NovelToon NovelToon
Aku Tidak Sengaja Menyatu Dengan Artefak Dan Sekarang Semua Orang Ingin Membunuhku!!

Aku Tidak Sengaja Menyatu Dengan Artefak Dan Sekarang Semua Orang Ingin Membunuhku!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Perperangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: celvinworks

Berabad-abad setelah perang yang menghancurkan dunia Avalon, perdamaian tidak lebih dari sebuah tirai rapuh yang menyembunyikan ambisi-ambisi kuno dan rahasia-rahasia yang telah lama terkubur. Kael Ashvern, seorang remaja dari desa Ashfall, menjalani kehidupan yang tenang—hingga sebuah tragedi mendadak memaksanya melangkah jauh melampaui batas segala yang pernah ia kenal, dan mengungkapkan bahwa kalung warisan orang tuanya adalah salah satu dari dua puluh Philosopher Stones, artefak paling kuat yang lahir dari sisa-sisa The Great War.
Diburu oleh faksi-faksi yang saling bersaing dan dibayangi oleh kekuatan gelap yang mulai menggeliat kembali, Kael perlahan memahami bahwa dirinya bukan sekadar korban takdir. Untuk bertahan hidup, ia harus menghadapi dunia di mana kekuatan besar tidak pernah datang tanpa pengorbanan.
Mampukah Kael melewati ujian-ujian yang menantinya dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon celvinworks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rute Tersembunyi

Lima hari sejak aku meninggalkan rumah aman Kakek, dan Silverwood masih belum terlihat ujungnya.

Seharusnya aku mengambil jalan utama—lebih aman, lebih ramai, lebih masuk akal. Tapi ketika berdiri di persimpangan dua hari lalu dengan peta Kakek terbentang di kedua telapak tangan, ada sesuatu dalam dadaku yang berbisik agar aku mengambil jalan hutan. Lebih pendek, ya. Juga jauh lebih mungkin membunuhku.

Mungkin aku memang bodoh. Atau mungkin aku hanya perlu membuktikan sesuatu—kepada siapa, tidak tahu.

Matahari sore menyaring cahaya melalui kanopi pinus yang rapat, melukis pola-pola bergerak dari terang dan bayangan di lantai hutan. Udara terasa menggigit meski aku sudah mengenakan jubah perjalanan—yang Kakek simpan di sana. Kakiku terasa seperti timah setelah seharian berjalan, tapi berhenti sekarang bukan pilihan. Malam sudah mendekat.

Monster lebih aktif setelah gelap. Kakek pernah bilang begitu.

Azure Codex berdenyut di dadaku, ritmenya sudah mulai kukenali. Kadang lambat dan tenang. Kadang cepat, seperti peringatan. Sekarang? Gelisah. Seperti batu itu merasakan sesuatu yang inderaku yang lain belum bisa tangkap.

Aku berhenti di tengah jalur, memindai sekeliling dengan seksama. Tidak ada yang tampak salah—hanya pepohonan, semak belukar, angin yang membuat dedaunan saling berbisik. Tapi nalurinya tidak setuju.

Kemudian aku mendengarnya.

Geraman rendah. Dalam. Bergema dari sebelah kiri, tersembunyi di balik semak tebal sekitar dua puluh meter jauhnya.

Tanganku langsung meraih gagang pedang, jari-jari melingkari kayu yang sudah halus karena bertahun-tahun latihan. Jantung berdegup keras, tapi aku memaksa napas tetap stabil seperti yang Kakek ajarkan. Kepanikan membunuh lebih cepat dari pedang musuh, suaranya bergema di kepalaku.

Geraman itu datang lagi—lebih dekat kali ini, lebih jelas. Bukan hanya satu. Setidaknya dua, mungkin tiga.

Semak-semak bergerak. Dedaunan gemerisik. Dan kemudian mereka muncul.

Fangwolf—tiga ekor, masing-masing sebesar kuda besar dengan bulu hitam pekat yang hampir melebur ke dalam bayangan hutan. Mata mereka bersinar kuning dalam remang senja, taring sepanjang jari orang dewasa menjulur dari moncong yang basah oleh air liur. Ini bukan monster Tier 1 yang kadang berkeliaran di dekat Ashfall. Tier 2, mungkin mendekati Tier 3 jika alfanya ada di antara mereka.

