Di dunia tempat kekuatan adalah hukum dan kelemahan adalah dosa, Qiu Liong hanyalah sampah sekte murid buangan dengan akar spiritual retak, bahan ejekan, dan simbol kegagalan.
Ia dihina, dipermalukan, bahkan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya.
Namun takdir berputar ketika ia menemukan Inti Kekosongan Tanpa Batas, warisan kuno dari dewa yang telah musnah. Kekuatan itu bukan sekadar energi… melainkan kemampuan untuk menembus hukum langit, menelan takdir, dan menciptakan ulang realitas.
Dari seorang pecundang yang diinjak-injak, Qiu Liong bangkit.
Ia akan merobek langit. Menghancurkan para dewa. Dan memahat namanya sebagai legenda yang tak akan pernah pudar.
Karena ketika dunia menertawakannya…
ia diam-diam sedang belajar menjadi tak terbatas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murid yang Tak Dikenal
Kepulangan Qiu Liong ke Sekte Awan Giok tidak disertai pengumuman.
Tidak ada upacara.
Tidak ada sambutan.
Namun perubahan selalu lebih cepat terasa daripada terlihat.
Saat ia melangkah melewati gerbang batu sekte, beberapa murid yang berjaga sempat menoleh.
Salah satu dari mereka berbisik pelan, cukup pelan untuk terdengar.
“Itu dia.”
Qiu Liong tidak menanggapi.
Langkahnya tetap tenang.
Namun ia bisa merasakan sesuatu yang berbeda.
Dulu, ketika ia berjalan melewati halaman latihan, orang-orang melihatnya dengan dua cara: mengabaikan, atau meremehkan.
Kini
tatapan mereka tidak lagi sama.
Ada jarak.
Ada rasa ingin tahu.
Dan ada sesuatu yang lebih sulit dijelaskan.
Kewaspadaan.
Seorang murid luar yang dulu sering menertawakannya kini menunduk sedikit saat berpapasan.
Tidak dalam penghormatan penuh.
Namun cukup untuk menunjukkan perubahan posisi.
Qiu Liong merasakan perasaan aneh di dadanya.
Bukan bangga.
Bukan puas.
Melainkan asing.
Seolah ia sedang berjalan di tempat yang ia kenal, namun bukan lagi bagian darinya.
Di Aula Luar, latihan berlangsung seperti biasa.
Namun ketika ia memasuki lingkaran latihan, percakapan terhenti sejenak.
Beberapa murid berusaha terlihat normal.
Beberapa menatapnya terang-terangan.
Gu Shen tidak terlihat.
Namun pengaruh duel itu masih menggantung di udara.
Qiu Liong mengambil pedang latihan kayu.
Ia mulai berlatih gerakan dasar.
Sederhana.
Terukur.
Namun qi di dalam dirinya kini mengalir lebih halus.
Lebih dalam.
Seorang murid baru wajahnya belum pernah ia lihat sebelumnya berdiri tidak jauh darinya.
Tatapannya tajam.
Bukan kagum.
Bukan iri.
Melainkan menilai.
“Jadi kau Qiu Liong,” katanya tiba-tiba.
Suaranya datar.
Qiu Liong berhenti, menoleh.
“Aku tidak merasa terkenal.”
Murid itu tersenyum tipis.
“Orang yang mengalahkan Gu Shen biasanya akan dikenal.”
Ada nada ringan dalam kata-katanya.
Namun di baliknya, Qiu Liong merasakan tekanan tipis.
Aura murid itu berbeda.
Tersembunyi.
Terkendali.
“Namaku Liang Zhen,” lanjutnya. “Murid pindahan dari Cabang Selatan.”
Qiu Liong mengangguk.
Ia pernah mendengar bahwa Cabang Selatan sering mengirim murid berbakat untuk ditempa di pusat sekte.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Qiu Liong tenang.
Liang Zhen memutar pedang kayunya dengan santai.
“Hanya ingin melihat apakah rumor itu dilebih-lebihkan.”
Beberapa murid di sekitar mulai memperhatikan.
Ketegangan tipis kembali menyelimuti aula.
Namun Qiu Liong tidak merasakan dorongan untuk langsung menerima tantangan.
Ia justru mengamati.
Tatapan Liang Zhen tidak seperti Gu Shen.
Tidak dipenuhi kesombongan.
Namun juga tidak kosong.
Ada ketenangan yang mengingatkannya pada seseorang
dirinya sendiri, beberapa hari lalu.
“Aku bukan rumor,” jawab Qiu Liong akhirnya. “Aku hanya murid yang berlatih.”
Liang Zhen tertawa pelan.
“Justru itu yang membuatmu menarik.”
Mereka tidak langsung bertarung.
Tidak ada duel resmi hari itu.
Namun percakapan singkat itu cukup untuk menanam benih baru.
Di malam hari, Qiu Liong duduk bermeditasi.
Ia memikirkan tatapan murid baru itu.
Berbeda dari yang lain.
Tidak terpancing oleh reputasi.
Tidak terintimidasi.
Seolah ia melihat Qiu Liong sebagai sesuatu yang belum selesai.
“Murid yang tak dikenal…” gumam Qiu Liong.
Dulu, ia sendiri adalah murid yang tak dikenal.
Diabaikan.
Tak diperhitungkan.
Kini, ia berdiri di posisi yang sama namun dari sisi berbeda.
Ia menyadari sesuatu yang halus.
Dunia tidak pernah berhenti bergerak.
Saat satu kesombongan retak, tantangan baru muncul.
Saat satu bayangan runtuh, bayangan lain bangkit.
Ia tidak lagi menjadi pecundang.
Namun juga belum menjadi legenda.
Dan di antara dua titik itu
akan selalu ada orang-orang seperti Liang Zhen.
Murid yang datang tanpa sejarah di matanya.
Yang melihatnya bukan sebagai korban masa lalu.
Bukan sebagai pemenang duel.
Melainkan sebagai batu ujian berikutnya.
Qiu Liong membuka mata perlahan.
Di dalam kehampaan batinnya, Inti Kekosongan berputar tenang.
Ia tidak merasa terancam.
Namun juga tidak meremehkan.
Jika jalan menuju puncak memang ada,
maka setiap langkah akan mempertemukannya dengan orang-orang baru.
Orang-orang yang tidak mengenalnya.
Dan mungkin
tidak takut padanya.
Ia menarik napas dalam.
Lalu menghembuskannya perlahan.
Perjalanan ini belum selesai.
Dan murid yang tak dikenal itu
mungkin adalah awal dari babak baru.
jangan bikin kecewa ya🙏💪