(GERHANA SEMBILAN LANGIT SEASON 2)
Setelah menaklukkan Laut Selatan dan membawa Long Tian ke Ranah Inti Emas, Han Luo menuju Kekaisaran Pusat untuk Turnamen Raja Laut. Di sana, ia mendeteksi potongan Pedang Darah Iblis lain yang dipegang oleh monster Ranah Jiwa Baru Lahir yang juga mengincar Mata Iblis Es.
Turnamen Raja Laut tahun ini akan sangat meriah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harta Terkutuk
Suhu di dalam kawah Jantung Naga turun dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Tanpa kehadiran Jenderal Wu yang menjadi target utama, sistem pertahanan pasif dari Jantung Naga yang Tertidur mulai menyapu seluruh ruangan. Bunga-bunga es kristal mekar di dinding batu dalam hitungan detik.
Han Luo terbatuk, menyemburkan kabut merah tipis. Tubuhnya menggigil hebat meski Sutra Hati Es Abadi berputar otomatis di dalam sisa-sisa meridiannya.
"Kita harus keluar," desis Han Luo, suaranya nyaris tenggelam oleh suara detak jantung naga yang bergemuruh. "Sekarang."
Namun, sebelum dia membiarkan Long Tian memapahnya lebih jauh, mata Han Luo menangkap sebuah pendaran cahaya biru tua di antara pecahan patung es Jenderal Wu.
Mata Iblis Es.
Benda itu tergeletak bebas, tidak hancur oleh ledakan suhu tadi.
Su Qingxue juga melihatnya. Mata gadis iblis itu berkilat tamak, dan dia mengambil satu langkah maju.
"Jangan coba-coba," Han Luo menghentikannya tanpa menoleh. Ujung Pedang Teratai Darah di tangan kanannya terangkat sedikit, cukup untuk menunjukkan ancaman. "Itu taruhanku dengan Jenderal Wu. Aku menang. Matanya milikku."
Su Qingxue mendecih, mengepalkan tinjunya. Dia melirik ke dada Han Luo, tempat di mana serangga mengerikan pemakan jiwa itu bersembunyi. Keberadaan ulat itulah satu-satunya alasan Su Qingxue tidak membunuh Han Luo detik ini juga.
"Kau bahkan tidak punya tangan kiri untuk memegangnya, Tuan Mo," sindir Su Qingxue tajam.
"Hei Long. Ambilkan," perintah Han Luo, mengabaikan hinaan itu.
Long Tian segera memungut Mata Iblis Es itu. Sensasi beku menyengat tangannya, tapi dia menahannya dan memasukkan benda itu ke dalam kotak giok kosong yang disodorkan Han Luo.
Dengan Mata Iblis dan Cincin Jenderal Wu di tangannya, Han Luo telah mengamankan hadiah utamanya. Tapi harga yang dibayarnya... dia melirik bilah pedang patah yang menancap jelek di bahu kirinya. Ngilu yang luar biasa merambat setiap kali ototnya berkontraksi.
GRUMBLE!
Seluruh kawah bergetar hebat. Jantung Naga di atas mereka mulai memancarkan kabut putih pekat. Stalagmit es di sekitar mereka mulai tumbuh memanjang, mencoba menutup kawah ini menjadi makam abadi.
"Jantung itu kembali ke fase hibernasi aktif," Su Qingxue memucat. "Pintu keluarnya akan tertutup es!"
Mereka menoleh ke atas. Lubang jurang tempat mereka jatuh tampak seperti titik hitam kecil di langit-langit yang sangat tinggi.
Han Luo mencoba mengalirkan Qi ke kakinya untuk melompat, namun kakinya lemas. Kehilangan terlalu banyak darah membuat pasokan oksigen ke otaknya tidak cukup untuk melakukan teknik gerakan tingkat tinggi. Dia terhuyung dan hampir jatuh jika Long Tian tidak menahannya dengan kuat.
Bagi Han Luo, ini adalah momen yang paling menghancurkan harga dirinya.
Sang Gerhana yang mengendalikan raja dan jenderal dari balik layar. Kini, dia bahkan tidak bisa mengangkat tubuhnya sendiri.
"Tuan Mo, izinkan aku," kata Long Tian tiba-tiba.
Tanpa menunggu persetujuan, Long Tian berbalik, setengah berjongkok, dan menarik tubuh Han Luo ke punggungnya. Pemuda raksasa itu menggendong Han Luo.
"Apa yang kau lakukan?!" Han Luo mendesis, mencoba meronta, tapi pedang di bahunya tersangkut canggung, membuatnya meringis kesakitan.
"Kau tidak bisa melompat ke atas dengan kondisi ini, Tuan. Dan aku tidak akan meninggalkanmu," jawab Long Tian keras kepala. Dia mengikatkan sabuk kulitnya untuk menahan tubuh Han Luo agar tidak jatuh. "Pegangan yang erat."
Han Luo menggertakkan giginya. Dia benci ini. Dia benci bergantung pada "Protagonis" bodoh yang seharusnya menjadi pionnya. Tapi logikanya yang dingin menampar egonya: Jika kau menolak, kau mati beku di sini.
Han Luo melingkarkan tangan kanannya ke leher Long Tian, sementara bilah pedang di bahu kirinya teracung kaku ke samping.
"Nona Suci," panggil Han Luo pada Su Qingxue. "Kau punya benang bayangan. Buat jalur pijakan di dinding tebing. Hei Long akan membawa kita naik."
"Kau menyuruhku menjadi pembuat jalan untuk kuli panggulmu?" Su Qingxue marah.
"Pilihan lain adalah kau mencoba memanjat tebing es vertikal ini sendirian dan jatuh mati. Bekerja samalah, atau kita semua membusuk di sini."
