NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ches$¥

melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ancaman yang nyata

Ruang rapat masih dipenuhi suara diskusi ketika Agung membaca pesan dari Arman.

Aku sudah bertemu Wulan.

Kalimat itu sudah cukup membuat pikirannya tegang. Namun pesan kedua jauh lebih mengganggu.

Aku tahu tentang anak itu.

Agung menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Grafik presentasi masih bergerak di layar besar di depan ruangan, para direktur berbicara tentang angka dan rencana ekspansi.

Tetapi Agung hampir tidak mendengar apa pun.

Ia menekan layar dan mengetik balasan singkat.

Kenapa kamu menemuinya?

Balasan datang hampir seketika.

Karena dia sendirian menghadapi semuanya.

Agung menghela napas pelan. Ia menutup ponselnya tanpa membalas lagi.

Rapat berlanjut hampir satu jam lagi, tetapi pikirannya terus kembali pada satu hal: Wulan.

Dan anak itu.

Ketika rapat selesai, Agung langsung kembali ke ruang kerjanya. Ia menutup pintu dengan pelan lalu berjalan menuju meja.

Tangannya secara refleks membuka laci.

Foto USG itu masih ada.

Ia menatapnya lagi.

Bayangan kecil itu terlihat samar, seperti titik yang tidak berarti. Namun kenyataannya, titik itu kini mulai mengguncang kehidupannya dengan cara yang tidak ia inginkan.

Ponselnya bergetar lagi.

Pesan dari Arman.

Kamu harus bertemu dengannya lagi.

Agung langsung mengetik.

Tidak perlu.

Balasan Arman datang beberapa detik kemudian.

Dia hamil anakmu, Agung.

Agung menatap kalimat itu lama.

Akhirnya ia mengetik satu kalimat pendek.

Aku sudah membuat keputusan.

Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku jas.

Namun kata-kata Arman terus bergema di kepalanya.

“Dia sendirian menghadapi semuanya.”

Di sisi lain kota, Wulan kembali membuka kedainya seperti biasa.

Aroma kopi dan roti panggang memenuhi ruangan kecil itu. Pelanggan datang dan pergi seperti hari-hari sebelumnya.

Dari luar, tidak ada yang terlihat berbeda.

Namun di dalam dirinya, badai masih belum reda.

Pertemuan dengan Arman pagi tadi terus terulang di kepalanya.

Ancaman ayah Agung.

Alasan sebenarnya Agung meninggalkannya dulu.

Dan kemungkinan bahwa semuanya bisa menjadi lebih buruk jika rahasia ini terbongkar.

Wulan mencoba fokus bekerja.

Ia menuangkan kopi ke cangkir pelanggan, tetapi tangannya sedikit gemetar.

“Kak Wulan?”

Suara Melda membuatnya tersentak.

“Iya?”

“Kamu benar-benar tidak apa-apa?”

Wulan memaksa tersenyum.

“Aku baik-baik saja.”

Namun bahkan Melda bisa melihat bahwa senyum itu terlalu tipis.

Sore harinya, ketika kedai mulai sepi, Wulan duduk di kursi kasir.

Tangannya kembali menyentuh perutnya.

“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti,” bisiknya pelan.

Namun satu hal yang ia tahu dengan pasti: ia tidak akan mundur.

Malam itu, Agung pulang ke rumah keluarga.

Rumah besar itu berdiri megah di kawasan elit kota, dikelilingi taman luas dan pagar tinggi.

Lampu-lampu kristal menyala terang di ruang makan ketika ia masuk.

Ayahnya, Hendra, sudah duduk di sana.

Pria itu masih terlihat sama seperti biasanya: rapi, dingin, dan penuh kendali.

“Kamu terlambat,” kata Hendra tanpa menatapnya.

“Ada rapat panjang.”

Agung duduk di kursi seberangnya.

Beberapa detik mereka makan dalam diam.

Kemudian Hendra berkata, “Aku mendengar perusahaanmu akan membuka cabang baru di Singapura.”

“Iya.”

“Bagus.”

Nada suaranya tenang, tetapi selalu terasa seperti penilaian.

Setelah beberapa saat, Hendra menatapnya.

“Bagaimana kehidupan pribadimu?”

Pertanyaan itu membuat Agung sedikit berhenti mengunyah.

“Baik.”

Hendra menyipitkan mata sedikit.

“Tidak ada masalah yang bisa merusak reputasi keluarga?”

Kalimat itu terdengar biasa.

Namun Agung tahu ayahnya tidak pernah bertanya tanpa alasan.

