Jetro Julian Wisesa, pengusaha sukses, masih single.
"Aku yang akan menikahimu."
Febi Karindra, bekerja di kantor polisi, sudah dijidohkan dengan rekan kerjanya hanya bisa mematung. Semua tamu yang awalnya kasihan karena pengantin prianya tidak datang, sekarang menatap iri. Karena pengganti pengantinnya lebih segala galanya dari pada pengantin aslimya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Obsesi Fiola
Setelah pulang dari pertemuannya dengan Cakra, Anggareksa segera menemui putrinya yang masih berada di dalam kamarnya di hotel mewah milik keluarga Airlangga.
Kalandra, sebagai orang tua Jetro, memindahkan tempat menginap mereka. Yang Anggareksa tidak bisa menduga walaupun Jetro hanya menggantikan posisi Cakra, ternyata dialah tokoh utamanya.
Hampir semua keluarga Airlangga datang, bahkan kerabat mereka dari keluarga Artha Mahendra juga datang.
Pernikahan ini seolah sudah direncanakan Jetro dengan sangat matang untuk dirinya.
"Papa sudah menemui Cakra dan orang tuanya," ucap Anggareksa begitu dirinya melangkahkan kaki memasuki kamar putrinya ketika Fiola membuka pintunya.
"Untuk apa, pa?" Fiola menyahut ngga minat. Dia sedang menikmati makan siangnya saat terdengar suara bel.
Papanya memang sudah mengabarinya setengah jam yang lalu.
"Kamu di kamar aja?" Papanya duduk di samping putrinya. Dia akan mengulang mengatakannya lagi setelah putrinya menyelesaikan makannya.
"Iya, pa." Fiola melanjutkan makan nya.
Anggareksa menatap putrinya yang tetap tenang menikmati makanannya. Seakan akan yang diomongkannya tadi hanya masuk lewat telinga kiri dan langsung keluar dari telinga kanannya. Benar benar tidak penting.
Sama sekali tidak tertinggal sedikit pun. Anggareksa mulai merasakan sinyal sinyal penolakan dari putrinya.
Hari sudah beranjak siang, dan putri sulungnya tampak sedang bersantai.
Anggareksa tersenyum, karena cukup jarang melihat putrinya bersantai di waktu menjelang siang begini. Karena Fiola biasanya sudah berangkat sangat pagi ke tempat kerjanya.
"Kamu masih libur?" tanyanya lagi.
Fiola menganggukkan kepalanya sambil menyuapkan makanannya.
"Aku minta ijin dua hari, Pa," jelasnya setelah menelan makanan yang ada di dalam mulutnya.
Besok baru dia pergi dinas lagi. Dia akan gunakan hari ini untuk istirahat total.
Tadi pagi dia memang terbangun agak siang karena malamnya kurang tidur. Dia menunggu balasan dari Cakra hingga tertidur. Pagi ini pun dia bangun dengan masih dibaluri perasaan kesal karena Cakra tidak juga meresponnya. Hanya membaca saja semua pesan yang menghujatnya tanpa membalasnya.
"Papa sudah makan?"
Anggareksa mengangguk.
"Sudah."
Fiola meneguk minuman dinginnya sebagai ritual terakhir makannya yang sudah selesai.
"Mama Cakra ingin menemuimu."
"Untuk apa?" kagetnya. Fiola sudah alergi dengan tatapan dan kata kata sinis mamanya Cakra terhadapnya selama ini.
"Ingin melanjutkan rencana pernikahan kamu dan Cakra."
Fiola mendengus kesal.
"Dia masih mau anaknya menikah denganku?" cibirnya.
"Iya. Om Danu dan Cakra juga sudah setuju. Pernikahan kamu dan Cakra bisa dilangsungkan minggu depan."
Cih, jadi ini arti no respon dari laki laki itu, decaknya membatin.
Fiola kemudian menggelengkan.kepalanya.
"Papa yakin kalo Tante Marlena akan baik padaku?"
Anggareksa tersenyum maklum.
"Yakin. Lena sudah mengatakannya tadi di depan papa, Cakra dan Om Damu. Dia akan memperbaiki hubungan kalian," jelas papanya lembut.
Tatap Fiola tetap menggambarkan ketakpercayaaannya.
"Aku tidak mau, Pa. Aku sudah telanjur menyukai Jetro. Mamanya juga sangat baik denganku."
"Jetro sudah menikah dengan adikmu, Fio. Kamu jangan mengganggu pernikahannya." Anggareksa memberikan putrinya sinyal peringatan.
