NovelToon NovelToon
Pengagum Rahasia

Pengagum Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintamanis / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Dokter / Teman lama bertemu kembali
Popularitas:27.5k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.

Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Karena Aku Tidak Pantas

Seorang staf restoran dengan ramah pada mereka, lebih tepatnya pada Narendra. ​Kanaya melangkah ragu, kakinya terasa berat saat menginjak lantai marmer yang berkilau dan di dalam restoran, aroma rosemary dan daging panggang premium memenuhi udara berpadu dengan alunan musik jazz yang sangat lembut.

Kanaya melihat sekeliling, orang-orang mengenakan jas dan gaun malam yang indah, sedangkan Kanaya merasa seperti alien yang salah mendarat dengan pakaian sederhananya yang sudah tak rapi lagi.

​"Duduklah," ucap Narendra sambil menarikkan kursi untuk Kanaya.

​Kanaya duduk dengan kaku, punggungnya tegak lurus. Begitu seorang pelayan memberikan buku menu, Kanaya membukanya dan matanya hampir keluar saat melihat deretan harga yang tercantum, tidak ada satu pun makanan yang harganya di bawah seratus ribu.

'Mahal banget, makanan termahal disini aja setara dengan gajiku bagkan lebih mahal makanan disini daripada gajiku,' batin Kanaya.

"Kamu mau pesan apa?" tanya Narendra.

"A-aku pesan...," Kanaya menggantung perkataannya dan mencari makanan termurah di restoran tersebut.

Kanaya membolak-balik halaman menu dengan jari yang sedikit gemetar, matanya menyisir kolom harga dan mencari angka paling kecil yang bisa ia temukan. Namun, bahkan untuk seporsi hidangan pembuka pun harganya sanggup membuat Kanaya ingin menangis di tempat.

"Aku... aku pesan air mineral saja, Narendra. Perutku sepertinya tiba-tiba sakit, jadi tidak selera makan," dusta Kanaya pelan.

Kanaya menutup buku menu itu dengan cepat dan berharap Narendra tidak menyadari kepanikannya, ​Narendra tidak langsung menjawab. Narendra justru memberikan isyarat kepada pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka, pelayan itu mendekat dengan sigap dan sebelum si pelayan sempat bicara, Narendra sudah bersuara.

​"Dua wagyu ribeye, tingkat kematangan medium. Untuk hidangan pembukanya, bawakan truffle fries dan caesar salad. Untuk minumnya, dua gelas lemon squash," ucap Narendra tanpa sekali pun melirik buku menu, ia tampak sudah sangat hafal dengan isi restoran ini.

​"Baik, mohon ditunggu," jawab pelayan itu sambil membungkuk sopan dan berlalu.

"A-aku pesan air mineral aja, tiba-tiba perutku gak enak, takutnya gak kemakan," ucap Kanaya.

"Nanti makan sedikit, kalau gak habis bisa dibungkus," jawab Narendra.

'Masa makan di restoran ini bisa dibungkus, yang ada aku malu-maluin Narendra,' batin Kanaya.

Beberapa saat kemudian, pesanan Narendra datang dan aroma daging panggang premium yang gurih langsung menyerang pertahanan perut Kanaya yang sedari tadi berbunyi.

​Saat Kanaya hendak memotong dagingnya, ia sedikit kesulitan karena pisau yang digunakan terasa berbeda dari pisau dapur biasanya. Kanaya tampak kikuk saat mencoba menekan daging tersebut, karena menimbulkan suara decit antara pisau dan piring porselen.

Ditengah kesusahannya tiba-tiba Narendra mengambil piring Kanaya lalu menukarnya dengan piringnya yang dagingnya sudah terpotong kecil-kecil.

"Makan ini saja," ucap Narendra.

"Ta- tapi...," ucapan Kanaya terhenti karena Narendra bersuara.

"Makan," ucap Narendra yang tidak ingin dibantah.

