NovelToon NovelToon
Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Bangkitnya Pemilik Mustika Macan Kencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Balas Dendam / Penyelamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: suandra

Arga hanyalah pemuda biasa di sudut kota yang keras—hidup dari kerja kasar, dipandang rendah, dan selalu kalah oleh keadaan. Ia percaya hidupnya akan berakhir sebagai pecundang, sampai suatu malam hujan berdarah mengantarkannya pada sebuah benda terkutuk sekaligus suci: Mustika Macan Kencana.

Sejak saat itu, dunia Arga berubah.

Mustika itu bukan sekadar sumber kekuatan, tetapi suara di dalam batinnya—memberi pemahaman, strategi, dan jalan keluar dari situasi mustahil. Seolah takdir sendiri membisikkan langkah-langkah menuju kemenangan. Namun setiap kekuatan selalu menuntut harga.

Di kota yang dipenuhi kejahatan, pengkhianatan, dan rahasia gelap, Arga mulai bangkit dari nol—melawan preman, sindikat bayangan, hingga musuh yang memiliki kekuatan serupa. Di tengah pertarungan hidup dan mati, hadir cinta yang rumit: Sari yang tulus namun rapuh, dan Clarissa yang penuh misteri serta luka masa lalu.

Semakin Arga kuat, semakin besar pengorbanan yang harus ia bayar.
Rasa sakit, keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13. Sumpah di Atas Sisa-Sisa Jiwa

Dermaga 4 terasa seperti kutub utara yang membeku di tengah malam yang gerah. Angin laut membawa amis garam dan aroma oli kapal yang kental, beradu dengan ketegangan yang membuat udara di sekitar mereka seolah-olah kekurangan oksigen. Suara deburan ombak di bawah kaki mereka terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur ajal. Sari berdiri di sana, sosoknya yang dulu hangat dan penuh tawa, kini tampak seperti boneka tanpa nyawa. Alat pemancar laser berwarna merah yang melingkar di lehernya berpendar dengan ritme yang stabil, seolah-olah itu adalah mata iblis yang sedang menunggu sinyal untuk merenggut nyawanya dalam sekejap.

Arga merasakan sensasi terbakar yang luar biasa di dadanya. Mustika Macan Kencana di dalam dirinya mengamuk hebat, mencakar-cakar dinding kesadarannya. “Jangan biarkan dirimu dikendalikan oleh manusia rendahan ini, Inang! Hancurkan dia! Hancurkan alat itu! Biarkan aku keluar sepenuhnya, biarkan aku mencabik-cabik wanita ini sebelum dia memberi perintah pengeboman itu!”

Arga tidak menjawab. Ia menatap Sari, berusaha mencari satu percikan cahaya di mata gadis itu. Namun, yang ia temukan hanyalah kekosongan kelam yang menyakitkan.

"Kau menggunakan dia sebagai tumbal untuk mengontrolku?" tanya Arga, suaranya dingin, tenang, namun memiliki nada yang membuat nyali orang-orang di sekitarnya ciut. "Setelah semua yang kulakukan untuk menyelamatkan aset keluargamu? Setelah aku menjadi monster demi kepentinganmu, Clarissa? Ternyata ini balasannya?"

Clarissa tertawa—sebuah tawa yang kering dan tidak memiliki kehangatan sedikit pun. Ia melangkah mendekat dengan angkuh, sepatu hak tingginya berbunyi nyaring di atas beton dermaga yang retak. "Dunia bisnis tidak mengenal kata 'menyelamatkan', Arga. Yang ada hanyalah 'memanfaatkan'. Kau adalah aset paling berharga yang pernah dimiliki keluarga Wijaya. Seekor macan yang bisa menangkap peluru. Mengapa aku harus membiarkan aset seberharga itu berkeliaran bebas dengan dendam yang terus tumbuh di kepalanya? Itu tindakan bodoh."

"Aku bukan aset," desis Arga, langkahnya sedikit demi sedikit memangkas jarak.

"Oh, tentu saja kau aset," potong Clarissa dengan nada merendahkan. "Dan aset yang mulai rusak harus diperbaiki—atau dimusnahkan. Pilih sekarang, Arga. Ambil kontrak ini, tandatangani dengan darahmu untuk mengikat jiwa itu selamanya kepada keluarga kami, atau lihat kepala gadis kecil itu hancur berkeping-keping. Aku punya tombol detonatornya di tangan kiriku."

Clarissa menyodorkan selembar perkamen hitam yang terasa dingin dan berat. Pena perak dengan ujung jarum yang tajam diletakkan tepat di sampingnya, berkilauan di bawah cahaya lampu mercusuar yang berkedip.

“Tandatangani, lalu gunakan sisa tenagaku untuk menghancurkan mereka semua dari dalam,” bisik Mustika itu dengan licik di pikiran Arga. “Jangan takut, Inang. Begitu kontrak itu terikat, aku akan membantumu menguasai setiap tetes darah Keluarga Wijaya dari dalam tubuh mereka sendiri.”

