NovelToon NovelToon
Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Poligami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Weny Hida

Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.

Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.

Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Satu Mobil

Keesokan harinya…

Cahaya matahari masuk tipis melalui celah tirai. Dirga terbangun perlahan. Dia masih setengah mengantuk saat tangannya refleks meraba ke sisi ranjang sebelahnya. Namun, kosong, tidak ada siapa pun.

Alisnya sedikit berkerut. Biasanya Celine sudah bangun lebih dulu, tapi tetap ada jejak suara di kamar mandi, suara lemari dibuka, atau aroma parfum yang tertinggal. Namun, hari ini, sunyi.

Dirga membuka mata sepenuhnya.

“Celine!” panggilnya dengan suara serak, tapi tidak ada jawaban.

Dia duduk, menyapu rambutnya ke belakang, lalu turun dari ranjang.

“Cel?” panggilnya lagi, sedikit lebih keras.

Kamar tetap hening. Lalu, dia meraih ponselnya di atas nakas. Satu notifikasi pesan masuk, dari Celine. Dirga membuka pesan itu.

Celine:

Aku berangkat pagi. Ada meeting dan revisi proposal. Jangan tunggu aku.

Dirga membaca pesan itu tanpa ekspresi. Seperti pesan untuk rekan kerja, bukan untuk suami.

Dia menghela napas pelan, sudah biasa sebenarnya. Beberapa bulan terakhir, Celine memang lebih sering seperti ini.

Fokus pada pekerjaannya. Terutama sejak pembicaraan tentang kerja sama dengan Cambridge makin serius.

Dirga meletakkan ponselnya. Dirga akhirnya masuk ke kamar mandi. Air dingin menyiram wajahnya, sedikit menjernihkan pikiran yang sejak tadi terasa penuh.

Selesai mandi, Dirga mengenakan kemeja santai dan turun dari kamar. Awalnya dia berniat sarapan di luar saja seperti biasa.

Celine memang jarang memasak, dan dia sudah terbiasa membeli sarapan di perjalanan. Namun langkahnya terhenti di tengah tangga.

Ada aroma masakan, terasa hangat. Dirga mengernyit.

“Celine?” gumamnya refleks.

Mustahil, dia tadi sudah membaca pesa Celine yang berangkat pagi.

Dirga akhirnya melangkah turun perlahan. Semakin dekat ke dapur, aromanya semakin jelas, dan ketika fia sampai di ruang makan, Dirga berhenti, itu bukan Celine.

Di sana, di depan meja makan, tampak seorang perempuan dengan rambut yang diikat sederhana, mengenakan pakaian rumah yang lebih santai dibanding dress semalam, dialah Amira.

Amira sedang menata piring dengan hati-hati. Gerakannya pelan, rapi, sedikit kaku, seperti orang yang masih canggung berada di rumah orang lain.

Dirga berdiri diam beberapa detik. Amira belum menyadari kehadirannya. Hingga akhirnya Amira berbalik untuk mengambil sendok, san mereka kembali bertatapan.

Amira tersentak sedikit.

“Oh, Pak Dirga udah bangun?”

Dirga mengamati meja makan. Ada nasi goreng sederhana, telur dadar, dan teh hangat yang masih mengepul.

“Kamu yang masak?” tanyanya.

Amira mengangguk kecil.

“Iya, Bu Celine bilang saya suruh bikin sarapan, karena di sini nggak ada pembantu rumah tangga.”

Dirga menatapnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

“Dia emang jarang masak,” gumamnya pelan, lebih seperti bicara pada diri sendiri.

Amira tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya menunduk sedikit.

"Ibu Celine memang sibuk. Silahkan sarapan, Pak."

Dirga berjalan mendekat ke meja makan. Aromanya memang menggoda. Berbeda dari suasana rumah yang biasanya.

Dirga menarik kursi, duduk. Lalu menatap Amira lagi.

“Maaf kalo merepotkan."

Amira menggeleng cepat. “Nggak kok, Pak.”

"Terus kenapa kamu masih di rumah? Bukannya Celine udah ke kantor?"

"Bu Celine bilang, saya suruh nyusul aja, soalnya Bu Celine lagi ada rapat terbatas, dan saya nggak boleh ikut."

Dirga mengangguk, lalu mulai menyuap nasi goreng itu. Dia tidak banyak bicara.

Hanya sesekali mengambil telur, lalu menyeruput teh hangat yang sudah Amira siapkan.

Sementara itu, Amira masih berdiri, ragu-ragu menarik kursi di seberang meja.

“Duduk, ayo sarapan bareng,” ucap Dirga singkat, tanpa menatapnya.

Amira menurut. Dia duduk pelan, punggungnya tegak, tangannya saling bertaut di pangkuan, dan diam-diam dia menatap Dirga.

Rasanya sungguh membahagiakan. Bisa duduk satu meja bersama laki-laki yang sejak pertemuan pertama sudah menyita perhatiannya.

