NovelToon NovelToon
Best Part

Best Part

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Mantan / Romansa
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kiadilkia

Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.

Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.

Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.

Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11 - Momen Berdua

..."Dekat dengannya berarti nyaman, tanpa drama, tanpa pretensi-hanya kehadiran yang terasa nyata."...

Happy Reading!

 

Sekolah akhirnya kembali ke tatap muka. Sisa satu semester membuat hari-hari terasa cepat dan penuh persiapan. Bagi Shaira, perasaan campur aduk selalu muncul; senang bisa bertemu teman-teman, tapi ada deg-degan yang tak bisa dihilangkan begitu saja.

Hari-hari terasa berbeda, sibuk tapi juga hangat, karena setiap detik terasa penting sebelum lulus.

Pagi itu, Shaira bangun sedikit lebih awal. Sinar matahari menembus tirai tipis kamar, membiaskan cahaya hangat di lantai. Ia mengedarkan pandangan, menatap tas, seragam, dan buku yang harus dibawa.

Sementara hatinya sedikit berdebar, ia merasa ada yang menunggu hari ini-Raven. Hatinya mencoba menenangkan diri, tapi senyum tipis tak bisa ia sembunyikan saat memikirkan kemungkinan bertemu lagi.

Hari itu, pulang sekolah, agenda ngumpul di rumah Kak Ben tetap seperti biasa. Perjalanan ke rumah Kak Ben terasa santai. Shaira menumpang motor Nara, ngobrol ringan sepanjang jalan. Angin sore yang menerpa wajah mereka, suara motor, dan lampu jalan yang mulai menyala membuat suasana nyaman.

Mereka tertawa kecil saat membahas tugas yang menumpuk, bercanda tentang guru yang galak, atau makanan kantin yang kadang terlalu pedas. Shaira menoleh sesekali, melihat bayangan kota yang mulai gelap, merasa hangat karena waktu sederhana seperti ini.

Sesampainya di rumah Kak Ben, suasananya sudah ramai. Beberapa teman berkumpul, bercanda, dan membahas rencana beli makanan karena perut semua terasa lapar. Tak lama kemudian, Raven muncul, menyusul ke rumah Kak Ben.

Senyumannya selalu membuat Shaira merasa nyaman, walau dulu sempat ada jarak dan canggung. Ia menatapnya sebentar, merasa hangat sekaligus sedikit gugup, tapi kali ini canggung itu hilang, tergantikan dengan rasa akrab yang familiar.

Teman-teman tiba-tiba mengusulkan beli pecel. Shaira buru-buru menolak, lagi tidak ingin pecel hari itu. Raven pun ikut menolak. Keduanya saling menatap sebentar, lalu Raven menambahkan dengan santai, "Nanti kita cari makan aja berdua." Nada suaranya ringan, tapi hangat, membuat Shaira tersipu malu.

Akhirnya, mereka naik motor berdua, keliling mencari makanan selain pecel. Jalanan sore itu cukup sepi, lampu jalan mulai menyala, dan obrolan ringan pun dimulai.

Mereka membahas makanan favorit, terkadang saling mengejek, atau menertawakan kejadian kecil di sekolah. Sesederhana itu, tapi bagi Shaira, terasa begitu dekat dan nyaman. Sesekali, Shaira menoleh dan melihat senyum tipis Raven di kaca spion, membuat hatinya hangat tanpa kata-kata.

"Kok bisa ya, sama-sama lagi nggak pengen makan pecel?" tanya Shaira sambil menahan tawa.

"Selera kita sama berarti," jawab Raven, senyum tipis.

"Mungkin..." balas Shaira sambil terkekeh.

Mereka melaju pelan di jalanan yang sedikit sepi, kadang berhenti sebentar di lampu merah. Angin sore menerpa wajah Shaira, dan ia merasakan kesederhanaan yang hangat-tidak perlu drama atau kata-kata manis, hanya obrolan ringan, tawa kecil, dan kedekatan yang perlahan kembali.

Beberapa menit kemudian, mereka berhenti di salah satu warung sederhana. Menu yang dipilih sama: nasi, telur, dan mie. Mereka sengaja memilih warung itu karena pemiliknya sama dengan kantin sekolah mereka, dan rasanya selalu bikin kangen. Sederhana, tapi hangat.

Bagi Shaira, ini adalah momen makan berdua pertama mereka dengan santai-momen yang terasa nyaman, lucu, dan sedikit berdebar.

