Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 — Senyum yang Tidak Tulus
Manhattan diguyur hujan ringan pagi itu.
Valeria berdiri di depan cermin kecil apartemennya, merapikan rambutnya yang tergerai alami. Ia memilih mengenakan jas putih bersih dengan kemeja biru lembut di dalamnya. Sederhana. Rapi. Tanpa usaha berlebihan.
Namun semakin hari, ia mulai menyadari satu hal—
Di kampus ini, kesederhanaan justru membuatnya semakin menonjol.
Ia tidak memakai tas mahal.
Tidak memakai sepatu bermerek.
Tapi caranya berjalan, caranya berbicara, caranya tersenyum—semuanya memiliki ketenangan yang tidak dibuat-buat.
Dan itu… membuat sebagian orang terusik.
---
📚 Pengumuman Kelompok Presentasi
Hari itu, Dr. Matthews mengumumkan proyek besar pertama mereka.
“Presentasi penelitian tentang prosedur bedah minimal invasif. Kalian akan bekerja dalam kelompok yang sama seperti sebelumnya.”
Artinya—
Valeria tetap satu tim dengan Daniel dan Camille.
Ruangan terasa sedikit lebih sunyi dari biasanya.
Camille tersenyum tipis.
“Baiklah. Kita tidak ingin mengulang kejadian laboratorium, bukan?”
Nada suaranya manis. Terlalu manis.
Valeria mengangguk sopan.
“Kita bisa membagi tugas agar lebih efektif.”
Camille menyandarkan tubuhnya di kursi.
“Aku akan mengambil bagian teori dan latar belakang ilmiah. Daniel, kau bisa bagian statistik.”
Lalu ia menatap Valeria.
“Bagian demonstrasi teknik dan penjelasan prosedur… mungkin terlalu kompleks.”
Daniel tampak ragu.
“Bukankah Valeria sangat bagus di anatomi?”
Camille tersenyum tanpa melihat Daniel.
“Anatomi dasar, ya. Tapi ini bedah minimal invasif tingkat lanjut.”
Valeria merasakan getaran kecil di dadanya.
Bukan marah.
Tapi tertantang.
“Aku bersedia mengambil bagian prosedur,” ucapnya lembut namun tegas.
Camille menatapnya beberapa detik lebih lama.
“Baiklah. Kalau kau yakin.”
Nada itu bukan persetujuan.
Itu jebakan.
---
📖 Malam Persiapan
Apartemen kecil Valeria dipenuhi buku dan catatan.
Ia membaca jurnal internasional, menonton video prosedur bedah, bahkan membuat sketsa tangan sendiri tentang teknik sayatan kecil dan penggunaan laparoskopi.
Ia tahu ini bukan sekadar tugas.
Ini tentang membuktikan bahwa ia bukan sekadar “mahasiswi beasiswa dari desa”.
Di sisi lain kota, Camille juga bekerja.
Namun dengan cara berbeda.
Ia menghubungi salah satu senior untuk meminta referensi tambahan.
Bukan untuk belajar.
Tapi untuk memastikan presentasinya terlihat paling unggul.
Dan di sudut hatinya, ada keinginan kecil—
Jika Valeria gagal sedikit saja, reputasinya akan turun.
---
🎤 Hari Presentasi
Ruang auditorium kecil dipenuhi mahasiswa dan beberapa dosen tambahan.
Kelompok mereka maju.
Camille membuka presentasi dengan percaya diri. Slide-nya elegan, bahasanya formal, dan ia berbicara seperti seseorang yang sudah terbiasa tampil.
Beberapa mahasiswa terkesan.
Daniel menyampaikan statistik dengan cukup baik.
Lalu giliran Valeria.
Ia berdiri di depan layar.
Untuk sesaat, ruangan terasa sangat sunyi.
Ia bisa merasakan tatapan Camille di punggungnya.
Menunggu kesalahan.
Valeria menarik napas.
Dan mulai berbicara.
Penjelasannya tidak berlebihan. Tidak dramatis.
Tapi jelas.
