NovelToon NovelToon
Pernikahan Berdarah Mafia

Pernikahan Berdarah Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / CEO / Action / Dark Romance / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.

Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.

Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan Bratva

Lima hari berlalu sejak aku menemukan brankas itu. Lima hari aku tidak bicara pada Damian lebih dari yang diperlukan. Lima hari aku mencoba memahami perasaanku yang kacau.

Marah? Ya.

Dikhianati? Sangat.

Tapi meninggalkannya? Entah kenapa aku tidak bisa.

Dan itu yang paling membuatku gila.

Damian membiarkanku marah. Tidak memaksa bicara. Hanya menatapku dengan tatapan yang penuh penyesalan dan cinta yang rusak itu.

Lukanya sudah mulai membaik. Dia bisa berjalan tanpa meringis. Bisa bergerak lebih leluasa.

Dan dia kembali ke rutinitas mengerikannya. Rapat. Pertemuan. Urusan bisnis yang aku tahu bukan bisnis biasa.

Malam ini dia ada di ruang kerjanya. Rapat dengan Marco dan beberapa orang lain. Aku bisa mendengar suara mereka dari kamar. Tegang. Serius.

Aku duduk di tepi tempat tidur. Menatap pistol kecil yang Damian berikan padaku minggu lalu.

"Simpan ini," katanya waktu itu. "Kalau ada apa-apa, kau tahu cara menggunakannya."

Pistol kecil. Muat di telapak tangan. Tapi cukup mematikan dari jarak dekat. Aku mengambilnya. Merasakan beratnya. Logam dingin yang sekarang terasa familiar.

Latihan menembak setiap pagi sudah mengubahku. Tanganku tidak gemetar lagi ketika memegang senjata. Mata bisa membidik target dengan presisi.

Tapi target kertas sangat berbeda dengan manusia.

Bisakah aku benar-benar menembak seseorang? Pertanyaan itu belum terjawab ketika aku mendengar suara ledakan dari luar.

DUAARRR!

Jendela bergetar. Lampu berkedip.

Aku melompat dari tempat tidur. Berlari ke jendela.

Di taman bawah, api menyala. Gerbang depan hancur. Dan ada orang-orang berpakaian hitam melompat masuk. Banyak. Sangat banyak.

Lebih dari dua puluh orang, tembakan mulai terdengar. Pengawal Damian membalas tembakan. Tapi mereka kalah jumlah.

Pintu kamar terbuka dengan keras. Marco masuk dengan wajah panik.

"Nyonya, kami diserang!" teriaknya. "Bratva. Mereka datang dengan pasukan besar. Nyonya harus ke ruang aman sekarang!"

"Damian?" tanyaku sambil meraih pistol di tempat tidur.

"Tuan sudah di bawah. Dia bilang Nyonya harus ke ruang aman. Sekarang!"

Tapi aku tidak bergerak ke arah yang Marco tunjuk, aku berlari keluar kamar dan menuju tangga.

"NYONYA!" teriak Marco.

Aku tidak memperdulikan teriakan dari Marco, aku berlari menuruni tangga. Suara tembakan semakin keras, bahkan semakin dekat.

Di ruang tamu, aku melihatnya. Kekacauan, tubuh-tubuh yang bergelimpangan. Pengawal Damian, dan orang-orang asing yang berpakaian hitam.

Dan Damian, dia berdiri di tengah dengan pistol di kedua tangan. Menembak, bergerak, menghindari peluru. Seperti menari di tengah hujan peluru.

"ALEXA!" teriaknya ketika melihatku. "APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?"

"AKU TIDAK AKAN BERSEMBUNYI!" teriakku balik.

Dia ingin protes tapi harus menunduk menghindari peluru. Membalas tembakan. Satu pria jatuh dengan kepala berdarah.

Aku berlindung di balik pilar besar. Mengamati situasi. Ada terlalu banyak penyerang. Pengawal Damian terus berjatuhan. Tinggal Damian, Marco, dan tiga orang lain yang masih berdiri.

Sementara penyerang masih ada lebih dari sepuluh orang. Damian tidak akan menang kali ini. Tanganku menggenggam pistol erat. Jantung berdetak sangat kencang. Napas pendek.

Bisakah aku melakukan ini?

Bisakah aku membunuh orang?

Lalu aku melihatnya, salah satu penyerang bergerak di bayang-bayang. Mendekat ke arah Damian dari belakang. Damian tidak melihatnya, dia terlalu fokus pada musuh yang ada di depan.

Penyerang itu mengangkat senjatanya, lalu mengarahkannya ke kepala Damian.

Tidak, aku tidak berpikir, tubuh bergerak sendiri. Mengangkat pistol dan membidiknya.

Ingat latihan, posisi kaki, posisi tangan, tarik napas, dan buang perlahan.

Penyerang itu menekan pelatuknya, begitu juga dengan aku.

