Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Sembari menunggu menu makanan seafood mereka dihidangkan, mereka dihidangkan oleh beragam makanan pendamping. Cila dengarlah memakan makanan itu, disamping Cila Farel tengah meminum es kelapa. Sementara Vania terlihat diam saja sambil melihat para pengunjung pantai yang berlalu lalang, suasana hatinya menjadi guru terlihat dari raut wajahnya yang muram.
" Tante Vania mau apa? Biar Cila ambilin makanannya."
Vania menoleh lalu menggeleng." Tante bisa ambil sendiri."
"Maafin anak saya ya,"lirih Farel seraya menatap Vania.
"Seharusnya tadi kamu nggak perlu mengobati saya, Saya sudah terbiasa sakit," ujar Vania.
Cila yang tidak mendengarkan penolakan Vania, bergegas mengambil hidangan manis dan memberikannya pada Vania. " Ini Tante, kata orang kalau makan makanan manis nanti bisa bikin seneng."
" Terima kasih," uajr Vania menerima hidangan manis itu. Karena suasana hatinya sedang kesal, ia melahap hidangan itu dengan sekaligus. Karena tidak berhati-hati hidangan yang dia lahap membuatnya tersedak. Farel melihat itu sontak memberikan minuman miliknya kepada Vania. Gadis itu dengan buru-buru meneguk minuman yang di berikan Farel kepadanya hingga habis. Ia menghela napas lega setelahnya.
Beberapa menit kemudian, pramusaji kedai tersebut mengantarkan seafood yang dipesan oleh Farel. Berbagai hidangan tersaji di sana, mulai dari cumi asam manis, dan bermacam-macam jenis kerang serta hidangan seafood lainnya.
"Terima kasih, mbak." Ucap Farel.
Cila terlihat berbinar melihat berbagai hidangan tersaji di depannya." Pah, Cila mau ikan bakar itu!"
Farel mengangguk." Oke, papah pisahin dulu dagingnya ya supaya gak ada durinya."
Cila mengangguk, gadis itu kemudian menoleh ke arah Vania yang masih diam." Ayok Tante kita makan."
"Iya,"jawab Vania singkat.
"Karena mau makan yang mana? Sebelum saya ambil hidangan yang saya mau saya nawarin kamu dulu, nanti kamu marah lagi kalau saya ambil duluan," sindir Farel.
"Saya mau kerang sama cumi-cumi nya."
"Lah? Terus saya makan sama ikan doang ni? Saya juga kan mau makan cumi itu."
"Gak, saya lagi lapar loh."
Sembari memisahkan daging ikan dengan durinya untuk Cila, Farel menggerutu kesal. " Udah ditolong gak tau terima kasih, sekarang malah rebut menu makanan lagi. Dasar perempuan menyebalkan," batin Farel.
"Lagian siapa suruh kamu pesan cumi cuma satu porsi? Jangan pelit-pelit. Orang pelit temennya demit."
Farel berdecak sebal." Yasudah ambil aja, saya bisa pesan lagi."
Farel kembali memanggil pramusaji tadi dan kembali memesan menu cumi.
"Baik pak, mohon di tunggu sebentar ya."
Sambil menunggu pesanan berikutnya, Farel terpaksa makan ikan bakar dan sambal dan beragam lalapan. Di tengah kegiatan makannya, sesekali Farel memandang ke arah Vania yang tengah makan dengan lahap. Semakin diperhatikan, Farel semakin sadar kalau ternyata Vania cantik jika dilihat dari dekat. Gadis itu tidak jaim dan menunjukkan bagaimana sifat aslinya. Berbeda sekali dengan wanita yang biasa Farel temui.
"Hayo, papah dari tadi liatin Tante Vania ya?" goda Cila.
Farel berjengit, ia cukup terkejut karena suara Cila. "Engga kok, papah lagi liatin Abang yang jualan es krim tuh di sana," ujarnya seraya menunjuk ke sembarang arah.
Cila menoleh, tidak ada penjual yang menjual es krim di tempat yang papahnya tunjuk." Gak ada yang jual es krim. Papah bohong ya."
Farel gelagapan karena ketahuan tengah memperhatikan Vania." Tadi ada loh, nak. Mungkin abangnya udah pergi. Cila mau nambah lagi ikannya?"
Cila mengangguk." Karena ada Tante Vania, Cila jadi semangat buat makan banyak."
Cila bergelayut manja pada Vania. Sementara Vania yang tengah mengunyah makanannya hanya tersenyum kecil. Ia agak risih karena untuk pertama kalinya anak kecil yang bergelayut manja padanya. Ada rasa ingin menyingkirkan Cila dari bahunya, tapi ia tidak mungkin karena Farel sedang memperhatikannya.
