Kisah ini Terinspirasi dari Lengenda Urban Nenek Gerandong Di Banten Indonesia
Dulu kala Ada Ibu Muda yang sedang menyusui bayi, tiba tiba sosok nenek menyeramkan hadir membuat si ibu muda ketakutan dan pingsan. si nenek seram itu lalu menculik bayinya dan masuk ke dalam hutan dengan cara melayang
Jika bayi Ibu menyusui tak cepat ditemukan apa yang akan terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SARUNG GAME, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Godaan di Tengah Hujan Dendam
Petir sesekali menyambar jauh di ufuk, menerangi siluet pohon-pohon durian yang berdiri kaku seperti penjaga kubur. Di Desa Durian Berduri, suara gemericik air di atap daun rumbia bercampur dengan detak jantung warga yang tak bisa tidur nyenyak. Malam ini terasa lebih gelap dari biasanya, lebih dingin, lebih... lapar.
Kang Asep, 38 tahun, sudah menikah dan punya tiga anak, berjalan pelan di jalan setapak berlumpur, obor bambunya menyala redup di tangan kanan. Di sampingnya, Kang Ujang, 20 tahun, masih bujang dan darah mudanya masih panas, memegang tongkat kayu jati yang ujungnya runcing. Mereka berdua ronda malam ini, seperti biasa mengelilingi desa yang terpencil. Daeng Tasi, suami Teh Sari, sempat berpesan sebelum berlayar: “Kang, tolong sesekali cek rumahku. Istriku sendirian, rumahnya agak ke pinggir hutan. Kalau ada apa-apa, langsung kabari kepala desa.”
Mereka sudah melewati beberapa rumah, tapi firasat buruk membuat langkah mereka lebih cepat menuju rumah kecil di ujung desa itu. Dari kejauhan, pintu rumah Sari Wangi terbuka lebar. Cahaya lampu minyak yang redup menyembul keluar, menerangi genangan air hujan di depan teras. Angin menyapu daun-daun pintu, membuatnya bergoyang pelan seperti undangan maut.
Kang Asep berhenti. “Ujang... pintunya terbuka.”
Kang Ujang menelan ludah. “Mungkin angin, Kang. Tapi... kok gelisah saya.”
Mereka mendekat pelan, sepatu caping mereka mencipratkan lumpur. Ketika sampai di ambang pintu, pandangan mereka langsung tertahan.
Di lantai kayu yang basah oleh cipratan hujan, Sari Wangi tergelatak tak sadarkan diri. Tubuhnya terlentang, rambut sanggulnya lepas separuh, helai-helai hitam basah menempel di pipi dan lehernya yang putih mulus. Kebaya kuningnya robek sedikit di bahu, kancing depannya terbuka dua biji—memperlihatkan belahan dada yang naik turun pelan seiring napasnya yang lemah.
Payudaranya yang montok tertekan kain tipis, garis lekuknya jelas terlihat di bawah cahaya kuning lampu minyak. Jarik batiknya tersingkap tinggi hingga ke pinggul, memperlihatkan seluruh paha mulusnya yang berkilau karena air hujan dan keringat. Kakinya sedikit terbuka, posisi tubuhnya seperti sedang menyerah pada sesuatu yang tak terlihat—menggoda, rapuh, dan terlalu indah untuk malam seperti ini.
Kang Asep menelan ludah keras. Obor di tangannya gemetar, nyala apinya menari-nari di wajah Sari. “Ya Allah... Teh Sari...”
Kang Ujang lebih muda, darahnya lebih mendidih. Matanya tak bisa lepas dari pemandangan itu. Napasnya memburu, tangannya menggenggam tongkat lebih erat seolah menahan diri. “Kang... dia pingsan. Kita harus... bantu dia.”
Tapi kata “bantu” itu terdengar setengah hati. Mereka berdua diam, hanya suara hujan dan angin yang mengisi keheningan. Di kepala Kang Asep, bayangan istri dan anak-anaknya di rumah bertabrakan dengan godaan yang berdiri di depan mata. Kang Ujang, yang belum pernah menyentuh perempuan, merasa darahnya berdesir panas—ini kesempatan yang tak pernah ia bayangkan, gratis, tanpa saksi, di malam yang gelap dan hujan yang menutupi segala suara.