Selagi menunggu makanan datang, Raven tiba-tiba menyodorkan ponselnya ke arah Shaira. "Mau main game dulu nggak? Biar nggak bosan nunggu," ujarnya santai. Shaira menatap ponsel di tangannya. Game itu berupa permainan mini untuk dua orang bertanding-satu lawan satu.

Shaira tersenyum kecil. "Main game?"

"Ya, biar nggak bengong nunggu makanan," jawab Raven.

Mereka bermain dengan santai, tertawa saat salah satu kalah, saling mengejek ringan. Shaira sering sengaja membuat Raven kesulitan dengan strategi konyol, dan Raven membalas dengan senyum tipis atau gerakan diam-diam yang membuat Shaira tertawa ngakak.

Sesekali mereka saling senggol ponsel sambil tertawa, atau bercanda kalau "curang" hanya karena terlalu serius menghadapi game. Semua terasa mengalir begitu saja—tanpa dibuat-buat.

"Eh, serius ini, kok aku kalah lagi!" keluh Shaira sambil menatap Raven.

Raven hanya tersenyum tipis, tanpa kata, tapi matanya menatapnya dengan tenang, seolah berkata: Santai aja, kita main buat seru-seruan.

Shaira menahan tawa, sadar bahwa meski kalah, hatinya tetap hangat karena kemesraan yang muncul tanpa dibuat-buat itu. Setiap senyumnya, setiap tatapan tenang Raven, membuat Shaira merasa nyaman-tidak canggung, tidak perlu berpura-pura.

Tak lama kemudian, makanan mereka datang. Bau nasi, telur, dan mie yang baru dimasak membuat perut Shaira semakin lapar. Mereka makan sambil bercanda ringan, saling berkomentar tentang rasa, dan sesekali menatap satu sama lain dengan senyum tipis.

Shaira merasakan kesederhanaan itu begitu hangat-mereka bisa menikmati waktu bersama, tanpa drama, tanpa repot, hanya ada tawa dan kenyamanan.

 

Sesampainya di rumah Kak Ben setelah makan berdua di warung, Shaira dan Raven turun dari motor. Lampu teras sudah menyala, dan teman-teman mereka-Arkan, Keno, Fadly, Nafiz, dan Nara-tampak sedang bercanda ringan, menata kursi dan meja di teras.

Arkan menepuk bahu Keno sambil melirik Shaira dan Raven, senyum nakal tersungging. "Eh... jadi makan berdua aja nih? Romantis banget, ya kalian," celotehnya.

Keno terkekeh, "Iya, serius deh. Dari warung pulang bareng aja kayak pasangan baru!"

Shaira menunduk, pipinya memerah. "Eh... ya... cuma makan sebentar aja, kok. Bukan apa-apa," jawabnya cepat.

Fadly menimpali sambil menyeringai, "Waduh... ini yang namanya quality time, nih."

Nafiz terkikik, "Iya, jangan bilang nanti makan berdua di warung jadi rahasia nasional ya!"

Shaira menatap Raven, berharap dia bisa menenangkan suasana. Raven hanya tersenyum tipis, matanya santai tapi waspada. Setelah beberapa detik, ia mengangkat alis dan berkata singkat, "Udah, ganti pembahasan aja."

Shaira tersenyum tipis, merasa lega. "Haha... iya, biar kita nggak digodain mulu."

Nara mencondongkan badan, menatap mereka sambil menyeringai, "Eh, jangan salahkan gue kalau semua orang mikir kalian resmi pacaran, ya! Kelihatan deket banget di motor tadi."

Shaira tersipu, menutup mulutnya, "Eh... enggak gitu, Nara. Cuma... ya biasa aja."

Arkan menepuk punggung Shaira sambil tertawa, "Biasa aja? Wajah merahnya nggak biasa banget, Sha."

Raven mengangkat bahu santai, matanya menatap Arkan yang mulai terlalu jahil. "Udah... jangan berlebihan," ucapnya dengan nada ringan tapi tegas.

Arkan tersentak sebentar, "Eh? Oke... oke, santai," katanya sambil tertawa kikuk.

Shaira menatap Raven, hatinya hangat. Meski teman-temannya terus menggoda, Raven tetap jadi 'teman aman' yang bikin dirinya nyaman-cuek tapi masih peduli, menjaga tanpa banyak bicara.

Suasana pun tetap ramai. Teman-teman bercanda, tawa memenuhi teras, sementara Shaira duduk dekat Raven, menikmati kehangatan sederhana-tanpa kata manis, tanpa janji, hanya tawa dan kedekatan yang alami.

