NovelToon NovelToon
The Blood Master’S

The Blood Master’S

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Spiritual
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di sekolah ia di-bully karena tak punya kekuatan, namun di dunia bawah ia adalah dewa yang ditakuti monster. Arkan memberikan kesempatan kedua bagi lima anak yang sekarat untuk menjadi pasukannya, sementara ia sendiri bersembunyi di balik kacamata retak bangku sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18: interogasi berdarah di jam istirahat

Pagi di SMA Gwangyang dimulai dengan kabut yang tidak wajar. Bukan kabut pagi yang menyegarkan, melainkan kabut abu-abu tebal yang membawa aroma tembaga dan keheningan yang mencekam. Burung-burung di pepohonan sekolah mendadak berhenti berkicau, dan anjing-anjing liar di sekitar gerbang melarikan diri dengan ekor terselip. Di dalam kelas 1-A, Arkan duduk di bangkunya, namun matanya tidak tertuju pada buku teks biologi. Melalui Sanguine Perception, ia melihat sebuah massa energi hitam pekat sedang melangkah melewati gerbang sekolah.

'The Inquisitor,' gumam Arkan dalam batinnya.

'Ayah, target telah memasuki area sekolah,' suara Julian terdengar sangat waspada melalui Blood-Link. 'Namanya adalah Benedict Vane. Dia bukan Hunter biasa. Dia adalah algojo Dewan Penatua London. Kemampuannya, "Truth Extraction", memaksanya untuk membedah sistem saraf target untuk melihat ingatan mereka secara fisik. Dia tidak peduli jika targetnya mati atau cacat setelahnya.'

Arkan mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kayu meja itu retak halus. 'Dia berani melakukan itu pada murid-murid di sini? Di sekolahku?'

'Seer mendeteksi bahwa Alice Pendragon mencoba menghalanginya di koridor utama, namun Benedict mengabaikannya. Dia menuju kelas 1-A sekarang,' lapor Julian lagi.

Koridor Kelas 1-A – Pukul 10.15.

Alice Pendragon berdiri di depan pintu kelas, wajahnya pucat pasi. Di hadapannya berdiri seorang pria jangkung dengan jubah kulit hitam panjang dan penutup mata satu. Tangannya yang mengenakan sarung tangan putih memegang sebuah koper perak berisi alat-alat bedah mana.

"Minggir, Alice," suara Benedict terdengar serak, seperti gesekan logam di atas batu nisan. "Dewan Penatua tidak puas dengan laporan 'perasaanmu'. Aku di sini untuk mengambil bukti fisik dari otak anak-anak ini."

"Ini wilayah kedaulatan Korea! Anda tidak bisa melakukan ini secara ilegal!" Alice mencoba menghalangi, namun Benedict hanya melambaikan tangannya.

Sebuah gelombang tekanan mana Kelas SSS menghantam Alice, membuatnya terlempar menabrak loker hingga pingsan. Benedict melangkah maju, membuka pintu kelas 1-A dengan satu tendangan keras yang menghancurkan engselnya.

BRAAAKK!

Seluruh siswa berteriak histeris. Pak Kim yang sedang mengajar mencoba maju, namun Benedict hanya menatapnya, dan sang guru langsung ambruk dengan hidung berdarah.

"Duduk di tempat kalian masing-masing," ucap Benedict. Auranya menyelimuti ruangan, mengunci gerakan semua orang kecuali satu orang. "Aku mencari Sovereign. Dan karena dia bersembunyi di antara kalian, aku akan membedah kalian satu per satu sampai dia memutuskan untuk keluar."

Liora gemetar hebat di samping Arkan. Ia menatap pria mengerikan itu, lalu menatap Arkan. Arkan tetap duduk menunduk, namun Liora melihat sesuatu yang berbeda. Udara di sekitar Arkan tidak lagi bergetar karena takut; udara itu justru mulai berubah menjadi merah gelap.

'Bastian, Hana, Rehan... masuki gedung. Julian, tutup seluruh persepsi visual di kelas ini. Buat mereka semua tertidur dalam ilusi darah selama sepuluh menit,' perintah Arkan.

'Melaksanakan, Sovereign!'

Seketika, seluruh siswa di kelas—termasuk Liora—merasakan kantuk yang luar biasa. Kepala mereka jatuh ke meja satu per satu. Dalam waktu lima detik, hanya Arkan dan Benedict yang tetap sadar di dalam ruangan yang kini diselimuti kabut merah tipis.

Benedict menghentikan langkahnya tepat di tengah kelas. Ia merasakan perubahan aura yang drastis. Ia menatap pemuda berkacamata di barisan belakang yang kini berdiri perlahan.

Arkan melepas kacamatanya dan menjatuhkannya ke lantai. "Kling" Suara kacamata yang pecah itu terdengar seperti lonceng kematian bagi Benedict.

"Kau...?" Benedict menyipitkan matanya. "Jadi benar, kau hanyalah seorang bocah ingusan yang bermain menjadi tuhan?"