Sistematis.
Ia menjelaskan bagaimana sayatan kecil dapat meminimalkan trauma jaringan, bagaimana koordinasi tangan dan kamera menjadi kunci presisi, bahkan menyebutkan risiko komplikasi dengan detail yang jarang dibahas mahasiswa tahun pertama.
Ia mengambil model anatomi dan mempraktikkan posisi alat dengan gerakan stabil.
Tangannya tidak gemetar.
Matanya fokus.
Seorang dosen di barisan depan mengangguk pelan.
Dr. Matthews bahkan tersenyum tipis.
Ketika ia selesai, ruangan hening satu detik—
Lalu tepuk tangan terdengar.
Bukan heboh.
Tapi tulus.
Camille ikut bertepuk tangan.
Namun rahangnya sedikit menegang.
---
💬 Pertanyaan Tak Terduga
Salah satu dosen tamu mengangkat tangan.
“Miss Hernández, bagaimana Anda akan menangani jika terjadi perdarahan internal mendadak saat prosedur minimal invasif?”
Pertanyaan sulit.
Beberapa mahasiswa saling berpandangan.
Valeria menjawab tanpa tergesa.
“Pertama, identifikasi sumber perdarahan melalui visualisasi kamera. Jika tidak terkendali dengan koagulasi minimal, maka konversi ke prosedur terbuka harus dipertimbangkan demi keselamatan pasien.”
Nada suaranya tenang.
Seolah ia pernah berada dalam situasi itu.
Dosen itu tersenyum.
“Jawaban matang untuk mahasiswa tahun pertama.”
Camille merasakan panas menjalar di dadanya.
Bukan karena Valeria salah.
Justru karena ia benar.
---
🌫️ Setelah Presentasi
Di lorong kampus, beberapa mahasiswa menghampiri Valeria.
“Penjelasanmu keren banget.”
“Kau seperti sudah tahun ketiga.”
Valeria tersenyum malu.
Camille berjalan mendekat.
“Presentasi yang bagus,” katanya.
Valeria menoleh.
“Terima kasih. Bagianmu juga sangat kuat.”
Camille tersenyum lagi.
Namun kali ini, matanya dingin.
“Kau belajar di mana sebelumnya?”
“Di desa. Aku sering membantu bidan.”
Camille mengangguk pelan.
“Aneh.”
Valeria mengernyit.
“Kenapa?”
“Karena kau terlihat seperti seseorang yang sudah sangat terbiasa berada di panggung besar.”
Kalimat itu terdengar seperti pujian.
Namun terasa seperti tuduhan.
Valeria tidak menjawab.
Ia mulai memahami bahwa ini bukan sekadar persaingan akademik.
Ini tentang posisi.
Tentang sorotan.
Tentang siapa yang lebih bersinar.
---
🌧️ Titik Kecil Kecemasan
Malam itu, Valeria duduk di tepi tempat tidurnya.
Ia tidak pernah menginginkan rival.
Ia hanya ingin belajar.
Namun semakin ia mencoba menjadi dirinya sendiri—
Semakin ia terlihat sebagai ancaman.
Ponselnya berbunyi.
Pesan dari Daniel.
“Kau luar biasa hari ini. Jangan biarkan siapa pun membuatmu merasa sebaliknya.”
Valeria tersenyum kecil.
Namun ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikirannya—
Apakah ia harus mengecilkan dirinya agar orang lain merasa nyaman?
Ia menatap pantulan dirinya di jendela apartemen.
Gadis desa.
Mahasiswi beasiswa.
Primadona baru yang bahkan tidak ia sadari.
Dan di suatu tempat di kampus yang sama, Camille duduk sendirian di mobil mewahnya.
Tangannya mencengkeram kemudi.
“Dia tidak boleh mengambil semuanya,” gumamnya pelan.
Namun yang tidak ia sadari—
Valeria tidak pernah mencoba mengambil apa pun.
Ia hanya berjalan di jalannya sendiri.
Dan justru itulah yang membuat cahayanya semakin sulit dipadamkan.
---