NovelToon NovelToon
SURA Penahluk Siluman

SURA Penahluk Siluman

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Fantasi Isekai
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Berada di tengah laut jawa, Pulau Koriyaksa dihuni para siluman dalam segala bentuk, dipimpin oleh siluman tanpa nama berwujud menakutkan. Akhirnya setelah 50 tahun berperang, sebuah perjanjian damai ditandatangani.
Setiap malam satu suro, bangsa manusia wajib mengirim tumbal untuk dipersembahkan pada Sang Raja.
Namun Sura mahasiswa yang terlempar ke dalam buku harus menjadi tumbal ke-100, anehnya dia justru berhasil merebut hati Sang Penguasa. WARNING! HATI-HATI DALAM MEMILIH BACAAN!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Sang Panglima

Matahari di atas kerajaan menggantung seperti piringan tembaga yang pijar. Di halaman belakang, terhampar luas tanah pecah nan gersang. Debu berterbangan setiap kali angin berhembus.

Sura berdiri di tengah kekosongan itu.

"Sistem," panggilnya dalam hati. "Aku butuh bantuanmu untuk pertandingan besok. Apa ada skill yang bisa membuatku menguasai ilmu bela diri dalam semalam? Aku tidak mungkin hanya mengandalkan skill pembatas ilahiku untuk bertarung melawan siluman."

"Penguasaan bela diri membutuhkan waktu bertahun-tahun. Untuk pertandingan besok, disarankan agar fokus mengembangkan skill ketigamu, yaitu skill Berlipat Ganda."

Sura mengerutkan dahi. "Berlipat ganda? Bukankah itu hanya skill untuk menyamakan level kekuatanku dengan lawan agar aku tidak langsung mati saat dipukul?"

"Koreksi. Fungsi yang kamu sebutkan hanyalah lapisan dasar. Skill itu sebenarnya bekerja dengan merekam jejak kinetik dan esensi lawan. Saat skill aktif, ini akan mempertajam seluruh indramu hingga ke titik puncak, lalu tubuhmu bisa memanggil kembali keahlian siluman mana pun yang pernah bertarung melawanmu."

Mata Sura membelalak. "Maksudmu... Tubuhku bisa mengingat dan memiliki keahlian mereka dalam bertarung?"

"Benar. Skill Berlipat Ganda merubah tubuhmu menjadi cermin. Setiap serangan yang kamu terima atau saksikan bisa tersimpan dalam gudang ingatan sebagai senjata."

Suara penjelasan sistem yang terdengar datar mampu menciptakan binar di mata Sura. Ia langsung memejamkan mata, mulai menarik napas dalam-dalam, membiarkan pikirannya tenggelam ke dalam kegelapan memori. Sura mencari satu sosok yang paling membekas, Panglima Gola.

Seketika, bayangan siluman kera raksasa setinggi 3 meter muncul di benaknya. Gola adalah monster dengan bulu hitam legam sekeras kawat baja, yang setiap raungannya sanggup meruntuhkan nyali prajurit paling berani sekalipun.

"Gola... satu pukulannya bisa membunuh 10 pria dewasa sekaligus," gumam Sura.

Tiba-tiba, tubuh Sura bergetar hebat. Ia merasakan sensasi panas menjalar di sepanjang tulang belakang. Punggungnya terasa melebar, dan lengannya berdenyut seolah-olah ototnya memuai secara gaib. Indranya menajam, ia bisa mendengar setiap langkah pelayan yang jauh dari pandangan.

"Aku bisa merasakannya," bisik Sura tersenyum girang. "Jadi seperti ini rasanya, punya tubuh siluman? Keren sekali..."

Sura membuka mata dan sorot matanya berubah liar. Ia mengambil kuda-kuda rendah. Tanpa peringatan, Sura menghantamkan tinjunya ke udara.

BUM! Tekanan yang dihasilkan menciptakan dentuman kecil.

Kini setiap gerakannya bukan lagi sebagai manusia, melainkan sebagai siluman. Gerakan kasar, yang sulit bertarung menggunakan senjata, namun memiliki tenaga setara 100 gajah.

Setiap pukulan yang dilancarkannya mengandung berat yang tak masuk akal bagi ukuran tubuh manusia.

"Peringatan, saat menyalin kekuatan Gola tubuhmu juga akan memiliki kelemahan yang sama dengannya. Kamu tidak akan berdaya melawan musuh yang ahli dalam senjata. Tubuhmu juga berubah sekeras batu tapi sangat rentan terhadap racun."

"Terima kasih atas peringatannya, aku akan pakai kekuatan ini dengan sangat hati-hati."

