Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Sunyi yang Berbeda
Sunyi yang Berbeda
Siang di rumah, waktu berjalan lambat.
Sejak Langit kembali di ruang kerjanya, rumah kembali sepi. Sepi yang tidak biasa.
Ishani masih duduk di meja makan. Sup di mangkuknya sudah benar-benar dingin. Ia tidak ingat kapan terakhir kali rumah ini terasa setenang ini. Padahal sebulan terakhir ia sudah terbiasa dengan ritme rumah itu.
Langit bekerja di ruang belakang, sesekali keluar mengambil air, atau bertanya apakah ia sudah makan.
Hari ini berbeda. Langit seperti… menarik diri.
Ishani menarik napas pelan. Ia berdiri dan membawa mangkuknya ke wastafel. Air keran mengalir, menghapus sisa sup yang menempel di mangkuk. Namun pikirannya tetap berada di percakapan tadi.
Kamu menyesal?
Pertanyaan Langit masih terasa berat. Ishani menutup keran. Ia tidak menyesal. Tapi juga tidak bisa mengatakan semuanya terasa baik-baik saja.
Ia mengusap perutnya pelan. “Tenang saja,” bisiknya.
Gerakan kecil dari dalam perutnya seolah menjawab. Ishani tersenyum tipis.
Beberapa minggu terakhir, bayi itu sering bergerak ketika mendengar suara Langit. Bagi Ishani, setiap kali itu terjadi selalu terasa sedikit… aneh. Seolah bayi itu tahu bahwa orang yang menjaganya sekarang bukan lagi Biru.
Ishani mengambil segelas air lalu berjalan menuju ruang tengah. Ia baru saja bersandar di sofa ketika Bu Rina menghampiri dengan membawa alat tensi.
Bu Rina segera melakukan cek rutin. “Ibu tidak apa-apa? Wajah Ibu terlihat pucat,” ujarnya sambil memeriksa tekanan dara Ishani.
Ishani mengangguk. “Baik-baik saja, Bu. Hanya lelah sedikit. Mungkin karena habis melakukan perjalanan jauh.”
“Kalau begitu ibu harus banyak istirahat, karena tekanan darahnya juga rendah.”
Bu Rina kemudian izin untuk pergi ke minimarket untuk membeli beberapa bahan makanan.
Ishani menatap sekeliling ruangan setelah Bu Rina menutup pintu. Rumah ini berbeda dengan rumah Bu Maura tempat Biru dibesarkan.
Kemarin Bu Maura bercerita bahwa rumah yang sekarang Langit tinggali adalah rumah yang dibeli mantan suaminya saat mereka baru menikah. Mereka tinggal di rumah itu sampai Langit dan Biru berusia sembilan tahun, sebelum semuanya berubah.
Rumah itu dijual ketika Ayah Langit dan Biru kembali ke keluarga besarnya, memilih untuk menceraikan Bu Maura dan meninggalkan kedua anak kembarnya. Bu Maura kembali kampung halamannya di Semarang. Sementara mantan suaminya menikah kembali dengan wanita pilihan keluarganya.
Bu Maura menceritakan jika Langit setahun kemudian harus diserahkan pada ayahnya karena Biru sempat kritis dan memerlukan biaya yang besar untuk operasi. Terpaksa Bu Maura meminta bantuan mantan suaminya. Syarat pun keluar, dia akan membantu jika Langit diserahkan padanya. IstrI barunya divonis tidak akan bisa memiliki anak.
Saat Bu Maura menceritakan itu kemarin, Ishani tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa membayangkan dua anak kecil yang tiba-tiba dipisahkan karena keadaan.
Dan bertahun-tahun kemudian, Langit membeli rumah itu kembali.
Saat dalam perjalanan kembali ke Jakarta, Ishani sempat menanyakan alasannya pada Langit. Tapi, Langit tidak pernah benar-benar menjelaskan. Ia hanya berkata sekali, dengan nada yang sulit ditebak.
“Rumah ini tidak seharusnya hilang.”
Waktu itu Ishani tidak memikirkan apa-apa. Sekarang kalimat itu terasa berbeda. Ia menghela napas pelan dan berdiri. Langkahnya berhenti ke depan pintu ruang kerja Langit.
Ishani berhenti beberapa detik di depan pintu itu. Ia hampir mengetuk. Namun tangannya berhenti di udara. Percakapan mereka tadi masih terasa terlalu dekat.
Akhirnya ia berbalik. Langkahnya berlanjut menuju halaman belakang. Rumput di halaman tumbuh rapi. Di sudut halaman ada pohon mangga tua yang cabangnya membentang lebar.
