NovelToon NovelToon
Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kriminal dan Bidadari / Slice of Life / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​"Kau pikir aku akan menyentuhmu? Aku lumpuh."

​Ucapan dingin Elzian Drystan di malam pertama mereka langsung dibalas senyum miring oleh istrinya.

​"Otot betis kencang, tidak ada atrofi, dan pupilmu melebar saat melihatku. Kau tidak lumpuh, Tuan. Kau hanya pembohong payah."

​Dalam detik itu, kedok Ziva Magdonia sebagai istri 'tumbal' runtuh. Dia adalah ahli bedah syaraf jenius yang mematikan. Rahasia Elzian terbongkar, dan kesepakatan pun dibuat: Elzian menghancurkan musuh yang mencoba membunuhnya, dan Ziva memastikan tidak ada racun medis yang bisa menyentuh suaminya.

​Namun, saat mantan kekasih Elzian datang menghina, Ziva tidak butuh bantuan.

​"Hidungmu miring dua mili, silikon dagumu kadaluarsa... mau kuperbaiki sekalian?"

​Bagi Ziva, membedah mental musuh jauh lebih mudah daripada membedah otak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25: Perang Dingin

​​BRAK!

​Sebuah bantal melayang di udara dan mendarat tepat di wajah Elzian.

​Elzian, yang masih duduk di kursi rodanya dengan wajah kaget, menepis bantal bulu angsa itu dengan kesal. Di hadapannya, Ziva sedang sibuk menyeret selimut tebal keluar dari lemari. Wajah wanita itu ditekuk, bibirnya terkatup rapat, dan aura dingin yang memancar darinya lebih menusuk daripada AC yang disetel di suhu terendah.

​"Mau apa kau?" tanya Elzian tajam.

​"Pindah," jawab Ziva singkat tanpa menoleh. Dia menjepit bantal lain di ketiaknya sambil menarik sprei.

​"Pindah ke mana? Ini kamarmu," Elzian menjalankan kursi rodanya, memblokir jalan Ziva menuju pintu. "Jangan bertingkah konyol, Ziva. Kau istriku, tempatmu di sini."

​Ziva berhenti. Dia menatap Elzian dengan sorot mata yang membuat nyali pria itu sedikit menciut.

​"Koreksi. Aku istri, bukan bawahan yang bisa kau atur seenak jidat," desis Ziva. "Selama kau masih bersikap seperti bayi raksasa yang mengacak-acak karir orang lain karena cemburu buta, jangan harap aku tidur satu ranjang denganmu. Aku butuh ruang untuk berpikir, dan kau butuh waktu untuk tumbuh dewasa."

​"Minggir."

​Ziva menerobos sisi kursi roda Elzian, menyenggol bahu suaminya dengan sengaja, lalu melangkah keluar menuju kamar tamu di seberang lorong.

​Elzian memutar kursi rodanya dengan kasar, hendak mengejar. "Ziva! Kembali ke sini! Aku belum selesai bicara!"

​BLAM!

​Pintu kamar tamu dibanting keras tepat di depan hidung Elzian.

​KLIK.

​Suara kunci diputar dua kali terdengar jelas.

​Elzian menatap pintu kayu yang tertutup rapat itu dengan rahang mengeras. Tangannya terkepal kuat hingga buku-bukunya memutih. Dia—Elzian Drystan, orang yang bisa membuat pasar saham anjlok hanya dengan satu jentikan jari—baru saja diusir dan dikunci di luar oleh istrinya sendiri.

​"Sialan," umpat Elzian. Dia meninju sandaran tangan kursi rodanya.

​Keesokan harinya, Gedung Drystan Group berubah menjadi neraka dunia.

​Awan mendung seolah menggantung di lantai 45, tempat ruangan CEO berada. Tidak ada satu pun karyawan yang berani tertawa atau bicara keras. Mereka berjalan menunduk, berdoa dalam hati agar tidak dipanggil ke ruangan bos besar.

​"INI AIR CUCIAN KAKI?!"

​Teriakan Elzian menggema dari dalam ruangannya, diikuti suara gelas pecah beradu dengan dinding.

​Seorang sekretaris muda berlari keluar sambil menangis tersedu-sedu. Wajahnya pucat pasi.

