Demi melunasi hutang keluarga, Amara (19) nekat merantau ke Jakarta dengan rahasia tubuh yang tak lazim: ia mampu menghasilkan ASI meski masih perawan. Keajaiban itu membawanya menjadi pengasuh bayi milik Arlan, pengusaha dingin yang dikhianati istrinya.
Saat bayi Arlan menolak segala jenis susu formula, hanya "anugerah" dari tubuh Amara yang mampu menenangkannya. Namun, rahasia itu terbongkar. Bukannya marah, Arlan justru terobsesi. Di balik pintu kamar yang tertutup, Arlan menyadari bahwa bukan hanya putranya yang haus akan kehangatan Amara—ia pun menginginkan "jatah" yang sama.
Antara pengabdian dan gairah terlarang, Amara terjebak dalam jerat cinta sang tuan yang posesif. Apakah ini jalan keluar bagi kemiskinannya, atau justru awal dari perbudakan nafsu yang manis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon your grace, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Sentuhan yang Membara
Amara menelan ludah, dadanya bergemuruh hebat saat ia merasakan kehadiran Arlan begitu dekat di belakangnya di dalam walk-in closet yang luas itu. Aroma sabun dan parfum maskulin Arlan mendominasi indra penciumannya, membanjiri kepalanya dengan kenangan memalukan semalam.
"K-kemeja putih yang paling tipis, Tuan?" suara Amara bergetar.
"Iya. Yang bisa memamerkan sedikit lekuk tubuhku," bisik Arlan dengan nada menggoda, membuat Amara merinding.
Dengan tangan gemetar, Amara meraih sebuah kemeja putih berbahan katun linen yang memang terlihat sangat tipis dan ringan. Ia berbalik, menyerahkan kemeja itu kepada Arlan. Namun, Arlan tidak langsung mengambilnya. Pria itu justru melipat tangannya di dada, menunggu Amara melakukan hal selanjutnya.
"Pakaikan," perintah Arlan, matanya yang tajam menatap lurus ke arah Amara.
Wajah Amara memerah padam. "T-tapi Tuan..."
"Jangan membantah. Itu sudah jadi bagian dari tugasmu sekarang, Amara," Arlan mendekat satu langkah, membuat Amara tak punya pilihan selain menurut.
Dengan napas yang tertahan, Amara mengambil kemeja itu. Perlahan, ia membuka kancing-kancing kemeja itu, lalu dengan gerakan hati-hati, ia melingkarkan kain itu ke tubuh Arlan yang bidang. Jemari Amara bergesekan dengan kulit Arlan yang hangat dan kenyal di bagian lengan, mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuhnya.
Amara berusaha fokus pada kancing-kancing kemeja. Tangannya gemetar saat ia mulai mengaitkan kancing pertama di bagian perut Arlan. Ia harus sedikit berjinjit karena perbedaan tinggi mereka yang mencolok. Ia bisa merasakan setiap gerakan napas Arlan yang teratur.
Saat ia mencapai kancing ketiga, tepat di bagian dada Arlan, sebuah kejadian tak terduga terjadi.
Grep.
Tangan Arlan tiba-tiba bergerak cepat, mencengkeram pergelangan tangan Amara yang sedang mengancingkan kemeja. Ia tidak hanya mencengkeram, tapi ia juga menarik tangan Amara lebih dalam, menekan telapak tangan gadis itu tepat ke dada bidangnya yang keras dan berotot.
Amara terkesiap. Ia merasakan detak jantung Arlan yang begitu kuat di bawah telapak tangannya. Otot-otot dada pria itu terasa begitu padat dan hangat. Matanya yang tadi menunduk kini terpaksa mendongak, bertemu langsung dengan tatapan mata Arlan yang penuh gairah.
"T-Tuan... apa yang Tuan lakukan?" bisik Amara, jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia merasa akan pingsan.
Arlan tersenyum miring. Ia tidak melepaskan tangan Amara. Justru, ia menggunakan tangannya yang lain untuk menangkup dagu Amara, memaksa gadis itu untuk tetap menatapnya.
"Apa kau bisa merasakan detak jantungku? Ya, itu karena aku sedang ßêrgåïråh sekarang, Amara," bisik Arlan dengan nada yang begitu rendah dan dalam, membuat bulu kuduk Amara meremang hebat.
Mata Amara membola, ia merasa seluruh persendiannya meleleh di bawah tatapan predator pria itu. "T-tuan..." lirihnya, mencoba memprotes namun suaranya justru tertahan di tenggorokan yang terasa kering.
Arlan tidak membiarkan Amara menjauh. Pria itu justru semakin menekan telapak tangan Amara ke dadanya yang bidang dan panas, sementara tangan Arlan yang satunya lagi turun dengan perlahan menuju dada besar Amara.
"Ssttt... lihatlah, þµ†ïñgmµ juga mengeras," ucap Arlan dengan seringai kemenangan yang mêñggðÐå.
Tanpa aba-aba, Arlan mêrêmå§ dada Amara dari luar seragam babysitter-nya. Ia memberikan tekanan yang kuat dan ritmis, merasakan bagaimana tekstur kain seragam itu bergesekan dengan kulit §êñ§ï†ï£ Amara. Benar saja, ia bisa merasakan dengan jelas þµ†ïñg gadis itu yang menonjol dan mengeras sempurna di bawah telapak tangannya.
