NovelToon NovelToon
Doa Bersama Cahaya

Doa Bersama Cahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga / Mantan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora Veganadia

Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.

Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.

Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tantangan dan Keraguan

🕊

Hari kedua di pabrik dimulai lebih cepat dari biasanya. Alarm mess berdering jam enam pagi, dan aku segera bangun, menata diri, dan menyiapkan sarapan sederhana. Meski sudah terbiasa dengan hari pertama, rasa gugup tetap ada. Aku tahu hari ini akan berbeda—ada proyek gaun pengantin untuk klien penting, dan tanggung jawab itu jatuh sebagian kepadaku.

Di kantin, Jina sudah menungguku. “Good morning, Alea! Are you ready?” Aku tersenyum tipis, meneguhkan diri. “Yes… I think so. I’m ready to try my best.”

Setelah sarapan, kami berdua menuju lantai produksi. Ruang itu sudah penuh aktivitas: suara jarum menjahit, gunting yang memotong kain, dan bisik-bisik instruksi dari atasan Korea yang bergerak cepat.

“Miss Alea… today very important. Client VIP. Attention every stitch. Understand?” Mr. Han memulai briefing singkat sambil menunjuk gaun pengantin berwarna putih gading yang tergantung di meja kerja.

Aku menelan ludah, menatap gaun itu dengan mata membesar. “Yes… sir. I understand. I will focus.”

“Good… you follow me first. I show details of embroidery, pattern, and finishing. Don’t make mistakes,” katanya, berjalan perlahan sambil menuntunku.

Setiap langkah, setiap instruksi, terasa menantang. Bahasa Inggrisnya cepat, aksen Korea masih terasa berat, dan detail yang harus diperhatikan sangat banyak. Aku mencoba menyimak dengan seksama, menuliskan catatan kecil di buku kerja yang kubawa di meja.

“Miss Alea, start with lace here. Small, delicate. Attention… very delicate. Use precise stitch,” kata Mr. Han dengan menunjuk area gaun.

Aku mengangguk, menarik napas panjang, dan mulai bekerja. Jarum menembus kain dengan hati-hati, setiap jahitan aku periksa ulang. Detail payet, renda, dan lipatan harus sempurna. Saat aku menyesuaikan pola, rasa gugup dan ketegangan makin terasa.

Jina datang menghampiri, melihat pekerjaanku. “Alea… careful here. You fold wrong, pattern not aligned. Try again slowly.”

Aku menghela napas, mengulang langkah itu. Tangan terasa kaku, kepala penuh tekanan. Rasanya dunia sedang mempermainkanku—hari kedua, tapi sudah diberikan proyek penting dengan klien VIP. Aku hampir tersenyum getir. “Why me…? Why so difficult?” pikirku dalam hati.

Sejam berlalu, Mr. Han memeriksa hasil kerjaku. “Hmm… Alea… stitch okay, but speed too slow. Important… time management also. Client waiting. You understand?” Aku menunduk, menelan ludah. “Yes, sir… I understand. I will improve.”

“Good… try harder. Ask if you don’t understand. We help, but work must be fast and accurate,” katanya sebelum berjalan ke staf lain.

Aku menatap gaun itu lagi, menarik napas panjang. Detail kecil terasa menantang, dan tekanan waktu membuatku merasa dunia sedang menguji semua kemampuan yang kumiliki. Tapi aku tahu, ini adalah kesempatan untuk belajar, dan kesempatan itu tidak datang dua kali.

Beberapa staf lain, termasuk Jina, datang untuk membantu dan memberi saran. “Alea… slow down, check every stitch. But don’t worry… you can do it. First day important, second day… we all learn together,” ujar Jina sambil tersenyum.

Aku tersenyum tipis, meski hati tetap tegang. Setiap instruksi, setiap koreksi, aku catat dan pelajari. Ada rasa bangga ketika aku berhasil menyesuaikan pola renda dengan sempurna, namun tetap ada rasa takut jika hasil akhirnya tidak memuaskan atasan atau klien.

