NovelToon NovelToon
SURAT HATI

SURAT HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#20

Malam itu, kamar Luna yang biasanya menjadi tempat paling tenang untuk belajar anatomi berubah menjadi markas besar sebuah rencana nekat. Luna duduk bersila di atas ranjangnya, dikelilingi oleh tumpukan kertas yang bukan lagi berisi catatan medis, melainkan skema waktu, jadwal latihan Zayn, dan rute pelarian dari mansion.

Pikirannya sudah tidak lagi waras. Cemburu telah mengubah gadis manis yang penurut ini menjadi seorang taktisi yang haus akan kemenangan. Di benak Luna, Zella adalah sosok wanita London yang sempurna, wanita yang mungkin saat ini sedang tertawa bersama ibu Zayn sambil merencanakan pernikahan. Dan satu-satunya cara untuk menghancurkan citra Zella di mata keluarga Graciano adalah dengan sebuah kenyataan yang tak terbantahkan: kehamilan.

"Zella akan melepaskannya kalau dia tahu Zayn punya anak denganku," bisik Luna pada bayangannya di cermin. "Wanita mana pun, sehebat apa pun dia di London, tidak akan mau bertahan dengan pria yang menghamili wanita lain."

Ketakutan akan kemarahan Alexander Storm yang biasanya membayangi setiap langkah Luna, kini seolah menguap tertiup api obsesi. Ia tidak peduli lagi jika ayahnya akan menghancurkan bengkel Zayn atau memutus akses beasiswa Zayn. Yang ia pedulikan hanyalah bagaimana cara agar kebohongan yang ia ucapkan di kampus tadi menjadi sebuah kebenaran yang nyata. Ia ingin Zayn menatapnya bukan dengan kedinginan, melainkan dengan tatapan penuh tanggung jawab, penuh perhatian, dan penuh kepemilikan.

Luna mulai menyusun detailnya. Ia tahu Zayn bukan pria bodoh. Jika ia ingin "menjebak" Zayn, meskipun kata itu terasa kasar, ia harus melakukannya di saat Zayn berada di titik terlemahnya. Titik di mana gairah mengalahkan logika, dan kenangan mengalahkan kebencian.

Ia tahu setiap hari Jumat malam, Zayn akan berada sendirian di bengkel pribadinya di pinggiran kota, bukan di markas The Pit yang ramai. Zayn butuh waktu untuk menyendiri, merakit mesin, dan biasanya ia akan mematikan ponselnya. Itulah celah yang akan Luna gunakan.

Luna juga mempelajari siklusnya sendiri dengan sangat teliti. Ia adalah mahasiswi kedokteran; ia tahu persis kapan tubuhnya siap untuk pembuahan. Ia menghitung hari demi hari dengan presisi seorang ahli bedah. Ia tidak ingin kali ini gagal. Kali ini, ia tidak akan membiarkan Zayn mengeluarkan benihnya di luar. Ia akan memastikan setiap tetes kehidupan dari Zayn menetap di rahimnya.

"Satu malam saja," gumam Luna sambil menandai kalendernya. "Satu malam yang akan mengikatmu selamanya padaku, Zayn. Dan Zella... dia akan menjadi masa lalu yang terlupakan."

Malam Jumat yang dijanjikan tiba. Luna tidak menggunakan bantuan Hera kali ini. Ia tahu Hera mungkin akan mencoba menghentikannya jika tahu rencananya sudah sejauh ini. Luna menggunakan gaun tidur sutra yang sangat tipis di balik trench coat hitamnya. Ia menyelinap keluar lewat pintu servis, memanfaatkan kelalaian pengawal yang sedang berganti shift.

Ia mengendarai mobilnya sendiri menuju bengkel Zayn. Hujan turun rintik-rintik, membuat suasana terasa semakin melankolis. Saat ia sampai, ia melihat lampu bengkel masih menyala remang-remang. Suara denting logam bertemu logam terdengar dari dalam.

Zayn sedang berada di sana, bertelanjang dada, berlumuran oli dan keringat. Ia tampak sangat maskulin sekaligus rapuh di bawah lampu neon yang berkedip. Saat pintu bengkel berderit terbuka, Zayn tidak menoleh. Ia mengira itu Arlo.

"Aku sudah bilang, Arlo, jangan bawakan aku bir lagi. Aku ingin sendiri," ucap Zayn kasar.

"Ini bukan Arlo, Zayn."

Zayn membeku. Ia meletakkan kunci pasnya dan berbalik perlahan. Matanya menyipit saat melihat Luna berdiri di sana, dengan pakaian yang tampak basah oleh gerimis dan tatapan mata yang tidak pernah ia lihat sebelumnya—tatapan lapar.

