Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.
Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apakah Kalian Ingin Menjadi Manusia?
Sha Nuo melangkah ke arah pintu masuk goa. Langkahnya ringan, namun setiap pijakan tetap membawa kewaspadaan seorang pendekar yang telah menghadapi terlalu banyak bahaya. Pedang ganda di tangannya perlahan terurai kembali menjadi dua bilah terpisah, lalu ia selipkan di pinggang.
Kegelapan goa terbentang di hadapannya seperti mulut makhluk purba yang menunggu untuk menelan apa pun yang masuk.
Namun… Boqin Changing belum bergerak. Ia tetap berdiri di luar. Tatapannya tidak tertuju pada goa, melainkan pada dua sosok raksasa di belakangnya. Naga hijau dan naga merah muda.
Boqin Changing memandang naga hijau itu cukup lama. Tubuhnya besar. Sangat besar. Sisik hijau gelapnya tersusun seperti perisai kuno yang telah ditempa ribuan tahun. Tanduknya melengkung panjang, sebagian ujungnya tampak aus dimakan waktu. Aura yang terpancar dari tubuhnya tidak liar, melainkan dalam dan berat, seperti lautan tua yang telah menyaksikan banyak zaman berganti.
Makhluk itu… jelas telah hidup sangat lama sebagai binatang suci. Satu hal lagi, ia adalah jantan.
Pandangan Boqin Changing kemudian bergeser pada naga merah muda. Tubuhnya juga besar, namun tidak sebesar naga hijau. Sisiknya berwarna merah muda lembut dengan kilau keperakan di sela-selanya. Aura yang ia pancarkan lebih ringan, lebih hidup. Dari fluktuasi energinya, jelas ia lebih muda.
Kemungkinan besar… ia adalah pasangan naga hijau itu. Seekor betina.
Boqin Changing menghela napas tipis, lalu berkata dengan nada santai,
“Selama aku hidup… aku jarang melihat binatang suci bersikap sepertimu.”
Naga hijau mengerutkan alis.
“Seperti apa maksudmu?”
Boqin Changing tersenyum samar. Ia menatap lurus mata naga itu.
“Usiamu sudah sangat tua. Jika kau tidak mendapatkan segera bentuk manusiamu… kau akan mati.”
Keheningan langsung jatuh. Mata naga hijau membelalak.
“Kau… tahu itu?”
Boqin Changing tidak menjawab segera. Naga hijau tentu mengetahui legenda itu.
Legenda yang telah diwariskan dari generasi ke generasi di antara binatang suci. Bahwa suatu hari, ketika kekuatan mereka mencapai batas tertentu, mereka dapat meninggalkan bentuk asli dan memperoleh tubuh manusia.
Namun… jalan menuju itu bukanlah berkah. Melainkan siksaan. Mereka harus melewati petir siksaan dunia. Petir yang bukan sekadar energi langit biasa, melainkan hukuman alam terhadap makhluk yang mencoba melampaui batas takdirnya.
Jika berhasil… mereka akan terlahir kembali sebagai manusia. Jika gagal… mereka akan hancur menjadi abu.
Naga hijau menundukkan kepalanya perlahan.
“Aku… memang mengetahuinya.”
Suaranya berat. Serak. Seperti rahasia yang terlalu lama ia pendam.
“Aku telah mengeraskan tubuhku selama ini. Melatih sisik, tulang, dan inti energiku… berharap suatu hari aku mampu menahan petir itu.”
Matanya meredup.
“Namun… semakin kuat aku… semakin aku ragu.”
Boqin Changing diam, membiarkannya berbicara.
“Bagaimana jika aku belum cukup kuat?”
“Bagaimana jika aku mati sia-sia?”
Suaranya menurun. Keraguan itu bukan kelemahan sesaat. Itu adalah ketakutan yang dipupuk waktu.
“Keraguan itu semakin dalam… ketika ia menembus ranah binatang suci.”
Tatapan naga hijau bergeser ke samping. Pada naga merah muda.
“Aku melihatnya tumbuh. Menjadi lebih kuat. Menjadi lebih hidup.”
Nada suaranya melembut.
“Semakin lama kami hidup bersama… semakin aku tidak berani mengambil risiko itu.”
Keheningan kembali menyelimuti hutan.
“Aku telah hidup sangat lama,” lanjutnya. “Aku bertahan karena selalu berhitung. Selalu berhati-hati.”
Ia menutup mata sesaat.
“Aku takut jika aku gagal… lalu siapa yang akan menemaninya?”
Naga merah muda terdiam. Matanya bergetar tipis.
“Akhirnya… aku mengubur ambisi itu.”
Nada suara naga hijau kini tenang. Pasrah.
“Aku memilih menikmati waktu yang tersisa… hingga ajal datang.”
Hutan terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Bahkan para siluman tidak berani bergerak.
Boqin Changing menatap naga hijau itu lama sekali. Sorot matanya tidak mengejek. Tidak pula iba. Melainkan… memahami.
Kemudian ia berkata pelan,
“Keputusanmu tidak salah.”
Naga hijau mengangkat kepala.
“Banyak makhluk mati karena mengejar sesuatu yang belum siap mereka miliki.”
Ia berhenti sejenak. Lalu melanjutkan,
“Tetapi… hidup dalam penyesalan juga bukan pilihan yang baik.”