____
Ini masih pagi tapi Vania sudah di sini oleh percakapan dua manusia di depan rumahnya. Suasana pagi yang seharusnya tenang jadi sedikit runyam karena kedua orang itu. Suara pertengkaran yang keluar dari lisan seorang wanita yang pria mendengung sampai ke telinganya. Keduanya kini menjadi pusat perhatian tetangga di sekitar.
Vania yang tengah bersiap-siap merapikan barangnya di mobil hanya mampu berpura-pura tidak melihat dan mendengar apapun. Bagi Vania itu anak rumah tangga yang tidak perlu ikut campur. Vania berusaha untuk tidak peduli dan memfokuskan dirinya untuk mengecek barang sebelum kembali bekerja. Adu mulut tetangga sebelah kian melengking. Keluar semua kata-kata kasar dan cacian membuat Vania merasa terganggu, tetapi ia sebisa mungkin menahan diri untuk tidak menegur mereka.
Laras dan Rika yang membantu membawa barang untuk kebutuhan kontennya sontak berperangah melihat adegan menegangkan itu. Vania bersiul pelan, memberi isyarat kepada kedua asistennya supaya tidak melihat keributan rumah tangga orang. Kedua perempuan itu paham maksud Vania, lantas mereka beralih membantu Vania.
"Itu ada apa ribut-ribut, mbak?" Bisik Laras.
"Gak tau, bukan urusan kita juga."
"Serem ya liatnya," ujar Laras lagi.
Vania memang tidak melihat pertengkaran itu, tapi apa yang diucapkan Laras memang benar. Vania berusaha untuk tetap fokus mengecek barang-barang di dalam tasnya. Tidak boleh ada jarang yang kurang dalam pembuatan konten kali ini.
'apakah setiap rumah tangga ada keributan semacam itu? Aku jadi kepikiran, untung saja saat itu aku tidak jadi menikah dengan Deo. Bertengkar dengan dia sebelum menjadi istri saja sudah seperti itu, apalagi kalau aku sudah menjadi istri dia, gak kebayang.'
Setelah semua barang dipastikan lengkap, Vania dan kedua asistennya segera berangkat menuju studio manajemen. Sesampainya di sana dengan catatan kedua asistennya menyapa segala keperluan Vania. Laras yang bertugas menyiapkan pakaian yang hendak dikenakan Vania, sedangkan Rika bertugas untuk membersihkan wajah serta merapikan rambut Vania.
Manajer Vania sangat senang melihat Vania kembali membuat konten. Managernya itu mendekati Vania kemudian memeluknya, kru yang lainnya juga ikut memeluk Vania setelah sekian lama absen membuat konten. Mereka mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya kedua orangtuanya Vania. Vania mengucapkan terimakasih dan membalas pelukan mereka satu persatu.
Vania berdiri di depan kamera dengan penuh percaya diri, cahaya lampu studio yang terang menerangi wajahnya yang polos. Dengan gerakan yang terlatih, ia mulai menjelaskan tentang produk make up yang akan digunakan, suaranya yang lembut dan penuh semangat menambahkan kepercayaan bagi para penontonnya. "Produk ini sangat bagus untuk kulit karena mengandung bahan alami," ujarnya sambil menunjukkan produk tersebut ke kamera.
Tangannya yang cekatan mulai beraksi, mengaplikasikan foundation dengan sponge, lalu menyusul dengan concealer di bawah mata. Setiap gerakan disertai penjelasan yang detil, membuat siapa saja yang menonton akan mudah mengikuti. Vania kemudian beralih ke penggunaan eyeshadow, memilih warna yang lembut namun tetap menonjolkan kedalaman mata.
Meski di dalam hatinya ada kerisauan yang belum sepenuhnya hilang, Vania menutupinya dengan profesionalisme. Kepandaian berbicaranya tidak tergoyahkan, ia terus menjelaskan dengan antusias, "Sekarang kita akan menggunakan eyeliner untuk memberikan kesan mata yang lebih tegas," katanya sambil mengaplikasikan eyeliner dengan presisi.
Setelah itu, ia melanjutkan dengan blush on dan highlighter yang memberikan kesan segar dan bersinar pada wajahnya. Vania kemudian menyelesaikan tampilannya dengan lipstick warna nude yang elegan. Setiap langkah dijelaskan dengan jelas, memastikan para penonton bisa mengikuti dan menerapkan tips yang diberikan.
Kini, dengan make up yang sempurna, Vania tampak sangat cantik dan elegan. Wajahnya yang semula polos, kini bertransformasi menjadi penuh pesona. Dia menatap kamera, memberikan senyuman terbaiknya, "Terima kasih telah menonton, semoga tutorial ini bermanfaat untuk kalian semua," tutupnya penuh haru, merasa puas bisa memberikan yang terbaik meski di tengah keadaan hatinya yang belum sepenuhnya pulih.