Biru pernah bilang dulu ia dan Langit senang sekali memanjat pohon. Ishani bertanya-tanya apakah pohon ini yang sering mereka panjat.
Ia berjalan perlahan ke arah pohon. Namun sebelum sampai, tiba-tiba perutnya menegang. Rasa itu datang tiba-tiba. Tidak terlalu sakit, tapi cukup membuatnya berhenti berjalan.
“Aduh…” Ishani memegang perutnya.
Kontraksi ringan.
Ia menarik napas perlahan, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Beberapa detik berlalu. Rasa tegang itu tidak kunjung hilang.
“Kak Langit…” panggilnya pelan, tanpa sadar.
Tidak ada jawaban.
Ishani mencoba melangkah kembali ke dalam rumah. Namun langkahnya sedikit goyah. Tangannya meraih dinding terdekat. “Nggak apa-apa…” gumamnya pada dirinya sendiri.
Saat itulah pintu ruang kerja terbuka. Langit berdiri di sana. Ia berhenti sejenak begitu melihat Ishani di lorong. “Ada apa?”
Ishani berusaha tersenyum. “Nggak apa–”
Langit sudah berjalan mendekat sebelum ia selesai bicara. “Kamu kenapa?”
“Cuma… sedikit kontraksi.”
Langit langsung mengerutkan kening. “Sejak kapan?”
“Baru saja.”
“Kenapa tidak panggil aku? Bu Rina ke mana?"
Ishani menunduk sedikit. “Bu Rina sedang keluar. Tadi aku pikir akan langsung hilang.”
Langit berdiri sangat dekat sekarang. Tatapannya turun ke perut Ishani, lalu kembali ke wajahnya. “Duduk.”
“Nggak perlu–”
“Ishani.” Nada suaranya tegas.
Ishani akhirnya menurut. Langit membantunya duduk di kursi dekat ruang tengah. “Tarik napas pelan.”
“Aku tahu,” kata Ishani dengan senyum kecil. Namun ia tetap mengikuti instruksi itu.
Langit berdiri di depannya, memperhatikan setiap perubahan di wajahnya. Ia berjongkok, lalu tanpa sadar menempelkan tangannya di perut Ishani. Sentuhan itu hangat dan familiar.
Beberapa detik kemudian, gerakan di dalam perut Ishani benar-benar mereda. Ishani menghembuskan napas panjang. “Sudah mendingan.”
Langit tidak langsung percaya. “Kamu yakin?”
“Iya.”
Ia menatap Langit. “Kakak tidak perlu panik.”
Langit menghela napas pelan. “Aku tidak panik.”
Ishani tersenyum tipis. “Wajah Kakak bilang sebaliknya.”
Langit tidak menjawab. Beberapa detik mereka hanya saling diam. Lalu Ishani berkata pelan, “Maaf.”
“Untuk apa?”
“Karena membuat Kakak khawatir.”
Langit mengerutkan kening. “Kamu tidak perlu minta maaf untuk itu.”
Ishani menatap tangannya sendiri. “Kadang aku merasa semua orang terlalu khawatir.”
“Kamu sedang hamil, dan beresiko.”
“Ya, tapi–” Ishani berhenti bicara.
Langit menunggu.
“Aku hanya tidak ingin Kakak merasa… harus menjaga semuanya sendirian.”
Langit terdiam.
“Aku tidak sendirian,” katanya akhirnya.
Ishani mengangkat kepala. “Benarkah?”
Langit tidak menjawab.
Beberapa detik berlalu sebelum ia berkata pelan, “Selama kamu dan bayimu baik-baik saja… itu sudah cukup.”
Ishani menatapnya lama. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang membuat dadanya terasa sedikit sesak. Bukan karena kata-katanya. Tapi karena cara Langit mengatakannya. Seolah ia benar-benar menaruh semua hal lain di belakang.
Ishani mengusap perutnya pelan. “Dia juga sering tenang kalau Kakak ada.”
Langit mengerutkan kening sedikit. “Maksudmu?”
“Gerakannya biasanya berhenti, setiap kali kakak menyentuhnya. Dia juga merespon suara kakak.”
Langit tidak mengatakan apa-apa. Namun tatapannya turun sebentar ke perut Ishani sebelum kembali ke wajahnya.
Keduanya terdiam. Sunyi yang berbeda. Lebih berat. Lebih sadar. Dan untuk pertama kalinya sejak tinggal di rumah itu… Ishani mulai menyadari sesuatu yang membuatnya sedikit takut.
Mungkin jarak di antara mereka bukan hanya karena keadaan. Mungkin ada sesuatu yang perlahan berubah, sesuatu yang bahkan mereka sendiri belum berani mengakuinya.
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
Semangat!