Pulang bukan berarti kalah, tapi cara semesta memintamu membenahi arah.
Bayu kembali ke desa dengan bahu yang merosot dan harga diri yang hancur. Kegagalan bisnis di Jakarta tidak hanya merampas hartanya, tapi juga keyakinannya pada diri sendiri. Di tengah syahdu aroma Ramadan, ia bertemu kembali dengan Nayla, teman masa kecilnya yang kini menjadi jantung bagi sebuah panti asuhan sederhana.
Namun, cinta lama yang bersemi kembali justru menjadi duri. Ada Fahmi, sahabat mereka yang kini sukses dan mapan, berdiri di barisan depan untuk melindungi Nayla. Di hadapan kebaikan Fahmi yang tanpa cela, Bayu merasa kerdil. Ia terjepit di antara rasa minder yang menyesakkan dan ambisi untuk bangkit kembali.
Ketika sebuah tragedi kebakaran melanda panti dan mengancam nyawa Nayla, Bayu dipaksa memilih, terus bersembunyi di balik bayang-bayang kegagalannya, atau berdiri tegak sebagai pelindung yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Kehadiran Nayla di Ambang Pintu
Bayu masih berjongkok di depan kotak perkakas merah yang terbuka, jemarinya perlahan mengusap bilah gergaji yang kasar oleh karat. Di tengah keheningan gudang yang pengap, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki pelan yang mendekat di atas dedaunan kering di luar sana.
Suara langkah itu terdengar ragu namun pasti, memecah kesunyian malam yang tadinya hanya diisi oleh dengungan lampu neon redup. Bayu menoleh ke arah ambang pintu dan melihat sosok Nayla berdiri di sana, siluet tubuhnya terbingkai oleh kegelapan malam desa yang pekat.
Nayla tidak datang dengan tangan kosong, ia nampak membawa sebuah lampu senter cadangan yang ukurannya cukup besar dan terlihat masih baru. Tanpa menunggu ajakan, Nayla melangkah masuk ke dalam gudang yang sempit, membuat ruang gerak di dalamnya terasa semakin terbatas bagi mereka berdua.
"Lampu di sini redup banget, Bay. Aku takut kamu malah luka kalau maksa periksa alat-alat berkarat itu pakai cahaya seadanya," ucap Nayla lembut sembari melangkah mendekat.
Jarak di antara mereka kini hanya terpaut satu meter. Sebuah jarak yang sangat dekat hingga Bayu bisa mencium samar aroma sabun cuci piring yang masih tertinggal di pakaian Nayla.
Bayu segera berdiri tegak, berusaha menutupi rasa canggungnya dengan menyingkirkan sebilah kayu bekas yang menghalangi jalan Nayla agar wanita itu tidak tersandung.
"Makasih, Nay. Kamu bener, neon di atas ini kayaknya emang udah mau mati, cahayanya nggak nyampe ke bawah meja," jawab Bayu dengan nada suara yang diusahakan tetap tenang.
Nayla mengulurkan lampu senter itu kepada Bayu, cahayanya yang masih padam nampak memantulkan sedikit pendar dari lampu neon di atas mereka. Saat proses serah terima senter itu terjadi, ujung jari mereka bersentuhan selama beberapa detik, sebuah kontak fisik yang tidak direncanakan namun terasa sangat nyata.
Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik kecil yang menjalar melalui saraf Bayu, memberikan sensasi hangat yang sangat kontras dengan suhu gudang yang dingin. Bayu segera menarik tangannya dengan sedikit terburu-buru setelah senter itu berada di genggamannya, seolah-olah ia baru saja menyentuh bara api yang panas.
Ia berpura-pura kembali sibuk dengan memeriksa mata pisau gergaji yang berkarat tadi, mencoba mengalihkan fokusnya dari rasa hangat yang masih tertinggal di ujung jarinya. Bayu merasakan detak jantungnya meningkat secara tidak teratur, sebuah ritme yang sangat ia kenali sebagai tanda bahwa kedekatan fisik ini telah mengusik ketenangannya.
"Gergajinya ... kayaknya masih bisa diasah lagi kalau mau dipake buat motong kayu plafon besok pagi," gumam Bayu sembari menundukkan kepala, enggan menatap mata Nayla secara langsung.
Nayla tetap berdiri di sana, ia tidak segera berbalik pergi melainkan justru ikut memperhatikan kotak perkakas merah yang sudah terbuka di lantai semen tersebut.
"Kamu beneran mau ngerjain ini semua sendirian, Bay? Pekerjaan tukang itu berat, apalagi buat orang yang biasanya kerja di ruangan ber-AC," tanya Nayla sembari memperhatikan jari-jari Bayu yang kini mulai menghitam terkena debu besi.
Bayu tertawa kecil, sebuah tawa getir yang dipenuhi oleh refleksi diri atas segala kesombongan yang pernah ia tunjukkan kepada Nayla dan Fahmi dulu.
