NovelToon NovelToon
Jodoh Pilihan Untuk Sang CEO

Jodoh Pilihan Untuk Sang CEO

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:3M
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Karya ini telah terpilih sebagai kandidat YAAW 2026 periode 1 kategori 1🥳🎉🎉🎉

Di hari pernikahannya, Farhan Bashir Akhtar dipermalukan oleh calon istrinya yang kabur tanpa penjelasan. Sejak saat itu, Farhan menutup rapat pintu hatinya dan menganggap cinta sebagai luka yang menyakitkan. Ia tumbuh menjadi CEO arogan yang dingin pada setiap perempuan.

Hingga sang ayah menjodohkannya dengan Kinara Hasya Dzafina—gadis sederhana yang tumbuh dalam lingkungan pesantren. Pertemuan mereka bagai dua dunia yang bertolak belakang. Farhan menolak terikat pada cinta, sementara Kinara hanya ingin menjadi istri yang baik untuknya.

Dalam pernikahan tanpa rasa cinta itu, mampukah Kinara mencairkan hati sang CEO yang membeku? Atau justru keduanya akan tenggelam dalam luka masa lalu yang belum terobati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Pintu kamar Farhan terbanting keras di belakangnya, nyaris memantul kembali karena tekanan yang ia lepaskan. Dadanya naik turun oleh amarah yang masih membara, suara dari percakapan terakhir dengan ayahnya terus menggema, seolah menampar kesadarannya berulang kali.

Bagaimana bisa ayahnya mengambil keputusan sepihak seperti itu?

Farhan meraih simpul dasinya dengan kasar, menariknya hingga hampir merobek kerah kemejanya. Dasi itu terlepas dan Farhan hempaskan begitu saja ke lantai marmer. Kedua tangannya mengepal, rahangnya mengeras, dan tatapan matanya seperti pisau tajam yang siap menusuk siapa pun yang berani mendekat.

“Ayah tidak punya hak mengatur hidupku.” gumam Farhan dengan geram.

Ia berjalan ke arah lemari tinggi yang terbuat dari kayu mahoni. Dengan gerakan tergesa-gesa dan penuh emosi, ia membuka salah satu laci bagian dalam. Di sanalah sebuah bingkai foto tersimpan rapi, seolah-olah menjadi luka yang dibiarkan tetap menganga. Foto yang sudah dua tahun tidak Farhan sentuh namun tidak pernah sanggup ia buang.

Adilla.

Nama itu saja sudah cukup menjadi racun bagi seluruh tubuh Farhan.

Ia menatap foto itu dalam waktu lama. Wanita itu tersenyum di sana, seolah tidak pernah melakukan kesalahan. Seolah tidak pernah menghancurkan harapan, harga diri, dan seluruh kehormatannya dalam satu malam paling memalukan dalam hidupnya.

Farhan menghela napas panjang, tatapannya berubah. Dari sendu menjadi kebencian yang murni.

“Kau, karena kau aku kehilangan kemampuanku untuk percaya.” gumam Farhan dengan suaranya yang rendah tapi dipenuhi racun.

Kepalanya sedikit menunduk, tetapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyum getir.

“Dan sekarang Ayah pikir wanita lain bisa memperbaiki hidupku?” tanyanya sambil terkekeh pelan. Tawa yang terdengar seperti ejekan untuk dirinya sendiri.

“Tidak akan ada satu pun yang bisa menembus dinding yang sudah ku bangun.”

Nadanya dingin, beku dan mematikan.

Tangannya perlahan meremas foto itu. Awalnya pelan namun makin lama ia menggenggam semakin erat hingga kertas foto itu membentuk bentuk yang tak lagi terlihat seperti kenangan. Dan lebih terlihat seperti sampah yang tak berarti.

“Kalian semua sama, Kalian hanya tahu cara menghancurkan dan tidak bisa menghargai perasaan seseorang yang benar benar tulus mencintai kalian.”

Dengan satu embusan napas berat, Farhan melemparkan foto itu ke lantai dan menginjak-injaknya tanpa belas kasihan. Jika ayahnya ingin memaksakan kehendak, maka Farhan telah memutuskan satu hal: Ia akan memastikan bahwa siapapun wanita yang dinikahinya nanti tidak akan mampu menyentuh hatinya walau sedikit pun.

Malam itu, Farhan memandang bayangannya di cermin besar yang tergantung di dinding. Bayangan seorang pria yang sudah terlalu hancur untuk disembuhkan

“Aku tidak akan mencintai siapapun lagi,” katanya pada refleksi dirinya.

