NovelToon NovelToon
Vallheart

Vallheart

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Romansa / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:521
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Peran Penyelamat

Karza berdiri di ruang dosen yang remang, jari-jarinya mengetuk meja batu perlahan. Di hadapannya, Jizz Zarty berdiri tegak. Tenang, namun waspada.

“Pendekatan langsung tidak berhasil,” kata Karza tanpa emosi. “Pangeran itu terlalu waspada.”

Jizz mengangguk. “Ia bahkan selalu ada.”

“Kalau begitu,” lanjut Karza, “buatlah situasi di mana kehadirannya tidak cukup.”

Jizz menatap Karza. “Anda ingin saya memancing?”

“Tidak.” Karza menoleh. “Aku ingin kau menyelamatkan.”

Jizz terdiam sejenak, lalu mengerti.

“Gunakan orang lain,” tambah Karza. “Seseorang yang memang sudah memiliki konflik.”

Nama itu muncul hampir bersamaan di benak mereka.

Dorna Ginarcis.

***

Di sudut halaman latihan yang sepi, Jizz berdiri bersandar santai, seolah kebetulan bertemu.

“Kau terlihat kesal,” katanya ringan.

Dorna mendengus. “Apa urusanmu?”

“Aku hanya mendengar,” Jizz melanjutkan, “Roselein kembali dipuji dosen pagi ini.”

Rahang Dorna mengeras.

“Gadis itu tidak pantas mendapatkannya,” desisnya. “Datang entah dari mana, lalu semua orang membelanya.”

Jizz mengangguk seolah setuju. “Dan pangeran itu selalu ada di sisinya.”

Dorna mengepalkan tangan. “Aku muak melihatnya dibela pangeran Reyd.”

Jizz mencondongkan badan sedikit. “Kalau begitu, buat semua orang melihat sisi lemahnya.”

Dorna menoleh tajam. “Apa maksudmu?”

“Masalah kecil,” jawab Jizz santai. “Tidak berbahaya. Cukup membuatnya terpojok sendirian.”

Dorna ragu. “Dan kau?”

“Aku akan memastikan tidak ada yang terluka,” kata Jizz lembut. “Academy tidak butuh skandal.”

Keheningan sesaat.

Lalu Dorna tersenyum tipis, senyum yang tidak menyentuh matanya.

***

Lein berjalan sendirian menuju rumah kaca tanaman sihir, membawa catatan kecil. Reyd tertahan di kelas taktik, Grack dipanggil dosen latihan, dan Lysa sedang sakit ringan.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari,

Lein sendirian.

Di dalam rumah kaca, udara hangat dan lembap. Tanaman berpendar lembut.

Lein berlutut, menyentuh daun yang layu. Mana Hati Peri Malam mengalir pelan.

Lalu...

Udara berubah.

Serangga kecil bermunculan dari sela pot, jumlahnya terlalu banyak, gerakannya tidak alami. Sayap mereka berkilat kehijauan.

Lein berdiri cepat. “Ini bukan serangga alami.”

Sihir Racun Serangga.

“Kau selalu saja, berpura-pura suci.”

Suara Dorna terdengar dari balik rak tanaman.

Lein menoleh. “Dorna, hentikan ini.”

“Kenapa?” Dorna melangkah maju. “Tidak ada pangeran di sini yang akan menyelamatkanmu.”

Serangga bergerak mendekat.

Lein mundur satu langkah, mencoba menenangkan aliran mana... namun ia menahan diri. Jika ia melepaskan terlalu banyak, ia akan menarik perhatian dosen.

Terlambat.

Serangga menyerbu.

Dan saat itulah.

“Cukup!”

Gelombang mana menyapu rumah kaca. Serangga-serangga itu jatuh tak bernyawa, seolah dipadamkan.

Jizz berdiri di pintu, tangan terangkat, napas sedikit terengah.

“Dorna,” katanya tegas. “Apa yang kau lakukan?”

Dorna tersentak, mundur setengah langkah. “Aku, aku hanya... ”

“Pergi,” potong Jizz. “Sekarang.”

Dorna melirik Lein, lalu berbalik pergi dengan wajah kesal.

Keheningan jatuh.