Dan aku sendirian.

"Sial," aku bergumam, menghunus pedang dengan gerakan yang berusaha kupertahankan tetap stabil meski tanganku gemetar. Bilah itu menangkap sisa-sisa sinar matahari, memantulkan kilau emas yang redup.

Tiga Fangwolf berhenti sekitar sepuluh meter jauhnya, membentuk setengah lingkaran—strategi pemburu kawanan klasik untuk mengepung mangsa. Yang di tengah lebih besar dari yang lain, bulu lehernya lebih tebal seperti surai. Alfa.

Mereka tidak langsung menyerang. Hanya berdiri di sana, mengamati, menilai—menunggu momen yang sempurna. Predator cerdas yang paham pekerjaannya.

Tiba-tiba, sesuatu bergeser dalam persepsiku.

Waktu tidak melambat—tidak sedramatis itu. Tapi aku mulai melihat. Melihat cara si alfa menggeser bobotnya sedikit ke kaki belakang, otot-otot paha menegang, kepala turun sedikit—semua tanda bahwa ia akan menerjang dalam tiga, dua, satu—

Si alfa menerkam, taring terentang lebar mengincar tenggorokanku.

Tubuhku bergerak sebelum pikiran sempat memproses—aku melemparkan diri ke kanan, mengguling di atas daun-daun kering. Si alfa melayang melewati tempat aku berdiri dengan kecepatan yang membuat udara mendesis, taring menggigit ruang kosong.

Tapi tidak ada waktu untuk merasa lega. Dua Fangwolf lainnya sudah bergerak—kiri dan kanan, koordinasinya sempurna seperti mereka sudah berburu bersama ratusan kali.

Yang kiri datang lebih rendah, lompatan pendek mengincar kakiku. Yang kanan lebih tinggi, mengincar bahu dan leher. Sebuah jebakan—hindari satu, yang lain mengenai.

Azure Codex berdenyut keras—dan kepalaku tiba-tiba dipenuhi informasi. Kedua lintasan serangan, timing yang sempurna, celah di antara keduanya, sudut balik yang memungkinkan—semuanya muncul di benakku seperti pola yang sudah kulihat berkali-kali sebelumnya.

Aku tidak menghindar.

Aku melangkah maju, tepat di antara kedua lompatan itu, pedang mengayun horizontal dengan segenap kekuatan yang bisa kukumpulkan. Bilah membelah udara dengan desisan tajam, mengenai Fangwolf di sisi kanan tepat di tulang rusuk saat ia melintas. Tidak cukup dalam untuk membunuh—bulu tebal dan tulang yang kuat—tapi cukup untuk membuatnya melolong kesakitan dan jatuh terpelanting ke samping.

Yang kiri mendarat di belakangku, cakar menggores tanah saat ia memutar tubuh untuk serangan kedua. Aku ikut berputar, pedang terangkat ke posisi bertahan, napas tersengal.

Satu terluka. Dua masih utuh.

Si alfa sudah pulih dari lompatan pertamanya, berdiri sekitar lima meter di depan dengan tubuh merendah, siap untuk menerkam lagi. Matanya mengunci pada mataku—tidak lagi sekadar melihat mangsa, tapi ancaman.

Bagus. Itu berarti ia akan lebih berhati-hati, lebih lambat.

Tapi juga lebih mematikan.

Mereka menyerang bersamaan kali ini—tidak ada jebakan, tidak ada strategi yang rumit. Hanya kekuatan yang luar biasa dari tiga arah sekaligus, tanpa jalur pelarian.

Azure Codex berdenyut hingga terasa seperti akan meledak di dadaku. Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenakan liontin ini, aku mendengar sebuah suara.

Bukan suara sungguhan. Lebih seperti bisikan dalam pikiranku, tanpa kata namun membawa maksud yang jelas.

Tubuhku mengikuti petunjuk itu sebelum pikiranku yang sadar sempat mempertanyakannya. Aku membelok ke kanan, pedang terangkat memblokir taring si alfa yang menghujam dari atas. Dentangan keras—benturannya hampir merenggut bilah dari genggamanku, tapi aku bertahan, berputar di tumit, dan menebas ke arah Fangwolf yang terluka yang datang dari samping.