"Kau lagi?" Zayn mendesah lelah. "Belum cukup kau berbohong soal kehamilanmu di kampus? Mau drama apa lagi sekarang?"

Luna tidak menjawab. Ia melangkah maju, melepaskan trench coat-nya hingga jatuh ke lantai, menyisakan gaun sutra tipis yang melekat sempurna di tubuhnya. Zayn menelan ludah. Ia mencoba membuang muka, mencoba memikirkan "Zella" , si anjing malang yang tidak tahu namanya dipinjam untuk drama ini, tapi tubuhnya berkhianat.

"Aku tidak datang untuk bicara, Zayn," bisik Luna, suaranya terdengar seperti melodi yang menghipnotis. ia merayap mendekat, melingkarkan lengannya di leher Zayn yang panas. "Aku ingin membuat kebohongan itu jadi nyata. Aku ingin kau melakukan apa yang paling kau kuasai... menghancurkan ku dengan cintamu."

Zayn mencengkeram pinggang Luna, mencoba mendorongnya menjauh, namun Luna justru semakin merapat. Luna mencium leher Zayn, menghirup aroma maskulin yang selalu menjadi candunya.

"Pikirkan Zella, Luna! Aku punya Zella!" Zayn berteriak, mencoba memberikan pertahanan terakhir, meskipun suaranya sudah serak karena gairah yang membuncah.

"Persetan dengan Zella!" balas Luna dengan nada menantang yang belum pernah ia gunakan sebelumnya. "Malam ini, hanya ada aku. Kau tidak bisa membohongi tubuhmu sendiri, Zayn Graciano. Kau menginginkanku lebih dari kau menginginkan siapapun di London sana."

Zayn kalah. Ia mengangkat Luna ke atas meja kerja yang penuh dengan baut dan oli. Di bawah cahaya remang-remang, Zayn mulai menjamah Luna dengan kasar, campuran antara amarah karena merasa dipermainkan dan rindu yang sudah mencapai batasnya.

Luna tersenyum di tengah ciuman panas mereka. Ia membiarkan Zayn melakukan apa pun padanya. Saat Zayn hendak mencapai puncaknya dan secara refleks mencoba menarik diri—seperti yang selalu ia lakukan untuk melindungi masa depan Luna—Luna justru melakukan gerakan yang sudah ia rencanakan.

Ia melilitkan kakinya kuat-kuat di pinggang Zayn, mengunci pria itu di dalam dirinya. Tangannya mencengkeram bahu Zayn hingga kukunya meninggalkan bekas kemerahan.

"Jangan tarik keluar, Zayn... jangan!" perintah Luna dengan suara yang penuh tuntutan. "Berikan padaku semuanya. Berikan aku alasan agar kau tidak bisa kembali pada Zella."

Zayn mengerang hebat, sebuah suara yang terdengar seperti singa yang menyerah pada mangsanya. Ia melepaskan segalanya di dalam Luna, membiarkan aliran kehidupan itu memenuhi rahim Luna. Luna memejamkan mata, merasakan sensasi hangat yang menjalar di tubuhnya, sebuah kemenangan kecil yang ia bayar dengan harga diri dan keselamatan mereka.

Setelah semuanya berakhir, Zayn ambruk di bahu Luna, napasnya memburu. Ia merasa menyesal, namun Luna justru membelai rambut Zayn dengan penuh kasih sayang.

"Sekarang," bisik Luna di telinga Zayn. "Biarkan Zella menunggumu di London sampai dia bosan. Karena di sini, kau sudah menanam benihmu. Dan kau tidak akan pernah bisa meninggalkanku lagi."

Luna tersenyum penuh kemenangan dalam kegelapan. Ia yakin, kali ini rencananya tidak akan gagal. Ia akan mendapatkan perhatian Zayn sepenuhnya, dan Zella hanyalah akan menjadi nama yang terlupakan di balik tangisan bayi yang akan ia lahirkan nanti. Ia tidak peduli jika ini adalah cara yang salah; bagi Luna, dalam cinta dan perang, segalanya diperbolehkan, terutama jika musuhnya adalah seorang wanita bernama Zella.

🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
durrotul aimmsh
i just can say...wow
shabiru Al
apa yang akan terjadi ya jika ayahnya luna tau kehamilan ini
shabiru Al
mampir ya thor,, kayaknya menarik nih ceritanya
ros 🍂: Happy Reading 🥰
total 1 replies
Nurhasanah
ini fl nya luna apa hera ?? lebih suka hera sih badas nggak menye2 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!