Fiola tersenyum agak melebar.
"Aku tidak akan mengganggu. Aku hanya sedang menunggu kesempatan."
Kening Anggareksa berkerut, tidak mengerti jalan pikiran putrinya. Jantungnya berdebar cepat, merasakan perasaan yang tidak nyaman.
Tekat putrinya menjadi istri kedua Jetro sangat kuat
"Febi, kan, polwan, Pa. Dia bisa saja tertembak saat mengejar penjahat. Dulu dia juga pernah terluka, kan."
Rahang Anggareksa mengetat karena emosi yang tertahan.
"Kamu mengharap Febi celaka?"
Fiola tetap tenang walaupun sekarang papanya sudah mulai naek darah.
"Resiko pekerjaan, Pa. Aku juga bisa saja meninggal kalo pesawatku jatuh. Febi juga begitu. Jadi aku hanya menunggu saja kesempatan baik datang padaku."
Tubuh Anggareksa bergetar sekarang. Dia benar benar marah.
"Kamu sudah sangat keterlaluan."
"Dimana keterlaluannya, Pa? Lagi pula ini salah Tante Lena. Kalo sejak dulu dia merestui aku dengan Cakra, cintaku tidak akan bergeser ke orang lain."
Anggareksa memejamkan matanya untuk meredakan kemarahannya. Jantungnya makin cepat ritme detakannya.
"Jangan menyalahkan orang lain. Tapi salahkan dirimu saja. Kamu hanya terobsesi pada Jetro."
"Jetro pasti akan menikah denganku kalo saja Cakra datang," balas Fiola cepat, ngga terima dengan kata kata papanya yang tidak berpihak padanya.
Anggareksa tersenyum getir.
"Papa yakin, Jetro tetap akan menikahi adikmu walaupun Cakra datang. Laki laki seperti Jetro akan melakukan apa saja untuk mendapatkan gadis kecintaannya. Sayangnya itu bukan dirimu, Fiola."
Kata kata yang diucapkan papanya sangat menghunjam bagai pisau yang paling tajam mencacah hatinya. Dad@ Fiola bergejolak menahan tangis.
"Papa..... Kenapa tega sekali padaku."
"Papa hanya ingin menyadarkan kamu dari obsesi gilamu itu. Ingat, kamu masih punya Cakra, sayang. Buka lagi hatimu untuk dia," bujuk papanya lembut.
Fiola tetap menggeleng membuatt Anggareksa tambah kecewa.
"Aku tetap dengan keinginanku, Pa," tegas Fiola sambil mengusap air mata yang mulai menggenangi pelupuk matanya.
*
*
*
Jetro dan Febi sudah berada di dalam kamar mereka lagi setelah acara kumpul kumpul itu membubarkan diri.
Febi yang baru keluar dari kamar mandi, menatap Jetro yang sibuk dengan ipadnya.
Dia masih belum yakin kalo para istri yang ikut kumpulan tadi akan mengenakan bikini two piece.
"Aku sudah pilihkan bikininya," ucap Jetro sambil melambaikan tangannya pada Febi yang masih berdiri kaku di depan pintu kamar mandi.
Febi tertegun sejenak mendengarnya.
"Emm.... Aku.... pake kaos oblong aja, ya. Aku malu pake bikini," tolak Febi agak terbata dan panik sebelum melangkah ragu ke arah Jetro. Jantungnya berdebar kian cepat.
Jetro tersenyum melihat ketakutan di wajah istrinya. Tadi para suami hanya bercanda saja. Mereka juga tidak mau saling pamer aurat istri istri mereka.
Jetro menarik tangan Febi yang sudah berdiri di dekatnya. Tubuh gadis itu langsung jatuh ke pangkuannya.
DEG DEG
Jantung Febi berdebar makin ngga berirama karena kini Jetro sudah memeluknya erat.
"Bikininya dipake kalo kita sedang berdua saja," bisik Jetro di dekat telinga Febi membuat dia bisa merasakan kalo tubuh gadis itu mengej@ng kaku.
"Sudah ngga sakit lagi?" bisik Jetro lagi dan tangannya mulai nakal, bermain di area depan Febi yang sensitif
Lenguh@n tertahan terdengar dari mulut Febi, membuat Jetro sudah tidak bisa menahan h@sratnya lagi.
maafkan jika ada kritik, saran/pun komen aq zg tanpa sengaja menyinggung kalian yaaaa.... 😊😊😊