NovelToon NovelToon
Benang Merah Yang Patah

Benang Merah Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.

Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

FREKUENSI PENGKHIANATAN

Keheningan yang menyelimuti perjalanan pulang dari Kepulauan Seribu terasa lebih menyesakkan daripada ledakan termit di pulau tadi. Di atas kapal cepat yang membelah ombak malam, Maximilian duduk di buritan, menatap sisa-sisa pendar api di cakrawala yang perlahan menghilang. Tangannya yang masih gemetar karena sisa adrenalin menggenggam erat tangan Vivien. Di sudut kabin, Leo bersandar pada bahu Bara, matanya kosong menatap lantai kapal. Trauma dari koneksi neural yang dipaksakan oleh Volkov meninggalkan bekas yang tidak terlihat, sebuah luka pada kesadaran yang mungkin tidak akan pernah benar-benar pulih.

"Leo, kau baik-baik saja?" bisik Vivien, suaranya hampir pecah oleh kelelahan dan rasa khawatir.

Leo tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang, lalu berbisik dengan nada yang membuat bulu kuduk Maximilian berdiri. "Aku masih bisa mendengar mereka, Kak. Bukan sebagai suara, tapi sebagai getaran. Obsidian tidak hilang hanya karena terminal itu hancur. Volkov... dia bukan sekadar program. Dia adalah frekuensi yang sudah tertanam di setiap perangkat pintar yang kita gunakan."

Maximilian berdiri, melangkah mendekati Leo. "Apa maksudmu dengan frekuensi, Leo? Kita sudah menghancurkan sinkronisasi mereka."

"Kau menghancurkan perangkat kerasnya, Max," Leo mendongak, matanya memancarkan ketakutan yang murni. "Tapi saat aku terhubung tadi, aku melihat protokol Echo. Obsidian telah menyebarkan fragmen kesadaran Volkov ke dalam jaringan satelit komunikasi global. Mereka tidak lagi membutuhkan markas fisik. Setiap ponsel, setiap televisi, setiap sistem navigasi mobil adalah bagian dari tubuh mereka. Mereka sedang menunggu sebuah pemicu untuk bersatu kembali."

Bara mengepalkan tinjunya. "Jadi, semua yang kita lakukan tadi sia-sia?"

"Tidak sepenuhnya," sela Gideon melalui interkom kapal. Suaranya terdengar dari markas pusat Sentul yang kini sudah ia amankan kembali. "Kalian telah memutus otoritas biometrik mereka. Tanpa data dari Core Ledger yang diledakkan Max, fragmen-fragmen itu tidak memiliki kepemimpinan. Mereka seperti tentara tanpa jenderal. Masalahnya, Max... ada satu salinan data yang terlepas."

Maximilian menegang. "Katakan padaku itu bukan ke arah Rusia."

"Bukan ke Rusia, Max," jawab Gideon dengan nada muram. "Sinyal terakhir yang ditangkap satelit pemantauku mengarah ke sebuah lokasi di jantung kota Jakarta. Persisnya ke Menara Kementerian Komunikasi dan Informatika. Seseorang di dalam pemerintahan kita sendiri baru saja mengunduh kunci sinkronisasi terakhir."

Maximilian menatap lampu-lampu gedung pencakar langit Jakarta yang mulai terlihat di kejauhan. Kota yang ia pikir telah ia selamatkan ternyata menyimpan ular yang lebih besar di dalam birokrasinya sendiri.

"Siapa yang memiliki akses setinggi itu, Gideon?" tanya Vivien.

"Hanya ada satu nama yang muncul dalam log aktivitas yang sempat kubajak: Darmawan Aksara."

Mendengar nama itu, Vivien nyaris terjatuh. Darmawan adalah paman jauhnya, pria yang selama ini menjadi pendukung utama yayasannya dan orang yang paling dipercaya oleh mendiang ayahnya dalam urusan politik. Ia adalah orang yang tampak bersih, seorang negarawan yang selalu bicara tentang integritas digital bangsa.