Bilah memotong dalam kali ini—menembus bulu, daging, dan tulang rusuk dengan hambatan basah yang membuat perutku mual. Fangwolf itu ambruk dengan jeritan yang memekakkan telinga, darah hitam menggenang di antara dedaunan.

Satu mati.

Tapi tidak ada waktu untuk lega karena yang ketiga—yang paling sehat—sudah datang dari titik butaku di sebelah kiri, taring mengincar leherku.

Aku menunduk, membiarkan taring melintas di atas kepalaku, lalu mengguling ke depan dan bangkit dalam satu gerakan, pedang mengayun ke atas dalam tusukan diagonal. Bilah menembus perut Fangwolf di tengah lompatannya, menembus hingga ke tulang belakangnya.

Bobotnya menghantamku—hampir dua ratus kilogram daging dan tulang dan bulu yang berlumur darah—dan kami berdua jatuh keras ke tanah. Napas terhempas dari paru-paruku, pandangan berkedip hitam sesaat. Aku bisa merasakan tubuh monster yang masih hangat menindihku, terus berkedut meski sudah mati, darah mengalir keluar meresap ke jubahku dan tanah.

Dengan susah payah aku mendorong bangkai itu ke samping, merangkak menjauh sambil terbatuk-batuk, berusaha menarik napas yang terasa seperti menarik pisau ke dalam dada.

Dua mati.

Si alfa masih berdiri di sana, mengamati dengan mata yang tidak lagi bersinar lapar melainkan... waspada. Mungkin bahkan takut. Ia baru saja kehilangan dua anggota kawanannya dalam kurang dari dua menit terhadap satu manusia yang bahkan belum dewasa penuh.

Kami saling bertatapan—aku berlutut dengan pedang yang masih tergenggam erat meski berlumuran darah, ia berdiri dalam posisi bertahan, siap untuk lari atau bertarung tergantung gerakanku selanjutnya.

"Pergi," aku berkata serak, suara parau. "Atau mati seperti temanmu."

Si alfa tidak mengerti kata-kataku, tapi ia memahami maksudnya. Selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian, ia tidak bergerak. Kemudian perlahan, ia mundur selangkah. Dua langkah. Tiga.

Dan kemudian ia berbalik dan berlari, menghilang ke dalam kegelapan hutan yang semakin pekat.

Aku ambruk ke pohon terdekat, punggung meluncur turun menyusuri kulit kayu, pedang jatuh dari tangan yang tiba-tiba tidak punya kekuatan untuk menggenggam apa pun. Napas datang dalam terengah-engah yang tidak beraturan, jantung berdegup seolah ingin keluar dari dadanya.

Azure Codex masih berdenyut—tapi sekarang ritmenya terasa... puas. Seperti batu itu senang dengan apa yang baru saja terjadi.

"Kamu," aku bergumam pada liontin di dadaku. "Kamu baru saja membantuku. Menunjukkan cara bergerak. Cara menyerang."

Tidak ada jawaban. Tentu saja tidak. Itu hanyalah sebuah batu, bukan makhluk hidup.

Tapi jauh di dalam, aku tahu ini bukan kebetulan. Azure Codex—Philosopher Stone yang Kakek bilang terbentuk dari ingatan kolektif dan pengetahuan Perang Besar—baru saja menunjukkan padaku sepercik kekuatannya.

Dan itu telah menyelamatkan nyawaku.

Malam itu aku tidak tidur sama sekali.

Api unggun yang kubangun dari ranting dan daun kering memberikan sedikit kehangatan, tapi tidak cukup untuk menghentikan gemetar yang terus datang—bukan karena dingin, melainkan karena aftershock adrenalin dan kesadaran bahwa aku hampir mati.

Dua bangkai Fangwolf masih tergeletak lima meter dari api, darahnya sudah mengering menjadi noda hitam di bulu mereka. Seharusnya aku memindahkan tubuh-tubuh itu lebih jauh agar tidak menarik predator lain yang tertarik oleh baunya, tapi tubuhku terlalu kelelahan untuk berfungsi.

Jadi aku hanya duduk di sana, pedang di pangkuan, mata tidak berkedip menatap kegelapan di luar lingkaran cahaya api, menunggu serangan berikutnya yang mungkin tidak akan pernah datang.