Kang Asep mundur setengah langkah, tapi matanya masih tertambat. “Kita... kita harus lapor ke kepala desa. Sekarang juga.”
Kang Ujang tak langsung menjawab. Ia melangkah masuk satu langkah, mendekati tubuh Sari yang tak bergerak. “Kang... sebentar aja. Kita pastiin dia masih bernapas. Siapa tahu dia kedinginan. Kita... angkat dia ke bale dulu.”
Suara itu penuh alasan, tapi nada di belakangnya penuh nafsu. Kang Asep memandang adik ronda itu dengan mata menyipit. “Ujang... jangan.”
Tapi Kang Ujang sudah berlutut di samping Sari. Tangannya gemetar mendekati bahu perempuan itu, seolah hendak mengangkat—tapi jari-jarinya malah menyentuh kulit leher Sari yang dingin dan lembut. Sentuhan itu seperti listrik. Sari menggelinjang pelan, tapi tak sadar. Napasnya masih lemah, bibirnya sedikit terbuka.
Kang Asep menarik napas dalam. “Ujang! Bangun! Kita angkat dia bareng, taruh di bale, tutup pintu, lalu lapor. Jangan macam-macam!”
Tapi di dalam hati Kang Asep sendiri, perang sedang berkecamuk. Hujan di luar semakin deras, menyembunyikan segala suara. Lampu minyak berkedip-kedip, membuat bayang-bayang mereka menari di dinding seperti setan yang tertawa. Dan di luar sana, dari arah hutan, terdengar lagi suara tawa serak yang samar—tawa yang sama seperti yang didengar Sari sebelum pingsan.
Mereka tak tahu bahwa di kegelapan hutan, sosok berambut kelabu panjang itu sedang menggendong bayi Lilis, matanya merah menyala menatap ke arah rumah kecil itu. Dendamnya belum selesai. Malam ini baru permulaan.
Dan godaan yang sedang dihadapi dua lelaki itu... mungkin saja menjadi bagian dari rencana yang lebih gelap.
\*\*\*
Konflik Batin Kak Asep
Hujan terus mengguyur tanpa ampun, seperti langit sedang menangisi dosa-dosa yang akan terjadi di malam itu. Angin dingin menyusup melalui celah-celah dinding bambu rumah Sari Wangi, membawa bau tanah basah bercampur amis kemenyan yang semakin kuat—bau yang tak asing bagi siapa pun yang pernah mendengar cerita lama tentang Mbah Saroh. Cahaya obor Kang Asep berkedip lemah, menerangi genangan air di teras dan bayang-bayang yang menari di dinding seperti tangan-tangan gaib yang meraih.
Kang Ujang sudah berlutut di samping tubuh Teh Sari yang tergelatak tak sadarkan diri, tangannya gemetar menyentuh bahu perempuan itu. “Kang… dia kedinginan. Kita angkat dulu ke bale, ya? Kasian kalau dibiarkan begini.” Suaranya pelan, tapi matanya penuh nafsu yang tak bisa disembunyikan lagi. Jari-jarinya bergerak lambat, menyusuri kulit leher Sari yang mulus, lalu turun sedikit ke arah belahan dada yang terbuka. Jarik batiknya tersingkap tinggi, memperlihatkan paha mulus yang berkilau karena air hujan dan keringat. Kebaya kuningnya robek di bahu, kancing terbuka dua biji—payudara montoknya naik turun pelan, garis lekuknya jelas di bawah cahaya redup lampu minyak.
Kang Asep berdiri kaku di ambang pintu, obor di tangannya gemetar hebat hingga nyala apinya hampir padam. Pikirannya seperti medan perang yang porak-poranda.
