NovelToon NovelToon
From Turis To Will You Marry Me

From Turis To Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ws. Glo

David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas mendapat banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil memenangkan Laila.

Akankah keduanya berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Episode 3) Jebakan cinta

Kicau burung mengalun dengan sangat merdu, bersama mentari yang merasuk masuk melewati celah-celah jendela.

Pagi yang begitu indah. Tapi sayang, tidak seiras dengan perasaan Laila.

"Maafkan aku, Laila. Aku tidak dapat meminjamkanmu uang sebesar itu," lirih Bella dengan raut sendu. "Kau tau sendiri kan, kalau aku telah mengeluarkan banyak uang untuk pembangunan kantor cabang kita di Sao Paulo. Belum lagi, biaya perjalanan dan kebutuhan kita disini. Aku benar-benar minta maaf."

Perasaan Laila kian rapuh. Sudah tiada tempat untuk mengadu. Sanak saudara pun tidak ada yang mau membantu. Mereka bungkam dan tidak mau tahu.

Ia bingung harus berpaling kemanakah, untuk meminjam uang lima ratus juta rupiah?

"Tidak apa-apa Bu CEO," ujarnya dengan tatapan sayu. "Kalau begitu, saya mau siap-siap bertemu client yang kemarin dulu." Lanjutnya.

Ia lantas berganti pakaian. Langkahnya terlihat layu. Tiada lagi semangat yang biasanya menggebu-gebu. Bella dan Aini sungguh prihatin. Namun apa daya, mereka cuma bisa menyaksikan sambil berdoa semoga Laila menemukan jalan keluar.

"Laila, ini adalah sisa tabunganku. Ada sekitar lima puluh juta didalamnya. Jika kau mau, pakailah." Aini yang tidak kuasa menahan perasaan tidak teganya itupun, mengejar Laila yang sudah didepan pintu dan menawarkan bantuan.

Laila terenyuh melihat kebaikan kecil itu. Tapi uang tersebut tidaklah cukup. Bahkan kurang dari separuh.

"Tidak perlu, Aini. Kau pasti sudah lama mengumpulkan uang itu. Aku takut tidak dapat melunasinya tepat waktu," balas Laila tersenyum teduh. "Sudah ya, aku mau pergi dulu."

Tak... Tak... Tak.

Laila pun berlalu.

Ditengah keramaian pusat kota Sao Paulo, Laila menyusuri trotoar seraya menilik sekitar. Berbekal map, ia mencari-cari keberadaan La Reina Coffe. Tempat ia dan pria itu berjanji untuk bertemu.

Tanpa dia sadari, La Reina berada diseberangnya. Mengejutkannya lagi, David sudah menunggu disana sejak tadi. Bahkan telah memesan dua cangkir kopi.

Leo, asisten pribadi David lantas berbisik, "tuan, apa anda yakin wanita itu akan datang? Bagaimana kalau tidak? Bukankah ini hanya akan membuang-buang waktu anda?"

David melebarkan senyum. Ia sudah menemukan keberadaan Laila didepan situ. Tampak celingak-celinguk bingung, seperti anak ayam yang kehilangan induk.

Dengan suara rendah disertai senyuman ringan, ia menjawab, "sepertinya tidak begitu."

Akhirnya, matanya dan wanita itu bertemu. David reflek melambai. Kemudian, Laila berlari kecil ke arahnya.

"Maaf tuan, aku terlambat." Ucap Laila terduduk. Ia sontak meletakkan tasnya di meja. Menanggalkan blazernya, hingga merapikan rambutnya yang tergerai indah. Semua ia lakukan dengan rapi dan elegan.

David memandangi pergerakan itu. Lagi-lagi, bibirnya tiada henti tersenyum.

"Silahkan nikmati kopinya terlebih dahulu, nona. Kau pasti kelelahan," tawar David.

