NovelToon NovelToon
JANJI CINTA SELAMANYA

JANJI CINTA SELAMANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Teen Angst / Romansa / Slice of Life / Konflik etika
Popularitas:688
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.

Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.

Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.

Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: RETAKNYA SEBUAH KEYAKINAN

BAB 14: RETAKNYA SEBUAH KEYAKINAN

Pagi di Kota Simla datang dengan keheningan yang menyesakkan. Di kamar Vanya, cahaya matahari yang menembus celah-celah terali besi di jendela menciptakan bayangan garis-garis hitam di lantai, seolah menegaskan bahwa kamar itu kini benar-benar sebuah penjara. Vanya masih terduduk di posisi yang sama sejak semalam—di lantai, tepat di depan dinding tempat video fitnah ayahnya diputar.

Matanya merah dan bengkak. Pikirannya seperti benang kusut. Di satu sisi, ia sangat mengenal Arlan sebagai pria yang memiliki harga diri setinggi langit. Namun di sisi lain, rekaman itu tampak begitu nyata. Tawa Arlan di video itu, jabat tangan dengan Gani... semuanya terasa seperti sembilu yang menyayat keyakinannya.

"Apakah uang benar-benar bisa mengubahmu secepat itu, Arlan?" bisiknya dengan suara yang nyaris hilang.

Vanya mulai melakukan aksi protes yang paling sunyi namun mematikan: Mogok Makan. Nampan perak berisi roti dan kari yang dibawakan oleh pelayan sejak subuh tadi masih tergeletak utuh di depan pintu. Ia tidak menyentuh air setetes pun. Tubuhnya terasa lemas, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih mendominasi.

Di ruang makan yang mewah, Hendra duduk dengan tenang sambil membaca koran pagi yang memuat berita tentang proyek hotelnya. Di sampingnya, Santi tampak gelisah.

"Hendra, Vanya belum makan sejak kemarin sore. Dia bahkan tidak mau membuka pintu," ucap Santi dengan suara gemetar. "Tolonglah, jangan terlalu keras padanya. Dia bisa jatuh sakit."

Hendra melipat korannya perlahan, menatap istrinya dengan pandangan dingin. "Biarkan saja. Lapar akan membuatnya berpikir lebih logis. Dia perlu menyadari bahwa pria yang dia tangisi itu sedang bersenang-senang dengan uangku di Delhi. Setelah dia merasa cukup menderita, dia akan menyadari bahwa hanya ayahnya yang tahu apa yang terbaik untuknya."

Tiba-tiba, lonceng pintu berbunyi. Rayhan datang berkunjung lebih awal dari biasanya. Ia membawa sebuah buku klasik tentang sejarah Simla, namun tujuan utamanya bukanlah untuk memberikan buku itu.

"Selamat pagi, Tuan Hendra. Saya dengar Vanya kurang sehat, jadi saya mampir untuk mengecek keadaannya," ucap Rayhan dengan nada bicara yang sopan namun menyelidik.

Hendra tersenyum lebar, menyambut calon menantu idaman itu. "Ah, Rayhan. Kau sangat perhatian. Vanya hanya sedang butuh waktu untuk dirinya sendiri. Biasalah, perubahan suasana hati wanita."

Rayhan tidak langsung percaya. Ia melirik ke arah tangga menuju kamar Vanya. "Bolehkah saya berbicara dengannya sebentar? Mungkin sebagai sesama anak muda, dia lebih terbuka kepada saya."

Hendra ragu sejenak, namun ia tidak ingin terlihat mencurigakan di depan Rayhan. "Tentu, silakan. Tapi jangan kaget jika dia agak sedikit... emosional."

Rayhan naik ke lantai atas dan berdiri di depan pintu kamar Vanya. Ia melihat nampan makanan yang masih utuh. Ia mengetuk pintu perlahan.

"Vanya, ini aku, Rayhan. Bisakah kita bicara?"

Tidak ada jawaban. Rayhan menghela napas, ia bersandar di pintu. "Aku tahu kau sedang terluka. Aku juga tahu video yang ditunjukkan ayahmu semalam. Sebagai seorang prajurit, aku dilatih untuk mengenali rekayasa. Aku tidak tahu apakah video itu asli atau tidak, tapi aku tahu satu hal: matamu kemarin saat menyebut nama Arlan tidak menunjukkan bahwa kau mencintai seorang pengkhianat."

