NovelToon NovelToon
MENAGIH JANJI MASA KECIL

MENAGIH JANJI MASA KECIL

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Sejak kecil, Ariya Raditya sudah mengikat Arumi Devita Ningrum dengan sebuah janji.

“Kamu harus jadi pengantinku.”

Janji yang terdengar polos saat kanak-kanak itu berubah menjadi luka saat dewasa. Hasutan, salah paham, dan pengkhianatan membuat mereka saling membenci, hingga Ariya memilih menikahi perempuan lain.

Namun takdir tidak pernah lupa pada janji lama. Sebuah kecelakaan membuat Ariya lumpuh. Calon pengantinnya kabur di hari pernikahan.

Dan Arumi… dipaksa menggantikan posisi yang seharusnya bukan miliknya. Menikahi pria yang dulu ia cintai. Menjadi istri dari lelaki yang kini membencinya.

Terikat oleh janji masa kecil yang kembali ditagih dengan kejam. Apakah ini akhir dari luka… atau awal dari cinta yang lebih menyakitkan?

Penasaran? Yuk ikuti cerita Ramanda dan jangan lupa berikan dukungannya ya terimakasih 🙏🏻.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANGAN YANG TERLINTAS.

Aroma nasi uduk yang gurih menyeruak ke seluruh penjuru ruang makan pagi itu. Nenek dan Heni ternyata sudah sibuk di dapur sejak fajar menyingsing. Kolaborasi antara resep desa yang otentik dan fasilitas dapur modern menghasilkan hidangan yang luar biasa lezat. Arumi duduk di antara Ariya dan Nenek, ia tampak begitu menikmati setiap suapan nasi uduk tersebut.

"Masakan Nenek benar-benar juara. Arum rasanya tidak mau berhenti makan," puji Arumi dengan mata berbinar.

Heni tersenyum tulus melihat menantunya mulai memiliki nafsu makan yang baik. "Iya, Mama juga harus belajar banyak dari Nenek. Rahasia sambal kacangnya ini benar-benar enak."

Di tengah suasana hangat itu, ponsel Ferdiansyah yang terletak di atas meja bergetar. Ia melirik layar dan melihat nama Erwin tertera di sana. Suasana meja makan mendadak sedikit kaku saat Ferdiansyah mengangkat panggilan tersebut dan mengaktifkan pengeras suara atas permintaan Ariya.

"Halo, Ferdi. Aku mendengar Arumi sudah pulang dan berada di rumahmu. Mengapa kau tidak memberitahuku lebih awal?" suara Erwin terdengar penuh tuntutan di seberang sana.

Ferdiansyah menarik napas panjang. "Dia baru saja tiba dan kondisinya belum stabil, Win. Dia butuh istirahat total."

"Aku adalah ayahnya. Aku sudah menyiapkan acara syukuran besar-besaran sore ini di rumah sebagai tanda syukur dia selamat. Bawa seluruh keluargamu ke sini. Aku tidak menerima penolakan," tegas Erwin sebelum mematikan sambungan telepon sepihak.

Ariya langsung meletakkan sendoknya dengan kasar. Wajahnya menegang. "Pa, Arya tidak setuju. Arumi masih hilang ingatan. Membawanya ke rumah itu sama saja dengan melemparkannya ke sarang serigala. Arya takut Rina akan melakukan sesuatu yang buruk."

Ferdiansyah menatap putranya dengan pandangan bijak. "Dia tidak akan berani, Arya. Ada Papa dan penjaga di sana. Kadang, menghadapi ketakutan adalah satu-satunya cara untuk memicu ingatan yang hilang. Kita akan pergi, tapi kita akan mengawasinya seperti elang."

Untuk mengusir ketegangan sebelum acara sore hari, Ariya memutuskan mengajak Arumi, kakek, dan nenek pergi ke pusat perbelanjaan. Ia ingin membelikan mereka pakaian yang layak untuk acara tersebut. Arumi tampak sangat bahagia, ia terus menggandeng tangan Nenek dengan manja, sementara Ariya berjalan bersisian dengan Kakek di belakang mereka.

"Lihatlah Ayu, Nak Ariya. Dia sangat bahagia saat merasa dicintai tanpa tuntutan," bisik Kakek sambil memperhatikan punggung Arumi.

Ariya menoleh. "Maksud Kakek?"