Arga mendekat. Jaraknya dengan Sari hanya tinggal tiga langkah. Ia bisa mencium aroma sabun mandi murahan yang biasa dipakai Sari—aroma yang memicu gelombang memori yang begitu kuat hingga membuatnya sesak napas. Ia ingat saat Sari menyisir rambutnya yang kusut di depan cermin retak kontrakan mereka. Ia ingat bagaimana Sari selalu menyimpan separuh jatah nasinya untuk Arga jika Arga pulang kerja terlambat.

Itu adalah dunia Arga. Dunia yang sebenarnya, sebelum ia menjadi budak dari kutukan ini.

"Kau pikir kau menang, Clarissa?" Arga meraih pena perak itu, namun gerakannya berhenti tepat di atas permukaan perkamen yang gelap.

"Aku selalu menang, Arga. Kau hanya perlu membiasakan diri untuk kalah," jawab Clarissa dengan senyum puas.

Tiba-tiba, mata Arga berubah total. Bukan lagi warna emas yang berpendar tenang, melainkan hitam pekat—seperti lubang hitam yang menelan cahaya. Ia tidak menandatangani perkamen itu. Sebaliknya, dengan kecepatan yang bahkan tidak bisa ditangkap oleh kamera kecepatan tinggi, ia menusukkan pena perak itu ke pergelangan tangan Clarissa.

"Ahhh!" Clarissa menjerit saat pena itu menembus kulitnya. Ia mundur, wajahnya terdistorsi oleh rasa sakit yang hebat. Detonator di tangan kirinya terlepas.

Tanpa membuang waktu, Arga melompat—bukan ke arah Clarissa, melainkan ke arah Sari. Ia tidak menggunakan kekuatan untuk membunuh; ia menggunakan jemarinya yang kini kuku-kukunya mengeras seperti baja untuk mencungkil alat kecil di leher Sari. Dengan presisi seorang ahli bedah yang dipandu oleh insting predator, ia menarik alat itu keluar tepat sebelum lampu merahnya berubah menjadi hijau.

Bum!

Arga melemparkan alat itu jauh ke tengah dermaga tepat sebelum alat itu meledak. Ledakan kecil itu menghancurkan peti kemas di dekatnya, namun Sari terlempar aman ke dalam pelukan Arga.

"Sari! Bangun!" Arga menepuk pipi gadis itu.

Sari membuka matanya perlahan. Pandangannya kosong, lalu perlahan fokus pada wajah Arga. "Arga? Kenapa kita... di mana ini?"

Arga memeluknya erat, air mata yang tidak pernah ia sangka akan keluar, kini mengalir di pipinya yang kotor. "Jangan takut. Aku di sini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi."

Clarissa yang memegang pergelangan tangannya yang berdarah menatap Arga dengan amarah yang memuncak. Ia memberi kode, dan dari balik tumpukan kontainer, muncul puluhan pria bersenjata lengkap dengan senapan otomatis.

"Kau pikir ini sudah selesai?" seru Clarissa. "Kau sudah menandatangani kematianmu sendiri, Arga! Seluruh jaringan keamanan Wijaya akan memburumu sampai ke ujung dunia!"

Arga berdiri perlahan, membiarkan Sari di belakangnya. Ia menatap Clarissa dengan pandangan yang kini sangat tenang, namun mematikan. Mustika di dalam dadanya tidak lagi mengamuk; ia justru menenangkan diri, siap melepaskan kekuatan yang sesungguhnya—bukan lagi kekuatan yang dicuri, melainkan kekuatan yang ia miliki sebagai inang yang telah menyatu sepenuhnya.

"Kalian salah mengira sesuatu, Clarissa," suara Arga kini jernih, tanpa getaran emosi. "Aku bukan lagi budak dari dendam. Dan aku bukan lagi aset dari keluargamu. Aku adalah orang yang akan memastikan bahwa setelah malam ini, tidak akan ada lagi nama Wijaya yang berdiri tegak di kota ini."

Arga menghentakkan kakinya. Retakan besar menjalar di seluruh permukaan dermaga, membuat Clarissa kehilangan keseimbangan. Arga tidak lagi menggunakan teknik sembarangan; ia menggunakan kekuatan murni yang terserap dari tanah, dari air, dan dari sisa-sisa kemanusiaannya yang ia pertahankan mati-matian.

"Pergilah, Sari. Lari ke arah pelabuhan. Jangan menoleh," perintah Arga.

"Tapi, Arga—"

"LARI!"

Sari berlari, menjauh dari zona perang itu. Arga kemudian memutar tubuhnya menghadap pasukan keamanan keluarga Wijaya yang sudah mengepungnya.

Arga melepaskan kendalinya. Kali ini, ia tidak menahan apa pun. Matanya berkilat emas, dan tubuhnya mengeluarkan aura yang begitu panas hingga aspal di bawah kakinya mulai meleleh dan menguap.

"Mari kita selesaikan ini," geramnya.

Malam itu, di Dermaga 4, seorang pria yang seharusnya hanyalah seorang kuli panggul, berdiri menantang pasukan bersenjata terbaik di Jakarta. Ia tidak lagi bertarung untuk dendam, ia bertarung untuk satu-satunya alasan yang tersisa di dunianya: untuk membebaskan dirinya dan orang yang dicintainya dari kutukan ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!