"Paman Darmawan?" suara Vivien bergetar. "Tidak mungkin. Dia yang membantuku mengurus izin yayasan, dia yang memastikan Alaric mendapatkan perlindungan hukum saat kau di Swiss, Max."

"Justru karena itulah dia melakukannya, Viv," ucap Maximilian dengan nada dingin yang mematikan. "Dia tidak menjagamu karena cinta. Dia menjagamu agar dia bisa tetap dekat dengan sumber informasi. Dia adalah orang yang memberikan lokasi Leo kepada unit Sentinel. Dia adalah jembatan antara Obsidian Circle dan kekuasaan di negara ini."

Bara segera menyiapkan senjatanya kembali. "Kita tidak bisa pulang ke Sentul. Jika Darmawan memegang kuncinya, dia akan mengerahkan seluruh kekuatan aparat hukum untuk mengepung kita dengan tuduhan terorisme atas ledakan di pulau tadi."

"Bara benar," sahut Maximilian. "Kita adalah buronan sekarang. Gideon, putus semua koneksi kita ke rumah Sentul. Pindahkan Alaric ke bunker cadangan Delta di Bogor sekarang juga. Gunakan rute darat yang tidak memiliki kamera CCTV."

Kapal cepat itu tidak merapat ke dermaga umum. Mereka berhenti di sebuah pelabuhan peti kemas yang sepi di kawasan Jakarta Utara. Di sana, sebuah van kargo tua sudah menunggu, dikemudikan oleh salah satu kontak lama Bara yang masih berhutang budi.

Di dalam van yang pengap, Maximilian membentangkan denah digital kota Jakarta. "Kita tidak bisa menyerang Kementerian secara langsung. Itu bunuh diri. Kita harus memancing Darmawan keluar. Dia pikir dia sudah menang karena dia memegang kunci sinkronisasi, tapi dia tidak tahu bahwa Leo sempat membaca algoritma pembatalannya."

Leo mengangguk lemah. "Aku bisa membuat 'virus bunuh diri' untuk frekuensi itu, tapi aku butuh akses fisik ke pemancar utama di Menara kementerian. Dan aku butuh waktu setidaknya lima belas menit tanpa gangguan."

"Kita akan memberimu waktu itu, Leo," ucap Maximilian sambil menatap istrinya. "Viv, aku tahu ini berat. Darmawan adalah keluargamu. Tapi dia sudah mengkhianati semua yang diperjuangkan ayahmu."

Vivien menghapus air matanya, menggantinya dengan sorot mata yang tajam seperti baja. "Dia bukan keluargaku lagi. Siapa pun yang mencoba menggunakan masa depan Alaric sebagai pion permainan mereka, akan berhadapan denganku."

Rencana disusun dalam kegelapan van yang melaju menembus kemacetan dini hari Jakarta. Mereka akan menggunakan kekacauan sebagai pengalih perhatian. Bara akan memicu rangkaian ledakan kecil di gardu listrik sekitar area kementerian untuk memutus aliran listrik utama, memaksa sistem beralih ke generator cadangan yang memiliki celah keamanan selama tiga puluh detik.

Tepat pukul 03.00 pagi, saat kota sedang dalam titik lelapnya, operasional dimulai.

Bara bergerak layaknya bayangan di antara lorong-lorong gelap di belakang area perkantoran Medan Merdeka. Dengan presisi seorang ahli sabotase, ia menanamkan perangkat EMP mini di titik-titik krusial. Dalam hitungan detik, seluruh kawasan kementerian menjadi gelap gulita.

"Sekarang!" perintah Maximilian.

