NovelToon NovelToon
BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.

Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.

"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."

Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JERITAN HATI ZAHRA

Zahra berdiri di ambang pintu gudang dengan napas tersengal. Gaun biru mudanya terkena noda debu di bagian bawah, namun ia tak peduli sama sekali.

"Cukup, Gus Farid! Hentikan!" teriaknya dengan suara yang pecah oleh tangis.

Farid yang baru saja memantik api korek gasnya tertegun. Ia menoleh perlahan, mendapati Zahra menatapnya dengan pandangan penuh kebencian—sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

"Zahra? Sedang apa kamu di tempat kotor ini?" Farid mencoba mengatur nada suaranya menjadi lembut, meski tangannya masih memegang pemantik yang menyala.

"Matikan apinya, Gus. Sekarang!" Zahra melangkah masuk, berdiri tepat di samping Hafiz yang masih berlutut menyelamatkan kotak ulatnya yang terbalik.

Farid mendengus, mematikan pemantik itu dengan gerakan kasar. Ia memasukkan kembali korek ke sakunya sambil menatap Hafiz dengan jijik.

"Aku hanya ingin membersihkan sampah, Zahra. Orang ini tidak pantas ada di lingkungan pesantren kita," ucap Farid dengan angkuh.

"Yang tidak pantas berada di sini adalah orang yang berniat membakar milik orang lain secara pengecut!" balas Zahra dengan nada tinggi.

Hafiz mendongak, menatap Zahra dengan rasa tidak percaya. Ia melihat keberanian yang luar biasa di mata gadis lembut itu, sebuah pembelaan yang melampaui dugaannya.

"Sudahlah, Zahra. Jangan karena marbot ini, hubungan baik keluarga kita jadi rusak," Farid mencoba meraih tangan Zahra, namun Zahra segera menepisnya.

"Gus Farid, silakan kembali ke ruang tamu. Ayah mencari Anda," ucap Zahra dingin, memunggungi pria itu.

Farid mengepalkan tangan. Ia menatap Hafiz sekali lagi dengan tatapan mengancam sebelum akhirnya melangkah keluar dari gudang dengan hentakan kaki yang keras.

Suasana gudang mendadak sunyi, hanya menyisakan isak tangis Zahra yang mulai pecah. Hafiz bangkit berdiri, membersihkan debu di celananya dengan canggung.

"Zahra... kamu tidak seharusnya bicara seperti itu pada tamu Ayahmu," bisik Hafiz pelan.

Zahra berbalik, air matanya mengalir deras membasahi pipinya. "Sampai kapan Mas akan diam? Sampai kapan Mas membiarkan dia menginjak-injak harga diri Mas?"

Hafiz terdiam. Ia ingin menjawab bahwa ia sedang mengumpulkan amunisi, tapi melihat kehancuran di mata Zahra, kata-katanya tertahan di tenggorokan.

"Mas tahu kenapa aku menyusul ke sini?" Zahra mendekat, suaranya parau. "Karena di dalam sana, mereka sedang merencanakan kematian hatiku."

Hafiz merasa dadanya sesak. "Kyai sudah setuju?"

Zahra menggeleng lemah. "Ayah belum menjawab secara lisan, tapi dari matanya... Ayah sudah menyerah pada uang lima ratus juta itu."

Di ruang tamu, suasana mendadak canggung saat Farid kembali dengan wajah masam. Kyai Abdullah menyadari ada yang tidak beres, namun ia mencoba tetap tenang di depan Ayah Farid.

"Jadi, bagaimana, Kyai? Apakah Zahra sudah memberikan jawabannya?" tanya Ayah Farid dengan wibawa yang menekan.

Kyai Abdullah melirik ke arah pintu, berharap Zahra segera muncul. Tak lama kemudian, Zahra masuk dengan langkah gontai, matanya merah.

Ia duduk kembali di samping ayahnya. Suasana menjadi begitu hening hingga suara detak jam dinding terdengar seperti dentuman palu hakim.

"Zahra, Nak. Gus Farid dan keluarganya berniat baik untuk meminangmu. Apa jawabanmu?" tanya Kyai Abdullah dengan suara yang sangat lembut, namun penuh beban.

Zahra meremas ujung gamisnya. Ia menoleh ke arah Farid yang menatapnya dengan senyum penuh kemenangan, lalu ke arah ayahnya yang tampak lelah.

"Mohon maaf, Kyai... dan Gus Farid," suara Zahra bergetar. "Saya merasa... saya belum cukup baik untuk menjadi pendamping seorang Gus."

Ruangan itu mendadak membeku. Senyum di wajah Farid menghilang seketika, digantikan oleh gurat kemarahan yang tertahan.

Ayah Farid berdehem keras, membuat suasana semakin tegang. "Maksudmu, kamu menolak niat baik keluarga kami, Zahra?"

"Bukan menolak, Kyai," Zahra menunduk dalam. "Saya hanya butuh waktu untuk memantapkan hati. Saya tidak ingin memulai ibadah pernikahan dengan keraguan."

Kyai Abdullah menghela napas panjang. Beliau tahu ini adalah penolakan halus, namun di depan keluarga besar seperti Al-Ikhlas, ini adalah penghinaan besar.

