NovelToon NovelToon
Fattah Possessive Badboy

Fattah Possessive Badboy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kapten cantik

DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!

"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.

Ngerti?"

"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"

"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________

Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.

Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.

Kecuali satu...

Aqqela Calista.

Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.

Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Dendam & Hancur

Fattah dan anggota LEVIAN lainnya sedang berkumpul di basecamp mereka di Jakarta Selatan.

Pemuda itu duduk bersandar di sofa sambil menghirup batang rokoknya. Tapi matanya fokus memandang sapu tangan pink di tangan kirinya sambil tersenyum miring.

"Fatt, lo nggak waras? Kita aja baru kelar tawuran sama anak Starlight dua hari lalu. Masa mau ke Jakarta Pusat lagi?" tanya Jefan-wakilnya.

"Mending nunggu luka kita kering aja deh bos," saran Matthew.

"Kita ke sana bukan buat tawuran," jawab Fattah datar.

"Terus?" Noel yang sejak tadi meminum es teh jadi menoleh.

"Gue mau balikin sapu tangan ini ke orang yang punya."

"Emang itu sapu tangan siapa? Kirain punya elo. Hampir mau gue ketawain karna warnanya pink." jawab Noel.

Fattah menarik smirk samar, "Punya Aqqela."

Matthew terbelalak, "Aqqela ceweknya Oliver? Yang cantik, terus rambutnya panjang?"

Fattah mengangguk tenang.

"Wah, anjir. Emang cari perkara lo." Jefan sambil berdiri kesal.

"Cabut!" seru Fattah memimpin.

Tidak hanya mereka ber-tiga, tapi seluruh anak buahnya yang lain mengangguk patuh dan menyusul keluar menuju ke motor sport masing-masing.

Barisan motor besar dengan para anggota memakai jaket kebanggaan mereka berwarna hitam dengan logo Cobra di punggung itu, terlihat membelah jalanan ibukota.

Mereka adalah LEVIAN. Geng motor yang berisi sekumpulan cowok-cowok tampan, nakal dan ganas yang di gilai banyak perempuan.

Terutama Fattah Andara Fernandez-pemimpin geng itu yang di kenal memiliki karisma kuat dan suka menindas.

Kekuasaan dan keberanian geng LEVIAN tidak bisa di anggap sepele.

***

Bel pulang sekolah berbunyi.

Seluruh siswa-siswi SMA Starlight berhamburan keluar kelas, termasuk Aqqela dan teman-temannya.

"Besok kerja kelompoknya jadi di rumah gue, kan?" tanya Jolina.

Natusa mengangguk, "Jadi, dong. Mumpung besok bokap keluar kota, gue nginep di rumah lo, ya?" katanya memeluk lengan Jolina ceria.

"Ihh, gue mau juga. Tapi tolong ya mbak Jolina, kamar lo harus bersih nggak boleh ada kecoa-nya," pesan Vicky.

"Ya ampun Vicky, pleasee deh. Gue selalu rajin bersih-bersih kamar. Ya kali." Jolina memutar bola matanya, membuat Vicky mencibir. Padahal terakhir kali ke rumahnya, kamar Calla berantakan seperti kandang sapi.

"Eh Qell, balik sama Oliver, kan?"

Aqqela mengangguk, walau berikutnya tersentak saat bahunya di tubruk seseorang dari belakang.

"Eh, sorry-sorry!" Gadis itu berlari lagi di susul anak-anak.

Aqqela, Jolina dan Vicky kebingungan melihat keadaan gerbang depan yang kini ramai. Murid-Murit berlarian dari dalam sekolah menuju ke depan.

"Heh-heh, ada apaan? Kok gerbang rame-rame gitu?" tanya Jolina sambil menghentikan siswi yang lewat.

"Itu di depan ada anggota Levian."

"Demi apa lo?" kata Jolina langsung histeris.

"Sumpah. Ada Fattah juga. Duluan!" pamitnya sambil berlari, sementara mata Jolina sudah berbinar-binar.

"Ada Fattah juga dong ya ampun! Qell, ke sana kuyy! Ikut nonton. Ada masa depan gue di depan," kata Vicky mengguncang lengannya.

Aqqela menggeleng, "Enggak ah, kalian aja. Gue mau bal—"

"Ah lama," kata Jolina langsung menarik tangan Aqqela antusias, membuat Aqqela hampir terjengkang.

