NovelToon NovelToon
Jodoh Pilihan Untuk Sang CEO

Jodoh Pilihan Untuk Sang CEO

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:841.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Di hari pernikahannya, Farhan Bashir Akhtar dipermalukan oleh calon istrinya yang kabur tanpa penjelasan. Sejak saat itu, Farhan menutup rapat pintu hatinya dan menganggap cinta sebagai luka yang menyakitkan. Ia tumbuh menjadi CEO arogan yang dingin pada setiap perempuan.

Hingga sang ayah menjodohkannya dengan Kinara Hasya Dzafina—gadis sederhana yang tumbuh dalam lingkungan pesantren. Pertemuan mereka bagai dua dunia yang bertolak belakang. Farhan menolak terikat pada cinta, sementara Kinara hanya ingin menjadi istri yang baik untuknya.

Dalam pernikahan tanpa rasa cinta itu, mampukah Kinara mencairkan hati sang CEO yang membeku? Atau justru keduanya akan tenggelam dalam luka masa lalu yang belum terobati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Pintu kamar Farhan terbanting keras di belakangnya, nyaris memantul kembali karena tekanan yang ia lepaskan. Dadanya naik turun oleh amarah yang masih membara, suara dari percakapan terakhir dengan ayahnya terus menggema, seolah menampar kesadarannya berulang kali.

Bagaimana bisa ayahnya mengambil keputusan sepihak seperti itu?

Farhan meraih simpul dasinya dengan kasar, menariknya hingga hampir merobek kerah kemejanya. Dasi itu terlepas dan Farhan hempaskan begitu saja ke lantai marmer. Kedua tangannya mengepal, rahangnya mengeras, dan tatapan matanya seperti pisau tajam yang siap menusuk siapa pun yang berani mendekat.

“Ayah tidak punya hak mengatur hidupku.” gumam Farhan dengan geram.

Ia berjalan ke arah lemari tinggi yang terbuat dari kayu mahoni. Dengan gerakan tergesa-gesa dan penuh emosi, ia membuka salah satu laci bagian dalam. Di sanalah sebuah bingkai foto tersimpan rapi, seolah-olah menjadi luka yang dibiarkan tetap menganga. Foto yang sudah dua tahun tidak Farhan sentuh namun tidak pernah sanggup ia buang.

Adilla.

Nama itu saja sudah cukup menjadi racun bagi seluruh tubuh Farhan.

Ia menatap foto itu dalam waktu lama. Wanita itu tersenyum di sana, seolah tidak pernah melakukan kesalahan. Seolah tidak pernah menghancurkan harapan, harga diri, dan seluruh kehormatannya dalam satu malam paling memalukan dalam hidupnya.

Farhan menghela napas panjang, tatapannya berubah. Dari sendu menjadi kebencian yang murni.

“Kau, karena kau aku kehilangan kemampuanku untuk percaya.” gumam Farhan dengan suaranya yang rendah tapi dipenuhi racun.

Kepalanya sedikit menunduk, tetapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyum getir.

“Dan sekarang Ayah pikir wanita lain bisa memperbaiki hidupku?” tanyanya sambil terkekeh pelan. Tawa yang terdengar seperti ejekan untuk dirinya sendiri.

“Tidak akan ada satu pun yang bisa menembus dinding yang sudah ku bangun.”

Nadanya dingin, beku dan mematikan.

Tangannya perlahan meremas foto itu. Awalnya pelan namun makin lama ia menggenggam semakin erat hingga kertas foto itu membentuk bentuk yang tak lagi terlihat seperti kenangan. Dan lebih terlihat seperti sampah yang tak berarti.

“Kalian semua sama, Kalian hanya tahu cara menghancurkan dan tidak bisa menghargai perasaan seseorang yang benar benar tulus mencintai kalian.”

Dengan satu embusan napas berat, Farhan melemparkan foto itu ke lantai dan menginjak-injaknya tanpa belas kasihan. Jika ayahnya ingin memaksakan kehendak, maka Farhan telah memutuskan satu hal: Ia akan memastikan bahwa siapapun wanita yang dinikahinya nanti tidak akan mampu menyentuh hatinya walau sedikit pun.

