NovelToon NovelToon
San Sekai No Koi Monogatari

San Sekai No Koi Monogatari

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Sistem / Anime / Tamat
Popularitas:380
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Shin Kurogane bukanlah remaja biasa. Di balik penampilannya yang santai dengan jaket kulit dan ikat kepala merah, ia membawa beban harapan kakeknya untuk menjadi sosok yang bermanfaat. Namun, hidupnya berubah total saat ia menginjakkan kaki di Kamakura Private High School, sebuah institusi elit tempat bertemunya tiga dunia yang berbeda.
​Tiba-tiba, sebuah suara sarkastik dari entitas bernama Miu bergema di kepalanya, memperkenalkan "Template Pekerjaan". Kini, Shin bukan hanya harus menyeimbangkan hidupnya sebagai siswa, tapi juga sebagai penulis novel jenius, koki berbakat, dan ahli medis dadakan.
​Di sekolah ini, ia terjebak di antara sepupu-sepupunya yang dingin seperti Yukino dan Eriri, guru-guru yang butuh perlindungan emosional seperti Shizuka dan Mafuyu, hingga gadis-gadis misterius seperti Utaha dan Megumi. Tanpa kekuatan supranatural atau sihir, Shin harus menggunakan kecerdasan analitis, karisma alami, dan bantuan sistemnya untuk menavigasi drama remaja, persaingan kreatif, da

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Masakan dan Tamu Tak Diundang

Suasana kelas 3-J setelah jam istirahat terasa sedikit lebih lambat. Aroma sisa makan siang masih tertinggal tipis di udara, bercampur dengan suara kipas angin yang berputar malas di langit-langit. Aku duduk di bangkuku, membuka kotak bekal pemberian Rin. Di dalamnya, tertata rapi nasi dengan tamagoyaki yang sedikit agak gosong di pinggirnya—tanda bahwa Rin memasaknya dengan terburu-buru namun penuh usaha.

Aku menyumpit sepotong telur itu, merasakannya perlahan. Rasanya manis, sedikit terlalu banyak gula, tapi itulah rasa 'keluarga' yang kini menjadi bagian dari realitasku. Di depanku, Yui Yuigahama sedang sibuk mengobrol dengan teman-temannya, namun sesekali ia melirik ke arahku, seolah ingin menyapa tapi ragu karena melihatku yang tampak begitu asyik dengan pikiranku sendiri.

Aku tidak terburu-buru. Bagiku, setiap detik di dunia ini adalah aset yang harus dinikmati dengan penuh kesadaran.

[Misi Pekerjaan: Penulis Novel (Mangaka)]

[Status: Mengumpulkan Data Lingkungan]

[Keahlian Memasak: Master - Aktif secara Pasif]

Analisis rasa: Terlalu banyak variabel manis, kekurangan sedikit garam untuk menyeimbangkan dimensi rasa. Namun, kasih sayang di dalamnya adalah bumbu yang tidak bisa diukur oleh sistem.

Aku tersenyum tipis memikirkan analisis spontan dari sisi keahlian memasakku. Baru saja aku hendak menutup kotak bekal yang sudah kosong, bayangan seseorang menutupi mejaku. Bukan Yui, bukan pula Hiratsuka-sensei.

Seorang wanita berdiri di sana. Dia tidak mengenakan seragam sekolah, melainkan pakaian kasual yang sangat modis namun tetap terlihat mahal. Rambut hitamnya yang panjang bergelombang jatuh dengan sempurna di bahunya. Matanya berkilat dengan kecerdasan yang tajam, dan senyum yang tersungging di bibirnya adalah jenis senyum yang bisa membuat pria naif bertekuk lutut, atau justru membuat pria waspada sepertiku segera memasang pagar tinggi.

Yukinoshita Haruno.

"Jadi, ini dia murid pindahan yang sedang menjadi buah bibir di ruang guru," suaranya mengalir lembut, seperti madu yang di dalamnya tersimpan jarum halus. "Ren Saiba-kun, benar?"