Di dalam kamar, Vanya tersentak. Ia merangkak mendekati pintu. "Apa maksudmu, Rayhan? Kau pikir video itu palsu?" tanya Vanya dari balik pintu, suaranya lemah.

"Aku tidak bilang itu palsu, Vanya. Tapi aku bilang, setiap cerita punya dua sisi. Ayahmu sangat ingin kau menikah denganku, dan dia akan melakukan apa saja untuk itu. Jika kau ingin tahu kebenarannya, kau tidak boleh mati kelaparan di sini. Kau harus kuat untuk mencari tahu sendiri."

Vanya terdiam. Kata-kata Rayhan bagaikan tamparan yang membangunkannya dari keterpurukan. Benar, jika ia menyerah sekarang, maka Hendra telah memenangkan permainan ini.

"Rayhan... bisakah kau membantuku?" bisik Vanya.

"Apa yang kau butuhkan?"

"Cari tahu di mana Arlan berada sekarang. Dan pastikan apakah dia benar-benar menerima uang itu untuk kesenangannya sendiri, atau untuk... untuk nyawa ibunya."

Rayhan terdiam cukup lama. Sebagai calon tunangan, membantu calon istrinya mencari pria lain adalah hal yang gila. Namun, kehormatan Rayhan sebagai seorang pria tidak membiarkannya tinggal diam melihat ketidakadilan. "Aku akan mencoba, Vanya. Tapi berjanjilah, kau harus makan."

Pintu kamar terbuka sedikit. Vanya menatap Rayhan melalui celah kecil. Rayhan melihat wajah gadis itu yang hancur, namun ada api kecil yang kembali menyala di matanya. Rayhan menyerahkan sebotol air mineral dan sepotong cokelat yang ia bawa di sakunya.

Sementara itu, di sebuah pasar loak di pinggiran Delhi, Arlan sedang berjuang melawan maut yang berbeda. Ia tidak memiliki tempat tinggal. Ia tidur di gudang mesin tua yang berisik dan kotor. Namun, ia tidak diam saja.

Dengan sisa uang recehnya, ia tidak membeli makanan mewah. Ia membeli beberapa buku tentang teknik mesin dan pemasaran properti dari toko buku bekas. Ia duduk di bawah lampu jalan yang remang-remang setiap malam, membaca dan belajar.

"Aku akan menghancurkanmu dengan caramu sendiri, Tuan Hendra," gumam Arlan. Tangannya yang kasar memegang sebuah sketsa kecil. Ia tidak lagi menggambar sapi, ia mulai menggambar rancangan bangunan.

Ia bekerja sebagai kuli bangunan di siang hari, mengangkat semen di bawah terik matahari yang lebih panas dari Simla. Setiap kali punggungnya terasa terbakar, ia teringat wajah Vanya. Ia teringat janjinya. Arlan tidak tahu bahwa di Simla, Rayhan mulai bergerak untuk mencarinya.

Kembali di Simla, Gani mulai curiga dengan kedekatan Rayhan dan Vanya yang mendadak tenang. Ia melaporkannya pada Hendra.

"Ayah, aku rasa Rayhan terlalu banyak bertanya. Dia bukan tipe pria yang bisa kita kendalikan sepenuhnya," bisik Gani saat mereka berada di ruang kerja.

Hendra menyesap cerutunya, matanya menyipit. "Rayhan adalah aset kita. Dia punya nama besar di militer. Selama Vanya menikah dengannya, tidak ada yang berani mengganggu proyek hotel kita. Jika dia mulai mencampuri urusan Arlan, kita harus memastikan dia hanya menemukan apa yang ingin kita perlihatkan."

Hendra kemudian menelepon seseorang di Delhi. "Cari pria bernama Arlan. Pastikan dia terlibat masalah hukum. Buat dia dipenjara atau setidaknya terlihat seperti kriminal. Aku tidak mau ada kemungkinan dia kembali ke Simla."

Malam itu, Vanya mulai makan sedikit demi sedikit. Ia menatap ke langit malam dari balik jeruji besinya. "Arlan, aku sedang berjuang di sini. Tolong, jangan biarkan video itu menjadi kenyataan. Bertahanlah di mana pun kau berada."

1
falea sezi
mending bawa pergi jauh deh arlan
falea sezi
ksian bgt arlan knp semua novel mu isinya sedih teros kapan bahagia nya q baca semua nya tp isinya menderita trs jd g mood baca pdhl mau ksih hadiah jd males
falea sezi
menyimakkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!