Jika Narendra sudah mengeluarkan nada bicara mutlak seperti itu, membantah hanya akan membuat suasana semakin canggung. Dengan gerakan pelan, Kanaya menusuk satu potongan daging kecil itu dan menyuapnya ke dalam mulut, matanya seketika membelalak saat merasakan tekstur dagingnya begitu lembut hingga seolah lumer di lidah, jauh berbeda dengan daging rendang atau sate yang biasa ia beli di pinggir jalan.

​"Enak?" tanya Narendra tanpa mengalihkan pandangan dari piringnya sendiri.

​"Enak banget," gumam Kanaya jujur, sesaat ia melupakan rasa minder dan malunya.

"Pantas saja harganya bisa buat bayar kontrakan sebulan, rasanya emang nggak bohong," lanjut Kanaya.

​Narendra menarik sedikit sudut bibirnya, "Habiskan, jangan pikirkan harganya, pikirkan nutrisinya," ucap Narendra.

'Kalau aku pikirkan nutrisinya yang ada nggak bisa hidup aku, harganya aja mahal banget. Emang orang kaya enak banget ya bisa beli apa-apa tanpa mikir harganya,' batin Kanaya.

Kanaya terus mengunyah dengan khidmat, meski pikirannya masih berkelana membandingkan harga sepiring steak ini dengan tumpukan tagihan listrik di meja kosnya. Sementara itu, Narendra menikmati makanannya dengan sangat tenang dan elegan, seolah suasana mewah ini memang sudah menjadi bagian dari napasnya sehari-hari.

Setelah menghabiskan makan malam yang terasa seperti mimpi buruk sekaligus surga bagi lidah Kanaya, mereka akhirnya beranjak keluar. Di dalam lift menuju basement, Kanaya terus mencuri pandang ke arah Narendra melalui pantulan dinding lift yang mengilap.

​"Narendra, makasih ya buat makanannya. Tapi jujur, aku merasa nggak enak banget, lain kali kita makan di tempat biasa saja," ucap Kanaya memecah keheningan.

​Narendra hanya bergumam pendek dan tangannya sibuk merogoh kunci mobil di saku celananya, "Lain kali itu berarti ada pertemuan selanjutnya kan? Aku pegang kata-katamu," ucap Narendra.

​Kanaya tersentak, ia mengatakannya hanya bermaksud berbasa-basi, tapi Narendra menangkapnya sebagai sebuah janji.

'Mampus, aku nggak bisa dekat sama Narendra terus-terusan. Nanti aku baper dan berharap sama dia, aku harus menjauh, aku nggak mau berada disamping Narendra, karena aku tidak pantas,' batin Kanaya.

Pintu lift terbuka di area basement, Kanaya melangkah keluar dengan pikiran yang berkecamuk, ia merutuki bibirnya yang baru saja memberikan harapan palsu secara tidak sengaja.

Narendra berjalan di sampingnya, langkahnya lebar dan penuh percaya diri, begitu sampai di depan mobil, Narendra membukakan pintu untuk Kanaya, sebuah gestur sederhana yang entah kenapa terasa begitu berat bagi Kanaya sekarang.

Beberapa saat kemudian, mobil Narendra akhirnya berhenti tepat di depan gang sempit menuju kosan Kanaya, kontras antara mobil mewah Narendra dan lingkungan kumuh di sekitarnya terasa semakin nyata di mata Kanaya.

"Sudah sampai, makasih ya buat hari ini, Narendra. Makanannya, antar jemputnya... semuanya," ucap Kanaya sambil melepas sabuk pengaman.

​"Kanaya," panggil Narendra.

​"Ya?" tanya Kanaya menoleh.

Narendra merogoh laci dasbor mobilnya lalu mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna hitam pekat yang tampak sangat elegan, ia mengulurkan kotak itu ke arah Kanaya dengan gerakan tenang.

​"Ini untukmu," ucap Narendra singkat.

