Shafira Azzahra, tidak menyangka laki-laki yang dulu selalu baik dan royal berubah ketika dirinya sudah menikah dengan Aris Permana. Aris, suaminya menunjukkan sifat aslinya yang pelit dan perhitungan dengannya. Apalagi sikapnya yang lebih mengutamakan keluarganya dibandingkan dirinya yang sebagai istri.
Setiap hari Shafira akan dikasih jatah belanja 20 ribu sehari oleh suaminya, Aris. Setiap hari Shafira harus memutar otak, harus dibuat apa dengan uang 20 ribu rupiah. Jika lauk tak enak, Sharifa'lah yang akan mendapatkan makian dari mulut julid keluarga suaminya.
Akhirnya Shafira memanfaatkan waktunya dirumah dengan menulis novel dan berjualan online dengan nama pena dan nama tokonya memakai nama samaran agar suami dan keluarganya tidak tahu kalau Sahfira juga memiliki penghasilan.
Suatu hari Shafira tidak sengaja melihat sang suami sedang jalan dengan seorang wanita. Karena mencium bau bau perselingkuhan, Shafira pun mulai masa bodoh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga
Lampu kamar sudah redup. Shafira membaringkan tubuhnya ke sisi ranjang, memunggungi pintu. Rambutnya tergerai ke satu sisi, dan wajahnya masih menyimpan sisa emosi yang belum juga reda.
Dadanya sesak, tapi matanya menolak menangis. Sudah terlalu sering. Ia menarik selimut sampai ke bahu, mencoba tidur. Tapi detik berikutnya, suara pintu terbuka perlahan mengusik ketenangannya.
Aris masuk. Masih mengenakan celana panjang dan kaus rumahan, ia berjalan pelan, menatap punggung istrinya yang tampak enggan menoleh.
Ia lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya menyentuh pelan bahu Shafira.
"Ra..." panggilnya lirih, suaranya terdengar seperti tak terjadi apa pun tadi sore.
"Jangan tidur dulu, dong."
Shafira diam, ia tahu arah pembicaraan suaminya. Sudah sering terjadi, ketika Aris merasa ingin, semua masalah yang terjadi seolah menguap begitu saja.
Aris kembali mengguncang pelan bahu istrinya.
"Ra, temenin Mas malam ini, ya."
Shafira tetap tak menoleh, tapi tubuhnya sedikit kaku. Ada amarah yang masih menempel, tapi ia juga tahu, menolak suami bisa jadi perkara lain. Aris bukan tipe yang kasar, tapi juga bukan lelaki yang sabar ketika keinginannya tidak terpenuhi.
"Mas cape banget hari ini..." lanjut Aris, seperti sedang merayu.
"Kamu kan biasanya ngerti..."
Shafira menarik napas dalam. Perih hati yang tadi belum tuntas, kini dipaksa ditelan. Ia mengangguk kecil.
"Iya."
Hanya satu kata. Tapi cukup untuk membuat Aris tersenyum puas dan menarik selimut, lalu memeluk tubuh Shafira dari belakang. Ia menciumi pundak istrinya, menyusupkan lengannya pada pinggang Shafira.
Shafira memejamkan mata. Hatinya masih remuk, tapi tubuhnya tak berkutik. Bukan karena rindu, tapi karena takut. Karena kewajiban. Karena tak tahu harus berkata apa ketika perasaannya sendiri tak pernah dihargai.
Paginya, seperti biasa. Di meja rias, selembar uang dua puluh ribuan sudah tergeletak di atas, disisihkan oleh Aris sebelum ia berangkat kerja.
Seolah Shafira bisa menghidupi satu rumah dengan jumlah segitu. Lima orang, tiga kali makan.
Shafira hanya menghela napas. Ia lipat uang itu, memasukkannya ke dalam saku daster. Daster bergaris biru yang ia kenakan sudah agak lusuh, tapi masih layak untuk ke warung.
Jalan menuju warung tidak jauh, hanya belasan langkah dari gang rumah.
Tapi setiap langkahnya seperti ritual harian yang penuh beban. Seperti biasa, setiap pagi, suara ramai ibu-ibu di warung sedikit menghidupkan suasana.
"Eh, pagi, Neng Shafira!" sapa Mak Tati dari balik timbangan sayur.
Shafira mengangguk ramah.
"Pagi, Mak. Wortel sama kangkung masih ada?" tanyanya.
"Masih, masih! Nih ambil aja yang segar-segar. Baru datang subuh tadi."
Beberapa ibu-ibu yang sedang memilih sayuran menoleh ke arahnya. Mereka tahu, bagaimana sifat keluarga yang ditinggali Shafira. Ibu mertua galak, adik ipar nyinyir, dan suami pelit luar biasa.
"Duh, kasihan kamu, Nak. Uang segitu tiap hari? Bisa masak apa..." gumam Mak Tati pelan, setengah bisik.