Laila menatap sejenak kopi hitam pekat itu. Setelahnya, ia mendorongnya seraya berkata, "maaf tuan. Tapi saya tidak suka minum kopi."

David terheran, "alkohol tidak suka. Sekarang, kopi juga. Apa semua wanita asia seperti demikian?"

Laila menggeleng sambil cengengesan, "ah tentu tidak. Aku... Lebih suka yang manis-manis ketimbang minuman dengan rasa yang aneh, ahahah."

"Pantas saja kau terlihat manis," bisik David.

Laila mengarahkan telinga, "maaf tuan, anda tadi bilang apa? Saya tidak dengar."

"Tidak ada apa-apa. Kalau begitu, pesanlah minumanmu... Ehh, siapa namamu?"

"Laila, tuan."

"Ooh, Laila. Nama yang cantik." Puji David seraya mengulurkan daftar menu.

"Terima kasih." Ucap Laila tersenyum kecil, dan tanpa basa-basi ia mengangkat tangannya ke pelayan lalu memesan red velvet cream cheese latte. Minuman favoritnya sedari kecil.

Ketika minuman yang menggunung dengan krim beserta keju itu diletakkan, David tersengir heran. "Bagaimana bisa wanita seanggun dia, memiliki selera yang kekanak-kanakan?" batinnya. Namun dia tentu takkan menemukan jawaban.

Laila pun mulai membuka obrolan. "Ini data-data lengkap mengenai perusahaan kami, tuan. Silahkan dibaca," ujarnya memberikan sebuah map.

David mengamatinya dengan seksama. "Detail sekali," batinnya terkesima.

"Kau kah yang membuat ini?" tanyanya mengangkat lembaran-lembaran tersebut.

Laila mengangguk.

David menaikkan alisnya, lalu ikut mengangguk-anggukkan kepalanya kagum. "Bahkan satu pun dari bawahanku, tidak ada yang bisa membuat data yang sedetail ini."

David lalu melirik kembali ke arah Laila, namun ia tersentak ketika mendapati wanita itu terlihat sedih dengan tatapan matanya yang sayu. Seolah ia tengah memikirkan beban yang lebih berat dari sebuah tekanan pekerjaan.

"Nona. Apa kau sedang tidak enak badan?" tanya David penasaran. Mengagetkan Laila dari lamunannya.

"Ti--tidak tuan, maaf. Tadi itu saya lagi..."

Tiriring. Ponsel Laila berdering.

"Sebentar. Saya mau angkat telepon dulu," ucap Laila buru-buru ke arah lain.

"Iya ibu?" tanya Laila, berbisik.

"Nak Laila, bagaimana? Apakah kau sudah mendapatkan uangnya? Dokter mengatakan bahwa mereka tidak akan bisa memulai operasi Dio, kalau uangnya belum lunas dulu. Minimal setengahnya. Hiks, ibu jadi takut Dio kenapa-napa." Mira, ibu mertua Laila menangis karena cemas. Apalagi Laila, yang sudah mulai sesak dan sakit kepala.

"Ya Tuhan, bagaimana ini? Kepada siapa lagi aku harus meminta tolong?" batinnya, memijit kening.

Demi menenangkan Mira, Laila pun terpaksa mengatakan, "aku sedang mengusahakan uangnya ibu. Bila sudah ada, besok akan aku transfer."

"Huuuu, maafin ibu ya nak. Gara-gara Dio, kamu jadi kesusahan. Bahkan sejak awal pernikahan," isak Mira.

"Tidak apa-apa, ibu. Cintaku kepada Dio lah yang membuatku bisa bertahan sampai sekarang." Setelah mengatakan itu, Laila kemudian menenangkan sang ibu mertua. Sementara itu, David memperhatikannya.

"Apa yang sedang ia bicarakan? Serius sekali," batinnya melipat tangan di dada.

Tidak lama, Laila kembali ke tempat duduknya. Tetapi rautnya lebih suram dari sebelumnya. Membuat David tidak tahan ingin melontarkan pertanyaan yang sedang mengapung dalam pikiran.

