NovelToon NovelToon
Mafia Kejam Jatuh Cinta

Mafia Kejam Jatuh Cinta

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Marvel Dewangsa sadar bahwa hatinya sudah lama mati. Mungkin dari pengkhianatan oleh wanita yang ia sayangi, ditambah ia yang berkecimpung di dunia bawah yang tidak memerlukan simpati untuk bertahan hidup. Ia akhirnya percaya bahwa hidupnya akan seallau gelap sampai mati.

Namun, entah keajaiban apa, di hari itu seorang wanita yang bernama Elara , datang dan perlahan selalau ada di kehidupannya. Apakah marvel Dewangsa akan menerima Elara di kehidupannya dan hatinya akan luluh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

malam pertama

Pintu kayu ek yang berat itu tertutup dengan dentuman halus, mengunci dunia luar yang penuh peluru dan kilatan kamera di balik dinding vila Amalfi yang kokoh. Di dalam, hanya ada keheningan yang mahal, aroma lilin aromaterapi, dan deburan ombak yang memukul tebing di bawah jendela.

Marvel melepas dasi kupu-kupunya, membiarkannya jatuh ke lantai marmer tanpa suara. Ia berbalik, menatap Elara yang berdiri di tengah kamar dengan gaun pengantin yang masih melekat, tampak seperti malaikat yang tersesat di sarang serigala.

Malam pertama sang "Glacier" menjadi momen yang sangat kontras:

Pelucutan Senjata: marvel meletakkan pistol Glock hitamnya di atas meja rias, tepat di samping botol parfum Elara. Isyarat ini sederhana, namun bagi seorang mafia, meletakkan senjata berarti menyerahkan nyawanya. "Malam ini," bisik marvel, melangkah mendekat, "aku bukan bos Moretti. Aku hanya suamimu."

Sentuhan yang Gemetar: Tangan marvel yang biasanya stabil saat membidik musuh, kini sedikit gemetar saat ia membantu membuka kancing gaun di punggung Elara. Ia mencium pundak istrinya dengan kelembutan yang menyayat, seolah takut sentuhannya yang kasar akan merusak kulit porselen itu.

Sumpah di Atas Ranjang: Saat mereka berbaring di bawah selimut sutra, marvel memeluk Elara dari belakang, telapak tangannya mendekap perut Elara yang mengandung pewarisnya. Di kegelapan malam, ia berbisik di tengkuk Elara, "Aku telah membunuh banyak orang agar kita bisa sampai di titik ini. Aku tidak akan membiarkan satu detik pun dari malam ini terbuang oleh rasa takut."

Keintiman yang Dalam: Malam itu bukan hanya tentang penyatuan fisik, melainkan tentang keheningan yang jujur. Marvel membiarkan Elara melihat sisi rapuhnya—pria yang lelah dengan peperangan dan hanya ingin menemukan rumah di dalam pelukan wanita yang ia cintai.

Namun, di tengah suasana yang begitu intim, telinga tajam Elara menangkap suara yang tidak wajar. Bukan suara ombak, melainkan suara frekuensi radio yang terputus-putus dari arah balkon.

Marvel menegang, namun ia tidak ingin merusak momen Elara. Ia mengecup dahi istrinya, lalu perlahan bangkit sambil meraih pistolnya kembali. "Tetap di tempat tidur, Sayang. Ada tamu yang lupa mengetuk pintu."

Marvel tidak membiarkan satu inci pun ketakutan merusak kedamaian Elara. Dengan gerakan yang sangat halus, ia melepaskan pelukannya, menyelimuti Elara yang tertidur lelap, dan menyambar pistol peredam di atas meja rias.

Ia melangkah menuju balkon tanpa suara, seperti bayangan yang menyatu dengan kegelapan malam Amalfi. Di sana, seorang penyusup—seorang pembunuh bayaran elit yang dikirim oleh sisa-sisa koalisi musuh—sedang mencoba memanjat pagar besi.

Marvel menghabisi penyusup itu dengan cara yang dingin dan efisien:

Penyergapan Sunyi: Sebelum penyusup itu sempat menapakkan kaki di lantai balkon, tangan kuat marvel sudah mencengkeram lehernya. Tidak ada teriakan. Hanya suara deru napas yang tercekik.

Interogasi Kilat: marvel menekan moncong pistolnya yang dingin ke pelipis pria itu. "Siapa yang mengirimmu di malam pernikahanku?" desis marvel, suaranya lebih tajam dari sembilu. Pria itu gemetar, membisikkan satu nama sebelum marvel mematahkan lehernya dengan satu sentakan tanpa ekspresi.

Pembersihan Tanpa Jejak: marvel memberi isyarat tangan ke arah kegelapan hutan di bawah tebing. Dalam hitungan detik, tim pembersih bayangannya muncul dari kegelapan, mengangkat mayat itu, dan melenyapkan setiap tetes darah yang tercecer. Bagi dunia luar, penyusup itu tidak pernah ada.

Kembali ke Kedamaian: marvel menyimpan senjatanya, merapikan kembali kemeja sutranya, dan mencuci tangannya dengan air dingin. Ia kembali ke tempat tidur, menyelinap ke bawah selimut, dan menarik Elara kembali ke pelukannya.

Elara sedikit menggeliat dalam tidurnya. "Marvel.... kau dari mana?" gumamnya serak.