​Kanaya terpaku dan tangannya menggantung di udara, "Apa ini?" tanya Kanaya.

"Bukanya nanti aja saat di kos," ucap Narendra.

Kanaya menerima kotak beludru itu dengan ragu, teksturnya yang halus terasa dingin di telapak tangannya dan memberikan kesan bahwa benda di dalamnya bukanlah barang sembarangan.

Setelah itu, Kanaya kekuar dari mobil dan ia melangkah menyusuri gang sempit yang hanya diterangi lampu jalan temaram, sementara Narendra berjalan tenang di belakangnya dan kehadiran Narendra di gang ini seperti seorang pangeran yang nyasar di pemukiman warga.

Beberapa tetangga yang masih duduk di depan teras tampak melirik penasaran saat melihat sosok pria tinggi tegap dengan aura berkelas yang menemani Kanaya, Kanaya hanya bisa menunduk dan mencoba mempercepat langkahnya agar segera sampai di depan pintu kosnya yang sederhana.

​"Terima kasih untuk hari ini Narendra," ucap Kanaya dengan suara rendah dan berharap tidak ada tetangga yang menguping.

​Narendra mengedarkan pandangannya ke sekeliling area kosan yang pengap lalu matanya kembali tertuju pada Kanaya, "Kunci pintunya dengan benar, jangan sembarangan membuka pintu jika ada yang mengetuk malam-malam," pesan Narendra dan diangguki Kanaya.

.

.

.

Bersambung.....

1
dika edsel
setelah ini giliran ke rumahnya naya...,minta restu ke emak bapaknya naya juga jgn lupa itu?? semoga lancar sampe hari H😊
Aidil Kenzie Zie
Narendra mau memperkenalkan Kanaya sebagai calon istrinya 👍👍
Naufal Affiq
semoga calon mertua tidak bermuka dua
Pcy
semoga mama dan papanya narendra benar2 menerima kanaya
dyah EkaPratiwi
Alhamdulillah diterima dengan baik
leahlaurance
semoga bakal ibu bapa mertua tulus,ya jangan hanya pura pura depan anaknya.
partini
wow di luar perdeksi BMKG,apa berkelanjutan atau cuma awal
Ana
mudah2an kanaya ditrimah
Indriani Kartini
apakah Kanaya akan di tolak atau Mlah sebaliknya ya, mudah2an keluarga Narendra menerima kanaya
Naufal Affiq
lanjut kak,gak bisa komen,naren nya gercep banget mau mengenal nara sama keluarganya,
Isma Nayla
semoga naren dpt melindungi naya seumpama naya di pandang rendah oleh keluarganya naren.
dika edsel
ya ampun....anak siapa sih ini,maen dirumah org gk kenal waktu...?? udah ditolak masih gk pulang dasar tebal muka...,gktau diri.. katanya anak orang kaya tp makan masih numpang..,sarapan numpang, makan siang numpang eh masih nungguin makan mlm juga...😌
leahlaurance: semoga naya enga di permalukan.
total 1 replies
partini
sat set sekali si Naren,OMG semoga ada something setelah melihat Kanaya like someone in the past
dyah EkaPratiwi
semoga orang tua Narendra bisa terima
Kusii Yaati
kayaknya bau" perjodohan mulai tercium 😌
Naufal Affiq
beneran naren,kamu ajak nikah naya,jangan buat di sakit hati
Naufal Affiq
aku pada mu naren
partini
ngajak nikah apa ngajak masuk neraka ren
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
minat
dika edsel
ini masih konflik di area gang sempit blm ke konflik keluarga naren, pastinya lbh berat lagi..!?! klo cinta bilang..jgn menggantung hati anak orang,lindungi naya apapun yg terjadi..,aku yakin kau mampu naren.
dika edsel: diliat dr modelan bapaknya naren yg nyebelin pasti menentang keras pilihan anaknya, udah pasti ituh..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!