Kakek tersenyum tipis, matanya menyiratkan pengalaman hidup yang panjang. "Sebagai suami, jangan terlalu banyak menuntut agar dia menjadi seperti yang kau mau. Jika kau terlalu menekan, dia akan menjauh seperti burung yang terkekang. Biarkan dia terbang bebas dalam kasih sayangmu, maka dia akan selalu pulang padamu dengan sukarela."

Ariya terdiam, meresapi setiap kata nasihat itu. Ia menyadari betapa selama ini ia hanya mementingkan egonya sendiri tanpa memikirkan kebahagiaan Arumi. Setelah membelikan beberapa setel pakaian berkualitas untuk mereka semua, rombongan itu segera pulang untuk bersiap-siap.

Sore harinya, kediaman keluarga Ferdiansyah tampak sibuk. Arumi keluar dari kamar dengan penampilan yang memukau. Ia mengenakan gamis berwarna dusty pink dengan hijab senada yang membingkai wajah cantiknya dengan sempurna. Ariya menyusul di belakangnya, memakai kemeja batik dengan motif dan warna yang serupa. Mereka benar-benar terlihat seperti pasangan yang serasi.

"Wah, anak dan menantu Mama cantik dan tampan sekali. Kalian terlihat sangat serasi memakai baju seragam seperti itu," puji Heni dengan mata berkaca-kaca.

Mereka berangkat dengan dua mobil mewah. Perjalanan menuju rumah Erwin terasa sangat panjang bagi Ariya. Ia terus menggenggam tangan Arumi yang terasa dingin. Begitu mereka sampai di depan gerbang rumah besar milik Erwin, tubuh Arumi sedikit gemetar.

"Jangan takut, aku ada di sampingmu," bisik Ariya meyakinkan.

Erwin dan Rina sudah berdiri di depan pintu utama. Rina langsung memasang wajah sedih yang dibuat-buat. Ia melangkah maju hendak memeluk Arumi dengan gerakan dramatis. "Oh, Arum sayang, syukurlah kamu selamat! Mama tiri sangat khawatir..."

"Cukup, Rina. Tidak perlu menunjukkan drama yang memuakkan di hadapan kami," potong Ferdiansyah dengan suara dingin yang langsung menghentikan langkah Rina.

Wajah Rina berubah menjadi masam sesaat sebelum kembali dipaksakan tersenyum. "Ayo, masuklah. Semua tamu sudah menunggu di dalam."

Ariya segera menarik tangan Arumi agar melingkar di lengannya, melindunginya dari jangkauan Rina. Namun, begitu Arumi menginjakkan kaki di ruang tengah yang luas, langkahnya tiba-tiba terhenti. Matanya menatap nanar ke arah tangga dan lorong gelap menuju bagian belakang rumah.

Tiba-tiba, kepalanya berdenyut hebat. Sebuah bayangan hitam melintas di benaknya seperti film lama yang rusak. Ia melihat dirinya sendiri sedang menangis, diseret dengan paksa dari ruangan ini oleh tiga orang. Dua wanita dan satu laki-laki. Suara teriakan minta tolongnya sendiri seolah terngiang kembali di telinganya.

"Tidak! Lepaskan aku! Jangan bawa aku ke gudang itu!" teriak Arumi tiba-tiba.

Suasana syukuran yang semula riuh seketika hening. Semua mata tertuju pada Arumi yang kini memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Wajahnya pucat pasi, peluh dingin mulai bercucuran di dahinya.

"Arum? Ada apa? Apa yang kamu lihat?" tanya Ariya dengan nada panik, ia segera merengkuh tubuh istrinya agar tidak jatuh.

Mata Arumi yang tadinya kosong kini menatap tajam ke arah Rina yang berdiri tak jauh dari sana. Jari telunjuknya terangkat, menunjuk tepat ke wajah ibu tirinya itu dengan gemetar. "Kamu... kamu orang jahat! Aku ingat sekarang! Kamu dan wanita satu lagi pernah menyekapku di gudang gelap itu ketika..."

Suara Arumi terputus. Ia mengerang kesakitan, mencengkeram kemeja batik Ariya dengan sangat kuat. Ingatan yang muncul secara paksa itu seolah menghancurkan pertahanan mentalnya.

"Kepalaku... sakit sekali, Mas! Tolong aku..." gumam Arumi lirih sebelum matanya terpejam dan tubuhnya lunglai seketika.

Ariya dengan sigap menangkap tubuh Arumi. "Arumi! Bangun, sayang!"