"Minggir dikit dong anjir, gue mau lihat juga," kata Jolina dengan suara cemprengnya.

Walau mendapat tatapan kesal dan di protes banyak orang, tapi akhirnya mereka berhasil di barisan depan.

Suasana di depan Aqqela ramai oleh barisan motor sport yang di kendarai cowok-cowok ber-jaket hitam seperti geng motor.

"Vicky, elo udah tau belum Fattah yang mana? Itu yang naik ninja hitam," kata Jolina menunjuk cowok yang masih memakai helm fullface-nya.

Vicky manggut-manggut, "Bukan cuma elo, tapi gue follow instagram dia juga. Jadinya gue udah tau hihi," katanya kegirangan, membuat keduanya cekikikan dan beradu tos.

"Dasar terong balado!" umpat Aqqela membuat keduanya melotot.

Pandangan Fattah berlarian melihat sekeliling mencari gadis itu.

Sampai matanya berhenti di satu titik.

Pada Aqqela yang mengumpat saat jidatnya di tabok satu temannya.

"Terong balado enak anjir," sewot Vicky.

Fattah menyeringai samar dan langsung melepas helm fullface-nya.

"Woi, Fattah ganteng banget. Ya ampun, jantung gue mau meledak!!"

"Parah anjir, keren banget."

"Eh, mereka mau ngapain ya ke sini? Jangan-jangan mau ngapelin gue?"

"Stop halu!"

Fattah turun dari atas motornya dan berjalan ke arah Aqqela yang malah sibuk berdebat sama Jolina.

Sampai Jolina melotot duluan saat sadar Fattah mendekat.

"Udah gue bilang ya Jo, kalau Jaenudin itu—AAAAAA MAMAH!" Aqqela memekik sakit saat kakinya di injak Jolina.

"Lihat depan lo bego, depan lo!" bisik Vicky ikutan gemas.

Aqqela reflek menoleh dan jadi membelalak melihat Fattah di depannya.

"Punya lo, gue balikin!" Fattah menyodorkan sapu tangan pink ke arah gadis itu.

"Ommo!" Jolina membekap mulutnya dengan mata membulat shock.

Semua murid yang menonton jadi ikutan melebarkan mata, sementara sisanya merengek-rengek envy.

Aqqela ternganga, "Elo se-gabut itu? Dari Jaksel ke Jakpus cuma buat balikin sapu tangan doang?"

Alis Fattah terangkat sebelah, "Kenapa? Kan ini punya lo, makanya gue balikin," sahutnya serak.

"Sebenarnya nggak di balikin juga nggak papa. Gue ada banyak kok di rumah. Tapi makasih ya udah di balikin!" katanya meraih sapu tangan itu.

Jolina menyenggol lengan Aqqela penuh kode, "Qell, itu ada Oliv—"

"Ngapain lo ke sekolah gue?"

Keadaan tiba-tiba berubah tegang saat sosok Oliver muncul dengan para murid lain memberikannya jalan.

Pemudah itu malangkah di susul lima anggota XLOVENOS yang lain.

"Gue lagi nggak ada urusan sama lo," jawab Fattah dingin.

Oliver tersenyum sinis, "Oh, ya? Elo datang ke sekolah gue, bawa pasukan, apa namanya kalau nggak nantangin buat ribut?"

"Oliver udah, jangan berantem!" Aqqela menarik lengan Oliver agar mundur.

"Gue ke sini karena ada urusan sama dia," kata Fattah menunjuk Aqqela.

Oliver tersentak dan menoleh ke pacarnya, "Qell, kamu kenal sama dia? Kok nggak ngomong aku?"

"Enggak, aku nggak kenal." Aqqela menggeleng cepat.

Oliver menoleh ke Fattah lagi dan menatapnya sengit.

"Apa mau lo? Jangan berani-berani buat bawa cewek gue ke masalah kita!" desisnya tajam.

Fattah mengusap pangkal hidungnya sambil tersenyum miring.

"Gue nggak akan bawa cewek lo ke urusan kita. Tapi ngomong-ngomong, gue nggak tau kalau lo bisa se-bucin ini," kata Fattah.

"Bukannya sama kayak lo?"

Ekspresi wajah Fattah mendadak berubah dingin, "Apa maksud lo?"

"Yang masih bucin, padahal cewek lo udah mati."

BUGH!!

"ANJING LO!" Kepalan tangan Fattah mendarat ke rahang Oliver.