Ia ingat malam tiga puluh tahun lalu—malam ketika warga desa membakar gubuk Mbah Saroh. Saat itu Kang Asep masih kecil, baru delapan tahun, tapi ia ingat jelas jeritan anak kecil yang diculik: Siti Aisyah, anak dari Mas Karta dan Mbak Wulan. Anak perempuan yang lahir dari perjanjian darah dengan dukun hitam itu. Warga marah, menyelamatkan anak itu, membakar gubuk, dan Mbah Saroh lenyap dalam api. Tapi yang tak pernah diceritakan secara terbuka adalah: anak itu, Siti Aisyah, setelah diselamatkan, tak lagi sama. Ia tumbuh menjadi gadis cantik, tapi hatinya dingin, matanya sering kosong. Ia menikah dengan Kang Asep di usia muda, melahirkan tiga anak—dan selama ini, Kang Asep tak pernah berani bertanya mengapa istrinya, Mbak Neneng—yang sebenarnya bernama Siti Aisyah—selalu gelisah di malam-malam hujan, selalu bergumam tentang “nenek yang menunggu”.
Mbak Neneng adalah anak yang diculik 30 tahun lalu. Anak yang seharusnya menjadi milik Mbah Saroh. Anak yang diselamatkan warga, tapi kutukan itu tak pernah benar-benar hilang. Dan sekarang, di depan Kang Asep, ada Teh Sari—ibu muda cantik yang tubuhnya menggoda iman—istri Daeng Tasi yang mempercayainya untuk menjaga rumah ini.
“Ujang… mundur.” Suara Kang Asep serak, hampir tak terdengar. Tapi kakinya malah maju satu langkah masuk ke rumah.
Kang Ujang tersenyum miring. “Kang, santai aja. Daeng Tasi lagi di laut. Kita bantu dia dulu. Tutup pintu. Siapa yang tahu? Hanya sekali ini. Akang kan suaminya Siti Aisyah—eh, Mbak Neneng. Udah punya anak tiga, pasti bosan juga, kan? Ini… ini cuma pemandangan gratis. Lihat deh, kulitnya mulus banget. Kayak sutra. Saya aja yang bujang deg-degan, apalagi Akang.”
Kata-kata itu seperti cambuk yang menghantam hati Kang Asep. Ia teringat wajah Mbak Neneng setiap malam: mata yang sering menatap kosong ke arah hutan, tangan yang gemetar saat mendengar suara tawa serak dari kejauhan. Ia ingat bagaimana istrinya pernah berbisik di tengah malam: “Asep… nenek itu masih nunggu. Dia bilang… anakku yang ketujuh tahun nanti akan diambil.” Tapi Kang Asep selalu menenangkan: “Itu cuma mimpi buruk, Nen. Udah lewat.”
Sekarang, di depannya, ada bayi Lilis yang hilang dari pelukan Sari. Dan Sari sendiri, rapuh, cantik, tak berdaya. Nafsu di dada Kang Asep membara seperti api yang disiram minyak. “Hanya lihat saja,” bisik setan dalam hatinya. “Tak ada yang tahu. Mbak Neneng tak akan tahu. Anak-anak tidur nyenyak di rumah. Ini malam gelap, hujan menutupi segalanya. Kau sudah capek jaga iman bertahun-tahun. Sekali ini saja… lepaskan.”
Tapi suara lain—suara ayahnya yang sudah meninggal, suara kyai di surau, suara hati nurani yang masih tersisa—berteriak: “Ini pengkhianatan! Daeng Tasi percaya padamu! Sari ini istri temanmu! Dan ingat… anakmu yang sekarang berusia enam tahun. Kalau kutukan Mbah Saroh benar, apa yang kau lakukan malam ini bisa membawa malapetaka ke anak-anakmu sendiri!”
Kang Asep menutup mata sejenak, napasnya tersengal. Tangannya mendekati wajah Sari, jari-jarinya hampir menyentuh pipi yang dingin itu. Tapi tiba-tiba ia menarik tangan kembali dengan kasar, seperti tersengat api. “Tidak!” raungnya pelan, suaranya pecah. Ia menarik Kang Ujang berdiri dengan kasar. “Kita angkat dia sekarang! Taruh di bale, tutup pintu, lalu lari ke rumah Pak Kades! Kalau kau macam-macam lagi, aku yang potong lehermu sendiri!”