Maximilian dan Vivien, yang mengenakan seragam taktis hitam tanpa tanda pengenal, menyelinap masuk melalui saluran pembuangan udara yang mengarah langsung ke ruang server pusat. Mereka menggendong Leo di antara mereka. Di dalam gedung, unit-unit Sentinel yang tersisa—kali ini dalam bentuk robot pemantau keamanan yang tampak lebih ramping—mulai berpatroli dalam mode darurat.

"Mereka menggunakan sensor suara," bisik Leo. "Jangan bernapas terlalu keras."

Mereka merangkak di dalam pipa metalik yang sempit, suara jantung Maximilian berdegup kencang, bergema di telinganya sendiri. Saat mereka sampai di atas ruang server, mereka melihat Darmawan Aksara berdiri di sana, dikelilingi oleh empat pengawal berpakaian preman yang memegang senjata laras panjang. Di tangannya, Darmawan memegang sebuah perangkat tablet perak yang memancarkan pendar biru—sama dengan tabung logam dari Italia.

"Proses sinkronisasi mencapai delapan puluh persen," ucap salah satu pengawal. "Dalam sepuluh menit, frekuensi Volkov akan menguasai seluruh spektrum telekomunikasi nasional."

Darmawan tersenyum, sebuah senyuman yang penuh dengan ambisi yang berkarat. "Setelah ini, tidak akan ada lagi suara sumbang di media sosial, tidak ada lagi oposisi yang mengganggu. Bangsa ini akan berjalan dalam satu irama yang ditentukan oleh logika Obsidian. Dan Maximilian... dia akan disalahkan atas pemadaman total ini."

Vivien tidak bisa menahan diri lagi. Ia menendang jeruji ventilasi hingga jebal dan melompat turun dengan senjata terarah. "Paman! Berhenti sekarang juga!"

Maximilian menyusul di belakangnya, mendarat dengan posisi siap tembak. Para pengawal Darmawan segera beraksi, namun Maximilian lebih cepat. Dua tembakan presisi melumpuhkan tangan para pengawal sebelum mereka sempat menarik pelatuk.

Darmawan tidak tampak terkejut. Ia justru tertawa kecil sambil tetap memegang tabletnya. "Vivien... kau selalu terlalu emosional, persis seperti ayahmu. Itulah sebabnya Aksara gagal. Dia tidak berani mengambil langkah yang diperlukan untuk mengamankan kekuasaan."

"Ayahku gagal karena dia menolak menjadi monster sepertimu!" teriak Vivien.

"Monster? Aku adalah penyelamat!" Darmawan melangkah mundur ke arah konsol utama. "Dunia ini sedang menuju kehancuran karena terlalu banyak informasi yang salah. Aku hanya memberikan filter yang diperlukan."

"Leo, sekarang!" perintah Maximilian.

Leo segera berlari ke arah terminal cadangan di sudut ruangan. Jemarinya menari di atas keyboard dengan kecepatan yang tidak masuk akal, seolah-olah ia sedang berdialog langsung dengan mesin tersebut.

"Hentikan anak itu!" teriak Darmawan kepada dua pengawalnya yang tersisa.

Bara muncul dari pintu belakang, memberikan tembakan perlindungan yang membuat para pengawal harus mencari perlindungan di balik lemari server. Pertempuran senjata terjadi di dalam ruangan sempit yang dipenuhi oleh suara dengungan mesin dan desingan peluru.

Maximilian bergerak maju, menggunakan taktik close quarter combat untuk melumpuhkan satu per satu pengawal Darmawan. Ia tidak membunuh mereka; ia hanya memastikan mereka tidak bisa bergerak. Namun, Darmawan sudah hampir menyelesaikan prosesnya.

"Satu menit lagi, Maximilian! Dan sejarah akan ditulis ulang sesuai keinginanku!"

Vivien menembakkan senjatanya ke arah tablet di tangan Darmawan, namun sebuah perisai energi transparan—teknologi Obsidian—membelokkan pelurunya. "Paman, jangan lakukan ini! Kau akan menghancurkan kesadaran jutaan orang!"