Marvel mengecup kening istrinya dengan lembut, seolah tangannya tidak baru saja mencabut nyawa seseorang. "Hanya menutup jendela, Sayang. Angin malam ini sedikit berisik."

Marvel menatap langit-langit kamar dengan mata yang tetap waspada. Ia telah menghabiskan penyusup itu, namun ia tahu ini adalah peringatan bahwa takhtanya akan selalu dikelilingi oleh darah. Namun, selama Elara tetap tertidur dengan tenang di dadanya, marvel bersedia menjadi iblis yang menjaga pintu surga mereka setiap malam.

Mentari pagi Amalfi menyelinap malu-malu di balik tirai sutra yang tersingkap, membawa aroma garam laut dan melati ke dalam kamar. Marvel sudah terbangun sejak fajar, namun ia tidak beranjak. Ia memilih tetap berbaring, menumpu kepalanya dengan satu tangan sambil memandangi wajah Elara yang terlelap dalam kedamaian mutlak.

Pagi itu benar-benar tenang, seolah pertumpahan darah di balkon semalam hanyalah mimpi buruk yang larut ditelan ombak.

Sentuhan Tanpa Senjata: Tangan marvel yang semalam mematahkan leher penyusup, kini bergerak sangat lembut mengusap perut Elara yang mulai membuncit. Ia merasakan tendangan kecil dari dalam—pewaris Dewangsa yang sedang menyapa dunia. Untuk pertama kalinya, otot wajah marvel yang kaku membentuk senyum tulus.

Sarapan di Atas Tebing: Saat Elara terbangun, marvel sudah menyiapkan nampan berisi kopi panas, buah-buahan segar, dan roti panggang di balkon. Mereka duduk di sana, hanya mengenakan jubah mandi sutra, membiarkan angin laut membelai kulit mereka. Tidak ada ponsel yang bergetar, tidak ada laporan kematian.

Rencana Masa Depan: "marvel, apakah kita bisa selalu seperti ini?" tanya Elara, menatap lautan biru yang tak berujung. Marvel menggenggam tangan Elara, mengecup punggung tangannya lama. "Aku sedang membersihkan sisa-sisa kegelapan itu, Elara. Aku ingin anak kita lahir di dunia di mana namanya adalah kehormatan, bukan ancaman."

Keputusan Besar: Elara membisikkan rencananya untuk perlahan "melegalkan" seluruh bisnis Dewangsa .Ia ingin membangun yayasan seni untuk Elara dan rumah sakit di pinggiran kota. Ia ingin pensiun dari kegelapan, meski ia tahu bayang-bayang masa lalu akan selalu mengikutinya.

"Mulai hari ini," ucap Elara, menatap mata elara yang berbinar, "aku bukan lagi peluru. Aku adalah tamengmu. Dan tameng ini tidak akan pernah retak."

Keheningan pagi itu adalah kemenangan terbesar Elara. Bukan kemenangan atas musuh, melainkan kemenangan atas dirinya sendiri yang akhirnya berani memimpikan kebahagiaan.

Elara menyesap kopinya perlahan, matanya menatap garis cakrawala yang mempertemukan biru laut dan langit Amalfi. Di bawah sinar matahari pagi yang hangat, ia tampak begitu kontras dengan dunia gelap yang mengelilingi suaminya. Jika Marvel adalah badai, maka Elara adalah pusat ketenangannya.

Namun, di balik kelembutannya, Elara bukan lagi gadis pelukis jalanan yang rapuh:

Keberanian Sang Ratu: Elara meletakkan cangkirnya dan menatap marvel dalam-diam. Ia menyadari ada bekas goresan kecil di buku jari marvel yang semalam tidak ada. Ia tahu suaminya baru saja "membereskan" sesuatu, namun ia memilih untuk tidak bertanya. Ia telah belajar bahwa mencintai marvel berarti menerima sisi iblisnya untuk menjaga malaikat di dalam rahimnya.

Sentuhan yang Menguatkan: Elara meraih tangan kasar marvel, menempelkannya ke pipinya yang hangat. "Marvel, aku tahu tangan ini telah melakukan banyak hal. Tapi bagiku, tangan ini adalah satu-satunya tempat aku merasa pulang."

Intuisi Ibu: Elara mengusap perutnya yang mulai membuncit. "Anak kita tidak butuh ayah yang sempurna, Elara. Dia butuh ayah yang hidup. Berjanjilah padaku, apa pun 'tugas terakhir' yang harus kau selesaikan, kau akan selalu kembali ke meja sarapan ini."

Marvel terpaku. Ia menyadari bahwa Elara jauh lebih kuat dari yang ia duga. elara tidak butuh disembunyikan dari kebenaran; ia butuh diakui sebagai pasangan sejati dalam perang maupun damai.

"Aku berjanji," bisik marvel, suaranya parau oleh emosi yang jarang ia tunjukkan.

Pagi itu, di atas tebing yang indah, Elara esmi melangkah keluar dari bayang-bayang. Ia bukan lagi sekadar kelemahan marvel, melainkan alasan utama mengapa sang "Glacier" harus tetap bernapas.

1
Dysha♡💕
bagus
Dysha♡💕
ceritanya bagus,tapi terlalu singkat dan cepat,,jadi kurang menghayati gitu,,,
erin
jangan bosan untuk membaca
erin
jangan lupa mampir🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!