Malam itu, Farhan memandang bayangannya di cermin besar yang tergantung di dinding. Bayangan seorang pria yang sudah terlalu hancur untuk disembuhkan

“Aku tidak akan mencintai siapapun lagi,” katanya pada refleksi dirinya.

“Tidak peduli siapapun yang Ayah pilih, ia tidak akan pernah mendapatkan hatiku.”

Keesokan paginya, suasana pagi di rumah keluarga Akhtar biasanya terasa hangat dan tenang. Namun bagi Pak Ardhan, pagi ini terasa berbeda. Ada ketegangan yang terasa pada setiap langkahnya. Pak Ardhan sudah berniat sejak semalam. Bahwa ia akan mengunjungi sahabat baiknya untuk menjodohkan Farhan dengan putrinya.

Setelah menghabiskan beberapa jam di perjalanan, akhirnya mobil Mercedes Benz hitam yang dikendarai oleh pak Ardhan tiba di depan pintu gerbang yang bertuliskan Pondok Pesantren Darul Qur’an Al-Majid, yang tak lain dan tak bukan adalah pondok pesantren milik sahabat baiknya.

Pagi hari membuat suasana pondok pesantren itu terasa lebih hidup. Anak-anak kecil berlari menuju kelas, suara hafalan ayat suci Al Quran hampir terdengar di setiap sudut, dan aroma rumput basah bercampur dengan bau buku-buku baru dari rak perpustakaan yang terbuka.

Saat masuk ke dalam, pak Ardhan bisa melihat bagaimana bangunan pesantren itu yang terlihat bersih dan terawat. Dinding berwarna putih krem dengan aksen hijau tua, pepohonan rindang di kanan kiri, dan jalan setapak kecil dari batu alam yang mengarah ke sebuah masjid utama di tengah lingkungan pesantren.

Hilir hilir angin membawa lantunan ayat suci Qur’an yang begitu syahdu. Ada ketentraman yang menyentuh hati di tempat ini, ketenangan yang sudah lama hilang dari hidup putranya. Pak Ardhan melangkah, lalu seorang ustadz menyapanya sebelum membimbingnya menuju ruang tamu khusus tamu kehormatan. Namun langkah Pak Ardhan terhenti di depan sebuah aula kecil yang pintunya sedikit terbuka.

Dari celah pintu itu, ia bisa melihat seorang wanita tengah berdiri di depan puluhan santriwati yang duduk rapi bersila.

Wanita itu terlihat begitu sederhana tapi mencuri perhatiannya dalam sekejap. Kerudungnya jatuh menutupi dada dengan rapi, warnanya hijau daun yang lembut dan kontras dengan gamis krem panjang yang ia kenakan. Tidak ada make up berlebihan, tidak ada perhiasan yang mencolok. Tapi justru kesederhanaan itu yang membuat aura kecantikannya begitu nyata.

Wajahnya terlihat bersih dan teduh. Alisnya terbentuk alami, matanya besar dan jernih seperti air yang memantulkan ketenangan sore hari di pesantren ini. Saat ia tersenyum kepada para santriwati, senyuman itu terasa tulus dan hangat seperti menghapus segala lelah yang mengendap di dalam hati.

Suara lembutnya mengalun saat membaca ayat suci Al-Qur’an dengan pelafalan yang begitu merdu.

“Innallāha ma’aṣ-ṣābirīn, Sesungguhnya, Allah bersama orang-orang yang sabar.”

Ketika ia menjelaskan artinya, suaranya tidak sekadar mengajar tetapi seperti membelai hati setiap orang yang mendengarnya.

“Kalau kita terluka, itu bukan karena Allah ingin kita menyerah,” ucapnya, matanya melirik santriwati kecil yang menatapnya dengan kagum.

“Allah hanya ingin kita belajar bahwa sabar bukan berarti diam, tapi tetap percaya meski semuanya terasa berat.”

Pak Ardhan terpaku. Begitu terpaku sampai ia lupa menarik napas untuk sesaat. Ada sesuatu dalam diri wanita itu, kelembutan hatinya saat mengajar semua santriwati itu, kecantikan yang tidak dibuat-buat, serta kecerdasan yang tidak membuatnya menyombongkan diri. Semua berpadu begitu alami, seolah ia diciptakan untuk memberi keteduhan bagi siapa pun yang dekat dengannya.