"Mereka tidak akan merasakannya, Vivien. Mereka hanya akan merasa... tenang."

Leo tiba-tiba berteriak, "Aku masuk! Tapi aku butuh otoritas suara dari anggota keluarga Aksara yang sah untuk membatalkan perintah 'Grand Design'!"

Vivien menatap Leo, lalu menatap Darmawan. Ia menyadari apa yang harus ia lakukan. Ia melangkah maju, meskipun Darmawan menodongkan pistol ke arahnya.

"Kau tidak akan menembakku, Paman," ucap Vivien dengan tenang. "Karena jika kau membunuhku, kau kehilangan legitimasi biometrik yang kau butuhkan untuk fase kedua."

Darmawan ragu. Detik-detik berharga terbuang. Di layar besar, angka sinkronisasi menunjukkan 99%.

Vivien sampai di depan terminal Leo. Ia meletakkan telapak tangannya di pemindai dan berbicara dengan suara yang lantang dan jernih. "Aku, Vivien Aksara, pewaris sah dari garis keturunan Aksara, membatalkan semua protokol Obsidian Circle. Hapus semua fragmen Volkov dari jaringan ini. Protokol: Fajar Abadi."

Seketika, seluruh layar di ruangan itu berubah menjadi putih menyilaukan. Suara teriakan digital yang memekakkan telinga terdengar dari pengeras suara gedung. Tablet di tangan Darmawan meledak, melukai tangannya dan melemparkannya ke lantai.

"TIDAK! APA YANG KAU LAKUKAN?!" raung Darmawan.

Jaringan global yang tadinya mulai terinfeksi oleh frekuensi Volkov tiba-tiba mengalami reboot masif. Jutaan perangkat di seluruh dunia mati sejenak, lalu menyala kembali dengan sistem yang bersih. Fragmen-fragmen kesadaran Volkov yang bersembunyi di satelit-satelit komunikasi terhapus oleh algoritma pembersih yang dibuat Leo berdasarkan memori ayahnya.

Darmawan terduduk di lantai, menatap tangannya yang hancur. "Kalian... kalian telah menghancurkan satu-satunya kesempatan untuk menciptakan dunia yang sempurna."

Maximilian mendekati Darmawan, menatapnya dengan rasa muak yang mendalam. "Dunia yang sempurna tidak diciptakan oleh paksaan, Darmawan. Dunia yang sempurna adalah dunia di mana setiap orang memiliki hak untuk melakukan kesalahan dan belajar darinya."

Polisi militer, yang dipanggil oleh Gideon melalui jalur rahasia yang telah dibersihkan, mulai menyerbu masuk ke dalam ruangan. Mereka segera mengamankan Darmawan dan pengawalnya.

"Paman," ucap Vivien sebelum Darmawan dibawa pergi. "Ayahku selalu bilang, kejujuran itu pahit, tapi kebohongan adalah racun yang akan membunuhmu perlahan. Kau baru saja meminum racunmu sendiri."

RESTORASI DAN RAHASIA BARU

Pagi hari yang cerah menyambut mereka saat mereka keluar dari gedung Kementerian. Matahari terbit di balik Monas, memberikan warna emas yang hangat pada kota Jakarta yang baru saja melewati malam paling kritisnya.

Mereka kembali ke rumah Sentul, di mana Alaric sudah menunggu. Anak itu berlari ke arah Maximilian dan Vivien, memeluk mereka erat. Bagi Alaric, orang tuanya baru saja kembali dari kerja lembur yang melelahkan. Ia tidak pernah tahu seberapa dekat dunia ini dengan perbudakan digital semalam.

Leo duduk di teras, menatap langit. Ia tampak lebih tenang sekarang. "Suara itu... frekuensi itu... sudah hilang, Max. Aku bisa merasakannya. Dunia ini sudah tenang kembali."

