Zahra tumbuh sebagai pribadi yang tenang dan tertutup.
Ia tidak terluka, hanya terbiasa menjaga jarak dan memilih diam.
Schevenko berbeda.
Di balik sikap dingin dan wibawanya, ada masa lalu yang membentuknya menjadi pria yang tidak mudah percaya, tidak mudah berharap.
Pertemuan mereka tidak pernah dibungkus dengan janji manis. Tidak ada cinta yang datang tiba-tiba, hanya kebersamaan yang pelan, percakapan seperlunya, dan perhatian yang tak terucapkan.
Zahra tidak datang untuk menyembuhkan.
Ia hanya hadir—dan entah bagaimana, kehadiran itu cukup.
Hingga akhirnya, dua orang yang sama-sama dingin, dengan alasan yang berbeda, ditakdirkan untuk saling menggenggam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesudah kata "iya"
Malam akhirnya datang.
Langit perlahan menggelap, menyisakan semburat jingga yang tenggelam di balik pepohonan halaman rumah. Lampu-lampu mulai menyala satu per satu, menciptakan suasana yang hangat dan tenang—berbeda dari siang tadi yang penuh debar dan kata-kata besar.
Aku berdiri sejenak di ambang pintu ruang makan, memandangi pemandangan yang terasa asing namun entah kenapa begitu akrab.
Untuk pertama kalinya, aku makan malam bersama dengannya.
Schevenko duduk di seberang meja, sikapnya tetap tenang seperti biasa. Tidak banyak bicara, tidak pula tampak canggung. Namun ada sesuatu yang berubah—bukan pada sikapnya, melainkan pada perasaanku.
Sesudah kata iya sore tadi, aku merasa ia bukan lagi sekadar tamu.
Bukan lagi seseorang yang hanya datang dan pergi.
Ada rasa aneh yang menetap di dadaku, seperti kesadaran pelan bahwa kehadirannya kini punya tempat. Bahwa tanpa disadari, ia sudah menjadi bagian dari keluargaku.
Kami makan dengan tenang. Tidak ada percakapan besar. Hanya obrolan kecil yang mengalir begitu saja—tentang perjalanan Schevenko sore tadi, tentang cuaca yang mulai sering berubah, tentang hal-hal sepele yang biasanya tak pernah benar-benar dibicarakan.
Namun justru di situlah letak keistimewaannya.
Aku sesekali mencuri pandang ke arahnya. Cara ia memegang sendok dengan rapi, cara ia mendengarkan ayahku berbicara tanpa menyela, caranya menatap dengan penuh hormat ketika ibuku tersenyum padanya.
Tidak berlebihan. Tidak dibuat-buat.
Sederhana, tapi terasa dewasa.
Setelah makan selesai, ayahku menyandarkan punggungnya ke kursi dan tersenyum kecil ke arah Schevenko.
“Kamu bisa main catur?” tanyanya santai.
Schevenko mengangkat wajahnya sedikit, lalu mengangguk.
“Tentu saja.”
Nada suaranya datar, tapi sopan. Tidak ada kesombongan di sana.
Ayahku tampak senang. Ia bangkit dari kursinya, lalu bertanya lagi, “Minum apa? Teh atau susu?”
Schevenko terdiam sepersekian detik sebelum menjawab, “Kopi, kalau boleh.”
Ayahku tertawa kecil.
“Berani juga kamu. Jarang anak muda yang pilih kopi malam-malam.”
Lalu ayah menoleh ke arahku.
“Buatkan kopi dua cangkir, ya.”
Aku mengangguk pelan, berdiri dari kursiku, dan melangkah ke dapur. Tanganku bergerak otomatis—mengambil gelas, menyeduh kopi, menuangkan air panas—namun pikiranku melayang ke sore tadi.
Kata iya itu masih terasa nyata.
Masih terasa hangat.
Masih terasa berat sekaligus menenangkan.
Aku membawa dua cangkir kopi ke teras belakang, tempat ayah dan Schevenko sudah duduk berhadapan. Papan catur terbentang di antara mereka. Bidak-bidak hitam dan putih tersusun rapi, seolah menunggu untuk digerakkan.
Aku meletakkan cangkir di meja kecil di samping mereka, lalu kembali masuk ke dalam rumah.
Ibuku duduk di ruang tengah, menyusun kembali bantal-bantal sofa. Saat melihatku, ia tersenyum lebar.
“Bagaimana?” tanyanya pelan, nada suaranya mengandung arti lebih dari sekadar pertanyaan biasa.
Aku duduk di sampingnya, menarik napas kecil.
“Baik.”
Ibuku tertawa pelan.
“Kamu kelihatan beda.”
Aku mengerling malu.
“Biasa aja, Bu.”
“Tapi matamu nggak bisa bohong,” katanya sambil tersenyum penuh arti. “Dia sopan. Tenang. Ayahmu kelihatan cocok.”
Aku hanya tersenyum kecil, tidak menyangkal. Aku sendiri pun merasakannya. Ada rasa aman yang sulit dijelaskan ketika melihat Schevenko duduk di hadapan ayahku, bermain catur dengan penuh konsentrasi.
Ibuku melanjutkan, suaranya lembut.
“Orangnya kelihatan matang. Tidak banyak bicara, tapi jelas tahu caranya menghargai orang.”
Aku mengangguk pelan.
“Iya.”
Kami terdiam sejenak, mendengarkan suara bidak catur yang sesekali bergeser dari luar. Angin malam masuk perlahan melalui jendela yang terbuka, membawa udara sejuk dan aroma kopi.
Di teras, ayah dan Schevenko tenggelam dalam permainan mereka. Ayahku sesekali tertawa kecil, sementara Schevenko tetap fokus, matanya menatap papan catur dengan serius.