"Heh, udah-udah! Fattah udah!!!" panik Aqqela memisahkan mereka, "OLIVER, STOP!" teriaknya sambil menahan-nahan tubuh Oliver, saat Oliver hendak maju membalas.

Anggota Levian dengan cepat menahan Fattah mundur.

"Bos, udah bos! Istighfar! el bantu tahan lah, anjer!"

"Fat, elo udah janji buat nggak berantem hari ini. Kontrol emosi lo!" Kata Jefan menahan tangannya.

Fattah mendesah kasar dengan dadanya naik turun memandang Oliver tajam, "Urusan kita belum selesai, ya!" ancamnya tak main-main, membuat Oliver terkekeh tak takut.

Fattah kini maju, menarik tangan Aqqela tiba-tiba, menyentakkan tubuh gadis itu ke arahnya, membuat semua orang kaget.

"Siapin diri lo! Elo bakalan hancur nanti malam," bisiknya membuat mata Aqqela melebar.

Oliver berdecak, menarik tangan Aqqela mundur, "Fattah, elo—"

"Cabut!" seru Fattah memimpin.

Perintahnya langsung di ikuti patuh anggota Levian.

Mereka segera menghidupkan motor masing-masing dan beranjak pergi dari sana.

Meninggalkan keramaian di gerbang SMA Starlight, termasuk Aqqela yang terpaku diam karena ucapan Fattah.

'Serius, apa maksudnya?

***

Sebuah Limosin hitam mengkilat berhenti di depan sebuah bangunan tua terbengkalai berlantai lima, di susul empat mobil di belakangnya.

Para ajudan berseragam rapi turun dan membukakan pintu Limosin, mempersilakan pria tampan 43 tahun keluar, di susul oleh pemuda berwajah dingin, 17 tahun.

"Dimana dia?"

"Sudah ada di rooftop tuan. Kami sudah berhasil memancingnya untuk datang kemari," lapor sang ajudan.

"Ayo Fattah, kita ke atas!"

Dengan langkah lebar di ikuti para ajudannya, mereka memasuki gedung kosong itu menuju ke rooftop.

Di rooftop, Donny Michael terlihat panik karena nomor yang di hubungi justru sudah tidak terdaftar.

"Brengsek! Kemana dia?"

Michael jelas murka. Malam ini, dia memiliki janji temu dengan pemilik restoran sekaligus pemilik CCTV asli. CCTV rekaman jejak saat mobilnya menabrak Aphrodite 1 tahun lalu.

Jika CCTV itu benar-benar di bocorkan, maka tamat riwayat Michael.

"Kenapa nomornya tidak bisa di hubungi? Apa dia mau bermain-main denganku? Kurang ajar!" katanya geram.

"Menungguku?"

Michael tersentak dan menoleh kaget.

Ekspresinya mendadak berubah saat melihat Jordan Davian Fernandez-pengusaha ternama di Indonesia sudah berdiri di depannya bersama anak dan beberapa ajudannya.

Michael mengenalnya, karena beberapa kali bertemu di acara penting.

"Pa-pak Jordan? Kenapa bapak bisa di sini?"

Fattah menatap pria itu tenang, "Lo ke sini buat ini, kan?" Dia mengangkat sebuah flashdisk di tangannya.

"Ya?" Kening Michael berkerut tak paham.

"Di dalam flashdisk ini, ada copy-an rekaman CCTV tentang kecelakaan Sandrina satu tahun lalu. Ini kan yang lo cari?"

Michael membulatkan mata, "Bagaimana kamu tau?"

Fattah terkekeh pelan dan melangkah mendekatinya.

BUGH!!!

"Akh!" Michael terlempar ke belakang setelah perutnya di tendang keras oleh Fattah.

Fattah menarik kerah Michael kasar membuatnya tercekik, "Menurut lo, gue bakalan tinggal diam aja setelah lo bunuh cewek gue?"

Michael sukses membeku di tempat.

"A-apa?"

"Cewek yang lo bunuh satu tahun lalu, itu cewek gue anjing!" bentaknya sambil melayangkan pukulan keras ke rahang Michael yang gemetaran.

Jordan-ayahnya hanya diam melihat itu, membiarkan putranya membabi buta Michael dengan pukulan.

Mata Michael mulai memerah dengan tubuh gemetar ketakutan.

