun. Napasnya hangat dan berbau persik. "Apa pelayanan kami kurang memuaskan?"

Gadis itu merapatkan tubuhnya, membiarkan lekuk tubuhnya yang lembut menekan lengan Geun yang keras.

Geun menoleh. Dia menatap gadis itu dengan mata merahnya.

Dia melihat aliran darah gadis itu yang berdesir cepat karena gairah atau karena melihat uang. Dia melihat detak jantungnya yang meninggi.

"Memuaskan," kata Geun, menyelipkan satu keping tael emas ke belahan dada gadis itu. "Sangat memuaskan sampai aku lupa kalau aku ini buronan."

"Buronan?" Gadis-gadis itu tertawa, mengira Geun sedang bercanda lagi. "Buronan hati wanita ya, Tuan?"

Geun ikut tertawa.

"Ya. Anggap saja begitu."

Geun bangkit dari posisi berbaringnya. Siluet tubuhnya masih kurus, atau lebih tepatnya ramping, namun dipenuhi otot-otot kering. Otot-otot punggungnya meregang, membentuk huruf V yang sempurna.

Para gadis menahan napas melihat kejantanan yang terpancar dari setiap gerakannya.

Geun merasa bosan.

Makan sudah, di kenyang sekarang. Minum sudah, dia sudah mabuk tipis. Wanita sudah, dia dikelilingi banyak gadis-gadis cantik.

Hasrat makannya sudah terpenuhi. Hasrat biologis nya juga sudah dimanjakan.

Sekarang, hasrat utamanya yang berteriak.

Keserakahan.

Uangnya berkurang hampir tiga ribu tael untuk menyewa tempat ini, makanan, dan gadis-gadis.

Otak gembel Geun mulai berhitung.

"Sial, banyak juga. Aku harus balikin modal."

Geun menoleh ke arah gadis yang menuangkan arak, seorang wanita yang terlihat lebih dewasa dan berpengalaman dibanding yang lain.

"Hei, Manis," panggil Geun.

"Ya, Tuan Muda?"

"Aku mau tanya. Kalau di Nanjing ini... tempat mana yang uangnya paling gampang didapat?"

Wanita itu tersenyum penuh arti. "Tergantung, Tuan Muda. Kalau Tuan mau berdagang, ada pasar sutra. Kalau Tuan mau berkuasa, ada kantor pejabat."

"Bukan, bukan yang ribet begitu," Geun mengibaskan tangan. "Aku mau tempat di mana aku bisa duduk, bertaruh uang, terus uangnya beranak jadi dua kali lipat dalam sekejap."

Wanita itu tertawa kecil. "Ah... Tuan Muda jiwanya petaruh ternyata."

Dia merangkak mendekat, lalu berbisik dengan nada menggoda.

"Kalau begitu, hanya ada satu tempat di Nanjing yang pantas untuk naga seperti Tuan."

"Di mana?"

"Golden Dragon Casino," jawab wanita itu. "Itu rumah judi terbesar di seluruh Provinsi Jiangnan, dan paviliun terbesarnya ada di kota ini, Nanjing. Uang yang berputar di sana setiap malam bisa membeli separuh kota ini. Letaknya di Distrik Timur, dikelola oleh orang-orang hebat yang punya koneksi ke Klan Namgoong."

Mata Geun yang merah menyala seketika.

Namgoong.

Salah satu dari Empat Klan Agung. Klan Orthodox yang terhormat.

"Klan terhormat buka judi?" batin Geun geli. "Munafik. Tapi bagus. Artinya uang mereka banyak."

Geun baru tahu. Karena selama ini dia selalu hidup menggelandang di kota terpencil, yang jauh dari info-info tentang dunia, tentang Central Plains.

"Golden Dragon, ya..." Geun menjilat bibirnya yang basah oleh arak. "Namanya norak. Aku suka."

"Tuan mau pergi sekarang?" tanya gadis lain dengan nada kecewa, tangannya menahan lengan Geun. "Malam masih panjang, Tuan. Kasino buka sampai pagi. Kenapa tidak bersenang-senang dulu dengan kami?"

Geun melihat tumpukan gadis-gadis cantik di sekelilingnya.

Wangi tubuh mereka, kelembutan kulit mereka, tubuh mereka yang mengkilap karena keringat, dan janji kenikmatan yang mereka tawarkan.

Kasino memang menggoda.

Tapi kasur ini terlalu empuk untuk ditinggalkan sekarang.

Geun kembali menjatuhkan dirinya ke tumpukan bantal.

Dia merentangkan tangan, membiarkan para gadis itu kembali mengerumuninya seperti semut pada gula.

"Kau benar," kata Geun sambil menyeringai lebar, menarik dua gadis sekaligus ke dalam pelukannya. "Uang bisa dicari nanti. Golden Dragon nggak bakal lari."

"Malam ini..." Geun menatap langit-langit kamar yang dilukis gambar bidadari. "Aku mau jadi Kaisar dulu sebentar."

Di luar jendela, bulan bersinar terang di atas kota Nanjing.

Untuk saat ini, biarlah Sang Iblis Masa Depan menikmati anggur dan wanita.

Karena besok, tangannya akan kembali berlumuran darah.

1
Marthen
keren
̇
terus update tor
Marthen
/Doubt/
kirno
lanjutkan
Agen One
mantabbb🔥
Marsah Hayati
bisnis yang menjanjikan geun... 😄
Marsah Hayati
astaga... cicak sakit pinggang... gak kebayang🤣🤣
Aizam Kai
jalan cerita yang menarik harap diteruskan episodnya
kirno
lanjutkan
kirno
mntap,, lanjutkan
kirno
seru nih, lucu
Riduanmake
bau2 heavenly demon
Noman Me
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!