NovelToon NovelToon
Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Beda Umur, Sama Rasa (Katanya!)

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Beda Usia / CEO
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
​Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
​Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Rengganis segera menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, mengerucutkan bibirnya dengan sisa-sisa harga diri yang hampir habis.

"Haaaa... aku malu, Mas! Gimana aku bisa pasang muka galak lagi di depan koas kalau mereka tahu gurunya tumbang begini?"

Permadi tertawa terbahak-bahak sampai bahunya terguncang.

Melihat Rengganis yang biasanya kaku kini merengek manja dan pura-pura menangis di balik bantal adalah pemandangan paling menghibur sekaligus menggemaskan baginya.

Kemudian ia membungkuk, membisikkan sesuatu yang sangat pelan tepat di telinga Rengganis dengan nada penuh godaan.

"Tapi jujur saja, sakit tapi enak, kan?"

Rengganis sempat terdiam. Ia menurunkan tangannya sedikit, menatap Permadi dengan mata sembab yang masih berkaca-kaca namun ada binar kejujuran di sana.

"Iya, Mas. Sakit tapi enak, sampai ingin lagi," ucap Rengganis spontan.

Detik berikutnya, Rengganis membeku. Ia baru sadar apa yang baru saja ia katakan.

"Haaa! Ketahuan sekarang!" ledek Permadi sambil tertawa semakin keras.

Ia langsung menarik Rengganis ke dalam pelukannya, menggulung tubuh istrinya dengan selimut sampai seperti kebab.

"Ternyata Dokter Rengganis yang terhormat ini sudah ketagihan sama 'berondong'-nya sendiri, ya?"

"Mas! Maksudku bukan begitu! Aduh, lupakan!"

Rengganis meronta-ronta di dalam dekapan Permadi, namun wajahnya sudah tidak bisa lebih merah lagi. Ia merasa benar-benar kalah telak hari ini.

Permadi mencium dahi Rengganis dengan gemas.

"Tidak ada kata lupakan dalam kamusku, Sayang. Itu adalah testimoni terbaik yang pernah aku dengar. Tapi untuk sekarang, tahan dulu keinginan 'ingin lagi'-nya. Kamu harus pulih dulu supaya besok bisa menghadapi Shinta dan Andy dengan kepala tegak."

Permadi mengusap pipi Rengganis dengan lembut.

"Sekarang, aku akan ke dapur. Jangan coba-coba turun dari kasur sebelum aku datang membawa makanan. Mengerti, Istriku?"

Rengganis hanya bisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum menatap punggung suaminya yang keluar kamar dengan langkah ringan dan penuh kemenangan.

Di dalam hati, ia merutuki lidahnya sendiri, namun di saat yang sama, ia tidak bisa memungkiri bahwa ia merasa sangat dicintai.

Sementara kemesraan menyelimuti kediaman Permadi dan Rengganis, suasana di kantor Wijaya Group justru terasa tegang.

Sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan lobi, dan Laras melangkah masuk dengan dagu terangkat dan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya.

Ia langsung menuju meja resepsionis dan berlanjut ke lantai atas, tempat ruang kerja Permadi berada.

"Selamat pagi, Mbak Sarah. Permadi ada di dalam?" tanya Laras tanpa basa-basi saat sampai di meja sekretaris.

Sarah, sekretaris Permadi yang sudah hafal dengan perangai wanita di depannya ini, tersenyum sopan namun formal.

"Selamat pagi, Mbak Laras. Mohon maaf, hari ini Bapak Permadi sedang libur dan tidak bisa diganggu."

Laras mengernyitkan dahinya saat mendengar perkataan dari Sarah.

"Libur? Permadi tidak pernah libur mendadak begini. Dia pasti ada di rumahnya, kan? Berikan aku alamat rumah barunya yang sekarang. Aku dengar dia baru saja pindah setelah pernikahan konyol itu."

Sarah menggelengkan kepalanya dengan tenang, meskipun batinnya merasa jengah.