Azure Codex berdenyut lambat, ritmenya kembali normal. Aku mengangkat liontin itu, membiarkan cahaya api menari di permukaan batu biru dengan bagian dalamnya yang seperti kabut berputar.

"Kakek tahu tentang kamu," aku berbisik padanya. "Ia tahu kamu bukan sekadar liontin biasa. Tapi ia tidak pernah bilang... tidak pernah mengajariku cara menggunakanmu. Kenapa?"

Tentu saja tidak ada jawaban.

Tapi ketika aku menatap lebih dalam ke pusaran biru di dalam batu itu, hanya sesaat—hanya sesaat—aku melihat sesuatu. Bayangan samar, seperti ingatan yang bukan milikku. Medan perang yang dipenuhi mayat, langit merah darah, seseorang dalam baju zirah perak berdiri sendirian melawan ribuan musuh, pedang bersinar dengan cahaya yang tidak wajar.

Penglihatan itu lenyap secepat datangnya, meninggalkan hanya denyutan sakit di pelipisku.

"Kenangan dari Perang Besar," aku bergumam, mengingat apa yang Kakek ceritakan. "Kamu terbentuk dari ingatan kolektif... jadi kamu menyimpan kenangan dari orang-orang yang bertempur di sana. Dan tadi... kamu menunjukkan padaku cara mereka bertarung."

Itu menjelaskan kenapa gerakanku terasa asing sekaligus familiar—seperti tubuhku mengikuti ingatan otot milik orang lain, dari prajurit-prajurit yang sudah mati ratusan tahun lalu namun pengalaman tempurnya terus hidup dalam batu ini.

Mengerikan.

Tapi juga... memabukkan.

Dengan kekuatan seperti ini, aku bisa—

"Tidak," aku berkata keras, memotong pikiran itu sebelum selesai. Aku mengingat peringatan Kakek tentang Philosopher Stones: risiko korupsi, penggunaan berlebihan bisa membuat pemakainya kehilangan dirinya sendiri.

Aku tidak boleh terlalu bergantung pada Azure Codex. Kekuatan ini harus menjadi alat, bukan tongkat penopang. Aku tetap perlu berlatih, tetap perlu menjadi lebih kuat dengan kemampuanku sendiri.

Tapi... untuk bertahan sampai Academy, untuk menemukan kebenaran tentang orang tuaku, untuk menjadi cukup kuat agar tidak mati seperti Kakek...

Aku akan menggunakan setiap keuntungan yang kumiliki.

Pagi datang dengan kabut tebal yang menurunkan jarak pandang secara drastis. Aku memadamkan api, mengubur sisa-sisanya dengan tanah, lalu melanjutkan perjalanan dengan tubuh yang terasa seperti habis dipukuli.

Semuanya sakit—bahu kiri memar karena benturan saat jatuh bersama Fangwolf itu, punggung kaku, kaki hampir kram. Tapi aku terus berjalan, satu langkah mengikuti langkah berikutnya, karena berhenti berarti memberi kesempatan pada keraguan untuk merayap masuk.

Peta menunjukkan masih tiga hari lagi sebelum mencapai tepian Hutan Silverwood dengan kecepatan ini. Setelah itu ada sebuah kota kecil bernama Millhaven—permukiman terakhir sebelum memasuki wilayah yang lebih beradab menuju Academy.

Tiga hari. Aku bisa bertahan tiga hari lagi.

Setidaknya begitu yang kupikir—sampai aku mendengar suara itu.

Bukan geraman monster. Bukan suara hewan.

Teriakan manusia. Ketakutan. Kesakitan.

Azure Codex berdenyut—peringatan, tapi juga... sesuatu yang lain. Seperti batu itu ingin aku pergi ke arah suara itu, ingin aku melihat apa yang terjadi.

Seharusnya aku mengabaikannya. Seharusnya terus berjalan, menjauh, menyelamatkan diri sendiri.

Tapi kakiku sudah bergerak, berlari menuju sumber suara sebelum pikiranku sempat memprotes.

Aku menemukan mereka di sebuah padang kecil—tiga orang dikepung lima Fangwolf, kawanan yang berbeda dari yang kubunuh semalam tapi sama berbahayanya.