Ferdiansyah langsung mengambil kendali situasi. Ia menatap Erwin dan Rina dengan tatapan yang sangat mematikan. "Bawa dia ke rumah sakit sekarang, Arya! Jangan tunda lagi!"

Tanpa mempedulikan Erwin yang mencoba bertanya, Ariya segera menggendong Arumi dalam dekapannya dan berlari menuju mobil. Ferdiansyah berdiri tegak di hadapan Erwin sebelum melangkah pergi.

"Dengarkan aku baik-baik, Erwin. Jika kau tidak segera menyelidiki kebusukan istrimu ini, maka jangan salahkan aku jika aku sendiri yang akan menyeretnya masuk ke penjara bersama seluruh keluarganya. Arumi sudah mulai mengingat, dan kebenaran tidak akan bisa kau tutupi lagi dengan pesta syukuran palsu ini!" tegas Ferdiansyah.

Ferdiansyah dan Heni segera menyusul ke rumah sakit, meninggalkan Erwin yang berdiri terpaku dan Rina yang kini gemetar karena rahasia gelapnya mulai tercium. Acara syukuran itu berakhir kacau bahkan sebelum dimulai, menyisakan tanya besar di benak Erwin tentang apa yang sebenarnya telah terjadi di rumahnya sendiri selama ini.

Di dalam mobil ambulans pribadi, Ariya terus menciumi tangan Arumi yang masih tak sadarkan diri. "Maafkan aku, Arumi. Harusnya aku melindungimu lebih baik lagi. Bertahanlah, demi aku."

1
NP
sudut ya
Uba Muhammad Al-varo
Ariya........ sekarang Arumi udah memberikan kesempatan pergunakan dengan baik
Neng Salwa
bagus cerita nya juga seru
Uba Muhammad Al-varo
sekarang Ariya tugasmu berjuang untuk mendapatkan cintanya Arumi lebih berat kalau memang cintamu tulus jangan sampai kamu menyerah Ariya
tiara
semoga Lusi dan mamanya cepat dipenjara biar hidup Arumi dan ayahnya tenang
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya Erwin tahu kejahatan yang dilakukan oleh Rina dan Lusi, sekarang cepat ambil tindakan ceraikan Rina dan jebloskan ke penjara
Uba Muhammad Al-varo
mungkin ini jalan untuk kamu membuktikan cinta tulusmu dengan melindungi Arumi dari kekejaman ibu tirinya dan menyelidiki kejahatan yang dilakukan oleh Rina ibu tiri Arumi
Pujiastuti
makin seru aja ceritanya, lanjut kak semangat upnya 💪💪
Uba Muhammad Al-varo
itulah tugas terberatmu Arya membentengi diri dan menjaga Arumi dari kejahatannya lusi dan ibunya serta menyakinkan Arumi dengan kesungguhan cinta mu
tiara
semoga mereka dapat melalui semua ujian dimasa yang akan datang dengan tetap bersama selalu
tiara
semoga Arumi lekas pulih kembali ingatannya
tiara
akhirnya mereka dipertemukan kembali
tiara
semoga Arumi lekas ditemukan Ariya dan kakek juga tidak kesepian lagi
Uba Muhammad Al-varo
Ariya....... kalau kamu benar' tulus mencintai Arumi, tunjukkan kesungguhan dan kasih sayang ke Arumi
Nanik Arifin
Karmamu terbalas Ariya... dlu kau benci Arumi, sekarang Arumi tak mengingatmu sama sekali. sesuatu yg ingin dilupakan pasti terhapus saat hilang ingatan
Uba Muhammad Al-varo
akhirnya pertemuan antara Ariya dan Arumi terjadi semoga ini awal Arumi bahagia dan Ariya mencintainya dengan tulus
Uba Muhammad Al-varo
semoga Ariya bisa menemukan Arumi, kasihan Arumi hidupnya selalu sedih dan Ariya juga mengajak kakek nenek untuk hidup bersama
Nanik Arifin
di Sumatra tapi nenek memakai kosa kata bahasa Jawa ( cah ayu, nduk ) asalmu dr Jawa atau keturunan Jawa ?
semoga ingatanmu kembali tak lama setelah Ariya mampu berjalan & terbang ke Sumatra
Uba Muhammad Al-varo
si Rina otaknya oleng, kalau ngomong asbun Percis kaya si Lusi anaknya, memang enak kena mental dari Ferdiansyah /Joyful//Joyful//Joyful//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!