Sura terengah-engah, keringat membasahi baju, namun senyum kemenangan tersungging di bibirnya. Ia melihat telapak tangan yang kini memiliki kapalan kasar khas petarung tangan kosong.

"Akan kulihat seberapa kuat tinjunya..." Sura menunduk, menatap tanah tandus, bersiap menghantamkan tinjunya ke bumi.

KRAKK! Tanah di bawah retak sedalam setengah meter.

"Haha!" Sura tertawa bangga.

Ia berdiri tegak, membiarkan debu menyelimuti tubuhnya. "Sekarang, aku mau lihat siapa yang berani menyebutku sebagai tumbal tak berdaya!"

"Akan kubuktikan, jika manusia lemah ini juga bisa bertarung dan mengalahkan mereka semua. Hahaha!"

"HAHAHAHA!!"

"Haha---haha...hhh!" tawanya tersedak berganti oleh deru napas yang memburu.

Tubuhnya belum terbiasa mengerahkan tenaga sebesar itu. Energinya terserap habis, Sura merebahkan tubuh ke atas tanah yang masih bergetar akibat pukulannya.

"Hhh...hhh..."

Sura mengernyit, paru-parunya terasa panas, meski ada kepuasaan yang menjalar di hatinya.

Bayangan kekuatan Panglima Gola terasa berdenyut di bawah kulit, seperti mesin yang siap diledakkan kapan saja.

"Jangan memaksakan diri, atau kamu akan jatuh pingsan!" ujar Sistem membujuk tubuh Sura yang hendak kembali dalam model Gola.

"Hh...jadi cuma sampai sini?" Sura bergumam, memejamkan mata demi memulihkan energi.

Perlahan suara kepakan sayap yang familiar terdengar, memecah kesunyian. Dua siluman kalong mendarat dengan tergesa, kaki-kaki mungil mereka mencengkram lengan Sura.

"Bagaimana? Apa kalian sudah tahu, siapa yang akan menjadi lawanku besok?" tanya Sura,

Sebelumnya memerintahkan kalong untuk diam-diam menyusup dan melihat hasil undian.

"Bito," jawab Kele, suaranya terdengar panik. "Dia siluman kadal yang tadi kamu temui,"

Sura terdiam sejenak, mencoba mengingat sosok tersebut. 3 bersaudara reptil yang menyusup ke tamannya.

"Ah, si lidah panjang itu!"

"Meski kaum reptil, kekuatannya jauh lebih kuat dari Kura!" Lawar meloncat mendekat, wajahnya sangat serius. "Bito memang bodoh. Tapi kulit sisiknya sekeras baja dan dia bisa berkamuflase dengan benda yang dipegang. Lidahnya juga setajam pedang yang bisa menebas kulit tipismu ini!"

Kele dan Lawar saling pandang, bingung melihat reaksi Sura. Manusia di depan mereka justru melipat tangan ke belakang kepala, tak sedikit pun merisaukan pertandingan yang akan mempertaruhkan hidup dan matinya.

"Apa kamu tidak takut?" tanya Kele ragu. "Saat masuk ke arena besok, kamu bisa mati kapan saja!"

Sura terkekeh pelan. Ia bangkit berdiri, membersihkan debu dari pakaian dengan santai.

"Takut? Tadi mungkin iya," ujar Sura sambil menatap kedua tangannya yang berhenti berkeringat. "Tapi setelah melatih skill ketigaku, aku justru merasa kasihan pada Bito."

Sura membayangkan pergerakan Bito yang merayap dan menyerangnya. Sura telah menyusun strategi, jika Bito mengandalkan lidah dan kulit kerasnya, maka itu takkan ada apa-apanya dibanding kekuatan Panglima Gola.

Seberapa keras sisik Bito, satu hantaman mentah pasti mampu meremukkan tulang-tulangnya.

"Tenang saja, aku sudah menemukan cara untuk menang di pertandingan besok," lanjut Sura menyeringai.

Kedua kalong terpaku, melihat aura pembunuh yang pertama kali Sura pancarkan. Entah bagaimana manusia itu sangat percaya diri menanti pertarungan besok.

1
Elprasco
Silahkan tinggalkan jejak di sini😍
sutimh
biji yang mana nih🤣
Giska
jd gini asal usul nama kelelawar🤣
Giska
Cerita seru bikin ketagihan bacanya/Drool/
penulis hiatus
🤣biar ga nyangkut jd rambutnya dipotong
Lili
Seru thor😍
Lili
😍dapat rejeki banyak kalau gini
Ruby
💪Gacor banget si Sura😍🤣
Ruby
Cerita bertransmigrasi ke buku/Smile//Heart/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!