Kang Ujang terkejut, tapi matanya masih penuh keinginan. “Kang… kamu serius?”
Kang Asep menatapnya dengan mata merah. “Aku serius. Ini bukan godaan biasa. Ini jebakan. Ingat cerita Nenek Gerandong? Dia suka main-main dengan nafsu orang sebelum ambil nyawa. Bayi Lilis hilang. Dan kalau kita jatuh sekarang… besok anak-anak kita yang jadi korban.”
Di luar, angin menderu lebih ganas. Dari hutan terdengar tawa serak lagi—lebih dekat, lebih jelas. Lampu minyak berkedip, hampir padam. Kang Asep dan Kang Ujang saling pandang, lalu dengan cepat mengangkat tubuh Sari yang lemas ke bale tidur. Mereka menutup pintu rapat, tapi hati Kang Asep tahu: konflik moral ini belum selesai. Dendam Mbah Saroh—nenek yang dulu hampir mengambil istrinya sendiri—sedang menunggu kesalahan berikutnya.
Dan malam ini, kesalahan itu hampir saja terjadi.
\*\*\*
Kang Asep dan Kang Ujang berlari sekuat tenaga menyusuri jalan setapak yang licin oleh lumpur dan genangan air hujan. Obor di tangan Kang Asep hampir padam berkali-kali, tapi ia tak peduli—api kecil itu adalah satu-satunya cahaya yang memisahkan mereka dari kegelapan total. Napas mereka tersengal, sepatu caping mencipratkan air kotor ke mana-mana. Di belakang mereka, rumah Sari Wangi tertinggal dengan pintu yang sudah ditutup rapat, tapi bayang-bayang di dalam hati Kang Asep masih bergoyang-goyang seperti daun rumbia di angin ribut.
Mereka tiba di rumah Pak Kades dalam waktu singkat yang terasa seperti selamanya. Rumah panggung besar di tengah desa itu masih menyala lampu minyak di teras. Pak Kades—seorang lelaki berusia 65 tahun bernama Haji Somad—sedang duduk di kursi rotan, memegang tasbih kayu jati sambil mendengarkan adzan subuh yang belum waktunya. Wajahnya keriput dalam, mata tajam meski sudah tua, dan jenggot putihnya basah oleh embun malam. Di sampingnya, Bu Kades sedang menjerang air panas untuk teh.
Kang Asep dan Kang Ujang langsung berlutut di depan teras, suara mereka gemetar.
“Pak Kades! Ada kejadian buruk di rumah Teh Sari!” kata Kang Asep, napasnya putus-putus. “Pintunya terbuka lebar, Teh Sari pingsan di lantai, bayinya hilang! Kami… kami angkat dia ke bale, tutup pintu. Tapi ada yang aneh, Pak. Bau kemenyan… dan tawa dari hutan.”
Kang Ujang menambahkan dengan suara pelan, “Dan… bayi Lilis nggak ada, Pak. Pelukannya kosong.”
Pak Kades diam sejenak. Tasbih di tangannya berhenti bergerak. Matanya menyipit menatap keduanya bergantian, seolah membaca isi hati mereka. Ia tahu cerita lama desa ini lebih baik daripada siapa pun—ia masih remaja saat warga membakar gubuk Mbah Saroh 30 tahun lalu. Ia ingat jeritan anak kecil itu, Siti Aisyah, yang diselamatkan dari tangan dukun hitam.
“Ya Allah…” gumam Pak Kades pelan. Ia berdiri perlahan, badannya masih tegap meski usia sudah renta. “Bu, siapkan obor lebih banyak. Panggil dua hansip desa. Kita ke sana sekarang.”