Aku menyandarkan punggungku, menatapnya tanpa ada sedikit pun rasa terintimidasi. "Dan kau pasti kakak dari gadis es yang duduk di sebelahku tadi pagi. Haruno-san, aku berasumsi kau tidak sedang tersesat di gedung kelas tiga ini hanya untuk mencari toilet, bukan?"

Haruno sedikit membelalakkan matanya, lalu tertawa renyah. Tawa yang terdengar sangat terlatih. "Lidah yang tajam. Menarik. Kau tahu siapa aku, padahal kita baru pertama kali bertemu. Apakah kau seorang peramal, atau kau memang tipe pria yang suka mengoleksi informasi tentang wanita cantik?"

"Aku hanya seorang pria yang suka memperhatikan variabel di sekitarku, Haruno-san," jawabku sembari merapikan sumpitku. "Dan seorang Yukinoshita Haruno adalah variabel yang terlalu mencolok untuk diabaikan. Jadi, apa yang bisa kubantu? Jika ini soal adikmu, aku baru mengenalnya selama dua jam, dan sejauh ini kami hanya bertukar satu kalimat sarkastik."

Haruno mencondongkan tubuhnya ke arahku, meletakkan tangannya di atas mejaku. Aroma parfumnya yang elegan mulai mendominasi ruang pribadiku. "Oh, lupakan soal Yukino sejenak. Aku di sini karena aku penasaran padamu. Seseorang yang baru bangun dari koma, lalu bertransmigrasi—ah, maksudku pindah dari luar negeri—dan langsung bersikap seolah dia pemilik dunia ini... kau sangat tidak lazim, Ren-kun."

Aku menyipitkan mata. Kata 'transmigrasi' yang ia ucapkan hampir membuat sarafku menegang, namun aku segera menyadari bahwa itu hanyalah pilihan katanya yang dramatis, bukan karena dia tahu rahasia mutlakku. Dia sedang memancing.

"Dunia ini tidak butuh pemilik, Haruno-san. Dia hanya butuh seseorang yang tahu cara menikmatinya tanpa merusak alurnya," ujarku dengan nada yang lebih dingin namun tetap tenang. "Sekarang, jika kau sudah puas mengamati spesimen baru ini, aku punya pelajaran sejarah yang harus kuikuti. Dan aku ragu Hiratsuka-sensei akan senang melihatmu mengganggu murid teladannya."

Haruno berdiri tegak kembali, matanya menunjukkan rasa puas. "Murid teladan? Kau lebih mirip serigala yang memakai seragam domba, Ren-kun. Tapi aku suka itu. Chiba akan menjadi jauh lebih menarik dengan kehadiranmu."

Ia berbalik, melambaikan tangan tanpa menoleh ke belakang. "Sampai jumpa lagi, Ren. Jangan sampai bosan dengan rutinitas sekolah yang membosankan ini."

Aku memperhatikan punggungnya yang menjauh hingga menghilang di balik pintu kelas. Haruno adalah tipe pemangsa. Dia tidak mencari cinta atau pertemanan; dia mencari hiburan. Dan sepertinya, aku baru saja masuk ke dalam daftar tontonan utamanya.

[Peringatan Sistem: Hubungan dengan Variabel 'Manipulator' Terjalin]

[Status: Waspada - Tingkat Ketertarikan Haruno: Meningkat]

Aku menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Hidup di dunia fusion ini benar-benar tidak memberikan ruang untuk bernapas lega. Baru saja aku menangani Utaha dan Kato, sekarang si rubah Haruno sudah muncul.

"Ren-kun... apa yang kakak Yukinon lakukan padamu?" Yui mendekat dengan wajah khawatir, sepertinya dia baru berani mendekat setelah Haruno pergi.

"Hanya memberikan sambutan hangat, Yuigahama-san," jawabku sembari tersenyum menenangkan. "Hanya saja, kehangatannya sedikit agak membakar."

