EDISI SPESIAL RAMADHAN
Zunaira Prameswari hanyalah seorang ustadzah yatim piatu yang merasa dunianya sudah cukup dengan mengabdi di Pesantren Al-Anwar.
Baginya, mencintai Gus Azlan, putra kedua sang kiai yang baru kembali dari Al-Azhar, Kairo adalah sebuah kemustahilan yang hanya berani ia langitkan dalam doa-doa di sujud terakhir.
Namun takdir berkata lain, penolakan Azlan terhadap lamaran Ning Syifa, seorang putri kiai besar yang membawa kepentingan politik pesantren, justru menyeret Zunaira ke pusaran konflik keluarga yang rumit.
Bagaimana kelanjutannya???
Yukk kepoin!!!
Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Team Teaching
Azlan mendongak lalu sedikit menggeser posisi duduknya untuk memberikan ruang yang cukup luas bagi Zunaira di sisi meja yang berseberangan.
"Wa’alaikumussalam warahmatullah, tidak Zunaira tapi saya yang datang terlalu awal karena udara sore di sini terlalu sayang untuk dilewatkan hanya di dalam ruangan." ucap Gus Azlan.
Zunaira duduk dengan posisi bersimpuh yang sangat sopan, ia meletakkan buku catatannya di atas meja.
Ada jarak sekitar dua meter di antara mereka sebuah batas yang tak kasat mata namun sangat disadari oleh keduanya.
"Kita mulai dari mana Gus?" tanya Zunaira, mencoba membuka percakapan seprofesional mungkin.
Azlan memutar laptopnya sedikit ke arah Zunaira agar wanita itu bisa melihat poin-poin yang sudah ia ketik.
"Saya melihat kurikulum bahasa Arab kita selama ini terlalu fokus pada Qawaid (tata bahasa) yang kaku, santriwati kita pintar dalam meng-i'rab kata tapi mereka gagap saat harus berbicara atau menuliskan gagasan dalam bahasa Arab yang hidup dan saya ingin mengubah itu." seru Gus Azlan.
Zunaira mengangguk mulai tertarik pada topik tersebut, sisi akademisnya perlahan mengalahkan rasa gugupnya.
"Saya setuju Gus, selama ini anak-anak memang cenderung menghafal rumus, mereka tahu bahwa fa'il itu harus marfu' tapi saat diminta mendeskripsikan perasaan atau kejadian harian mereka bingung mencari kosakata." sahut Zunaira.
Azlan tersenyum kecil senyum yang hanya muncul sekejap namun cukup untuk membuat jantung Zunaira berdesir.
"Tepat, itu sebabnya saya ingin memasukkan metode Muhadatsah (percakapan) yang lebih interaktif, saya ingin mereka tidak hanya belajar bahasa surga ini untuk membaca kitab gundul, tapi juga untuk memahami dunia."
Diskusi itu pun mengalir, untuk satu jam pertama Zunaira berhasil menjaga profesionalitasnya.
Ia memberikan masukan tentang jadwal harian santriwati yang sudah sangat padat, sehingga kurikulum baru ini tidak boleh menambah beban stres mereka.
Ia berbicara dengan tenang, logis dan penuh empati yaitu ciri khas yang membuat Kyai Hamid sangat mempercayainya.
Namun di tengah diskusi Azlan tiba-tiba berhenti bicara, ia menatap salah satu catatan tangan Zunaira yang ada di atas meja.
"Tulisan tanganmu tidak berubah Zunaira, masih rapi dan memiliki lekukan yang sama seperti dulu saat kamu mengirimkan ringkasan kitab Imriti ke meja guru." seru Gus Azlan keluar dari topik.
Zunaira tertegun, iaa merasa napasnya tertahan sejenak.
"Gus... masih ingat tulisan saya?" tanya Zunaira tidak percaya.
Azlan menutup laptopnya setengah, matanya menatap ke arah pohon sawo di depan masjid seolah sedang memanggil kembali memori lama.
"Dulu saat saya masih sering membantu Abah mengoreksi tugas-tugas santri sebelum saya berangkat ke Kairo ada satu buku yang selalu saya nantikan, bukunya bersih tulisannya tegak bersambung yang sangat disiplin dan jawaban-jawabannya selalu menunjukkan bahwa pemiliknya bukan sekadar menghafal tapi memahami dengan hati."
Ia kemudian menoleh kembali pada Zunaira menatap mata wanita itu selama dua detik sebelum Zunaira kembali menunduk.
"Saya tahu itu bukumu karena nama 'Zunaira' selalu tertulis di pojok kanan atas dengan tinta biru yang tebal." tutur Gus Azlan.