DUAR!

Dua tembakan hampir bersamaan, tapi punyaku lebih cepat sedikit, hanya beda sepersekian detik.

Cukup untuk membuat peluruku menembus dada penyerang itu, sebelum dia menembak Damian. Penyerang itu terhuyung, menatap dadanya yang berdarah dengan mata membelalak lalu terjatuh.

Aku membunuh seseorang, aku baru saja membunuh seseorang. Tangan mulai gemetar, pistol pun hampir jatuh.

Tapi tidak ada waktu untuk merasa shock. Penyerang lain sudah melihatku, dan mengarahkan senjatanya.

Aku menembak lagi, tapi meleset hanya mengenai bahu. Dia tetap berdiri, dan menekan pelatuknya.

DUAR!

Peluru bersiul melewati kepalaku. Menghantam pilar di belakang. Serpihan marmer beterbangan. Aku menembak lagi, kali ini tepat di bagian dada, dan dia mulai terjatuh.

Dua orang, aku sudah membunuh dua orang.

"ALEXA! KE SINI!" teriak Damian.

Aku berlari ke arahnya. Peluru terus bersliweran. Aku tidak tahu bagaimana aku tidak tertembak. Damian menarikku ke balik meja besar yang terbalik. Perlindungan sementara.

"APA KAU SUDAH GILA?!" teriaknya sambil tetap menembak. "Aku bilang ke ruang aman!"

"Dia akan membunuhmu!" teriakku balik. "Dia akan menembakmu dari belakang! Aku harus..."

"Kau bisa mati!"

"KAU JUGA!"

Peluru menghujani meja. Kayu terpecah. Tidak akan bertahan lama. Damian melirikku sekilas. Ada sesuatu di matanya. Sesuatu antara marah dan bangga?

"Berapa peluru yang tersisa?" tanyanya.

Aku memeriksa pistol. "Empat."

"Cukup." Dia mengintip dari balik meja. Menghitung. "Masih ada tujuh orang. Marco punya tiga. Aku punya delapan. Kau punya empat."

Dia menatapku.

"Ketika aku bilang sekarang, kau tembak yang di kiri. Aku ambil yang tengah dan kanan. Mengerti?"

Aku mengangguk. Napas tercekat tapi tangan stabil.

"Sekarang!"

Kami berdiri dan menembak secara bersamaan.

DUAR! DUAR! DUAR!

Suara tembakan menggelegar. Asap memenuhi ruangan. Tiga penyerang jatuh, dan hanya tersisa satu lagi. Pria besar dengan bekas luka di wajahnya, sepertinya pemimpin mereka.

Dia mengarahkan senjata ke arah Damian, tapi pistolku lebih cepat.

DUAR!

Tepat di baguan jantung, dia jatuh dengan bunyi keras, dan tidak bergerak lagi.

Senyap. Hanya tersisa suara napas kami yang terengah-engah. Asap perlahan menghilang, memperlihatkan kekacauan di ruangan.

Tubuh di mana-mana, darah menggenang di lantai marmer yang indah. Dan aku berdiri di tengahnya, dengan pistol masih berasap di tangan. Aku menatap tangan yang memegang pistol, tangan yang baru saja membunuh empat orang.

Aku membunuh empat orang, seharusnya aku merasa ngeri, merasa bersalah, dan menyesal. Tapi yang aku rasakan hanya kosong, tidak ada penyesalan ataupun kesedihan. Yang ada, aku hanya merasakan kepuasan.

"Alexa."

Terdengar suara Damian memanggilku, aku pun menoleh.

Dia berdiri di sampingku, wajahnya terciprat darah. Mata menatapku dengan tatapan yang intens.

"Kau menyelamatkan hidupku," katanya pelan.

Aku tidak menjawab. Hanya menatap pistol di tanganku. Damian meraih daguku. Memaksaku menatapnya.

"Kau membunuh untuk pertama kalinya," katanya. Suaranya lembut. Memahami. "Dan kau lakukan dengan sempurna."

"A-aku..."

"Kau melindungi orang yang kau cintai," lanjutnya. Ibu jarinya mengusap pipiku. "Tidak ada yang salah dengan itu."

Cintai, dia bilang aku mencintainya. Dan aku tidak menyangkal. Karena dia benar, aku mencintainya dengan cara yang sama rusaknya, seperti dia mencintaiku.

"Aku membunuh mereka," bisikku. Suaraku datar.

"Ya."

"Empat orang."

"Ya."

"Dan aku tidak merasakan apapun."

Damian tersenyum. Senyum yang membuat bulu kudukku berdiri.

"Itu karena kau sudah berubah," bisiknya. "Kau bukan lagi gadis yang pertama kali kulihat di perpustakaan. Kau sudah jadi seperti aku."

Dia menarikku ke pelukannya. Pelukan yang erat. Yang hangat.