“Tidak ada,” jawabnya datar.

Hendra menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah mencoba membaca sesuatu di wajahnya.

“Bagus.”

Ia kembali makan.

Namun kemudian ia berkata lagi, dengan nada yang lebih dingin.

“Aku harap kamu masih ingat percakapan kita beberapa tahun lalu.”

Agung langsung tahu maksudnya.

Tentang Wulan.

Tentang ancaman itu.

“Aku ingat.”

Hendra mengangguk kecil.

“Karena masa depan keluarga ini terlalu besar untuk dirusak oleh emosi.”

Kata-kata itu jatuh seperti batu di dada Agung.

Namun ia tidak membantah.

Malam itu Agung kembali ke apartemennya.

Kota terlihat tenang dari jendela tinggi ruang tamunya.

Ia melepas jas dan duduk di sofa.

Untuk beberapa menit ia hanya menatap kegelapan di luar.

Kemudian ia membuka ponselnya lagi.

Ada pesan baru dari Arman.

Dia masih berharap kamu berubah.

Agung menutup matanya sebentar.

Bayangan wajah Wulan muncul lagi di kepalanya.

Matanya yang penuh luka.

Cara ia mengatakan, “Anak ini akan lahir.”

Agung menarik napas panjang.

Lalu mengetik balasan.

Aku tidak bisa.

Beberapa detik kemudian Arman menjawab.

Tidak bisa atau tidak mau?

Agung membaca pesan itu tanpa ekspresi.

Akhirnya ia mengetik satu kalimat terakhir.

Ayah tidak akan membiarkannya.

Pesan terkirim.

Agung meletakkan ponselnya di meja.

Ia berdiri dan berjalan ke meja kerja.

Tangannya membuka laci.

Foto USG itu masih di sana.

Ia menatapnya sekali lagi.

Beberapa detik.

Lalu ia menutup laci itu kembali.

“Aku sudah memilih,” katanya pelan pada dirinya sendiri.

Di tempat lain di kota yang sama, Wulan berdiri di depan cermin kamar kecilnya.

Lampu redup memantulkan bayangan tubuhnya.

Perutnya masih belum terlalu terlihat.

Namun ia tahu perubahan itu akan segera datang.

Tangannya menyentuhnya dengan lembut.

“Aku tidak tahu seperti apa masa depan kita nanti,” katanya pelan.

Di luar jendela, kota terus bergerak seperti biasa.

Orang-orang tertawa.

Mobil berlalu-lalang.

Dunia tidak berhenti.

Namun di antara dua orang yang pernah saling mencintai itu, jarak yang terbentuk kini terasa semakin jauh.

Agung memilih diam di balik ancaman keluarganya.

Dan Wulan harus berjalan maju sendirian dengan kehidupan baru yang tumbuh di dalam dirinya.

Sebuah kehidupan yang suatu hari nanti mungkin akan mengubah segalanya.

Entah menjadi awal dari kehancuran.

Atau awal dari kebenaran yang tidak bisa lagi disembunyikan.

Malam semakin larut ketika Wulan masih duduk di tepi ranjangnya. Lampu kamar redup, hanya menyisakan bayangan samar di dinding.

Tangannya kembali menyentuh perutnya.

Sekarang sentuhan itu terasa berbeda.

Bukan hanya takut.

Ada sesuatu yang lain.

Tekad.

“Aku tidak tahu seperti apa hidup kita nanti,” bisiknya pelan. “Tapi aku akan menjagamu.”

Di luar, hujan mulai turun perlahan.

Suara rintiknya membuat kamar kecil itu terasa semakin sunyi.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Ponselnya tiba-tiba bergetar di meja.

Wulan menoleh.

Nomor tidak dikenal.

Ia ragu beberapa detik sebelum mengangkatnya.

“Halo?”

Tidak ada jawaban beberapa detik.

Lalu sebuah suara berat terdengar dari ujung telepon.

“Jadi kamu benar-benar hamil.”

Tubuh Wulan langsung menegang.

Suara itu asing… tetapi entah kenapa terasa mengancam.

“Siapa ini?” tanya Wulan.

Suara itu terdengar tenang.

Namun ada sesuatu yang dingin di dalamnya.

“Aku orang yang seharusnya kamu hindari sejak awal.”

Jantung Wulan berdegup keras.

Kemudian pria itu berkata pelan,

“Aku ayah Agung.”

Nama itu seperti petir di telinganya.

Hendra.

Tangannya langsung menggenggam ponsel lebih erat.

“Aku tidak tahu dari mana kamu mendapatkan nomor ini.