Mata naga hijau bergetar.
Boqin Changing tersenyum tipis.
“Jika kau mau… aku bisa membantumu mendapatkan bentuk tubuh manusia.”
Kata-kata itu jatuh ringan. Namun efeknya… seperti petir yang meledak tepat di tengah kesunyian. Hutan yang sunyi itu seakan berhenti bernapas.
Tubuh naga hijau bergetar tipis. Sisik-sisik besarnya saling bergesekan mengeluarkan suara halus seperti batu yang digesek air. Matanya menatap pemuda di depannya dengan campuran waspada, tidak percaya, dan… harapan yang terlarang.
“Apa maksudmu?” suaranya keluar rendah, penuh kewaspadaan.
Boqin Changing tidak segera menjawab. Ia melangkah satu langkah maju, lalu berdiri santai dengan kedua tangan di belakang punggungnya.
“Aku bisa membantumu mendapatkan tubuh manusiamu.”
Kata-kata itu diucapkan begitu saja, seolah ia sedang menawarkan sesuatu yang sepele. Naga hijau langsung mendengus.
“Jangan bercanda.”
Boqin Changing menatapnya lurus.
“Aku tidak bercanda,” jawabnya tenang. “Aku serius.”
Keheningan kembali turun. Bahkan angin yang berhembus di antara pepohonan terasa berhenti. Naga hijau menatapnya dalam-dalam.
“Kau benar-benar bisa?”
Boqin Changing mengangguk.
Gerakan kecil itu terasa lebih berat daripada ribuan kata. Naga hijau terdiam lama.
Ia bisa merasakan sesuatu dari pemuda itu. Bukan sekadar aura kekuatan, melainkan keyakinan yang tidak tergoyahkan. Pemuda itu tidak berbicara seperti seseorang yang sedang melebih-lebihkan diri.
Terlebih lagi… barusan ia telah menyaksikan sendiri bagaimana pemuda itu mematahkan formasi pelindung goa. Formasi yang selama ratusan tahun bahkan dua binatang suci seperti dirinya dan pasangannya tidak mampu hancurkan.
Itu bukan kebetulan. Itu bukti.
Pikiran naga hijau mulai berputar. Matanya perlahan melirik ke samping. Ke arah naga merah muda.
Naga merah muda menatapnya kembali. Tidak berkata apa-apa, namun sorot matanya penuh dorongan.
Naga hijau kembali memandang Boqin Changing. Lalu… dengan suara berat ia berkata,
“Tidak usah.”
Naga merah muda terkejut. Naga hijau menundukkan kepala sedikit.
“Aku tidak mau menjadi manusia sendirian… sementara pasanganku masih menjadi binatang suci.”
Ucapan itu sederhana. Namun di baliknya tersimpan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada ambisi.
Naga merah muda tampak tersentuh. Sisik merah mudanya berkilau lembut ketika ia bergerak mendekat.
“Aku tidak masalah,” ucapnya pelan. “Biarkan sekarang kau yang menjadi manusia dulu.”
Naga hijau langsung menggeleng kuat.
“Tidak.”
Nada suaranya tegas.
“Aku tidak akan meninggalkanmu.”
“Itu bukan meninggalkan,” balas naga merah muda cepat.
“Bagiku itu sama saja.”
“Kau telah menunggu terlalu lama!”
“Aku tidak menunggu apa pun!”
Perdebatan itu mulai memanas. Suara mereka bergema di antara pepohonan. Para siluman yang sejak tadi mengikuti bahkan saling berpandangan canggung, tidak tahu harus bersikap bagaimana.
Di tengah semua itu… Boqin Changing malah berjalan santai ke samping. Ia menemukan sebuah batu besar, lalu duduk di atasnya dengan nyaman. Satu kaki ditekuk, satu lagi menjuntai.
Ia menyaksikan pertengkaran dua naga raksasa itu seperti seseorang yang menonton pertunjukan yang cukup menarik.
Sha Nuo yang berdiri di dekat pintu goa bahkan sempat meliriknya dengan ekspresi aneh. Namun Boqin Changing hanya menyandarkan dagu pada tangannya, menunggu.
Perdebatan itu terus berlanjut.
“Kau keras kepala!”
“Kau yang keras kepala!”
“Aku hanya ingin kau hidup lebih lama!”
“Aku ingin hidup bersamamu!”
Nada suara mereka naik turun. Emosi yang dipendam begitu lama perlahan tumpah. Hingga akhirnya… Boqin Changing menghela napas panjang.
Ia mengangkat kepala.
“Sudah selesai?”
Kedua naga itu langsung terdiam. Boqin Changing memandang mereka bergantian.
“Apa yang kalian perdebatkan sebenarnya?”
Nada suaranya santai. Bahkan sedikit heran. Kedua naga itu tidak menjawab.
Boqin Changing kemudian berkata,
“Jika kalian mau… kalian berdua bisa menjadi manusia bersama.”
Kalimat itu jatuh ringan. Namun efeknya…seperti dunia baru saja berhenti berputar.
Mata naga hijau membelalak. Naga merah muda bahkan lupa bernapas.
Angin hutan kembali berhembus pelan. Sementara di atas batu itu, Boqin Changing hanya tersenyum tipis, seolah ia baru saja mengatakan sesuatu yang sangat wajar.