"Saya minta maaf! Saya benar-benar menyesal sudah-"

BRUGH!!

"Brengsek!" sentak Fattah melayangkan pukulan lagi.

Fattah mencengkram leher Michael kuat sampai dia tercekik, "Jangan mimpi buat dapat maaf dari gue! Gue bahkan bersumpah buat nge-hancurin hidup lo, sama persis dengan apa yang lo lakuin ke Sandrina."

Michael mulai menangis ketakutan, "Ampun, saya salah! Ampun!"

Michael memekik kesakitan saat menerima pukulan lagi. Dia tak mampu melawan.

"Pembunuh kayak lo, nggak akan gue kasih ampun anjing," teriak Fattah menginjak perutnya kasar.

Michael terbatuk-batuk dan sudah tak berdaya dengan wajahnya yang kini babak belur di tangan Fattah.

"Boy, cukup!" kata ayahnya tegas, membuat Fattah menoleh protes.

"Pi, tapi dia-"

"Bukannya lebih seru kalau kita langsung membunuhnya?" ucapnya sambil mengangkat pistol.

Michael terbelalak dan menggeleng sambil berlari ke arah Jordan, lalu berlutut di sana.

"Tidak tuan, saya mohon jangan! Saya masih punya seorang putri. Jangan bunuh saya!" katanya menangis memohon ampun.

"Lepas brengsek!" Jordan menendangnya kasar, membuat Michael jatuh ke belakang.

Tubuhnya sudah berkeringat dingin dengan air mata bercucuran.

"Maafkan saya! Saya terpaksa melakukan itu setahun lalu. Saya benar-benar tidak punya pilihan lain."

"Aku juga tidak ada pilihan lain selain membunuhmu," kata Jordan tajam.

Fattah menatap para ajudan papanya, "Tembak dan habisi dia sekarang!"

Para ajudan mulai mengangkat senjata api mereka dan menodongkan ke arah Michael yang kini menggeleng ketakutan sambil berlutut memohon belas kasihan mereka.

***

[Nomor Tidak Di Kenal]: Datang ke gedung

kosong di jalan Darmawangsa, sebelum bokap lo benar-benar lenyap.

Sudah dua puluh menit sejak pesan itu dia terima, Aqqela menancap gas mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalan raya.

Harusnya dia berpikir bahwa pesan itu hanya untuk menipunya. Sayangnya dia benar-benar takut sekarang.

"Papa nggak papa. Gue nggak perlu khawatir soal apapun. Dia pasti lagi baik-baik aja sekarang," gumamnya meyakinkan diri sendiri.

Aqqela hanya perlu ke sana untuk memastikan apa yang terjadi.

Mobil itu berbelok memasuki area depan gedung. Alisnya terangkat melihat deretan mobil mewah di halaman gedung kosong itu.

BRAKKKK!!!

Aqqela tersentak saat sebuah tubuh manusia terlempar keras dari atas dan jatuh tepat di depan mobilnya.

Aqqela membulatkan mata dengan tubuh membeku shock saat lampu mobilnya menyorot ke mayat pria yang tengkurap dengan darahnya berceceran di tanah.

itu. Tidak salah lagi. Aqqela mengenali siapa pria

"YA TUHAN PAPAHHHH!!!" Aqqela menjerit dan berlari ke arah ayahnya.

"Papah bangun, pah! Jangan tinggalin Aqqela!!" teriaknya sambil menangis histeris mengguncang tubuh ayahnya yang sudah tidak bernyawa.

"Papah, please bangun! Papa denger Aqqela, kan? Ya Tuhan, ini gimana?? PAPAHHH!!" Gadis itu terisak hebat memeluk jasad ayahnya.

Aqqela terus mengguncang tubuh ayahnya dan menjerit histeris.

Walau sekarang, kepalanya perlahan mendongak ke arah atas.

Lebih tepatnya rooftop.

Meskipun tidak jelas, tapi Aqqela menangkap siluet banyak laki-laki berpakaian hitam di atas.

Dan satu orang itu, dia mengenali wajahnya...

Ryshaka?

***

1
Amanda Safira
Mirip cerita Natusa&Rhysaka di pf sebelah kak, Aku termasuk followers penulisnya 😂
Langit Biru
kamu terinspirasi dari sinet agz ya? semangat menulis nya, ntar kalau udh tamat aku kemari lagi😍
Kapten Cantik: Terima kasih kk suportnya🙏😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!