​Asisten pribadi Elzian, Raka (yang merangkap asisten kantor saat tidak jadi bodyguard), menghela napas panjang. Dia masuk ke dalam kandang singa itu dengan langkah hati-hati. Di lantai, pecahan gelas keramik berserakan. Noda kopi hitam mengotori karpet mahal buatan Turki.

​Elzian duduk di balik meja kerjanya dengan wajah gelap gulita. Dasinya sudah longgar, rambutnya sedikit berantakan karena disisir kasar dengan jari berkali-kali.

​"Kopinya terlalu manis," geram Elzian tanpa ditanya. "Aku minta Americano, bukan sirup gula. Apa susah sekali bikin kopi yang benar?"

​"Itu kopi tanpa gula, Pak. Persis seperti biasa," jawab Raka tenang, meski jantungnya berdegup kencang.

​"Kalau begitu lidahku yang salah?! Kau mau bilang begitu?!" bentak Elzian.

​Raka diam. Dia tahu bosnya tidak bermasalah dengan kopi. Bosnya bermasalah dengan hati.

​"Panggil Manajer Pemasaran. Sekarang," perintah Elzian sambil membuka map dokumen di depannya.

​Lima menit kemudian, Manajer Pemasaran—pria paruh baya yang sudah bekerja sepuluh tahun—masuk dengan kaki gemetar.

​"Laporannya sudah saya revisi, Pak," ucap manajer itu sambil meletakkan tablet di meja.

​Elzian mengambil tablet itu. Matanya memindai grafik penjualan dengan kecepatan kilat. Tiba-tiba, jarinya berhenti.

​"Angka di halaman lima. Kenapa font-nya Arial sepuluh, sedangkan yang lain dua belas?" tanya Elzian datar.

​Manajer itu membelalak. "I-itu... mungkin terlewat saat formatting, Pak. Isinya benar, hanya ukurannya—"

​"Kau tidak teliti," potong Elzian dingin. Dia melempar tablet itu ke meja hingga layarnya retak. "Hal kecil saja kau lewatkan, bagaimana kau mau mengurus anggaran miliaran? Kau tidak kompeten."

​"Tapi Pak, itu cuma font..."

​"Kemas barangmu. Kau dipecat," putus Elzian tanpa menatap wajah manajer itu. "Keluar."

​Manajer itu lemas seketika. Dia ingin membantah, tapi melihat aura membunuh Elzian, dia memilih mundur dengan langkah gontai. Karirnya tamat hanya karena ukuran huruf.

​Raka yang berdiri di sudut ruangan menggeleng pelan. Ini sudah korban ketiga hari ini. Kalau begini terus, Drystan Group bisa bubar bukan karena bangkrut, tapi karena kehabisan pegawai.

​"Pak Elzian," panggil Raka memberanikan diri.

​"Apa lagi?! Kalau kau mau membela dia, kau keluar juga sekalian!" sentak Elzian sambil memijat pelipisnya yang berdenyut sakit.

​"Bukan, Pak. Saya cuma mau bilang, memecat satu kantor tidak akan membuat pintu kamar tamu di mansion terbuka nanti malam."

​Gerakan tangan Elzian terhenti. Dia mengangkat wajah, menatap Raka dengan tatapan tajam setajam silet.

​"Kau lancang sekali, Raka."

​"Saya dibayar untuk mengurus masalah Bapak. Dan sepertinya masalah Bapak sekarang bukan di laporan keuangan, tapi di rumah," Raka mendekat selangkah, nada bicaranya berubah serius. "Pak, saya sudah ikut Bapak lima tahun. Saya belum pernah lihat Bapak uring-uringan seperti remaja putus cinta begini."

​Elzian mendengus kasar, membuang muka ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota.

​"Dia keras kepala," gumam Elzian, nada suaranya berubah frustasi. "Aku sudah memberinya segalanya. Aku beri donasi, aku beri fasilitas. Aku cuma mau dia jauh dari laki-laki lain yang... yang jelas-jelas naksir dia. Apa itu salah?"

​"Salah caranya, Pak," jawab Raka lugas.

​Elzian menoleh cepat. "Maksudmu?"