Dan tanpa pak Ardhan sadari, hatinya mulai berbicara:

“Farhan, kalau saja kau melihat perempuan ini. Kau pasti akan tahu bahwa tidak semua wanita itu tega menyakiti hati laki laki.”

Kinara membungkuk sedikit sambil mengusap kepala santriwati yang menangis pelan karena salah membaca ayat suci Alquran. Ia tersenyum, senyum yang bisa membuat siapa pun merasa tidak sendirian di dunia ini.

“Tidak apa-apa, sayang. Kita belajar pelan-pelan. Allah selalu lihat usaha kita, bukan hasil.”

Seketika dada Pak Ardhan terasa hangat.

Sudah lama ia tidak merasakan ketenangan seperti ini bahkan di rumahnya sendiri. Wanita itu kemudian menutup mushaf Alquran ditangannya saat bel pertanda jam pelajaran telah berakhir, berbunyi. Ia lalu menepuk pelan bahu santriwati di hadapannya yang ingin mencium tangannya sebelum keluar dari aula. Dan saat itu pula mata mereka bertemu.

1
Lilik Juhariah
lah kl udah melupakan kenapa.masih gila aja lu Farhan
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: trauma kak
total 1 replies
Lilik Juhariah
agak aneh aja.ada.laki laki disakiti 5 THN malah tetap gila , segitu cintanyakah atau gimana , kasihan istrinya
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: terlanjur sakit hati kak
total 1 replies
Lilik Juhariah
kl emosimu masih begitu berarti kamu blm bisa lupakan adela
Fierda
farhan,,, awas aja yaaaa kalau kamu kepincut lagi sm adilla 😤
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: gak bakalan terjadi kak
total 1 replies
Lilik Juhariah
mewek aku thor
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: aku juga kak/Cry/
total 1 replies
Lilik Juhariah
harusnya kl CEO atau seorang pemimpin GK gitu amat traumanya , apa yg kurang dari dirimu , yg kurang ya perempuan itu yg GK bersyukur, cengeng
Fierda
Awas aja kalau hati yang keras itu jadi meleyottt 🤭
juwita
hanya krn cwek smpe g percaya lagi sm tuhan km farhan.
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: terlalu sakit hati Farhan kak
total 1 replies
juwita
hanya krn cwek satu udh ky gitu. harusnya bersyukur g jd sm su adel. berarti g baik dia buat km.
juwita
farhan CEO tp g pny sopan santun. walo pun g suka tp harusnya pamit sm mertua.
juwita
jgn terlalu takabur farhan othor yg berkuasa disini bisa membalikan hatimu yg beku jd cair🤣🤣
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: betul banget itu kakak🤣
total 1 replies
juwita
makannya mencintai itu sewajarnya aj. jd ketika org itu pergi g parah ky gini.
Umi Kulsum
ikut bahagia ya...terlihat romantis bangtt
Lies Atikah
mau apapun datang menggoda kalau dasar cinta pada istri mu kuat dan tulus kar na Alloh pasti baik2 saja kesetiaan dan hati2 dengan jebakan farhan si Dilla pasti menghalal kan berbagai cara
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: tenang kak, Farhan nggak bakal balik lagi ke Adilla.
total 1 replies
Lies Atikah
semoga kirana bukan wanita bodoh dan lemah . tapi yang berkelas dan berani
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: pasti kak, Kinara itu wanita yang berani dan nggak pantang nyerah.
total 1 replies
juwita
mampir
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: oke kak makasih udah mampir
total 1 replies
iren thezer
suka ceritanya semangat author terima kasih
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: sama sama kak, terima kasih juga bintang limanya 🙏😍
total 1 replies
Ila Aisyah
awal menolak, klo sdh tau rasanya,,, hemmm,, bucin, gesss,,, 🤣🤣🤣
Ana Kurniawan
omaygat belom selesai² juga urusan masalalumu Farhan. disini seperti Kinara yg dituntut harus selalu mengerti kondisinya Farhan terus. capek tauk.
Ana Kurniawan
emang iya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!