"Kau sudah jadi ratuku," bisiknya di telingaku. "Ratu yang bisa membunuh tanpa ragu. Yang bisa berdiri di sampingku di tengah darah dan api."

Tangannya mengelus rambutku.

"Dan aku sangat bangga padamu."

Dia bangga karena aku membunuh, dan bagian paling menakutkan adalah, aku juga bangga pada diriku sendiri.

Aku memeluknya balik. Menenggelamkan wajahku di dadanya yang berbau darah dan mesiu.

"Aku mencintaimu," bisikku. Pertama kalinya aku mengucapkan kata-kata itu. "Aku membenci diriku sendiri karenanya. Tapi aku mencintaimu."

Damian menarik wajahku. Menatapku dengan mata yang penuh dengan emosi yang tidak bisa dijelaskan.

"Dan aku mencintaimu," katanya. "Dengan seluruh jiwaku yang rusak. Dengan seluruh hatiku yang mati."

Lalu dia menciumku di tengah kekacauan, di tengah mayat-mayat, dan di tengah darah dan kehancuran.

Ciuman yang penuh dengan keputusasaan dan kegilaan. Ciuman dua monster yang menemukan satu sama lain di kegelapan.

Dan ketika dia melepaskan bibirku, aku tahu, tidak ada jalan kembali lagi. Garis terakhir sudah dilanggar, moral terakhir sudah hancur.

Aku sudah menjadi sepertinya, pembunuh, monster, dan ratu di kerajaan berdarah. Dan aku tidak tahu lagi, apakah aku akan menyesal atau malah merasa lega.

***

Sisa malam dihabiskan untuk membersihkan kekacauan. Mayat-mayat dibawa pergi. Darah dibersihkan. Kerusakan diperbaiki.

Pagi datang dengan mansion yang terlihat normal lagi. Seperti tidak terjadi pertempuran berdarah semalam.

Tapi aku berubah selamanya, aku berdiri di kamar mandi menatap pantulan di cermin.

Wanita yang menatap balik bukan lagi aku yang dulu. Ada kegelapan di matanya. Kekosongan. Dan sesuatu yang lebih berbahaya.

Kekuatan yang datang dari mengetahui aku bisa membunuh, dan tidak merasa bersalah. Damian masuk ke kamar mandi, lalu memelukku dari belakang.

"Menyesal?" tanyanya sambil menatap pantulanku di cermin.

Aku diam cukup lama, mencari penyesalan di hatiku. Tapi itu semua tidak ada.

"Tidak," jawabku akhirnya. "Aku tidak menyesal."

Damian mencium bahuku.

"Bagus," bisiknya. "Karena ini baru permulaan. Bratva tidak akan berhenti. Mereka akan datang lagi. Dengan pasukan lebih besar."

Dia berbalik memutarku. Menatapku.

"Dan kau harus siap," katanya. "Siap untuk membunuh lagi. Dan lagi. Sampai tidak ada yang tersisa."

Aku menatap matanya. Mata gelap yang dulu membuatku takut. Sekarang hanya membuat dadaku hangat.

"Aku siap," kataku. Dan aku serius.

Damian tersenyum. Senyum yang jarang dia tunjukkan. Senyum yang benar-benar tulus.

"Aku tahu," katanya. "Makanya aku mencintaimu."

Dan kami berdiri di sana. Dua jiwa rusak yang menemukan keutuhan di dalam kehancuran satu sama lain.

Tidak ada lagi hitam dan putih, hanya abu-abu gelap yang tak berujung, dan aku sudah tidak peduli lagi.

Tapi pertanyaan terus menghantuiku, bahkan ketika aku sudah tertidur di pelukannya: apakah aku membunuh mereka untuk melindunginya, atau karena bagian gelapku sudah terbangun sepenuhnya, dan aku menikmati sensasi kekuatan itu?

Dan yang lebih menakutkan, ketika Bratva datang lagi dengan pasukan yang lebih besar, apakah aku akan ragu? Atau aku akan menembak tanpa berpikir? Seperti monster yang sudah tumbuh perlahan dalam diriku.

1
Lubis Margana
posisi mu sangat sulit alexa berpihaklh sementara pada suami mu agar kau dapat cela..bisa lari dari suami mu
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
karya yang aku baca dengan menghabiskan 1/2 hari dengan fon...
Leoruna: knapa lgi tuh/Shy/
total 1 replies
kesyyyy
mantep bangett
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
cerita tentang kau dan aku🎼🎶🎵
Leoruna: astaga, knapa jdi kesana/Facepalm/
total 1 replies
kesyyyy
serem, tapi seruuu🤭
Leoruna: mkasih kak🤭🙏
total 1 replies
🌻🇲🇾Lili Suriani Shahari
wow!!!!!
Leoruna: knapa tuh/Shy/
total 1 replies
Rahmawaty24
Ceritanya bagus
Leoruna: makasih, kak☺🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!