"Akhhh..." Amara memekik kaget, kepalanya terdongak ke belakang saat §êñ§å§ï panas itu meledak di sarafnya. Suara Ðê§åhåññɏå yang tertahan justru menjadi bensin bagi api gåïråh Arlan.
Arlan menarik tubuh Amara hingga benar-benar menempel pada tubuhnya yang belum terkancing sempurna. Ia menunduk, bibirnya menyentuh daun telinga Amara sambil berbisik lirih yang membuat jantung Amara serasa berhenti berdetak.
"Biarkan aku mêñɏµ§µ sekali lagi, Amara... sebelum aku berangkat kerja. Aku butuh ketenangan darimu agar bisa fokus di kantor," bisik Arlan penuh manipulasi.
Tanpa menunggu persetujuan, tangan Arlan yang besar mulai merayap masuk ke balik seragam yang Amara kenakan. Ia menyelinap di bawah kain ßrå Amara yang sudah lembap, langsung menyentuh kulit þåɏµÐårå Amara yang panas dan kencang karena produksi ASI yang melimpah.
Saat kulit kasar Arlan bersentuhan langsung dengan þåɏµÐåråñɏå, Amara terkesiap hebat. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, meremas bahu Arlan seiring dengan rêmå§åñ tangan pria itu di dadanya. Rasa nyeri akibat bengkak itu seolah berubah menjadi kenikmatan yang memabukkan saat Arlan memutar ibu jarinya di atas þµ†ïñg Amara yang sudah sangat tegang.
"T-tuan... ahh... Kenzo..." Amara meracau pelan, menyebut nama bayi itu sebagai satu-satunya benteng pertahanannya yang tersisa, namun Arlan justru semakin rakus mengeksplorasi tubuhnya.
Arlan tidak lagi membuang waktu. Dengan satu gerakan dominan, ia mendesak tubuh Amara hingga punggung gadis itu membentur lemari kaca yang dingin. Bunyi dentingan gantungan baju di dalam lemari seolah menjadi musik latar bagi gåïråh yang kian memuncak. Amara terjepit di antara dinginnya kaca dan panasnya tubuh Arlan yang menempel tanpa celah.
"T-tuan... Kenzo bisa melihat kita..." rintih Amara dengan napas yang sudah tidak beraturan.
"Dia tidak akan melihat, Amara. Fokuslah padaku," bisik Arlan serak.
Tangan Arlan dengan kasar namun terampil menyingkap kain seragam Amara hingga þåɏµÐårå besar itu menyembul keluar sepenuhnya, berkilat di bawah lampu walk-in closet. Tanpa menunggu lagi, Arlan merunduk dan melahap þµ†ïñg merah muda itu dengan rakus.
"Nngghhh... ahh!" Amara memekik, kepalanya membentur kaca lemari saat ia merasakan hï§åþåñ Arlan yang jauh lebih kuat dan menuntut daripada sebelumnya.
Arlan mêñɏµ§µ dengan cara yang sangat maskulin, ia seolah ingin menguras setiap tetes cairan manis itu langsung dari sumbernya. Suara kecipak basah memenuhi ruangan sempit itu, beradu dengan suara napas Amara yang kian memburu. Tangan Arlan yang bebas meremas þåhå Amara, mengangkatnya sedikit agar posisi mereka semakin ïñ†ïm.
Amara merasa seluruh kekuatannya tersedot habis. Rasa malu yang tadi menyelimutinya kini meleleh, digantikan oleh gelombang kenikmatan yang membuatnya tak berdaya. Ia hanya bisa mencengkeram rambut Arlan, membiarkan majikannya itu berpesta di dadanya hingga asinya membasahi kemeja putih Arlan yang masih terbuka.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, Arlan akhirnya melepaskan hï§åþåññɏå. Ia menjilat bibirnya yang basah, menatap Amara yang kini nampak berantakan dengan mata sayu dan bibir yang terbuka sedikit.
"Nikmat sekali... kau adalah candu, Amara," gumam Arlan. Ia berdiri tegak, dengan santai merapikan kemejanya yang kini noda basah asinya terlihat jelas di bagian dada, namun ia tidak peduli. Ia justru mengancingkan kemejanya dengan rapi seolah tidak terjadi apa-apa.
Arlan meraih jam tangan mewahnya, memakainya dengan tenang, lalu menatap Amara yang masih bersandar lemas di lemari kaca dengan dada yang masih terbuka dan napas tersengal.
"Rapikan dirimu dan jaga Kenzo baik-baik. Aku akan pulang lebih awal sore ini untuk... sesi tambahan," ucap Arlan dengan senyum smirk yang mematikan.
Pria itu berbalik dan melangkah keluar kamar dengan langkah gagah, meninggalkan Amara yang luruh ke lantai. Seragamnya berantakan, ßrå-ñɏå miring, dan kulit dadanya nampak kemerahan akibat hï§åþåñ kuat Arlan. Amara menatap pintu yang tertutup itu dengan perasaan hancur sekaligus berdebar, menyadari bahwa ia kini benar-benar telah menjadi måïñåñ sang tuan sepenuhnya.