“Tidak peduli siapapun yang Ayah pilih, ia tidak akan pernah mendapatkan hatiku.”

Keesokan paginya, suasana pagi di rumah keluarga Akhtar biasanya terasa hangat dan tenang. Namun bagi Pak Ardhan, pagi ini terasa berbeda. Ada ketegangan yang terasa pada setiap langkahnya. Pak Ardhan sudah berniat sejak semalam. Bahwa ia akan mengunjungi sahabat baiknya untuk menjodohkan Farhan dengan putrinya.

Setelah menghabiskan beberapa jam di perjalanan, akhirnya mobil Mercedes Benz hitam yang dikendarai oleh pak Ardhan tiba di depan pintu gerbang yang bertuliskan Pondok Pesantren Darul Qur’an Al-Majid, yang tak lain dan tak bukan adalah pondok pesantren milik sahabat baiknya.

Pagi hari membuat suasana pondok pesantren itu terasa lebih hidup. Anak-anak kecil berlari menuju kelas, suara hafalan ayat suci Al Quran hampir terdengar di setiap sudut, dan aroma rumput basah bercampur dengan bau buku-buku baru dari rak perpustakaan yang terbuka.

Saat masuk ke dalam, pak Ardhan bisa melihat bagaimana bangunan pesantren itu yang terlihat bersih dan terawat. Dinding berwarna putih krem dengan aksen hijau tua, pepohonan rindang di kanan kiri, dan jalan setapak kecil dari batu alam yang mengarah ke sebuah masjid utama di tengah lingkungan pesantren.

Hilir hilir angin membawa lantunan ayat suci Qur’an yang begitu syahdu. Ada ketentraman yang menyentuh hati di tempat ini, ketenangan yang sudah lama hilang dari hidup putranya. Pak Ardhan melangkah, lalu seorang ustadz menyapanya sebelum membimbingnya menuju ruang tamu khusus tamu kehormatan. Namun langkah Pak Ardhan terhenti di depan sebuah aula kecil yang pintunya sedikit terbuka.

Dari celah pintu itu, ia bisa melihat seorang wanita tengah berdiri di depan puluhan santriwati yang duduk rapi bersila.

Wanita itu terlihat begitu sederhana tapi mencuri perhatiannya dalam sekejap. Kerudungnya jatuh menutupi dada dengan rapi, warnanya hijau daun yang lembut dan kontras dengan gamis krem panjang yang ia kenakan. Tidak ada make up berlebihan, tidak ada perhiasan yang mencolok. Tapi justru kesederhanaan itu yang membuat aura kecantikannya begitu nyata.

Wajahnya terlihat bersih dan teduh. Alisnya terbentuk alami, matanya besar dan jernih seperti air yang memantulkan ketenangan sore hari di pesantren ini. Saat ia tersenyum kepada para santriwati, senyuman itu terasa tulus dan hangat seperti menghapus segala lelah yang mengendap di dalam hati.

Suara lembutnya mengalun saat membaca ayat suci Al-Qur’an dengan pelafalan yang begitu merdu.

“Innallāha ma’aṣ-ṣābirīn, Sesungguhnya, Allah bersama orang-orang yang sabar.”

Ketika ia menjelaskan artinya, suaranya tidak sekadar mengajar tetapi seperti membelai hati setiap orang yang mendengarnya.

“Kalau kita terluka, itu bukan karena Allah ingin kita menyerah,” ucapnya, matanya melirik santriwati kecil yang menatapnya dengan kagum.

“Allah hanya ingin kita belajar bahwa sabar bukan berarti diam, tapi tetap percaya meski semuanya terasa berat.”

Pak Ardhan terpaku. Begitu terpaku sampai ia lupa menarik napas untuk sesaat. Ada sesuatu dalam diri wanita itu, kelembutan hatinya saat mengajar semua santriwati itu, kecantikan yang tidak dibuat-buat, serta kecerdasan yang tidak membuatnya menyombongkan diri. Semua berpadu begitu alami, seolah ia diciptakan untuk memberi keteduhan bagi siapa pun yang dekat dengannya.

Dan tanpa pak Ardhan sadari, hatinya mulai berbicara:

“Farhan, kalau saja kau melihat perempuan ini. Kau pasti akan tahu bahwa tidak semua wanita itu tega menyakiti hati laki laki.”

Kinara membungkuk sedikit sambil mengusap kepala santriwati yang menangis pelan karena salah membaca ayat suci Alquran. Ia tersenyum, senyum yang bisa membuat siapa pun merasa tidak sendirian di dunia ini.

“Tidak apa-apa, sayang. Kita belajar pelan-pelan. Allah selalu lihat usaha kita, bukan hasil.”