"Mohon maaf sekali lagi, Bu Laras. Sesuai prosedur perusahaan dan perintah langsung dari Bapak, saya tidak berani memberikan informasi pribadi termasuk alamat rumah beliau kepada siapa pun tanpa izin. Ini menyangkut privasi keluarga Bapak."

Seketika itu juga, wajah Laras langsung mengeras.

Ia merasa direndahkan oleh seorang sekretaris. "Kamu tahu siapa saya, kan? Saya ini relasi bisnis terpenting dan mantan kekasihnya! Beraninya kamu menghalangi saya!"

"Mohon maaf, Bu. Peraturan tetap peraturan," tegas Sarah dengan nada yang tetap terjaga.

Lusi mengepalkan tangannya dengan kuat sampai kukunya memutih. Matanya berkilat marah.

"Baiklah. Simpan saja alamat itu. Aku akan mencarinya dengan caraku sendiri!"

Laras berbalik dan meninggalkan perusahaan Permadi dengan langkah kaki yang menghentak keras, memancing perhatian para karyawan di lobi.

Di dapur rumah, Permadi sedang sibuk dengan celemek yang terpasang di pinggangnya.

Di atas kompor, sebuah panci berisi bubur ayam sedang mendidih pelan.

Sesekali ia mengaduknya dengan telaten, memastikan teksturnya lembut agar mudah dicerna oleh Rengganis yang sedang "sakit".

Ting!

Ponselnya yang tergeletak di meja marmer bergetar. Sebuah pesan masuk dari Sarah.

Sarah (Sekretaris):

"Pak, lapor. Mbak Laras tadi datang ke kantor mencari Bapak dan memaksa meminta alamat rumah baru Bapak. Saya tidak memberikannya, tapi sepertinya beliau sangat marah. Mohon berhati-hati, Pak, sepertinya beliau tidak akan menyerah begitu saja."

Permadi membaca pesan itu dengan ekspresi datar.

Tidak ada ketakutan, hanya rasa muak yang tersirat di matanya.

Ia meletakkan kembali ponselnya dan mematikan kompor.

"Laras.. Laras.. Kamu tidak tahu kalau singa betinaku sedang dalam mode istirahat. Jangan sampai kamu membangunkannya," gumam Permadi dingin.

Ia menuangkan bubur ayam itu ke dalam mangkuk porselen, menghiasinya dengan suwiran ayam dan sedikit seledri.

Bagi Permadi, gangguan apa pun dari luar—termasuk Laras—tidak akan ia biarkan merusak kebahagiaan yang baru saja ia cicipi bersama Rengganis semalam.

Permadi mengambil nampan, menata sarapan itu dengan segelas susu hangat, lalu berjalan menaiki tangga untuk menemui istrinya kembali.

Permadi melangkah sepelan mungkin memasuki kamar, berusaha agar suara lantai kayu tidak mengejutkan istrinya. Namun, pemandangan di depannya kembali membuat hatinya menghangat.

Rengganis ternyata kembali tertidur pulas dengan posisi meringkuk miring, memeluk guling erat-erat seolah mencari kenyamanan ekstra.

Wajah istrinya tampak begitu tenang saat tidur, jauh dari kesan dokter ketus yang disegani di rumah sakit.

Permadi meletakkan nampan sarapan di atas nakas, lalu duduk di tepi ranjang.

Ia mengulurkan tangan, mengelus lembut pipi Rengganis yang masih sedikit merah.

"Sayang, ayo sarapan dulu. Nanti lanjut lagi tidurnya," bisik Permadi dengan suara rendah yang menyejukkan.

Rengganis mengerang kecil, bulu matanya yang lentik bergetar sebelum akhirnya ia membuka mata perlahan.

Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan cahaya matahari yang masuk ke kamar, lalu menatap wajah tampan suaminya yang sudah berada sangat dekat.

"Eung... Mas?" gumamnya serak.

Rengganis mencoba duduk, meskipun ia kembali meringis saat merasakan otot-ototnya masih terasa kaku.

"Maaf, aku ketiduran lagi. Rasanya badanku lemas sekali."

Permadi segera membantu menyangga

punggung Rengganis dengan bantal agar istrinya bisa duduk dengan nyaman.