"Zahra, pikirkan lagi," sela Kyai Abdullah, suaranya mengandung nada perintah yang terselubung. "Pikirkan masa depan pesantren kita. Pikirkan para santri."

Zahra mendongak, menatap ayahnya dengan pandangan terluka. "Apakah harga kebahagiaan saya setara dengan bangunan pesantren, Yah?"

Pertanyaan itu membuat Kyai Abdullah terbungkam. Ia merasa seperti ditampar oleh putrinya sendiri di depan umum.

Farid berdehem, mencoba menyelamatkan situasi. "Mungkin Zahra sedang lelah. Kami mengerti. Kami akan memberi waktu beberapa hari lagi."

Meskipun ucapannya sopan, mata Farid memancarkan kemarahan yang murni. Ia bangkit berdiri, diikuti oleh rombongannya yang tampak tersinggung.

Setelah iringan mobil mewah itu meninggalkan halaman masjid, Kyai Abdullah memanggil Zahra ke ruang kerjanya. Beliau duduk di kursi kayu tuanya, tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya.

"Zahra, kenapa kamu bersikap seperti itu tadi?" tanya Kyai dengan nada kecewa.

"Ayah tahu kenapa," jawab Zahra pelan. "Ayah ingin menjualku pada Farid demi uang renovasi itu, kan?"

"Jaga bicaramu, Zahra!" bentak Kyai, tangannya memukul meja. "Ayah melakukan ini demi kemaslahatan umat. Masjid ini bocor, pesantren ini hampir roboh!"

"Tapi bukan dengan cara ini, Yah! Hafiz sedang berjuang. Dia berjanji akan membantu dalam dua minggu!"

Kyai Abdullah tertawa hambar. "Hafiz? Marbot itu? Apa yang bisa dia lakukan? Menghasilkan uang dari ulat tanah?"

Zahra tidak menjawab. Ia segera berlari keluar dari ruangan itu sebelum tangisnya meledak kembali.

Ia berlari menuju bagian belakang masjid, tempat gudang tua itu berada. Di sana, ia menemukan Hafiz sedang sibuk mengemas kotak-kotak kecil dengan telaten.

Hafiz mendongak saat mendengar langkah kaki Zahra. Ia melihat gadis itu berhamburan ke arahnya dan langsung menangis tersedu-sedu di depan pintu gudang.

"Mas... tolong..." isak Zahra. "Ayah memintaku memikirkannya lagi. Beliau menekan aku demi pesantren."

Hafiz meletakkan kotaknya. Ia ingin mendekat dan memeluk gadis itu, namun ia sadar akan batasannya. Ia hanya bisa berdiri terpaku dengan jarak dua meter.

"Jangan biarkan aku pergi, Mas. Tolong, lakukan sesuatu," rintih Zahra. "Aku lebih baik tidak menikah selamanya daripada harus bersama orang seperti dia."

Hafiz mengepalkan tangan. Kata-kata Zahra seperti bensin yang menyiram api di dalam dadanya. Rasa takut dan rendah dirinya mendadak sirna.

"Zahra, dengarkan aku," Hafiz melangkah mendekat, suaranya berat dan penuh wibawa. "Sore ini, kolektor itu akan datang."

"Uang hasil ulat ini memang tidak akan sampai lima ratus juta sore ini. Tapi ini adalah bukti pertama bahwa aku tidak main-main."

Hafiz menatap mata Zahra yang basah. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Aku bersumpah demi sisa hidupku, aku akan melunasi hutang budi Ayahmu."

Zahra menatap Hafiz, mencari kepastian di mata pria itu. "Tapi Farid tidak akan tinggal diam, Mas. Dia punya segalanya."

"Dia punya uang, tapi dia tidak punya otak bisnis yang aku miliki," ucap Hafiz dingin. "Dia menggunakan cara preman karena dia takut padaku."

Tiba-tiba, suara mobil terdengar berhenti di depan masjid. Bukan sedan mewah, melainkan sebuah minibus putih dengan stiker logo komunitas burung berkicau nasional.

Hafiz menoleh. "Itu dia. Kolektornya datang."

Hafiz segera mengusap air mata di pipi Zahra dengan sapu tangan lusuhnya. "Masuklah ke rumah. Jangan biarkan Ayahmu melihatmu begini. Biarkan aku yang bertarung di sini."

Zahra mengangguk pelan, memberikan kepercayaan penuh pada pria yang dulu dianggap sampah oleh warga desa ini.

Hafiz berjalan menuju minibus itu dengan langkah tegap, kembali menjadi sosok CEO yang siap melakukan negosiasi paling krusial dalam hidupnya.

Seorang pria berkacamata turun dari mobil, membawa tas kecil. "Mana ulat kualitas super itu? Saya tidak punya banyak waktu."

Hafiz menunjukkan sampel ulatnya. Pria itu memeriksanya dengan teliti menggunakan kaca pembesar, wajahnya yang semula datar perlahan berubah menjadi kagum.

"Luar biasa... lemaknya sedikit, proteinnya padat. Ini pakan terbaik yang pernah saya lihat di Indonesia," ucap pria itu tulus.

Hafiz sedang menjelaskan keunggulan ulatnya kepada pria itu, tanpa menyadari bahwa Zahra mengintip dari jendela kamar.

Tangannya menggenggam tasbih, berdoa untuk kemenangan sang marbot.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!