NovelToon NovelToon
Cinta Aluna

Cinta Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 Batas kesabaran

Melihat Aluna yang terus-menerus menangis dan dipermalukan di depan umum, Bara akhirnya tidak bisa tinggal diam. Ia merasa cara Brian menghukum mereka sudah melewati batas, terutama dengan melibatkan orang baru, hanya untuk menyakiti perasaan Aluna.

Bara memutuskan untuk berbicara dengan Brian, setelah pulang sekolah untuk menyelesaikan masalah ini secara jantan.

"Bri, gue mau ngomong. Berdua aja," ucap Bara dengan nada rendah yang penuh penekanan.

​Brian yang sedang memegang helmnya hanya melirik Bara sekilas, lalu kembali tersenyum pada Clarissa. Ia seolah sengaja mengabaikan kehadiran Bara, persis seperti yang ia lakukan pada Aluna tadi pagi.

​"Sa, lo naik taksi online aja ya? Gue ada urusan mendadak sama... 'orang asing' ini," sindir Brian sambil melirik Bara dengan tatapan meremehkan.

​Clarissa yang menyadari suasana memanas hanya mengangguk pelan. "Oke, Bri. Kabarin ya kalau udah selesai. Hati-hati," ujarnya sebelum melangkah pergi meninggalkan mereka berdua.

​Setelah Clarissa menjauh, Brian mengenakan helmnya tanpa memandang Bara. "Mau apa lagi? Belum cukup puas liat Aluna nangis? Atau lo mau pamer kalau sekarang lo pemenangnya karena gue udah mundur?"

​"Jaga mulut lo, Bri!" sentak Bara. Langkahnya maju satu tindak, memperkecil jarak di antara mereka. "Lo boleh benci sama gue, lo boleh maki-maki gue sepuas hati lo. Tapi jangan pernah lo anggap Aluna nggak ada. Dia hancur, Bri! Cara lo tadi pagi itu bener-bener rendahan."

​Brian tertawa sinis, suara tawanya teredam di balik kaca helm yang sengaja ia buka sedikit.

"Rendahan? Lo bilang gue rendahan? Terus apa sebutan buat sahabat yang nusuk dari belakang? Apa sebutan buat cewek yang bilang sayang tapi main rahasia di belakang gue?"

​"Kita bisa jelasin semuanya kalau lo mau dengerin!" teriak Bara frustrasi.

​"Gue udah tutup telinga, Bar. Dan mulai sekarang, gue juga tutup mata buat kalian berdua," sahut Brian dingin. Ia menghidupkan mesin motornya, suaranya menderu keras seolah ingin menuli kan pendengaran Bara.

​"Minggir, atau gue tabrak," ancam Brian tanpa keraguan sedikit pun.

​Bara hanya bisa berdiri terpaku saat Brian melesat pergi, meninggalkan kepulan asap dan debu yang menyesakkan.

Bara masih berdiri mematung di parkiran yang mulai sepi. Deru motor Brian sudah tak terdengar lagi, namun kata-kata tajam sahabatnya itu masih terngiang jelas, menusuk-nusuk harga dirinya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menghilangkan gurat kemarahan sebelum menemui Aluna yang menunggunya di gerbang depan.

Saat Bara sampai di depan gerbang, ia melihat Aluna duduk di bangku beton dengan mata sembab. Begitu melihat Bara, Aluna langsung berdiri dengan penuh harap.

"Bar? Kamu tadi dari mana? Kamu... kamu ketemu Brian ya di parkiran?" tanya Aluna cepat, jemarinya meremas tali tasnya dengan cemas.

Bara terdiam sejenak. Ia menatap mata Aluna yang bengkak, lalu ia memaksakan sebuah senyum tipis, sebuah senyum yang sebenarnya terasa pahit di bibirnya sendiri. Ia memutuskan untuk memendam semua hinaan Brian di parkiran tadi.

"Nggak, Lun. Tadi aku cuma ada urusan sebentar sama temen kelas lain soal tugas".

"Oh... aku pikir kamu ketemu dia. Aku pengen banget minta maaf lagi, Bar. Aku nggak tahan kalau dia anggep aku nggak ada kayak tadi pagi."

Melihat Aluna yang masih terus menunduk dengan bahu yang bergetar, Bara merasa hatinya teriris. Ia tahu, tidak ada kata-kata yang bisa benar-benar menyembuhkan luka Aluna saat ini, selain memberikan perhatian dan perlindungan.

Bara mengulurkan tangannya, menyentuh lengan Aluna dengan lembut untuk menarik perhatiannya.

"Sudah ya Aluna, jangan nangis lagi, mending kita pulang aja yuk," bujuk Bara dengan nada suara yang sangat halus, berusaha menjadi sandaran yang kokoh bagi Aluna.

Aluna menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan. Ia mendongak, menatap Bara yang selalu ada di sisinya di saat-saat tersulit seperti ini. Meski hatinya masih terasa sangat perih, ia tahu tidak ada gunanya terus berdiam diri di sekolah yang kini hanya menyisakan kenangan pahit.

"Oke," jawab Aluna. Suaranya masih terdengar serak, namun ia mencoba untuk bangkit.

Bara dan Aluna pulang bareng sore itu. Di atas motor, di sepanjang perjalanan yang biasanya penuh dengan obrolan ringan dan tawa, kini hanya ada keheningan. Aluna menyandarkan kepalanya di punggung Bara, mencari sedikit rasa aman, sementara Bara fokus menatap jalanan di depannya dengan pikiran yang berkecamuk.

Bara berjanji dalam hati, apa pun yang terjadi nanti, bahkan jika Brian benar-benar tidak akan kembali. Ia tidak akan membiarkan Aluna menghadapi badai ini sendirian.

Motor Bara akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumah Aluna. Suasana sore yang mulai temaram seolah ikut meredupkan semangat mereka berdua. Sebelum Aluna turun dan masuk ke dalam rumah, Bara menahan langkah Aluna sebentar. Ia menatap Aluna dengan tatapan khawatir yang sangat tulus.

"Lun, kamu jangan mikirin Brian terlalu dalam ya aku gak mau kamu sampai sakit," ucap Bara sungguh-sungguh. Ia tahu betul bagaimana sifat Aluna yang sering memendam masalah hingga memengaruhi kondisi fisiknya.

Aluna terdiam sejenak, menatap aspal di bawah kakinya sebelum mendongak menatap Bara. Ia memaksakan sebuah senyum tipis, meski gurat kesedihan masih jelas tertinggal di wajahnya.

"Iya bar, aku ngerti," jawab Aluna lirih. Ia menghargai perhatian Bara yang tak pernah putus.

Bara mengangguk, merasa sedikit lega meskipun ia tahu segalanya belum benar-benar baik saja.

"Ya udah aku pulang ya, kamu langsung istirahat oke," pamit Bara sekali lagi, memastikan Aluna benar-benar akan masuk ke rumah.

"Oke," sahut Aluna sambil memberikan anggukan kecil.

Aluna berdiri diam di depan pagar, menatap punggung Bara yang perlahan menjauh dan menghilang di tikungan jalan. Kini, ia benar-benar sendiri dengan pikirannya.

Langkahnya terasa sangat berat saat memasuki rumah, menyadari bahwa esok hari ia harus kembali menghadapi kenyataan pahit, bahwa sahabat yang paling ia sayangi telah memilih untuk menjadi orang asing.

Bersambung........

Jangan lupa like dan rating lima ya kakak 😌 🙏

1
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!