NovelToon NovelToon
Syifa Si Wanita Kukang - Tumbal 7 Malam

Syifa Si Wanita Kukang - Tumbal 7 Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Hantu
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eouny Jeje

​"Cantiknya memikat, pelukannya menjerat, malam ketujuhnya... membunuhmu tanpa sempat bertaubat."

​Dihina sebagai gadis penghibur tak laku, Syifa berubah menjadi primadona VIP yang dipuja setelah menerima minyak keramat dari Nenek Lamiang, dukun pedalaman Kalimantan. Syifa memiliki daya tarik mistis yang membuat setiap pria merasa dialah wanita paling suci yang pernah mereka sentuh. Namun, kecantikan itu menyimpan rahasia gelap tentang sebuah hitungan malam yang tak boleh dilanggar.

​Pelariannya ke Kalimantan
Mempertemukannya dengan Agung, arsitek yang terobsesi pada wanginya, dan Penyang, pemuda lokal yang mencium aroma maut di balik pesonanya. Di tengah persaingan dua pria itu, Syifa menyadari satu hal: ada harga nyawa yang harus dibayar tepat di malam ketujuh. Kini, sebelum hitungan terakhir tiba, Syifa harus memilih antara mengikuti nafsu yang menghancurkan atau melakukan pengorbanan terakhir yang akan mengubah wujudnya selamanya.

BERANI MELEWATI MALAM KE-6?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Iblis dalam tubuh manusia

...​"Kecantikan yang Memikat, Kutukan yang Mengikat."...

......................

Di pintu keberangkatan yang dingin itu, waktu seakan membeku. Agung menatap Syifa dengan tatapan seorang pria yang baru saja kehilangan dunianya. Matanya merah, bukan hanya karena kurang tidur semalaman, tapi karena luka yang belum sempat ia suarakan.

​"Aku mencarimu ke mana-mana, Syifa. Ponselmu mati... dan sekarang kau ingin pergi begitu saja? Tanpa sepatah kata pun?" Suara Agung serak, bergetar oleh kelelahan yang memuncak.

​Namun, di balik kulit Syifa yang tampak indah, ia adalah kukang yang sedang terbangun. Lapar. Perutnya melilit, mengeluarkan suara keruyuk yang mengerikan—sebuah dahaga purba yang menuntut tumbal. Setiap inci tubuhnya berteriak ingin merengkuh Agung, bukan untuk mencintai, melainkan untuk memangsa. Nafsu dan kutukan itu bercampur aduk, mendesak ingin melahap pria yang paling ia cintai di dunia ini.

​Syifa memejamkan mata sejenak, menahan gelombang kegelapan yang nyaris meledak dari dalam dadanya. Ia harus menjadi jahat agar Agung bisa tetap hidup.

​"Sepertinya kau cukup pintar untuk mengerti, Agung," ucap Syifa. Suaranya datar, sedingin es kutub, mematikan segala harapan yang tersisa di mata pria itu. "Mengapa kau tak bisa menghubungiku... dan mengapa aku memilih untuk melenyap."

​Dengan satu hentakan kasar, Syifa menyentak tangannya. Cengkeraman Agung terlepas, meninggalkan rasa panas yang membekas di kulitnya.

​"Apa maksudmu, Syifa? Jangan seperti ini!" Agung melangkah maju, tangannya menggapai udara kosong, wajahnya hancur berkeping-keping.

​Tanpa menoleh, Syifa mengangkat tangan, memberi isyarat pada petugas keamanan yang berdiri tak jauh dari mereka. "Pak! Tolong, pria ini mengganggu saya!"

​Petugas itu segera merangsek maju, menghalangi langkah Agung. "Maaf, Mas. Jangan membuat keributan di area keberangkatan."

​"Syifa! Syifa, lihat aku!"

​Lolongan Agung pecah, bergema pilu di langit-langit bandara yang tinggi. Itu adalah suara patah hati yang paling murni. Namun, Syifa terus melangkah, menyeret kopernya tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Air matanya jatuh tanpa suara, membasahi pipinya yang pucat, namun langkahnya tak melambat.