Seketika dada Pak Ardhan terasa hangat.

Sudah lama ia tidak merasakan ketenangan seperti ini bahkan di rumahnya sendiri. Wanita itu kemudian menutup mushaf Alquran ditangannya saat bel pertanda jam pelajaran telah berakhir, berbunyi. Ia lalu menepuk pelan bahu santriwati di hadapannya yang ingin mencium tangannya sebelum keluar dari aula. Dan saat itu pula mata mereka bertemu.

1
Ragil Saputri
kok manggil papanya "papa", manggil Kinara ibu, rasanya kok gimanaaaa gitu
Ragil Saputri
selamat datang baby Azzam, Azzam Rafasya Pratama
Ragil Saputri
kok taruhan nya GK boleh masuk, gimana to dokternya, justru istri klo mau lahiran, suaminya harus mendampingi memberi kekuatan k istrinya, piye to dokternya ini ....
Ragil Saputri
kok ibunya Kinara GK nemenin anaknya disaat mau lahiran, kasian Kinara GK ada yg ndampingi, art pun GK ada ya. ....
Ragil Saputri
Waaah dedek bayinya mau keluar tu, cepetan panggil suamimu Kinara
Ragil Saputri
huuuuft Adila datang lagi, bikin suasana tegang aja deh, tpi dia datang ingin mengakhiri semuanya, padahal kan semuanya dh berakhir setelah dia pergi dri Farhan, hanya dua aja yg ambisi...
Ragil Saputri
mudah2an Adila datang dgn membawa perdamaian, minta maaf sedalam-dalamnya, lalu undur diri dri kehidupan Farhan n Kinara....siapa laki" yg datang bersama Adila
Ragil Saputri
Kinara jgn keluar sendirian, Farhan bakalan marah klo kamu GK bangunin dia
Ragil Saputri
kasih tau ortunya Kinara juga Farhan, biasanya perasaan seorang ibu akan lebih peka terhadap anaknya jgn tunggu mereka menelpon mu
Ragil Saputri
"ada debay yg butuh nutrisi sayang" begitu kira-kira ucap Farhan.... (🤭🤭🤭/
Ragil Saputri
alam bawah sadar Kinara mendengar lantunan ayat" suci Alqur'an dri suara yg amat dikenalnya, ya suara suamimu Kinara
Ragil Saputri
Kinara hamil, perasaanya terguncang setelah kehadiran Adila, makanya Kinara semaput, Farhan jaga Kinara, jadilah suami SIAGA
Ragil Saputri
jgn panik Farhan, Kinara baik" aja kok...."Farhan untuk lebih memastikannya,bawa istrimu k dokter kandungan" ucap dokter Ridwan.... terbengong-bengong lah si Farhan
Ragil Saputri
kayaknya Kinara hamidun DECH , moga aja biar rame rumah Farhan dgn tangisan baby Farhan junior
Ragil Saputri
gaspol Farhan, Kinara butuh Lo disaat dia hrs menghadapi masalalu kamu, Adila.... bagaimanapun Kinara seorang wanita, yg akan merasa sakit klo wanita masa lalu suaminya meminta suamimu kembali😥
Ragil Saputri
mudah2an Adila bener" menyesal, dan membiarkan Kinara tetep mempertahankan Farhan, karna emang Farhan lah yg memilih Kinara
Ragil Saputri
moga aja Farhan cepet' blik, tkutnya si ulat buluk kalap
Ragil Saputri
tegakkan kepalamu Kinara, bakas Adila dgn kenyataan bahwa "Adila lah yg dh ninggalin Farhan, disaat sebelum ijab qobul diucapkan Farhan, Adila yg bikin Farhat terpuruk hanya demi ambisi Adila....
Ragil Saputri
eh eh eeeh kenapa Kinara GK kunci tu pagarnya coba, kn si ulat bulunya nyelonong boy dah..... Kinara tunjukkan dirimu BKN wanita lemah dihadapan Adila, tegakkan kepalamu, tunjukkan klo kamulah pemenangnya, Kamo yg dipilih Farhan bt jdi RATU dirmh n dihati Farhan, kamu kuat kamu bisa Kinara....
Ragil Saputri
jgn terlalu hanyut dgn masa lalu Farhan, tatap Kinara, dia masa depanmu, yg hrs kau jaga hati n perasaanya, karna Kinara yg mengubah hidupmu lebih berharga, bisa membuatmu tersenyum ramah ke orng" sekitar, membuatmu bahagia
teruslah melangkah, jgn berpaling ke belakang lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!