"Jangan minta maaf. Tubuhmu butuh istirahat setelah, yah, kamu tahu sendiri," goda Permadi dengan kedipan mata yang membuat Rengganis langsung teringat kejadian semalam.

Rengganis membuang muka, pura-pura fokus pada mangkuk bubur yang uapnya masih mengepul.

"Baunya enak. Mas yang buat sendiri?"

"Tentu saja. Spesial untuk pasien tercinta. Aku juga sudah buatkan susu hangat," jawab Permadi bangga.

Ia mengambil mangkuk bubur itu dan menyendok sedikit, lalu meniupnya perlahan sebelum mengarahkannya ke bibir Rengganis.

"Ayo, buka mulutnya. Biar aku suapi."

Rengganis sempat ragu.

"Mas, aku bukan anak kecil. Aku bisa makan sendiri."

"Memang bukan anak kecil, tapi hari ini kamu adalah ratu di rumah ini. Jadi, menurut saja," sahut Permadi tegas namun penuh kasih sayang.

Rengganis akhirnya menyerah dan menerima suapan pertama.

Rasa gurih dan hangat dari bubur buatan Permadi seolah merambat ke seluruh tubuhnya, memberikan energi baru.

Di sela-sela suapan itu, Permadi menatap istrinya dengan lekat, namun ada sesuatu yang ingin ia sampaikan.

"Ganis," panggil Permadi lebih serius.

"Ya?"

"Tadi Sarah kirim pesan kalau Laras datang ke kantor mencariku, dia bahkan memaksa meminta alamat rumah kita. Tapi Sarah tidak memberikannya."

Gerakan mengunyah Rengganis terhenti. Matanya menatap Permadi dengan saksama.

"Laras yang dari Kanada itu? Apa dia benar-benar nekat?"

Permadi mengangguk. "Sepertinya begitu. Tapi jangan khawatir, aku sudah memperketat keamanan di gerbang depan. Tidak akan ada yang bisa masuk tanpa izin dariku. Aku hanya ingin kamu tahu supaya tidak kaget kalau suatu saat dia mencoba menghubungimu."

Rengganis terdiam sejenak, lalu ia memegang tangan Permadi yang sedang memegang sendok.

"Mas, aku tidak takut padanya. Tapi aku harap kamu juga tidak goyah hanya karena dia masa lalumu."

Permadi tersenyum, ia meletakkan mangkuk di nakas dan menggenggam tangan Rengganis erat.

"Masa laluku sudah terkubur sejak aku melihatmu sepuluh tahun lalu, Ganis. Dan sekarang, masa depanku ada di depanku, sedang makan bubur ayam."

1
falea sezi
hyper ne bahaya bgt lo klo dia g puas biasa sih selingkuh
Ita Putri
hyoer seksual dapat nya Tante" umur 40 th
falea sezi
lanjut
Rais Raisya
lanjut ka
falea sezi
Permadi jaga nafsu deh istrimu bukan gadis abg di ajak. gaya gaya demi nafsu egois gk sih
Ita Putri
ya jelas la wong masih 25 th
Endang Sulistia
asem si Permadi 🤭
Endang Sulistia
modus 🤦🤦
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Fitra Sari
lanjut KK
awesome moment
👍😄👍😄
Fitra Sari
lanjut donk KK doubel
Ita Putri
seru banget thor😄😄
Fitra Sari
makasihh Thor ...update selalu ..pkoknya lope2 seneng banget 🤣🤣😍
Fitra Sari
lanjut KK doubel up donkk 🤣😍😍😍😍
my name is pho: ok kak
sabar 🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut KK doubel2 up donk ..syuka banget sama karya2 KK ...seru banget pkok ya greget banget 🤣😍😍
my name is pho: ok kak
🥰
total 1 replies
Fitra Sari
lanjut lagi kk 😍😍😍
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
Sherin Loren
lanjut thor😎
Fitra Sari
lanjut KK ...serius bagus banget ..doubel2 pkoknya 🙏🙏😘
Fitra Sari
lanjut doubel donk KK
my name is pho: sudah kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!