Su Qingxue mengumpat kasar, tapi tangannya mulai bergerak. Dia melesat ke dinding tebing, menembakkan paku-paku bayangan ke dalam es sebagai pijakan sementara.
"Naik, Anjing Besar!" teriak Su Qingxue dari atas.
Long Tian memfokuskan sisa Qi Naganya ke kedua kakinya. Otot pahanya mengembang hingga merobek celananya.
"HAAAA!"
Long Tian melompat. Tiga puluh meter dalam satu lompatan. Dia mendarat keras di paku bayangan pertama yang dibuat Su Qingxue, memijaknya dengan kekuatan penuh, lalu melompat lagi.
BAM! BAM! BAM!
Mereka mendaki dinding jurang itu melawan waktu. Di bawah mereka, kabut beku dari Jantung Naga mengejar seperti gelombang tsunami terbalik. Es merambat naik di dinding tebing, menghancurkan paku-paku bayangan Su Qingxue tepat setelah Long Tian melompat darinya.
Han Luo, yang berada di punggung Long Tian, merasakan guncangan brutal di setiap lompatan. Pedang di bahunya bergesekan dengan tulang selangkanya, membuat Han Luo hampir pingsan karena rasa sakit. Darahnya membasahi punggung Long Tian.
"Jangan... lambat..." bisik Han Luo di telinga Long Tian, kesadarannya mulai memudar.
"Aku memegangmu, Tuan! Bertahanlah!" raung Long Tian.
Di atas mereka, cahaya menyilaukan terlihat. Itu adalah celah buatan Jenderal Wu di arena air tadi siang.
Su Qingxue melesat keluar lebih dulu, mendarat di atas permukaan es arena.
Sedetik kemudian, Long Tian melompat keluar dari jurang, membawa Han Luo di punggungnya, berguling keras di atas es untuk meredam momentum.
BLAAAARRR!
Tepat saat mereka keluar, jurang di bawah mereka meledak dengan kabut putih, lalu membeku sepenuhnya, menutup celah itu seolah-olah tidak pernah ada.
Mereka selamat.
Long Tian terbaring telentang di atas es arena, napasnya seperti puputan pandai besi.
Han Luo terlempar beberapa meter darinya. Dia berbaring miring, napasnya terputus-putus. Matanya yang setengah tertutup melihat ke sekeliling.
Arena air yang membeku tadi siang kini hancur berantakan. Namun anehnya, tempat itu kosong. Tidak ada penonton di tribun. Tidak ada Wasit Agung. Tidak ada peserta lain.
Hanya keheningan yang mencekam.
"Di mana... semua orang?" Long Tian memaksa dirinya duduk.
Su Qingxue berjalan ke tepi arena yang hancur. Dia melihat ke bawah, ke arah Kota Pelabuhan Naga di luar pulau.
"Mereka tidak punya waktu menonton turnamen," kata Su Qingxue pelan, matanya menyipit melihat asap hitam yang mengepul dari arah kota. "Sepertinya, Jenderal Wu bukan satu-satunya hal gila yang terjadi hari ini."
Dari jauh, terdengar suara ledakan formasi magis berskala besar dan raungan meriam Qi. Kekaisaran Pusat sedang diserang, atau mungkin sedang berperang dengan dirinya sendiri. Kematian mendadak Jenderal Wu di Reruntuhan pastilah memicu reaksi berantai di antara faksi-faksi elit kota.
"Ini bukan urusan kita," Han Luo memaksakan suaranya keluar. Dia menggunakan pedang di bahunya sebagai tumpuan untuk beringsut duduk. Gerakan yang sangat menyedihkan dan menyakitkan, tapi dia menolak untuk terus berbaring.
"Kita kembali...," Han Luo menatap Long Tian. "Bawa aku ke kapal. Sekarang."
Long Tian segera berdiri, memapah Han Luo dengan hati-hati.
Su Qingxue menatap Han Luo. Dia tahu Han Luo berada dalam kondisi terlemahnya. Tidak ada ilusi, tidak ada topeng keagungan. Hanya seorang pria yang hancur dengan sebelah lengan besi.
"Kau berutang nyawa padaku karena membuka jalan tadi, Tuan Mo," kata Su Qingxue.
"Hutang dicatat," jawab Han Luo tanpa basa-basi, matanya yang lelah menatap tajam gadis itu. "Dan aku tidak lupa kau mencoba menusuk leherku. Kita impas."
Mereka bertiga berjalan tertatih-tatih meninggalkan arena yang hancur, menjadi hantu yang menyelinap keluar dari pulau naga.
Dua jam kemudian, menembus kekacauan pelabuhan yang sedang dilanda kepanikan massa, mereka berhasil mencapai kapal hitam Sang Gerhana.
Xiao Ling, yang berjaga di anjungan, langsung berlari turun saat merasakan aura mereka. Gadis buta itu tersentak keras saat aura Han Luo mendekat.
Dia tidak bisa melihat darahnya, tapi Mata Hati-nya melihat bahwa aliran energi di sisi kiri tubuh Tuannya... kosong. Buntung.
Xiao Ling gemetar, air mata mengalir dari mata butanya. Dia memegang ujung jubah Han Luo.
"Berlayar," perintah Han Luo lemah, mengabaikan tangisan Xiao Ling. "Keluar dari wilayah Kekaisaran Pusat. Menuju... markas."
Begitu pintu kabin kapten tertutup, Han Luo tidak bisa menahannya lagi. Adrenalinnya habis. Batas toleransi rasa sakitnya pecah.
Pandangannya menjadi gelap gulita, dan Pemimpin Aliansi Gerhana itu ambruk, jatuh ke dalam koma yang dalam, meninggalkan krunya untuk menavigasi lautan berbahaya dengan membawa harta paling mematikan di dunia.
tpi gw demen....