Aku bangkit untuk mencuci kotak bekalku ke wastafel koridor, meninggalkan Yui yang masih tampak bingung. Langkahku terasa berat namun mantap. Di dunia sebelumnya, aku mati sebagai pahlawan yang tidak dikenal. Di dunia ini, aku akan hidup sebagai pria yang tidak akan pernah bisa dilupakan—baik oleh teman maupun lawan.

Dan sepertinya, target pertamaku setelah sekolah usai adalah mengunjungi kediaman sepupuku, Eriri. Aku butuh suasana yang berbeda untuk menjernihkan pikiran dari intrik para wanita Yukinoshita ini.

Bel sekolah berdentang, menyebarkan gelombang kelegaan ke seluruh penjuru Akademi Sakura. Bagiku, suara itu bukan sekadar tanda berakhirnya pelajaran, melainkan lonceng pembuka bagi panggung yang sesungguhnya. Aku merapikan buku catatanku, memasukkannya ke dalam tas dengan gerakan yang teratur, sementara di sekelilingku, hiruk-pikuk siswa yang merencanakan kegiatan klub atau sekadar nongkrong di kafe mulai memenuhi udara.

"Ren-kun, apa kau mau ikut kami ke Karaoke? Beberapa anak laki-laki ingin merayakan kedatanganmu," Yui Yuigahama berdiri di depan mejaku, jemarinya bertautan dengan gugup, matanya memancarkan harapan yang tulus.

Aku menatapnya sejenak, memberikan senyum tipis yang sopan namun tegas. "Terima kasih atas tawarannya, Yuigahama-san. Tapi aku sudah memiliki janji dengan 'variabel' lain yang jauh lebih berisik jika dibiarkan menunggu. Mungkin lain kali."

Yui memiringkan kepalanya, sedikit kecewa namun tetap tersenyum. "Ah, begitu ya? Sayang sekali. Tapi jangan panggil temanmu 'variabel', itu terdengar aneh, tahu!"

Aku tertawa kecil, menyampirkan tas di bahu. "Akan kuingat itu. Sampai jumpa besok."

Langkahku membawaku keluar dari gerbang sekolah, menyusuri jalanan perumahan yang tenang menuju kediaman keluarga Spencer. Sebagai sepupu, Eriri adalah salah satu titik jangkar dalam hidup baruku ini. Jika Rin adalah tanggung jawab, maka Eriri adalah tantangan kreatif yang konstan.

Setelah berjalan sekitar lima belas menit, sebuah rumah bergaya Eropa yang megah muncul di hadapanku. Aku menekan bel, dan tidak butuh waktu lama hingga pintu besar itu terbuka dengan sentakan keras.

"KAU TERLAMBAT SEPULUH MENIT, REN!"

Seorang gadis dengan rambut pirang yang dikuncir dua (twin-tail) berdiri di sana. Mata birunya berkilat kesal, dan dia mengenakan tracksuit hijau kebanggaannya yang tampak sedikit kebesaran. Eriri Spencer, sang mangaka jenius yang identitas rahasianya sebagai ilustrator dewasa adalah rahasia yang hanya diketahui segelintir orang—termasuk aku.

Aku melangkah masuk tanpa menunggu undangan lebih lanjut, melewati Eriri yang masih bersungut-sungut. "Sepuluh menit adalah waktu yang kubutuhkan untuk memastikan tidak ada rubah bernama Haruno yang membuntutiku, Eriri. Kau harusnya bersyukur aku mementingkan keamanan rahasiamu."

Eriri menutup pintu dengan bantingan keras, lalu mengekoriku menuju studio pribadinya di lantai atas. "Haruno-san? Kau bertemu dengannya? Jangan bilang kau tergoda oleh pesona palsunya itu! Dia itu berbahaya!"