 

Beberapa hari kemudian, Shaira sedang santai scroll Instagram di ponselnya. Tiba-tiba, muncul story Raven-sebuah foto yang diambil beberapa hari sebelumnya, menampilkan Shaira sendiri saat mereka makan berdua di warung.

Dalam foto itu, ia sedang mengangkat mie ke mulutnya dengan sumpit, matanya sedikit menoleh ke arah Raven, bibirnya melengkung tipis dengan senyum alami, dan rambutnya jatuh lembut di sisi wajah. Cahaya hangat dari lampu warung menyorot wajahnya, mangkok mie di depannya mengepul sedikit, memberi kesan hangat dan akrab.

Hatinya sedikit berdebar, bukan karena malu, tapi karena kehangatan yang muncul begitu saja. Foto itu sederhana, tanpa caption berlebihan, tapi bagi Shaira terasa spesial-seolah Raven berhasil menangkap momen naturalnya yang manis dan hangat.

Shaira tidak sadar sejak kapan ia tersenyum menatap layar, sampai pipinya terasa pegal sendiri.

Tak lama kemudian, Shaira menyadari dua kakak perempuan Raven telah follow akunnya. Reaksi Shaira hanya terkejut sejenak, lalu tersenyum sambil menatap ponsel. Ia lalu mengirim chat ke Raven:

"Kakakmu follow aku..."

Raven membalas dengan tenang, santai seperti biasanya:

"Oh ya? Mungkin mereka penasaran."

Shaira tersenyum tipis, menatap ponselnya. Tidak ada kata manis atau drama berlebihan-hanya rasa hangat yang perlahan mengisi hatinya. Momen sederhana-makan berdua, bermain game mini, perhatian kecil Raven, story Instagram-semua itu terasa begitu nyata, menguatkan kedekatan yang sempat jauh.

Meski sempat canggung dan lebih dari setahun tidak bertemu, kini kedekatan itu hadir kembali dengan cara yang tulus, alami, dan nyaman. Shaira menyadari bahwa kadang, hal-hal kecil yang dilakukan tanpa diminta cukup untuk menyalakan kembali kehangatan hubungan yang hampir memudar. Kehadiran seseorang yang peduli, meski tanpa kata-kata manis atau janji, bisa membuat hari biasa terasa berbeda.

Shaira duduk di kamarnya, menatap ponselnya sambil tersenyum. Ia menata kembali pikirannya, merenungi setiap momen kecil yang terjadi: tawa berdua di motor, kebersamaan sederhana di warung, tatapan hangat Raven, hingga story Instagram yang mengejutkan. Semua itu terasa begitu nyata, begitu dekat, dan begitu penting.

Malam itu, Shaira sadar satu hal: Kadang kedekatan tidak tumbuh dari kata-kata, tapi dari kebiasaan kecil yang perlahan terasa seperti rumah.

Kadang, kehangatan muncul dari hal-hal kecil, dilakukan dengan tulus, tanpa diminta, dan cukup untuk membuat hati merasa diperhatikan. Ia merasa bersyukur-bahwa kedekatan itu kembali, alami, dan hangat, menyelimuti hatinya seperti cahaya lembut di malam yang tenang.

 

"Shaira — kebersamaan yang terasa sederhana."

1
Nonà_syaa.
Lanjutt cntik❤
Chici👑👑
Nih visual cowok nya jaehyun bukan sih..
D: bener bgtt/Chuckle/
total 1 replies
Chici👑👑
Mampir nih kak.. mampir juga yuk kak di novelku judul Gadis Polos Untuk Dokter Kulkas
Nonà_syaa.
Nyesek bacanya/Sob/
D: ikutan galau ya😔
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Canteknyoo foto visual Aluna... Gue juga mau kek gitu cantek nya 😭❓
D: bahkan aku juga mau sih kak cantik begitu😂♥️
total 1 replies
🦊 Ara Aurora 🦊
Thor gue udah mampir nih 😅
Nonà_syaa.
Mampir nih ka,
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/
Nonà_syaa.: Haha iyaa/Cry/
Sama" kk
total 2 replies
Eka Sari Agustina
👍
Ummu Shafira
mampir😍😍 sepertinya ceritanya menarik,mengenang masa² putih abu² 🤭🤭
D: semoga sukaa ya kakk😍
total 1 replies
D
rekomen bgt buat dibacaa!! ayo baca ceritaku hehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!