Dua orang dewasa—seorang pria dan wanita, kemungkinan suami istri dari cara mereka bergerak saling melindungi—berdiri saling membelakangi dengan senjata terangkat, meski kelelahan tampak dari setiap lekuk tubuh mereka. Di belakang mereka, seorang anak perempuan sekitar sepuluh tahun duduk memeluk lutut ke dada, menangis.

"MUNDUR!" pria itu berteriak pada Fangwolf terdekat, mengayunkan kapak besar yang gerakannya melambat karena kelelahan. "JAUHI KAMI!"

Tapi monster-monster itu tidak peduli ancaman. Mereka tahu mangsanya hampir kehabisan stamina—hanya menunggu momen yang tepat untuk menyerang.

Seharusnya aku pergi. Ini bukan urusanku. Aku bahkan tidak mengenal mereka.

Tapi bayangan Kakek muncul di benakku—Kakek yang rela mati melindungiku meski kami tidak berbagi darah, Kakek yang selalu bilang kekuatan tanpa belas kasih adalah kutukan, bukan anugerah.

"SIAL!" aku mengumpat pada diri sendiri, lalu menerobos keluar dari semak belukar dengan pedang sudah terhunus, berteriak sekeras yang bisa kulakukan untuk menarik perhatian para Fangwolf.

"HEI! KE SINI, KALIAN SEMUA!"

Lima pasang mata kuning berbalik ke arahku.

Dan di sudut pikiranku, aku bisa mendengar suara Kakek—setengah geli, setengah bangga.

Anak bodoh. Tapi setidaknya kamu bodoh dengan cara yang benar.

Di cabang pohon lima puluh meter dari padang itu, sesosok berpakaian gelap mengamati dengan mata yang berkilat samar di balik topeng.

"Target terlibat dalam pertempuran," ia berbisik ke dalam kristal komunikasi. "Melawan kawanan Fangwolf sendirian. Bodoh atau percaya diri?"

Suara Cassius menjawab, dingin. "Atau putus asa. Terus awasi. Jangan ikut campur kecuali nyawanya benar-benar terancam—kita butuh dia hidup."

"Dipahami."

Sosok itu tidak bergerak, hanya mengamati ketika di bawah sana, anak laki-laki berambut hitam bermata ungu itu memulai pertarungan yang seharusnya tidak bisa ia menangkan.

Tapi kemudian Azure Codex bersinar—cahaya biru redup yang hampir tidak terlihat—dan gerakan anak itu berubah.

Lebih cepat. Lebih presisi. Seperti ia sudah tahu ke mana setiap serangan akan datang sebelum monster-monster itu bahkan bergerak.

Sosok di pohon itu mencondongkan tubuh ke depan, tiba-tiba jauh lebih tertarik dari sebelumnya.

"Menarik sekali," ia bergumam. "Batu itu sudah mulai terbangun."

1
NightShadeス
Review novelnya sampe chapter 27, sejauh ini ceritanya cukup seru dan agak santai, mungkin dibeberapa chapter awal emang agak dark sih pengenalan ceritanya. Terus sepertinya world buildingnya agak luas soalnya ada beberapa part yang ngebandingin tempat tempat gitu, yah karena ini masi awal awal jadinya belum bisa review terlalu banyak, intinya mc bisa pake sihir void sama make pedang. Rekomen buat yang suka mc zero to hero👍 mc nya ga langsung op dari awal, ada perkembangan karakternya
celvin: makasi kak udah mau review novelnya, semoga betah ya disini, perjalanan kita masi panjang/Shhh/
total 1 replies
NightShadeス
Temennya turu
Dzakyyy
up min
Dzakyyy: semangattt minnn
total 2 replies
Dzakyyy
ibunya se op apa tuh
Dzakyyy
wkwkwk adaa matematika😭
NightShadeス: ga ekspek/Skull/
total 1 replies
Dzakyyy
badut
Dzakyyy
kekk😭😭 siapa yang naroh bawang sini woyy/Sob/
Dzakyyy
feeling ku ga enak..
Dzakyyy
SERUU BANGETTTT, alurnya ga terlalu cepet, mc nya ga langsung op di awal/Doge/
anggita
ikut ng👍like, sama kasih iklan saja.
celvin: jangan lupa dikasi rating ya kalo suka👀
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!