"Apa kau tengah ada masalah?"

Laila yang semula tertunduk lesu, perlahan-lahan memanggut. Menandakan jikalau dugaan David benar.

David enggan bertanya perihal apa. Sebab mereka baru saja kenal. Takut Laila merasa terganggu.

Namun, entah karena tidak tahu lagi harus bercerita ke siapa, Laila dengan lugu menceritakan apa yang menjadi masalahnya.

"Suamiku tengah dirawat di rumah sakit, dan ia harus segera di operasi. Tetapi aku tidak punya uang yang cukup untuk menanggung biaya itu," jelas Laila.

Deggggh.

David terperangah, "suami?"

Ia lantas mengarahkan tatapannya ke jemari Laila yang saling mengepal. Namun tidak menemukan cincin pernikahan di kedua jari manisnya.

Ia lalu menyelidiki tubuh Laila, dan akhirnya menemukan cincin pernikahan itu menguntai indah di kalung emas yang melilit leher jenjangnya.

Sesaat, David merasa ada yang menggelembung dalam dadanya. Sehingga membuatnya bergumul dengan pikirannya sendiri. Ia juga mendadak kegerahan. Karena itulah, David melonggarkan dasinya.

"Memang, berapa biaya yang kau butuhkan untuk biaya operasi suamimu?" tanyanya dengan tenang.

"Sekitar lima ratus juta rupiah, tuan."

"Jumlah itu tidaklah sedikit."

"Benar, tuan. Makanya aku bingung harus minta tolong ke siapa."

David merenung dalam waktu yang cukup lama. Laila, wanita manis bertubuh mungil itu adalah seseorang yang ternyata sudah merebut hatinya sejak pertemuan pertama.

Wanita yang awalnya ia kira turis, nyatanya adalah seorang pekerja gigih. Dia yang diduga-duga mau menggoda, tau-tau malah datang untuk mengiklankan produk perusahaan tempat ia bekerja.

Laila memang tidak secantik wanita-wanita latin, namun dia punya ciri khasnya sendiri. Paling utama ialah, wanita itu selalu kelihatan rapi, kalem dan anggun. Sesekali nampak bertingkah imut dan juga menggemaskan.

Dan ya, keunikan itulah yang membuat David langsung jatuh cinta kepada Laila. Ia sebenarnya malu mengakuinya. Namun hal tersebut merupakan suatu kebenaran yang tidak dapat dibantah.

Mengetahui kalau wanita itu sudah punya suami, David merasa kecewa dan sakit hati. Tetapi hasratnya untuk memiliki wanita itu, sudah tak terbendungi.

Oleh sebabnya, setelah sibuk bergulat dalam pikiran, David dengan lugas mengutarakan jikalau, "aku akan membantumu."

Deggg.

"Me--membantuku? Benarkah, tuan?" Laila ternganga. Rasa senangnya, tidak dapat ia sembunyikan.

David mengangguk sambil tersenyum. Tapi tidak semudah itu. Karena ia meneruskan kalimat tersebut dengan berkata, "tapi ada syaratnya."

Laila tersentak, "syarat? Kalau boleh tau, apa tuan?"

Srett.

David menyodorkan kartu namanya. Disana tertera nama lengkapnya, perusahaannya beserta dengan alamat tempat tinggalnya.

Senyum teduhnya barusan pun, mendadak berubah menjadi seringai yang penuh maksud. David lantas menyampaikan, "datanglah ke rumahku besok, pada pukul tiga sore. Sama seperti ketika kita bertemu hari ini."

Semua dimulai dari hari itu. Hari dimana Laila Cakrawala sudah terikat dengan sesosok David Mendoza. Dimana ketika Laila yang polos amat senang karena mengira telah diberi uluran pertolongan, nyatanya terjebak ke dalam belenggu seekor singa buas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!