​Ponselnya sudah hilang di dasar sungai Kalimantan, dan biarlah perasaannya ikut tenggelam bersamanya. Karena bagi Syifa, membiarkan Agung membencinya adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa pria itu dari kegelapan yang ia bawa.

Penerbangan menuju Jakarta malam itu terasa seperti perjalanan di atas peti mati yang melayang. Di dalam kabin yang temaram, Syifa duduk dengan keanggunan seorang bidadari, namun di balik kulit porselennya, sesuatu yang purba sedang mencakar-cakar ingin keluar.

​Setiap embusan napas pria di sekitarnya adalah godaan yang menyiksa. Dahaganya bukan lagi soal air, melainkan energi kehidupan yang berdenyut di bawah nadi mereka. Syifa menatap leher-leher penumpang pria dengan tatapan predator yang haus darah, membayangkan betapa nikmatnya jika ia menancapkan kuku dan menghisap habis nyawa mereka hingga kering. Ia merasa seperti monster yang terjebak dalam tubuh manusia, menahan hasrat untuk menerkam siapa pun di kabin itu bagai zombie yang menemukan daging segar.

​Namun, ia tetaplah istri Broto yang terhormat. Ia tak boleh terlihat seperti binatang buas di ruang publik. Selama 1 jam 35 menit itu, Syifa menyiksa dirinya dalam kendali yang nyaris pecah, hingga matanya terpaku pada satu mangsa yang sempurna: Ihsan.

​Ihsan, pengusaha tambang berusia 56 tahun yang merasa bisa membeli dunia dengan uangnya. Baginya, Syifa hanyalah wanita cantik lainnya untuk ditaklukkan. Ia tidak menyadari bahwa di mata sang predator, dia hanyalah sepiring daging yang menunggu untuk disantap.

​"Aku menunggumu di vila, Syifa," bisik Ihsan saat mereka bersiap turun.

​Pria itu meraih tangan Syifa, mendaratkan kecupan yang terasa menjijikkan namun memicu adrenalin di punggung tangannya. Ihsan menyelipkan kartu nama ke dalam genggaman Syifa dengan senyum penuh kemenangan. Ia membayangkan malam penuh kenikmatan, tanpa tahu bahwa undangan itu adalah tiket maut seketika.

​Syifa menatap punggung Ihsan yang menjauh dengan tatapan yang mematikan sekaligus memikat. Di dalam kepalanya, suara serak sang Nenek Kukang bersorak kegirangan karena tenaga mereka telah terkuras habis. Ia sengaja menjauhkan Agung dari celaka di Kalimantan, dan sebagai gantinya, ia akan mencekik pria yang baru ia kenal ini.

​Aku hanya sedang membantu istrimu, Ihsan, batin Syifa sambil memilin kartu nama itu. Agar ia tak perlu lagi membuang tenaga untuk mencemburuimu. Karena untuk apa mencemburui sesosok mayat yang jantungnya sudah mendingin?

​Malam ini, di vila terpencil itu, tidak akan ada desah kenikmatan. Yang ada hanyalah erangan maut saat sang pengusaha melepaskan jeratan kutukannya tepat di ulu hati sang pengusaha dalam satu malam yang mematikan.

Vila itu sunyi, hanya menyisakan deru napas Ihsan yang memburu penuh nafsu. Pria itu dengan kasar menanggalkan pakaiannya, merasa telah memenangkan trofi malam ini. Namun, hanya dalam satu hentakan—satu sentuhan kulit yang seharusnya membawa kenikmatan—tubuh Ihsan mendadak kaku.

​Ia membeku seolah seluruh darah di nadinya berubah menjadi es. Napasnya terengah, pendek, dan tersedak. Hanya dalam hitungan detik, segalanya selesai. Jantungnya berhenti berdetak dengan satu sentakan hebat yang menghantam rongga dadanya.

​Dalam sisa-sisa kesadaran yang menipis dan napas yang tertahan di tenggorokan, Ihsan membuka matanya lebar-lebar. Di atasnya, ia tidak lagi melihat wajah cantik bidadari yang ia temui di pesawat. Ia melihat sepasang mata kuning berkilat yang menatapnya dengan rasa lapar purba yang tak terpuaskan.

​"Kau... kau bukan manusia!" bisik Ihsan, parau dan penuh teror sebelum suaranya hilang selamanya.