Jizz menoleh pada Lein, ekspresinya berubah lembut. “Kau tidak apa-apa?”

Lein mengangguk, meski jantungnya masih berdebar. “Terima kasih”

Jizz tersenyum tipis. “Maaf aku terlambat datang.”

Ia menawarkan tangan: tidak menyentuh, hanya dekat.

Lein ragu sejenak, lalu berdiri sendiri.

“Aku bisa sendiri,” katanya pelan.

Jizz tidak memaksa. “Tentu.”

***

Jauh dari rumah kaca, Karza menutup buku catatannya.

“Baiklah,” gumamnya. “Sekarang kita lihat.”

Karena jika Lein benar-benar menyimpan rahasia, maka rasa aman palsu adalah kunci untuk membukanya.

***

Skenario itu seharusnya rapi. Lein terpojok. Jizz datang sebagai penyelamat. Perlahan kepercayaan terbentuk.

Namun yang ia lihat justru sebaliknya.

Lein tidak bersandar.

Tidak berterima kasih berlebihan.

Tidak menatap Jizz seperti seseorang yang diselamatkan.

Itu membuat dada Dorna panas.

“Tidak, ini tidak cukup,” gumamnya.

Jika Lein tidak jatuh karena ketakutan,

maka ia akan dijatuhkan dengan kesalahpahaman.

Reyd sedang berjalan menuju aula latihan ketika Dorna menghentikannya.

“Pangeran Reyd.”

Nada suaranya terdengar ragu, dibuat-buat.

Reyd menoleh, alisnya sedikit berkerut. “Ada apa?”

Dorna menunduk, seolah bimbang. “Aku… aku tidak tahu apakah aku seharusnya mengatakan ini.”

Reyd tidak menyahut.

Ia menunggu.

Dorna mengangkat wajahnya, memperlihatkan ekspresi khawatir yang rapuh. “Aku melihat Lein, dia bersama Jizz Zarty.”

Reyd tetap diam.

“Mereka terlihat dekat,” lanjut Dorna cepat, takut kehilangan momentum. “Di rumah kaca. Jizz melindunginya. Mereka berbicara lama... ”

“Berhenti,” potong Reyd.

Dorna tersentak.

“Kau ingin aku membenci Lein?” tanya Reyd datar.

Dorna membeku. “A-aku hanya khawatir. Jizz itu murid senior. Kau tahu sendiri reputasinya."

Reyd melangkah mendekat satu langkah.

Tatapannya tidak marah.

Lebih dingin dari es batu sendiri.

“Apa yang terjadi di rumah kaca?” tanyanya.

Dorna terdiam sepersekian detik terlalu lama.

Cukup lama.

Reyd menghela napas pelan. “Kau membuat masalah lagi, Dorna.”

“Aku tidak membuat masalah!” bantahnya cepat. “Aku hanya... ”

“Kau hanya ingin aku melihat apa yang ingin kau perlihatkan,” lanjut Reyd. “Itu bukan kebenaran.”

Dorna mengepalkan tangan. “Kau selalu membelanya”

“Karena aku tahu Lein, dia tidak mungkin berbohong,” jawab Reyd tegas. “Dan kau, kau sudah terlalu sering membuat kekacauan.”

Keheningan menekan.

Air mata menggenang di mata Dorna, bukan karena sedih... melainkan karena frustrasi.

“Kenapa dia?” desisnya. “Kenapa selalu dia?”

Reyd menatapnya lama.

“Karena Lein tidak pernah mencoba mengambil apa pun darimu,” katanya akhirnya. “Kau sendiri yang melemparkan semuanya.”

Dorna mundur satu langkah, wajahnya memucat.

“Jangan libatkan namaku lagi,” lanjut Reyd. “Dan jangan gunakan orang lain untuk menyakiti Lein.”

Ia berbalik pergi.

Meninggalkan Dorna berdiri sendiri di koridor yang sunyi.

***

Di tempat lain, Lein duduk di tepi kolam kecil Academy, menatap bayangannya di air.

Ia merasakan sesuatu berubah.

Bukan ancaman langsung.

Melainkan retakan dalam skenario.

Raksha menghembuskan napas panjang.

Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat ini.

1
Namida Leda
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!