Hendra memotongnya.

“Itu tidak penting.”

Suara pria itu tetap tenang.

Namun setiap katanya terasa seperti tekanan.

“Yang penting adalah kamu memahami situasimu.”

Wulan mencoba menenangkan napasnya.

“Saya tidak meminta apa pun dari keluarga Anda.”

“Masalahnya,” jawab Hendra dingin, “kamu membawa sesuatu yang bisa merusak nama keluarga saya.”

Wulan terdiam.

Beberapa detik sunyi.

Kemudian Hendra melanjutkan,

“Aku akan memberimu satu kesempatan.”

Nada suaranya tidak berubah.

Tetap dingin.

“Pergi dari kota ini… sebelum semuanya menjadi jauh lebih buruk untukmu.”

Telepon itu langsung terputus.

Wulan masih memegang ponsel di telinganya.

Jantungnya berdegup keras.

Ancaman itu nyata sekarang.

Namun saat ia menunduk dan menyentuh perutnya lagi, matanya perlahan berubah tegas.

Ia berbisik pelan,

“Aku tidak akan lari.”

Di tempat lain, di dalam rumah besar keluarga itu, Hendra menutup ponselnya dengan wajah tanpa ekspresi.

Namun di belakangnya, seseorang berdiri di lorong gelap.

Orang itu baru saja mendengar seluruh percakapan.

Dan perlahan melangkah keluar dari bayangan.

Itu adalah Agung.

1
Hunk
Permintaannya sederhana. Namun tak mudah.
Paavey 2001: terkadang yg sederhana itu disepelekan/Frown/
total 1 replies
Hunk
Muda banget 24 tahun, udah di kasih beban hidup/Cry/
Paavey 2001: iya kak kasian yaa/Frown//Frown/
total 1 replies
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
soalnya yg satu penub ambisi yg satunya cuma lembut dan menawan juga jadi admin di perusahaan kecil.
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡: selau ditunggu
total 2 replies
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
Melda sama Wulan ini nanti kira kira kayaknya sifatnya berlaeanan dehh.
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
bisa dijadiin puisi tentang senjaa ini.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.
Paavey 2001: hehe mencoba jadi puitis aja sih kak
total 1 replies
Paavey 2001
bukan lagi kakak udh ngalahin percintaan jendral tianfeng😁😁
Paavey 2001
tapi gk gt kak, baca seksama agar tidak galfok🤭
MARDONI
Aku suka banget hubungan kakak adik antara Wulan dan Melda di sini, hangat tapi juga bikin haru 😭 Wulan yang terus berusaha percaya sama Agung sementara Melda diam-diam khawatir itu kerasa banget emosinya. Apalagi di akhir pas Wulan bilang berharap cintanya cukup kuat… aduh rasanya hati ikut takut juga.
Paavey 2001: siapin tissue nya kak agar tidak terlihat orang lain😁
total 1 replies
izmie kim
tanggung jawab yang harus di ambil alih karena keadaan itu terkadang sebuah pengorbanan yang gak mudah banyak yang harus kita korbankan
Paavey 2001: betul banget kakak
total 1 replies
cimownim
semoga terwujud ya Wulan🤗
Paavey 2001: amiin kakak
total 1 replies
SarSari_
semua perempuan kayaknya harapannya gini deh ya🫣
Paavey 2001: semoga harapan kakak disegerakan ya
total 1 replies
putrijawa
cinta mereka cukup berat cobaannya
Indira Mr
Ujian Wulan dan Agung dengan status yg berbeda..semoga mereka kuat 💙💙💙
Indira Mr
Wulan mulia kakak yg bertanggung jawab 😂😂😂💙
Paavey 2001: heheh iya kak, sama seperti kakak juga ya🤭
total 1 replies
Paavey 2001
hehe gk bisa kak udah alur cerita nya begitu 😁 melda juga bagus kok kak gk kalah jauh dengan wulan nantikan aja bab selanjutnya dijamin lebih bagus
Emi Sudiarni
seru bngat. jgn di matikan wula👍n nya ya thor
Paavey 2001
Terima kasih kakak cantik
chiechie kim
aku suka cerita nya
Emi Sudiarni
bgus bngat meng hari biru.. tpi sayang bngat si wulan hrus di matikan, pd hal sdah terbiasa dgn sosok wulan, klw di gantikan melda sy kira udah kurang menarik lgi utk di baca
Paavey 2001: tunggu kelanjutan nya aja ya kak dijamin bagus
total 1 replies
Paavey 2001
jelek ya kak cerita nya/Frown/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!