​Syifa tidak menjawab. Dengan dingin, ia mendorong tubuh tambun itu ke sisi ranjang. Sekejap saja, wajah Ihsan berubah membiru, mendingin seperti bangkai yang sudah lama mati, dengan sepasang mata terbelalak menatap langit-langit vila.

​Lega.

​Rasa sakit dan getaran di tubuh Syifa mereda. Energi kehidupan Ihsan telah terserap habis untuk memberi makan sang Nenek Kukang yang bersemayam dalam dirinya. Dengan tenang, Syifa membenahi pakaiannya, merapikan rambutnya di depan cermin, lalu melangkah pergi meninggalkan aroma maut di ruangan itu.

​Ihsan adalah pria ke-6. Namanya kini terukir dalam Kitab Maut yang tak kasat mata, sebuah daftar hitam yang terus memanjang sejak kutukan itu menguasainya.

​Begitu sampai di luar, di bawah temaram lampu jalanan Jakarta yang acuh tak acuh, Syifa mendongak. Ia meraung dalam batin, sebuah teriakan tanpa suara yang menyayat langit malam. Ia membenci dirinya sendiri. Ia membenci rasa lapar ini. Namun, ia tahu, ia telah menjelma menjadi iblis gila yang terjebak dalam kecantikan yang terkutuk.

Syifa menatap langit Jakarta yang kelam, seolah mencari bayangan Penyang di antara awan-awan hitam. Pria itu benar. Pesan di atas kertas yang menguap tadi pagi adalah kebenaran yang pahit.

​"Penyang... Kau benar. Aku memang sudah tidak terselamatkan lagi," bisiknya lirih.

​Ia membayangkan sosok pria itu ada di sana, menatapnya dengan tatapan yang kini bukan lagi welas asih, melainkan kebencian. "Kau berjanji akan membunuhku jika aku kembali ke Kalimantan, bukan?"

​Bukannya gemetar ketakutan, Syifa justru tertawa kecil. Tawa yang terdengar dingin dan kosong.

​"Jika nanti aku sudah lelah menjadi wanita terkutuk ini, aku pasti akan kembali padamu," gumamnya dengan nada menantang. "Aku akan kembali, dan aku akan memintamu sendiri yang menghunuskan mandau itu ke dadaku. Biar semuanya berakhir di tanganmu."

​Syifa tersenyum. Senyum yang indah namun mematikan. Ancaman Penyang tidak lagi terasa seperti teror baginya. Alih-alih melarikan diri dari kenyataan, ia justru mulai menikmati peran barunya. Menikmati setiap detik menjadi iblis gila yang bersembunyi di balik raga manusia yang sempurna.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduh agung akan mati kah
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduh ini kapan berkahir kasihan jadi tumbal
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduhhh
@🏡s⃝ᴿ yayuk
lhaaa trus kemana itu kukang nya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
aduhh gila ini pengeruh iblis
@🏡s⃝ᴿ yayuk
ahhaha perempau memang banyak drama tak ada yg bisa mengerti 😝
@🏡s⃝ᴿ yayuk
ahahahhaha aq ngakak baca artinya juga 🤣🤣🤣
@🏡s⃝ᴿ yayuk
hiiii ngeri sekali ya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
iblis twtaplah iblis
@🏡s⃝ᴿ yayuk
wow
karena apa coba
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduhh piye jal
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduhh bodoh sekali tp apa boelh di katanya kan
Mersy Loni
lanjut thor
@🏡s⃝ᴿ yayuk
wow lgsg kena target
Mersy Loni
aku tuh masih sedih sma broto jd tolong jangan nambah lagi ya, jgn biarkan agung juga pergi Thor.
Jeje: ya jgn ada kepikiran ke situ dlu kasian agungnya
total 3 replies
@🏡s⃝ᴿ yayuk
lah dalah
@🏡s⃝ᴿ yayuk
efekmya kok sampe gitu ya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
minta sama sifa dia kaya raya lho
@🏡s⃝ᴿ yayuk
g kebanyang ya gimna ngerinya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
kacau sudah berapa harga semua yg ada di etalse itu hadeg berhamburan sudah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!