Tak sampai sepuluh menit, rombongan kecil itu sudah bergerak: Pak Kades memimpin, diikuti Bu Kades yang membawa kain sarung cadangan, dua hansip desa bersenjatakan golok dan tombak bambu runcing, serta Kang Asep dan Kang Ujang yang masih gemetar. Hujan mulai reda menjadi gerimis, tapi angin tetap dingin menusuk tulang.
Saat rombongan melewati rumah Kang Asep—sebuah rumah panggung kecil di pinggir jalan setapak—Kang Asep tiba-tiba berhenti. Ia menoleh ke Pak Kades.
“Pak… izinkan saya singgah sebentar. Saya harus jemput istri saya. Anak-anak dijaga neneknya—ibu saya. Tapi… saya khawatir.”
Pak Kades mengangguk pelan, matanya penuh pengertian. “Pergi, Asep. Cepat. Kita tunggu di depan.”
Kang Asep berlari kecil menaiki tangga rumahnya. Pintu sudah terbuka sedikit. Di dalam, lampu minyak redup menerangi ruangan sederhana. Anak-anaknya—tiga bocah kecil—sedang tidur nyenyak di bale, dijaga nenek mereka yang sudah renta. Tapi istrinya, Siti Aisyah—yang selama ini dipanggil Mbak Neneng oleh semua orang—sedang duduk di sudut, memeluk lututnya sendiri. Wajahnya pucat, mata besar hitamnya menatap kosong ke arah jendela yang menghadap hutan.
“Nen…” panggil Kang Asep pelan.
Siti Aisyah menoleh lambat. Rambutnya yang panjang terurai, wajahnya yang dulu cantik seperti boneka kini tampak lelah, tapi masih menyimpan keindahan yang sama seperti saat kecil—saat ia masih bernama Siti Aisyah, anak yang hampir menjadi milik Mbah Saroh 30 tahun lalu.
“Asep… aku dengar tawa itu lagi,” bisiknya, suaranya serak. “Tawa nenek itu. Dia… dia bilang malam ini dia mulai ambil yang seharusnya miliknya. Bayi… bayi tujuh tahun… atau yang lebih muda dulu, biar dendamnya terbayar.”
Kang Asep merinding. Ia ingat cerita istrinya yang sering muncul di mimpi buruk: bagaimana ia diculik Mbah Saroh saat berusia tujuh tahun, dibawa ke gubuk, lalu diselamatkan warga. Tapi sejak itu, ada bagian dari dirinya yang “hilang”—bagian yang selalu mendengar suara serak itu di malam hujan.
“Nen, ikut aku sekarang. Ada kejadian di rumah Teh Sari. Bayi Lilis hilang. Teh Sari pingsan. Kita harus ke sana.”
Siti Aisyah berdiri pelan, tubuhnya gemetar. Matanya menatap suaminya dengan tatapan yang sulit dibaca—campuran ketakutan dan sesuatu yang lebih dalam, seperti penyesalan yang tak pernah diucapkan. “Asep… kalau ini benar-benar dia… kalau dendamnya belum selesai… apa yang akan terjadi pada anak-anak kita? Si kecil kita sudah hampir tujuh tahun…”
Kang Asep memeluk istrinya erat, tapi pelukannya terasa dingin. “Kita hadapi bareng. Ayo.”
Mereka berdua keluar rumah, bergabung kembali dengan rombongan. Saat melihat Siti Aisyah ikut, Pak Kades hanya mengangguk pelan—tak ada kata-kata yang diperlukan. Semua orang tahu: malam ini bukan sekadar penculikan biasa. Ini adalah pembalasan yang tertunda 30 tahun.
Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Sari Wangi, langkah mereka semakin berat. Di kejauhan, dari arah hutan yang gelap, terdengar lagi tawa serak itu—kali ini lebih jelas, lebih dekat, seperti sedang mengikuti mereka.
Dan di dalam hati Kang Asep, konflik moral tadi masih membara: antara rasa bersalah karena hampir jatuh pada godaan, dan ketakutan bahwa dosa kecil yang nyaris dilakukannya malam ini mungkin saja menjadi pemicu yang lebih besar dari dendam Nenek Gerandong.
\*\*\*