Maximilian duduk di sampingnya. "Kau melakukan hal yang luar biasa, Leo. Ayahmu akan sangat bangga."

"Tapi ada satu hal, Max," Leo menoleh ke arah Maximilian. "Saat aku melakukan pembatalan tadi, aku menemukan sesuatu di lapisan terdalam kode Obsidian. Viktor Volkov yang asli... dia bukan hanya bioteknologi. Dia adalah salinan data dari seseorang yang masih hidup di tahun 1940-an. Dan ada satu nama yang terus muncul sebagai penyandang dana utama Obsidian Circle sejak awal."

Maximilian menahan napas. "Siapa?"

Leo menyerahkan sebuah dokumen kertas yang sempat ia cetak sebelum sistem di Kementerian hancur. Di sana tertera nama sebuah yayasan kuno yang berbasis di London: The Alfarezel Trust.

Maximilian tertegun. "Kakekku? Arthur tidak pernah memberitahuku bahwa kakekku terlibat."

"Bukan hanya terlibat, Max. Kakekmu adalah salah satu pendirinya. Arthur tahu hal ini, itulah sebabnya dia menghabiskan seluruh hidupnya untuk mencoba menghancurkan Phoenix dari dalam. Dia tidak hanya melawan musuh, dia melawan warisan keluarganya sendiri."

Maximilian menatap telapak tangannya. Darah Alfarezel yang mengalir di tubuhnya ternyata memiliki akar yang jauh lebih gelap daripada yang ia bayangkan. Ia menyadari bahwa pertempurannya melawan Obsidian Circle mungkin akan menjadi misi seumur hidup.

Vivien datang membawa secangkir teh, ia melihat dokumen itu dan langsung memahami ekspresi suaminya. Ia meletakkan tangannya di bahu Maximilian. "Kita akan menghadapinya bersama, Max. Seperti yang selalu kita lakukan."

"Ya," jawab Maximilian. "Kita tidak akan membiarkan masa lalu mendikte masa depan kita. Jika keluarga Alfarezel yang memulai kegelapan ini, maka keluarga Alfarezel jugalah yang akan memadamkannya untuk selamanya."

Di kejauhan, Alaric tertawa saat bermain dengan Bara. Maximilian menyadari bahwa perjuangan ini bukan lagi tentang membalas dendam atau membersihkan nama, tapi tentang memastikan bahwa tawa anak itu tidak akan pernah dipadamkan oleh algoritma mana pun.

Dunia mungkin masih memiliki banyak rahasia, dan Obsidian Circle mungkin masih memiliki sel-sel tidur di belahan dunia lain. Namun, pagi itu di Jakarta, keluarga Alfarezel berdiri tegak. Mereka bukan lagi sekadar penyintas; mereka adalah penjaga gerbang kebenaran. Dan selama mereka bernapas, cahaya tidak akan pernah membiarkan kegelapan menang tanpa perlawanan.

Fajar yang sesungguhnya telah tiba. Bukan sebagai akhir dari sebuah kisah, melainkan sebagai awal dari pengabdian yang lebih besar.

Dengan tertangkapnya Darmawan Aksara, jaringan politik Obsidian di Asia Tenggara runtuh seketika. Namun, di London, di sebuah kantor tua yang menghadap ke Sungai Thames, seorang pria tua dengan lencana burung phoenix kecil di kerahnya menutup sebuah buku besar. Ia menatap potret Maximilian Alfarezel di layar monitornya dan tersenyum tipis.

"Permainan yang bagus, cucuku," bisiknya. "Tapi mari kita lihat, bagaimana kau akan menghadapi babak yang sebenarnya: The London Protocol."

Perang baru saja pindah ke tanah leluhur. Dan Maximilian Alfarezel baru saja menyadari bahwa perjalanan terbesarnya baru saja dimulai.

1
Panda%Sya🐼
Kebayang gimana gantengnya si Maximilian ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!