Zunaira merasa wajahnya memanas, ia tidak menyangka bahwa selama ini sosok yang ia kagumi secara rahasia juga memperhatikan detail kecil tentang dirinya.
"Saya hanya berusaha mengerjakan tugas dengan sebaik mungkin Gus karena sebagai santri yang dibiayai pesantren saya merasa punya hutang budi untuk tidak mengecewakan Kyai."
"Kamu tidak pernah mengecewakan siapa pun Zunaira." suara Azlan merendah terdengar lebih personal.
"Bahkan saat saya di Mesir lewat surat-surat Abah saya selalu bertanya secara tersirat bagaimana kabar perkembangan para pengajar di sini dan nama kamu selalu muncul dalam cerita Abah sebagai ustadzah yang paling disayangi santri."
Suasana mendadak menjadi sangat sunyi hanya diiringi suara riuh burung-burung yang kembali ke sarang.
Zunaira merasa perbincangan ini mulai memasuki wilayah yang berbahaya bagi kesehatan jantungnya.
Ia segera mengalihkan pembicaraan kembali ke berkas di depannya.
"Ehm... untuk pembagian jam di kelas Ulya (tingkat atas), apakah Gus ingin saya yang memegang kendali penuh atau kita akan mengajar secara bergantian?" tanya Zunaira dengan nada yang dibuat-buat datar.
Azlan tampak menyadari perubahan sikap Zunaira yang kembali menjaga jarak, ia kembali membuka laptopnya.
"Untuk kelas awal saya ingin kita team-teaching, saya akan memberikan materi besar di awal minggu dan kamu yang akan melakukan penguatan di kelas-kelas kecil, saya butuh kamu untuk memantau apakah metode saya ini terlalu sulit bagi mereka atau tidak."
Zunaira mencatat hal itu.
"Nggih Gus, saya akan siapkan jurnal pantauannya."
Saat mereka sedang asyik mencocokkan jadwal, tiba-tiba Ummi Salamah datang membawa nampan berisi teh hangat dan camilan pasar.
Beliau tersenyum melihat kedua orang itu sedang sibuk dengan tumpukan kertas.
"Wah serius sekali kelihatannya." goda Ummi Salamah.
"Ayo diminum dulu tehnya, Azlan jangan terlalu keras memaksa Zunaira bekerja dia ini mutiara pesantren jangan sampai dia kelelahan karena ide-idemu yang terlalu banyak itu." seru ummi Salamah.
Azlan tertawa kecil, suara tawa yang jarang sekali terdengar.
"Zunaira ini lebih tangguh dari yang Ummi bayangkan dia bahkan lebih detail dari Azlan dalam menyusun jadwal."
Zunaira hanya menunduk malu mendengar pujian itu.
"Ummi bisa saja, saya hanya membantu Gus Azlan agar kurikulumnya bisa segera diterapkan."
Ummi Salamah duduk sejenak di samping Zunaira mengusap punggung wanita yatim piatu itu dengan penuh kasih sayang.
"Ummi senang melihat kalian akur karena pesantren ini butuh sentuhan anak-anak muda seperti kalian agar tidak ketinggalan zaman."
Setelah Ummi pergi diskusi berlanjut namun dengan ritme yang lebih santai.
Azlan mulai bercerita sedikit tentang bagaimana sistem pengajaran di Al-Azhar tentang perpustakaan-perpustakaan besar di sana dan tentang kerinduannya pada masakan pesantren selama ia merantau.
Zunaira mendengarkan dengan penuh minat, setiap kata yang keluar dari mulut Azlan seolah menjadi oase bagi rasa ingin tahunya tentang dunia luar yang belum pernah ia jamah.
Namun di balik itu ada rasa nyeri yang halus semakin ia mengenal Azlan semakin ia menyadari betapa jauhnya perbedaan mereka.
Azlan adalah pria dengan visi dunia, sementara ia hanyalah wanita yang dunianya hanya sebatas pagar pesantren.
"Gus." panggil Zunaira pelan saat diskusi hampir berakhir.
"Ya?"
"Mengapa Gus memilih saya untuk membantu? Maksud saya ustadz-ustadz senior yang lulusan Madinah atau Yaman juga banyak di sini, mereka pasti lebih kompeten secara keilmuan." tanya Zunaira karena masih bingung sampai sekarang.
Azlan merapikan kitab-kitabnya kemudian memasukkannya ke dalam tas kulitnya dengan rapi.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...JANGAN LUPA BERI DUKUNGAN ⬇️⬇️⬇️...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA...