NovelToon NovelToon
HATI EMAS

HATI EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.

Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:

• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.

Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.

Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Shadows Behind the Light

Pagi hari — taman sosial istana Araluen

Undangan kecil bersegel emas tersebar pagi itu.

Bukan jamuan resmi. Bukan audiensi kerajaan.

Pertemuan teh bangsawan wanita.

Anthenia membaca kartu undangan itu tanpa ekspresi.

“Cepat sekali,” gumamnya.

“Langkah pertama.”

Ia tahu.

Ini bukan kebetulan.

Paviliun taman timur

Bunga-bunga bermekaran indah, meja-meja kecil tertata rapi. Para bangsawan wanita telah berkumpul—putri marquess, countess, bahkan beberapa sepupu jauh keluarga kekaisaran.

Anthenia melangkah masuk.

Senyum-senyum terpasang.

Terlalu rapi.

Terlalu dibuat-buat.

“Putri Blackwood,” sapa seorang wanita dengan nada manis.

“Kau tampak… betah di istana.”

Anthenia duduk dengan tenang.

“Istana adalah tempat umum. Aku tamu yang diundang.”

“Oh tentu,” sahut yang lain cepat.

“Hanya saja… biasanya tamu tidak tinggal selama ini.”

Cangkir teh beradu pelan.

“Apalagi,” sambung suara lain,

“saat ada lamaran kerajaan besar yang sedang dibicarakan.”

Anthenia mengangkat cangkirnya, menyesap perlahan.

“Apa maksudmu?” tanyanya datar.

Wanita itu tersenyum.

“Tidak apa-apa. Hanya… aneh.”

Sunyi.

Lalu—

“Bukankah tidak pantas,” ucap seorang putri bangsawan dengan nada pura-pura polos,

“jika seorang wanita terlalu dekat dengan Putra Mahkota… tanpa status yang jelas?”

Itu dia.

Anthenia meletakkan cangkirnya perlahan.

“Jika maksudmu aku,” katanya tenang,

“aku tidak pernah meminta kedekatan itu.”

Beberapa wanita saling pandang.

“Namun Yang Mulia Putra Mahkota jelas—”

“Melindungiku?” potong Anthenia lembut namun tajam.

“Itu keputusan beliau. Bukan undanganku.”

Udara terasa berat.

Lorong paviliun — tak lama kemudian

Permaisuri Lunara berdiri di ujung lorong.

Tatapannya langsung tertuju pada Anthenia.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya pelan.

Anthenia mengangguk.

“Mereka hanya berbicara.”

“Ucapan bisa lebih berbahaya dari pedang,” balas Lunara.

Ia menahan Anthenia sejenak.

“Jika ini semakin buruk,” ucap Lunara serius,

“aku akan memintamu meninggalkan istana.”

Anthenia terdiam.

“Dan jika aku pergi,” katanya pelan,

“apa yang akan terjadi pada Yang Mulia Putra Mahkota?”

Lunara menatapnya tajam—lalu tersenyum pahit.

“Kau sudah tahu jawabannya.”

Ruang latihan — sore hari

William memukul patung latihan kayu dengan keras.

Gedubrak.

“Yang Mulia,” seorang ksatria mendekat ragu,

“rumor mulai menyebar di kalangan bangsawan wanita.”

William berhenti.

“Rumor apa.”

“Bahwa Putri Blackwood… menghalangi aliansi Kairo.”

Kayu retak di bawah tinjunya.

“Siapa yang memulainya.”

Ksatria menunduk.

“Belum jelas. Tapi… mengarah ke lingkaran Selir Valerius.”

Mata William menggelap.

“Jika mereka menyentuhnya sekali lagi,” ucapnya dingin,

“aku tidak akan peduli siapa yang berdiri di belakangnya.”

Kamar Anthenia — malam hari

Anthenia duduk sendirian. Cahaya lilin bergetar.

Ini sudah dimulai.

Ia menatap pantulan dirinya.

“Jika aku tetap di sini,” bisiknya,

“aku akan menjadi alasan semua konflik.”

Tangannya mengepal.

“Tapi jika aku pergi…”

“…aku menyerah.”

Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar terpojok.

Dan di tengah keheningan itu—

ia menyadari satu hal yang tak bisa lagi diingkari.

Bukan hanya William yang melindunginya.

Ia juga ingin melindungi William.

Fitnah belum menjadi senjata terbuka.

Namun benihnya telah ditanam.

Istana mulai berbisik.

William mulai kehilangan kesabaran.

Dan Anthenia berdiri di ambang keputusan—

bertahan dan melawan,

atau pergi demi menyelamatkan orang yang ia pedulikan.

Badai berikutnya

tidak akan datang dengan senyum.

..

Keesokan paginya — aula kecil bangsawan wanita

Pertemuan teh belum berakhir.

Justru berubah bentuk.

Beberapa bangsawan wanita berkumpul lebih rapat. Suara mereka diturunkan, senyum kembali dipasang.

“Putri Blackwood,” ucap seorang countess dengan nada prihatin,

“kami hanya mengkhawatirkan reputasimu.”

Anthenia mengangkat alis.

“Reputasi apa?”

“Hubunganmu dengan Putra Mahkota,” lanjut wanita itu.

“Orang-orang mulai berbicara.”

“Orang-orang selalu berbicara,” jawab Anthenia tenang.

“Biasanya tentang hal yang tidak mereka pahami.”

Beberapa wajah menegang.

“Namun,” sela wanita lain dengan senyum tipis,

“bukankah lebih baik jika kau kembali ke wilayahmu? Demi ketenangan istana.”

Anthenia menatap mereka satu per satu.

Lalu—ia tersenyum.

Bukan senyum lembut.

Bukan senyum sopan.

Senyum seseorang yang tidak lagi takut.

“Aku putri Duke Blackwood,” ucapnya pelan namun jelas.

“Ayahku tangan kanan Kaisar. Aku berada di istana atas undangan resmi.”

Ia meletakkan cangkir tehnya.

“Jika ada yang terganggu oleh keberadaanku,” lanjutnya,

“itu bukan masalahku—melainkan masalah mereka dengan kekuasaan.”

Ruangan membeku.

Tak ada teriakan.

Tak ada emosi meledak.

Justru ketenangan itulah yang membuat mereka gentar.

Lorong menuju taman — siang hari

William menunggu.

Begitu Anthenia keluar dari paviliun, ia langsung melangkah mendekat.

“Kau seharusnya tidak perlu menghadapi ini,” ucapnya rendah.

Anthenia menatapnya.

“Dan kau seharusnya tidak selalu datang menyelamatkanku.”

William terdiam.

“Kita berdua sedang diawasi,” lanjut Anthenia.

“Jika kau terus seperti ini… mereka akan menyerangmu lewat aku.”

William mengeraskan rahangnya.

“Biarkan.”

“Tidak,” jawab Anthenia tegas.

“Aku tidak akan menjadi alasan kelemahanmu.”

William menatapnya lama.

“Sejak kapan kau peduli pada posisiku?” tanyanya pelan.

Anthenia membuka mulut—

lalu menutupnya kembali.

“Sejak aku sadar,” jawabnya akhirnya,

“aku tidak ingin kau terluka.”

William tidak menjawab.

Namun tangannya—yang biasanya kaku—bergetar sedikit.

Kediaman Selir Valerius — sore hari

Heilen Valerius mendengarkan laporan dengan wajah tak terbaca.

“Putri Blackwood tidak gentar,” ucap pelayan.

“Bahkan… membuat beberapa bangsawan mundur.”

Heilen tertawa kecil.

“Menarik,” gumamnya.

“Dia tidak seperti wanita biasa.”

Matanya menyipit.

“Kalau tekanan sosial tidak berhasil,” lanjutnya pelan,

“kita ubah medan permainan.”

Ia berdiri.

“Persiapkan undangan resmi.

Libatkan aturan, etika… dan kehormatan.”

Ia tersenyum dingin.

“Tidak ada wanita yang bisa menang melawan istana

jika istana berpura-pura adil.”

Kamar Anthenia — malam hari

Anthenia membuka jendela. Udara malam masuk membawa aroma mawar.

Ia menyandarkan dahi ke kusen.

“Aku tidak bisa terus bertahan seperti ini,” bisiknya.

Bayangan William kembali muncul.

Tatapan dinginnya.

Perlindungan diam-diamnya.

Kesunyian yang mereka bagi.

“Aku harus memilih,” gumamnya.

Mundur—dan aman.

Atau maju—dan menantang segalanya.

Dan untuk pertama kalinya sejak hidup di dunia ini,

Anthenia tahu:

Pilihan apa pun akan menyakitkan.

Fitnah berubah bentuk.

Perlindungan mulai terlihat seperti pengakuan.

Dan Anthenia tak lagi berdiri sebagai penonton.

Ia telah melangkah ke papan permainan.

Dan kali ini—

ia tidak berniat kalah.

Ruang penerima tamu istana — malam hari

Undangan itu datang dengan stempel resmi kekaisaran.

Bukan dari Permaisuri.

Bukan dari Kaisar.

Dari Dewan Etika Bangsawan.

Anthenia membaca isinya perlahan.

“Dimohon kehadiran Putri Anthenia Blackwood

untuk klarifikasi posisi dan perilaku

demi menjaga kehormatan istana.”

Ia terkekeh kecil.

“Rapih,” gumamnya.

“Dan sangat khas istana.”

Pintu diketuk.

“Masuk.”

William berdiri di ambang pintu. Wajahnya serius.

“Kau menerima undangan itu.”

“Ya.”

“Itu jebakan,” ucap William tanpa ragu.

“Mereka ingin memaksamu memilih di depan umum.”

Anthenia menutup surat itu, lalu menatapnya tenang.

“Aku tahu.”

William mengerutkan kening.

“Kalau begitu, kenapa wajahmu seperti itu?”

Anthenia tersenyum tipis.

“Karena,” katanya pelan,

“aku tidak suka dipaksa.”

Nada suaranya… berbeda.

Bukan gadis bangsawan penurut.

Melainkan seseorang yang terbiasa membaca niat sebelum peluru dilepaskan.

William merasakan itu.

“Kau tidak harus datang,” katanya lebih lembut.

“Aku bisa menghentikannya.”

Anthenia menggeleng.

“Jika kau melakukannya, mereka akan menyerangmu lebih keras,” jawabnya.

“Dan aku tidak akan membiarkan itu.”

William terdiam.

“Aku yang akan melangkah,” lanjut Anthenia.

“Dan kali ini… mereka yang harus berhati-hati.”

Kediaman Selir Valerius — waktu yang sama

Heilen Valerius duduk santai, jemarinya mengetuk meja.

“Dia akan datang,” lapor seorang pelayan.

“Tentu,” balas Heilen.

“Putri Duke Blackwood terlalu bangga untuk mundur.”

Ia tersenyum.

“Dan di hadapan dewan,” lanjutnya,

“tidak ada pedang, tidak ada perlindungan Putra Mahkota.”

Matanya berkilat.

“Hanya kata-kata.”

Kamar Anthenia — menjelang tengah malam

Anthenia berdiri di depan cermin.

Pantulan itu menatap balik—

mata dingin, rahang tegas.

Jane…

kau pernah menghadapi mafia dunia.

Ia menarik napas panjang.

“Kalau mereka pikir aku gadis 18 tahun yang bisa ditekan…”

bisiknya.

Ia meraih jepit rambut peraknya, menyematkannya rapi.

“Mereka salah besar.”

Di balik ketenangan itu, satu hal bergetar.

Bukan takut.

Marah.

Bukan karena dirinya.

Tapi karena seseorang berani menggunakan William sebagai alat.

Balkon istana — larut malam

William berdiri sendiri.

Ia menatap langit gelap, rahangnya mengeras.

“Jika mereka menyentuhnya besok,” gumamnya,

“aku akan menghancurkan meja permainan ini.”

Untuk pertama kalinya,

William Whiston—Putra Mahkota Araluen—

siap melawan bukan sebagai pewaris,

melainkan sebagai pria yang memilih.

Jebakan telah dipasang.

Panggung disiapkan.

Dan seluruh istana menunggu—

apakah Putri Blackwood akan runtuh,

atau justru berdiri

dan mengguncang tatanan yang sudah lama busuk.

Besok,

kata-kata akan lebih tajam dari pedang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!