Arkan tidak menjawab. Ia melangkah maju. Setiap langkahnya membuat lantai kelas retak dan berubah menjadi genangan darah yang bergejolak. Jubah Sanguine-nya muncul, membungkus tubuhnya dengan megah, memancarkan tekanan yang membuat Benedict terjatuh berlutut secara instan.

"Kau datang ke sekolahku dengan niat melukai anak-anak yang tidak berdosa," suara Arkan terdengar sangat berat, mengguncang fondasi bangunan. "Kau menyebut dirimu Inquisitor? Bagiku, kau hanyalah sampah yang perlu didaur ulang."

Benedict mencoba berontak, ia mengeluarkan pisau bedah mana gelapnya dan menusukkannya ke arah jantung Arkan. Namun, saat pisau itu berada beberapa senti dari tubuh Arkan, darah di udara memadat dan menghancurkan pisau itu menjadi debu.

"Sanguine Art: Neural Devourer," bisik Arkan.

Arkan memegang dahi Benedict. Seketika, Benedict menjerit sejadi-jadinya, namun suaranya tidak keluar dari ruangan itu. Arkan membalikkan kemampuannya; ia menarik seluruh ingatan Benedict secara paksa. Ia melihat rencana busuk Dewan Penatua London, lokasi markas rahasia mereka, dan identitas agen-agen mereka di seluruh dunia.

"Kau ingin melihat otak anak-anak ini?" Arkan menyeringai dingin. "Bagaimana kalau aku yang membedah jiwamu?"

Arkan menarik esensi kehidupan Benedict hingga pria Kelas SSS itu menciut menjadi sosok yang ringkih dan tak berdaya. Arkan tidak membunuhnya di sini. Ia memanggil portal darah.

Bastian dan Rehan muncul dari portal tersebut. "Bawa dia ke ruang bawah tanah markas. Rehan, gunakan dia sebagai subjek uji coba untuk virus baru yang kau kembangkan. Pastikan dia merasakan setiap detik pembusukan selnya tanpa bisa mati."

"Dengan senang hati, Tuan," Rehan tersenyum mengerikan sambil menyeret Benedict masuk ke portal.

Arkan kemudian menatap kelasnya yang berantakan. Ia menghela napas, matanya kembali menjadi hitam biasa. Ia memungut kacamatanya yang pecah dan memperbaikinya dengan satu jentikan energi darah hingga kembali utuh.

'Julian, pulihkan kesadaran mereka. Berikan memori palsu bahwa pria tadi melarikan diri karena alarm KHA berbunyi,' perintah Arkan.

Pukul 10.25.

Liora tersentak bangun dari mejanya. "Arkan! Pria tadi—"

Ia melihat ke arah pintu. Benedict sudah hilang. Pak Kim sedang dibantu berdiri oleh beberapa siswa lain. Alice Pendragon masuk ke kelas dengan terhuyung-huyung, tampak bingung.

"Dia pergi?" tanya Alice pada dirinya sendiri. "Kenapa dia pergi begitu saja?"

Arkan kembali duduk diam, mencatat pelajaran seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Liora menatap Arkan dengan curiga, namun ia merasa kepalanya sangat pusing, sebuah efek samping dari ilusi Julian.

"Arkan... tadi itu... apa yang terjadi?" tanya Liora lemas.

"Petugas keamanan KHA datang tepat waktu, Liora. Kamu pingsan sebentar karena tekanan mana-nya," jawab Arkan sambil memberikan botol air minum.

Liora meminumnya, namun matanya tetap tertuju pada Arkan. Ia melihat ada setetes noda merah kecil di kerah baju Arkan. Noda itu tidak terlihat seperti tinta. Itu terlihat seperti darah yang sangat murni.

Malam harinya, di markas Sanguine Throne.

Arkan berdiri di depan monitor besar yang menampilkan peta London. Data yang ia ambil dari otak Benedict telah memberinya keunggulan mutlak.

"Dewan Penatua ingin bermain dengan pahlawan bayangan?" Arkan menyesap tehnya, matanya berkilat merah. "Besok, Inggris akan kehilangan sepuluh Hunter Kelas S mereka dalam satu malam. Bastian, Hana, bersiaplah. Kita akan melakukan kunjungan balasan ke London."

"Siap, Sovereign!"

Arkan menatap ke arah kamera yang mengawasi Liora yang sedang tidur di rumahnya. "Maafkan aku, Liora. Sekolah akan sedikit membosankan besok karena aku harus pergi jauh sebentar."

Operasi "Penghancuran London" baru saja dimulai. Sang Raja tidak lagi hanya bertahan; ia mulai menyerang jantung musuhnya.

1
Aprilia
hilangkan aja kocak ingatan perempuan SMA yg itu
kirno
lanjutkan 🤭
kirno
lanjutkan
Xiao Lian Na ¿?
Lah, perasaan Julian belum??
Xiao Lian Na ¿?: owhhh
total 4 replies
Xiao Lian Na ¿?
Eh... Julian?
Xiao Lian Na ¿?
ga kebayang sakitnya gimana
Xiao Lian Na ¿?
Wahh,, suka bet sama bahasanya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!