"Aku tahu," jawabku singkat sembari duduk di kursi santai di pojok studionya yang berantakan dengan kertas naskah dan tablet menggambar. "Tapi aku bukan mangsa yang mudah ditelan, Eriri. Sekarang, tunjukkan padaku progres ilustrasi yang kau janjikan. Aku tidak datang ke sini hanya untuk mendengarkan ceramahmu."

Eriri mendengus, namun wajahnya sedikit merona. Dia duduk di depan tabletnya, memutar kursinya dengan ragu. "Sebenarnya... aku sedang mengalami hambatan. Aku tidak bisa mendapatkan ekspresi 'kerinduan yang terpendam' untuk karakter utamanya. Ini semua salahmu karena menghilang ke rumah sakit begitu lama!"

Aku bangkit, melangkah perlahan menuju belakang kursinya. Aku mencondongkan tubuh, melihat sketsa kasar di layar tabletnya. Tanganku secara alami bergerak, mengambil pena digital dari meja dan memberikan beberapa goresan halus pada bagian sudut mata karakter tersebut.

[Keahlian Penulis Novel: Master - Teraktivasi]

[Keahlian Seni: Analisis Visual Aktif]

"Kerinduan bukan tentang air mata, Eriri," bisikku tepat di dekat telinganya, membuat tubuhnya sedikit menegang. "Ini tentang bagaimana mata itu menatap kekosongan, seolah-olah dia sedang mencari bayangan yang dia tahu tidak akan pernah kembali. Coba perhatikan garis ini... sedikit lebih lembut, sedikit lebih ragu."

Eriri terdiam, matanya terpaku pada perubahan kecil yang kubuat. Keheningan menyelimuti ruangan itu, hanya menyisakan suara detak jam dinding dan napas kami yang beradu. Aroma cat dan parfum samar Eriri memenuhi indra penciumanku.

"Kau... sejak kapan kau jadi sepintar ini soal ekspresi visual?" suara Eriri mengecil, hampir seperti bisikan. Dia tidak berbalik, tapi aku bisa melihat telinganya yang memerah di balik rambut pirangnya.

"Mungkin mendekati kematian memberiku sudut pandang baru tentang emosi manusia," jawabku sembari meletakkan kembali pena digital itu. "Atau mungkin, aku hanya sedang ingin melihat sepupuku ini sukses agar aku bisa menumpang ketenarannya nanti."

"Dasar sombong!" Eriri akhirnya berbalik, mencoba memukul lenganku namun aku dengan mudah menghindarinya. "Tapi... terima kasih. Garis ini benar-benar mengubah segalanya."

Aku tersenyum nakal, kembali ke kursi santai dan memejamkan mata sejenak. "Sama-sama. Sekarang, buatkan aku teh. Sebagai bayaran atas konsultasi gratis ini."

"APA?! Kau pikir aku ini pelayanmu?!" teriak Eriri, namun kakinya tetap melangkah menuju pintu untuk mengambilkan apa yang kuminta. "Hanya kali ini saja, ya! Jangan kebiasaan!"

Aku membiarkannya pergi, menikmati ketenangan sesaat di studio ini. Di balik sifatnya yang kasar, Eriri adalah salah satu dari sedikit orang yang benar-benar peduli pada Ren Saiba yang lama. Dan bagiku, menjaga perasaan itu adalah bagian dari komitmenku di dunia ini.

[Misi Pekerjaan: Penulis Novel (Mangaka)]

[Kemajuan: 55% - Kolaborasi Kreatif Berhasil]

[Status: Hubungan dengan Eriri Spencer Menguat]

Aku membuka mata, menatap langit-langit studio. Hari pertama sekolah sudah usai, namun jaring-jaring hubungan ini semakin meluas. Besok, aku harus kembali ke Akademi Sakura, menghadapi Haruno, Utaha, dan mungkin variabel baru lainnya. Tapi untuk saat ini, teh hangat dari sepupu yang berisik ini sudah cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!