Jantung Amira berdetak lebih cepat. Dia berusaha menunduk agar tidak terlalu jelas menatap. Namun sesekali, matanya tetap naik tanpa bisa ditahan.

Dirga mengangkat wajahnya tiba-tiba. Tatapan mereka bertemu. Amira langsung salah tingkah.

“Maaf,” ucapnya refleks, padahal tidak jelas apa yang dia minta maafkan.

Dirga mengernyit tipis. “Kenapa minta maaf?”

Amira gugup. “Nggak, saya cuma .…”

Amira tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Dirga menatapnya beberapa detik. Lalu sudut bibirnya sedikit terangkat.

“Kamu tegang banget,” katanya datar.

Amira buru-buru menggeleng. “Nggak, kok.”

Padahal telapak tangannya basah oleh keringat. Dirga menyandarkan punggungnya.

“Kamu nggak perlu takut sama saya,” ujarnya pelan.

Amira menunduk lagi, menyembunyikan senyum kecil yang hampir muncul.

Detik berikutnya, Dirga meletakkan sendoknya.

“Abis ini kamu ke kantor Celine, kan?” tanyanya santai.

Amira tersentak kecil. “Eh, iya.”

Dirga berdiri, meraih kunci mobil yang tergantung di dekat pintu.

“Aku antar kamu. Sekalian aku berangkat ke kantor.”

Amira membeku. Otaknya langsung bekerja cepat.

"Ke kantor Celine?" batinnya dalam hati.

Amira panik, karena dia bukan benar-benar asisten. Amira hanya pion dalam rencana yang belum sepenuhnya dipahami.

Namun sebelum dia sempat mencari alasan, Dirga sudah berkata, “Kamu udah selesai sarapan kan? Aku tunggu kamu di mobil.”

Kalimat itu tegas. Tidak memberi ruang untuk penolakan. Dirga kemudian berjalan keluar lebih dulu.

Amira berdiri di ruang makan dengan jantung yang berdetak begitu keras sampai dia bisa mendengarnya sendiri.

"Satu mobil, berdua, dengan Dirga?"

Amira menelan ludah. Tangannya refleks menyentuh dadanya.

“Ya Allah," bisiknya pelan. Bukan karena takut, tapi karena terlalu gugup.

Klakson berbunyi, Amira bergegas mengambil tasnya. Di luar, mesin mobil sudah menyala. Dirga duduk di balik kemudi dengan tenang. Seolah ini hal biasa.

Amira membuka pintu mobil dengan tangan sedikit gemetar. Lalu duduk di kursi penumpang. Aroma parfum Dirga langsung terasa, hangat, dan maskulin.

Dirga melirik sekilas.

“Siap?” tanyanya.

Amira mengangguk kecil. Mobil mulai melaju. Amira merasa jantungnya benar-benar lupa bagaimana caranya berdetak normal.

Tak berapa lama, gerimis turun perlahan.

Awalnya hanya titik-titik kecil di kaca depan. Lalu semakin rapat. Wiper bergerak pelan, dan jalanan mulai padat.

Lampu rem mobil di depan menyala merah berderet.

Bisa dibilang, mereka memang keluar sedikit kesiangan. Kini mobil hanya bisa bergerak pelan, nyaris merayap.

Di dalam mobil, suasana berubah.

Lebih sunyi, lebih syahdu. Hanya ada suara hujan tipis, gesekan wiper, dan napas yang tak sengaja terdengar lebih jelas karena keduanya sama-sama diam.

Dirga memegang setir dengan satu tangan, tangan satunya bertumpu santai di dekat tuas transmisi. Sesekali dia melirik kaca spion. Sesekali melirik ke arah Amira.

Amira duduk tegak, menatap keluar jendela. Butir hujan yang menetes di kaca tampak seperti garis-garis tipis yang berlari turun.

Dirga akhirnya memecah keheningan.

“Kamu tinggalnya jauh dari sini?”

Amira menoleh sedikit.

“Lumayan .…”

Dirga mengangguk pelan. Di saat itulah, tiba-tiba Dirga mendengar teriakkan Amira di sebelahnya.

"Aaa ...."

1
falea sezi
siap siap. gigit jari lu celine. saumi. di. kasih ke madu siap2 gigit jari. lu
Airene Roseanne
yp
falea sezi
honeymoon ma amira aja Dirga biar cpet dapetin bayi tp awas lu nyakitin amira
falea sezi
awas aja klo. suami. mu oleng km. ngamuk dih
falea sezi
bini kayak celine di cerai aja aneh bgt malah fokus krja g fokus suami jangan jangan dia mandul
falea sezi
celine egois lu g mau layanin suami malah nyalahin Amira istri. tolol ya elu ini nanti suami lebih cinta istri muda kapok deh lu gigit jari
falea sezi
kasian amat amira
Susi Ermayana
kamu waras celine..?
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..
Aniza
lanjut thooor,klo lebih mntingin karir tuk apa kmu nikah celin?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!