Shafira tersenyum, meski hatinya mengiyakan.
"Yang penting bisa makan, Mak."
"Kalau kurang, bilang aja. Nggak usah sungkan, ya. Ambil dulu juga nggak apa-apa. Kita tetangga ini harus saling bantu." ucap Mak Tati, merasa kasihan.
"Terima kasih, Mak." balas Shafira lirih.
Matanya nyaris berkaca-kaca, tapi ia tahan.
Bukan waktunya lemah. Ia akhirnya membawa pulang seikat kangkung, dua buah wortel, segenggam tempe, dan dua butir telur. Semua pas dua puluh ribu. Pas sekali. Hatinya pahit, tapi ia tetap menegakkan kepala saat melangkah kembali ke rumah.
Aroma tumis kangkung yang digoreng dengan bawang putih dan sedikit irisan cabai mulai memenuhi dapur. Shafira menatap wajan dengan tatapan datar. Di sebelahnya, tempe goreng yang dipotong kecil-kecil meniriskan minyak, dan dua telur dadar tipis sudah tertata rapi di piring. Satu untuk Aris, satu untuk siapa pun yang lebih dulu ke meja makan.
Dengan sisa uang koin, ia beli sambal terasi yang sudah jadi dari warung. Setidaknya bisa membuat selera makan naik sedikit, pikirnya.
Baru saja ia menyusun piring-piring ke meja makan, suara sendal jepit diseret-seret terdengar dari ruang tengah. Bu Ratna dan Tia masuk hampir bersamaan, sambil mengipas-ngipas diri seolah habis kerja rodi.
"Tumben, belum gosip di warung udah balik."
celetuk Tia sambil duduk di meja makan.
Shafira hanya melirik tanpa menjawab. Ia mengambil gelas dan menuangkan air dari teko.
"Tumis kangkung, tempe goreng, sama telur dadar?" Bu Ratna langsung mencomot seiris tempe dan mengunyahnya cepat.
"Ih, ini lagi? Nggak bosen apa masak beginian terus?" ketusnya.
"Ya kalau mau yang beda, minta anak Ibu tambahin uang belanjanya." jawab Shafira santai.
Tia langsung mendengus.
"Ngomongnya gitu amat, Mbak. Kan cuma nanya."
Shafira meletakkan piring terakhir di meja.
"Ya aku juga cuma jawab, kan?"
Aris masuk kedapur, melihat meja makan yang sudah terhidang makanan. Lalu tanpa basa-basi langsung duduk dan menatap isi meja.
"Telur dadar tipis lagi? Kangkung lagi?"
Shafira memutar bola matanya jengah.
"Ya, itu yang bisa kebeli dari uang dua puluh ribu."
Aris seketika merengut.
"Ya Allah, Ra. Masa tiap hari gini terus sih?
Nggak kreatif apa? Bikin yang beda kek..."
"Yang beda itu butuh bahan beda. Uangnya juga harus beda." ucap Shafira, masih dengan suara datar.
hari. Tia menyeringai, senang melihat drama dipagi
"Dikasih rumah, dikasih makan, masih bisa ngegas juga. Harusnya tahu diri, kamu!"
Shafira menatap mereka satu per satu, lalu duduk tanpa berkata lagi. Jika mulutnya dilanjutkan, bisa panjang. Tapi sorot matanya cukup berbicara.
"Udah, aku berangkat dulu. Besok, bikin yang beda!" ujar Aris tanpa sarapan lebih dulu.
Keesokan harinya...
Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan rumah. Shafira pergi kerumah peninggalan orang tuanya menggunakan ojek online. Butuh waktu 20 menit untuk sampai, memang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah mertuanya.
Rumah orang tuanya memang kecil, dindingnya masih memakai kayu yang mulai keropos, atap dan jendelanya pun sudah banyak yang rusak. Tapi halamannya lumayan luas, dan letaknya pun dipinggir jalan raya.
Tidak seperti rumah mertuanya, yang besar. Walau tidak mewah. Membuat bu Ratna sedari awal tidak pernah menyukai Shafira. Karena melihat Shafira hanya wanita miskin, dan sudah tidak memiliki sanak saudara.
Tapi, Aris yang sudah sangat mencintai Shafira tetap kekeh ingin menikahinya, walau ibunya tidak menyukai istri pilihannya itu.
Shafira berpikir ingin membangun ulang saja rumahnya. Karena semuanya sudah tidak bisa jika hanya direnovasi saja. Dindingnya yang sudah lapuk, belum lagi atapnya sudah banyak yang bocor, apalagi jendelanya yang sudah di tempeli dengan triplek karena memang sudah pecah.
Saat sedang sibuk membersihkan rumah, Bi Sari, tetangganya tiba-tiba datang menghampirinya.
"Assalamu'alaikum..." serunya.
Shafira langsung keluar, matanya melebar melihat wanita paruh baya itu.