Jam makan siang, aku duduk di kantin sendiri sebentar, menatap nasi kotak sederhana. Pikiran tentang klien VIP, jahitan yang harus sempurna, dan dunia kerja nyata yang keras memenuhi kepala. “Mama… rasanya dunia sedang mempermainkanku. Tapi Alea harus kuat. Aku harus belajar cepat dan tidak boleh menyerah.”

Setelah makan, aku kembali ke lantai produksi. Mr. Han memberikan instruksi lanjutan: finishing gaun dengan detail bordir dan payet kecil. “Alea… this part very critical. Mistake not allowed. Follow step by step. Understand?”

Aku menunduk, menahan gugup. “Yes… sir. I will be careful.”

Sambil bekerja, aku merasakan tanganku lebih luwes. Fokusku mulai meningkat, dan perlahan tekanan itu berubah menjadi energi belajar. Aku menyesuaikan pola bordir, menghitung setiap jahitan, dan memeriksa kembali setiap lipatan kain.

“Good… Alea… better now. Keep focus. You improve,” kata Mr. Han sambil tersenyum tipis. Aku tersenyum tipis juga, menarik napas lega. Sekalipun dunia terasa mempermainkanku, setidaknya aku bisa menyesuaikan diri, belajar, dan menunjukkan kemampuan.

Menjelang sore, gaun pengantin untuk klien VIP selesai sebagian. Mr. Han memeriksa hasil kerjaku lagi. “Alea… today first challenge, you handle well. But practice more. Tomorrow… more complex. Understand?”

Aku menunduk, sedikit lega tapi tetap waspada. “Yes, sir. I will practice more.”

Saat jam pulang mendekat, aku kembali ke mess. Duduk di tepi ranjang, aku menatap langit sore dari jendela kamar. Cahaya jingga mulai merunduk, membiaskan bayangan di dinding. Aku menutup mata sejenak, menarik napas panjang.

“Mama… hari ini sulit, tapi Alea belajar banyak. Dunia kerja memang keras, dan sepertinya sedang mempermainkanku. Tapi aku harus bisa menyesuaikan diri. Aku ingin tabungan bertambah, aku ingin punya ponsel supaya bisa hubungi kakak dan adik kapan saja. Mama… doakan Alea tetap kuat, sabar, dan bisa belajar lebih cepat. Aku ingin membuktikan diri di sini.”

Aku membuka jurnal, menulis catatan malam itu:

"Hari kedua di pabrik selesai. Tantangan pertama dengan klien penting berhasil dilewati, walau tekanan tinggi. Bahasa Inggris harus lebih lancar, kecepatan kerja perlu ditingkatkan, dan ketelitian tidak boleh kurang. Dunia memang terasa mempermainkanku, tapi ini adalah latihan untuk menjadi lebih kuat. Besok, Alea akan bangun lebih awal lagi, belajar lebih keras, dan berusaha lebih fokus. Mama… doakan Alea bisa menyesuaikan diri dan tetap tegar.”

Malam itu, aku menatap langit dari jendela mess. Suara angin sepoi-sepoi menyentuh wajahku, memberi sedikit rasa tenang. Meski jauh dari rumah, jauh dari keluarga, dan dihadapkan dunia yang terasa mempermainkanku, aku tahu: setiap langkah, setiap jahitan, dan setiap doa adalah pijakan untuk masa depan.

Aku menutup mata, tersenyum tipis. “Mama… Alea janji akan bekerja keras. Aku ingin sukses, ingin mandiri, dan ingin membahagiakan keluarga dari sini. Dunia boleh mempermainkanku, tapi Alea akan tetap berdiri dan belajar.”

Dan disanalah aku, duduk di mess, menatap bintang pertama yang muncul di langit malam, merasakan campur aduk antara gugup, lega, bangga, dan rindu rumah. Dunia mungkin keras dan menantang, tapi aku siap melangkah, belajar, dan terus bertahan.

☀️☀️

1
mama Al
seperti lingkungan alea baik semua
Skngwr20: Terima kasih sudah berkunjung kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!