Aku mengamati mereka dari kejauhan.
Dua generasi.
Dua karakter yang berbeda.
Namun ada kesamaan yang membuat suasana terasa selaras—ketenangan, ketegasan, dan keheningan yang tidak canggung.
Aku menyadari sesuatu malam itu.
Schevenko bukan tipe pria yang akan banyak menunjukkan perasaannya lewat kata-kata. Ia tidak akan berjanji panjang lebar atau mengumbar janji manis. Namun caranya duduk, caranya menatap, caranya hadir—semuanya menunjukkan kesungguhan.
Permainan catur berlangsung cukup lama. Sesekali ayahku mengomentari langkah Schevenko, memujinya dengan nada bercanda, sementara Schevenko hanya tersenyum kecil.
Ketika permainan berakhir, ayahku tertawa puas.
“Kamu mainnya rapi. Nggak grusa-grusu.”
Schevenko mengangguk hormat.
“Saya terbiasa berpikir sebelum melangkah.”
Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa dalam.
Malam semakin larut.
Jam dinding berdetak pelan, mengingatkan bahwa waktu terus berjalan.
Jarum jam sudah menunjuk angka sembilan ketika ia masuk kembali ke dalam rumah bersama ayahku. Langkah mereka pelan, dan dari raut wajah ayahku, aku tahu pembicaraan ini bukan sekadar obrolan biasa. Mereka duduk di ruang tamu, berhadapan, dengan sikap yang lebih tegak dari sebelumnya.
Ia membuka pembicaraan dengan suara tenang namun serius.
“Saya minta izin,” katanya, “besok saya ingin membawa Zahra ke sebuah universitas. Untuk mendaftarkannya di sana.”
Aku yang duduk sedikit ke samping refleks menunduk. Jantungku berdetak lebih cepat. Kalimat itu sederhana, tapi maknanya terasa besar—tentang masa depan, tentang langkah yang nyata.
Ayahku tidak langsung menjawab. Ia menatapnya sebentar, lalu tersenyum kecil.
“Terima kasih ya, Nak,” ucapnya tanpa ragu. “Kamu baik sekali.”
Aku tetap menunduk, jari-jariku saling bertaut. Tidak tahu harus berkata apa selain menerima keputusan itu dengan diam.
Ia kembali berbicara, kali ini nadanya lebih rendah.
“Soal biaya,” katanya, “akan saya tanggung semuanya. Untuk kartu itu… simpan saja. Mungkin nanti kalian akan membutuhkannya.”
Aku mengangkat kepala sedikit, terkejut. Ayahku mengangguk pelan, tidak menolak, tidak pula berlebihan dalam menerima. Seolah memahami bahwa ini bukan tentang materi, melainkan tanggung jawab.
Setelah itu, ia berdiri.
“Aku pamit dulu.”
Entah kenapa, mungkin karena suasana yang terlalu hening atau perasaanku yang belum sepenuhnya stabil, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku—tanpa sempat kupikirkan.
“Tidur aja di sini.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Ayah dan ibuku sama-sama terdiam, lalu saling menatap. Detik berikutnya, mereka tersenyum bersamaan. Senyum yang jelas bukan senyum biasa.
Aku tersadar.
Dan rasa malu langsung menyerbu.
Tanpa berkata apa-apa lagi, aku berbalik dan berlari ke kamar. Pintu kututup cepat, punggungku bersandar di sana, napasku sedikit terengah.
“Kenapa aku bisa ngomong gitu sih…” gumamku kesal.
Beberapa saat kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu kamarku.
“Zahra,” suaranya terdengar tenang dari balik pintu. “Aku pamit ya. Jangan lupa besok.”
Aku membuka pintu sedikit. Ia berdiri di sana dengan sikap yang sama seperti biasanya—tidak menggoda, tidak tersenyum berlebihan. Justru itu yang membuatku sedikit lebih tenang.
“Assalamu’alaikum,” ucapnya.
“Wa’alaikumsalam,” jawabku pelan.
Ia mengangguk kecil, lalu melangkah pergi. Aku mendengar suaranya berpamitan dengan ayah dan ibuku, disusul suara pintu depan yang tertutup perlahan.
Rumah kembali sunyi.
Namun tidak lama.
Pintu kamarku terbuka, dan ibuku masuk lebih dulu, disusul ayahku. Wajah mereka penuh senyum—senyum yang jelas-jelas siap menggoda.
“Sudah nggak sabar yaa,” kata ibuku sambil menahan tawa.
Aku memutar bola mata.
“Ibu…”
Ayahku ikut menimpali, nadanya santai tapi jahil.
“Emang sudah besar ya putriku ini.”
Aku mendengus kesal, menarik bantal dan memeluknya erat.
“Kalian keterlaluan.”
Tawa mereka pecah. Mereka terus menggodaku beberapa saat, seolah menikmati reaksiku yang semakin tidak sabar. Hingga akhirnya aku benar-benar kehabisan kesabaran.
“Udah, keluar. Aku mau tidur,” kataku tegas.
Masih sambil tertawa, mereka akhirnya keluar dari kamarku, meninggalkanku sendirian.
Aku merebahkan diri di ranjang, menatap langit-langit kamar. Malam ini terasa panjang, tapi anehnya tidak melelahkan. Ada rasa malu, ada rasa gugup, namun juga ada ketenangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.
Besok.
Universitas.
Langkah baru.
Aku menutup mata perlahan, membiarkan detak jam menemani pikiranku hingga akhirnya tertidur—dengan perasaan bahwa hidupku benar-benar sedang bergerak maju.