"AC nggak bisa nambal atap panti yang bocor, Nay. Lagian, aku ngerasa lebih tenang pegang gergaji karatan ini karena ini lebih berguna buat kamu sama anak-anak," jawab Bayu jujur.
Nayla terdiam mendengarkan pengakuan tulus Bayu, ia bisa merasakan ada sebuah perubahan besar yang sedang terjadi di dalam jiwa pria yang pernah sangat ia kagumi saat remaja dulu.
"Aku seneng kamu balik lagi jadi Bayu yang dulu aku kenal, Bay. Bayu yang nggak pernah takut kotor buat bantu orang lain," bisik Nayla pelan namun terdengar jelas di ruangan sempit itu.
Kalimat Nayla itu terasa seperti sebuah pujian yang jauh lebih berharga daripada segala penghargaan profesional yang pernah Bayu terima sepanjang hidupnya.
Bayu memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan menatap Nayla, menemukan sorot mata yang penuh dengan empati dan dukungan yang tulus di sana.
"Makasih sudah masih percaya sama aku, Nay. Aku tahu aku sempet jadi orang yang menyebalkan pas awal-awal balik ke desa ini," ucap Bayu dengan nada yang rendah namun penuh keyakinan.
Nayla memberikan senyum tipis yang nampak sangat tulus, senyuman yang seolah menghapus segala jarak dan kecanggungan yang sempat terbangun di antara mereka selama ini. "Kita semua pernah salah jalan, Bay. Yang penting sekarang kamu udah tahu ke mana harus pulang dan siapa yang harus kamu jaga."
Bayu menekan tombol senter di tangannya, membiarkan cahaya putih yang kuat membasuh kotak perkakas dan tumpukan barang di depan mereka. "Aku baru sadar, selama sepuluh tahun di Jakarta, aku nggak pernah ngerasa seberguna malam ini, padahal cuma benerin satu saklar lampu," aku Bayu.
Nayla ikut berjongkok di sampingnya, meski jaraknya tidak sedekat tadi, namun keberadaannya memberikan kehangatan tersendiri di dalam gudang yang dingin.
"Kamu dulu selalu jadi yang paling pinter kalau urusan benerin mainan anak-anak panti yang rusak, inget nggak?" tanya Nayla sembari mengambil sebuah obeng tua dari kotak.
Bayu tersenyum mengenang masa kecil mereka, sebuah kenangan yang selama ini terkubur oleh ambisi-ambisi kosong di kota besar.
"Waktu itu aku cuma pengen kelihatan hebat di depan kamu, Nay," jawab Bayu spontan, yang kemudian membuat suasana kembali terasa sedikit canggung namun manis.
Nayla tertawa kecil, suara tawanya yang bening terdengar seperti musik yang menenangkan di tengah kesunyian gudang yang penuh debu itu.
"Ternyata motivasi kamu nggak pernah berubah ya, Bay. Tetap ingin kelihatan hebat," goda Nayla sembari meletakkan obeng itu kembali ke tempatnya.
Bayu menggelengkan kepala, kali ini ia menatap Nayla dengan pandangan yang jauh lebih dalam dan penuh kesungguhan.
"Kali ini beda, Nay. Aku nggak pengen kelihatan hebat, aku cuma pengen rumah ini tetep berdiri buat mereka," tegas Bayu.
Nayla tertegun sejenak, ia bisa melihat gurat kelelahan namun juga tekad yang luar biasa di wajah pria yang berdiri di hadapannya saat ini.
Keheningan kembali merayap, namun kali ini terasa sangat nyaman, seolah semua beban yang mereka pikul selama ini sedikit terangkat karena kehadiran satu sama lain. Bayu menyadari bahwa kehadiran Nayla di ambang pintu bukan hanya membawa lampu senter cadangan, melainkan juga membawa secercah harapan bagi batinnya yang sempat layu.
"Besok aku bantu apa, Bay? Aku nggak pinter pertukangan, tapi kalau cuma bersihin alat atau megangin tangga, aku bisa," tawar Nayla penuh semangat.
Bayu menatap tangan Nayla yang halus, ia tidak ingin tangan itu tergores atau kotor karena pekerjaan kasar yang akan ia lakukan besok pagi.
"Kamu cukup pastiin anak-anak nggak deket-deket pas aku kerja, itu udah bantuan yang sangat besar buat aku," tolak Bayu secara halus.
Nayla nampak sedikit kecewa, namun ia mengerti bahwa Bayu hanya ingin melindunginya dari risiko pekerjaan yang berbahaya di bangunan yang tidak stabil.
"Ya sudah, kalau itu maumu. Tapi jangan dipaksa kalau emang tenagamu udah habis, inget kamu juga butuh istirahat buat sahur nanti," pesan Nayla lembut.
Bayu mengangguk, ia merasakan perhatian Nayla sebagai bahan bakar tambahan bagi semangatnya yang kini tengah berkobar hebat di dalam dada.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