​"Nyonya Ziva itu bukan Sienna. Dia bukan wanita yang bisa Bapak beli dengan tas mewah atau dipaksa tunduk dengan kekuasaan," Raka menjelaskan dengan hati-hati. "Dia dokter bedah, Pak. Wanita karir. Dunianya di rumah sakit, di kamar operasi. Itu harga dirinya."

​Raka menunjuk tumpukan dokumen di meja.

​"Saat Bapak memindahkan Dokter Rayn secara paksa, Bapak tidak sedang melindungi Nyonya Ziva. Bapak sedang menghina profesinya. Bapak membuat dia merasa seperti boneka yang tidak punya kendali atas lingkungannya sendiri. Semakin Bapak kekang, wanita seperti Nyonya Ziva akan semakin memberontak. Dia butuh partner yang mendukung, bukan sipir penjara."

​Elzian terdiam. Kata-kata Raka menohok tepat di ulu hati.

​Dia teringat tatapan marah Ziva semalam. 'Kau ini CEO atau anak TK?'

​Elzian menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang mahal itu. Matanya menerawang. Selama ini dia terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang dan perintah. Dia lupa bahwa hati manusia—terutama hati wanita sekeras Ziva—tidak bisa dibeli di bursa saham.

​"Jadi aku harus bagaimana?" tanya Elzian pelan, nada angkuhnya lenyap.

​"Tarik surat mutasi itu, Pak. Minta maaf. Dan biarkan dia bekerja dengan tenang. Kalau Bapak percaya diri Bapak lebih hebat dari dokter jantung itu, kenapa harus takut bersaing secara sehat?"

​Elzian merenung lama. Bersaing sehat? 

​Malam harinya.

​Lorong lantai dua mansion itu sunyi senyap. Lampu dinding memancarkan cahaya kekuningan yang temaram.

​Elzian menghentikan kursi rodanya tepat di depan pintu kamar tamu. Pintu itu masih tertutup rapat, sama seperti saat dia tinggalkan pagi tadi. Tidak ada suara dari dalam.

​Dia mengulurkan tangan, menyentuh gagang pintu yang dingin.

​Terkunci.

​Masih terkunci.

​Elzian menghela napas berat. Dia menatap kayu jati yang memisahkan dirinya dan istrinya itu dengan tatapan nanar. Uangnya yang triliunan, kekuasaannya yang bisa memecat manajer dalam hitungan detik, semua itu tidak ada gunanya di hadapan sepotong pintu ini.

​Dia bisa saja menyuruh Raka mendobrak pintu ini. Dia bisa saja memakai kunci cadangan. Tapi dia tahu, jika dia masuk dengan paksa, Ziva akan pergi selamanya.

​"Raka benar," bisik Elzian pada kesunyian lorong. "Aku tidak bisa memaksamu."

​Elzian menarik tangannya kembali. Rasa sepi yang asing menyergap hatinya. Untuk pertama kalinya, sang CEO yang arogan menyadari bahwa dia telah kalah telak. Bukan oleh musuh bisnis, tapi oleh egonya sendiri.

1
Warni
🥰🤭🤭🤭🤭😂
Warni
Lebih galak Ziva.
Warni
😫
Warni
😂
Warni
🤭
Warni
Ngambek nanti si Suami klu tulisannya di ejek jelek.
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
kalau orang mengira Elzian lumpuh maka kakinya adalah istrinya sendiri. good job Ziva
Ma Em
Akhirnya Ziva bisa mengalahkan Elzian akibat egonya yg terlalu tinggi dan keras kepala orang lain tdk ada yg berani melawan Elzian tapi Ziva bisa mengalahkan nya hebat kamu Ziva .
Savana Liora: iya. mantap
total 1 replies
Warni
🥰
Warni
Mengamuk.🤣
Warni
😂
Warni
😁
Warni
😂
Warni
Jangan bilang Dokter Rayn di pindah tugaskan.🤭
Warni
😂🥰🥰🥰
Warni
🥰
Warni
🤣
Warni
Oh mampus.
Savana Liora: tau rasa dia
total 1 replies
Aanisa aliya
lanjutkan
Savana Liora: besok ya
total 1 replies
Warni
Ohhh,mantap pak.Suami siaga.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!