Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.
Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.
Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.
Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?
Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?
Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?
Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️
Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lenyapnya kekuatan putri es
Kerajaan Es, tempat Aira tumbuh dan hidup. Kerajaan Es adalah sebuah kerajaan yang damai dan sejahtera. Raja Skypia selalu berlaku adil terhadap rakyatnya yang selalu setia membantunya mendirikan kerajaan hingga sebesar ini.
Aira, seorang putri es satu-satunya kini masih berusia lima belas tahun yang memiliki kekuatan es luar biasa yang diwariskan dari ibunya, Ratu Avia.
Putri Aira memiliki lima orang kakak laki-laki yng bernama Aviaria, Ventus, Avium, Corvus dan Ember.
Namun, pada suatu malam yang gelap, kerajaan Es diserang oleh kerajaan Api, yang dipimpin oleh Raja Ignis yang kejam. Api yang berkobar-kobar menghancurkan bangunan-bangunan dan membunuh banyak orang, termasuk ayah Aira, Raja Skypia.
Kakak-kakaknya yang berusaha menjadi benteng perlawanan pun ikut gugur bersama sang raja di tangan raja Ignis.
Aira yang masih muda, bersembunyi di balik sebuah pilar, menyaksikan sendiri keluarganya dibunuh oleh Raja Ignis. Ibunya, Ratu Avia menggunakan kekuatan esnya yang terakhir untuk melindungi Aira dan membawanya ke tempat yang aman.
"Jaga dirimu, Aira... Balas dendam untuk kita semua," kata Ratu Avia dengan suaranya lemah.
Aira yang tersisa sendirian, merasa sakit hati dan kemarahan yang luar biasa. Dia melihat Raja Ignis yang berdiri di depan ibunya, dengan senyum kejam di wajahnya.
"Ha ha ha... Kerajaan Es akhirnya jatuh ke tangan kita," kata Raja Ignis, sambil menginjak-injak tubuh Ratu Avia.
Aira yang tidak dapat menahan diri lagi, keluar dari persembunyiannya dan menghadapi Raja Ignis.
"Kamu... Kamu tidak akan pernah menang!" teriak Aira, suaranya bergetar karena kemarahan.
Raja Api yang tersenyum, melihat Aira yang masih muda dan lemah.
"Hei anak kecil!..Kamu tidak tahu apa-apa tentang kekuatan," katanya, sambil mengangkat tangannya.
Aira yang belum memiliki kekuatan yang cukup, menggunakan kekuatan esnya yang masih lemah untuk melindungi dirinya sendiri. Namun, kekuatan esnya tidak dapat menandingi kehebatan Raja Ignis.
" Es tidak dapat mengalahkan api," kata Raja Ignis, sambil menghancurkan es yang melindungi tubuh Aira.
Aira yang merasa bahwa dia akan kalah, menggunakan kekuatan esnya yang terakhir untuk menciptakan badai es yang kuat.
"Tidak... Tidak akan!" teriak Aira, sambil mengangkat tangannya.
Aira menggerakkan tangannya menciptakan sesuatu keajaiban yang pernah ibunya ajarkan. Pusaran angin kecil mengelilingi tangannya, semakin lama angin berpusar mengelilingi tubuhnya, hingga terciptalah sebuah badai es.
Badai es yang kuat, membuat Raja Ignis terkejut dan mundur. Aira yang merasa bahwa dia telah melakukan yang terbaik,tersenyum simpul. Namun tak lama, Aira merasa tubuhnya semakin kehilangan keseimbangan karena terlalu banyak mengeluarkan energi, Aira terkulai lemah dan terjatuh.
Raja Ignis yang semula terkejut dengan badai es yang kuat pun tertawa setelah melihat Aira terkulai lemas di tanah. Raja Ignis mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan kutukan yang gelap.
"Dengan kekuatan api, aku kutuk kamu, Aira... kekuatan esmu akan lenyap seketika, dan kamu akan menjadi manusia biasa," kata Raja Ignis suaranya penuh dengan kebencian.
Aira yang masih berlutut di tanah, merasa kekuatan esnya mulai lenyap. Dia mencoba untuk menggunakan kekuatan esnya, namun tidak ada yang terjadi.
"Tidak... Tidak mungkin... Kekuatan esku..." kata Aira, membolak-balikkan telapak tangannya.
Raja Ignis yang tersenyum kejam, menendang tubuh Aira. "Kamu tidak memiliki kekuatan lagi, Aira. Kamu tidak ada apa-apanya dan tidk akan pernah mendapatkan kekuatanmu lagi, hingga akhirnya aku lah yang berkuasa" katanya, sambil meninggalkan Aira yang terbaring di tanah.
Seluruh pasukan dari kerajaan Api meninggalkan kerajaan Es yang sudah rata dengan tanah.
Aira yang merasa bahwa dia telah kehilangan segalanya, menangis dengan sedih. Dia merasa bahwa dia tidak dapat melakukan apa-apa lagi untuk melindungi dirinya dan semua anggota kerajaan.
Aira berlari ke arah jasad Ratu Avia, "Ibunda, bangunlah...Aku sendirian disini".
Setelah merasa ibunya tidak bisa merespon, Aira berlari ke arah dimana tubuh sang ayahnya tergeletak. "ayahanda...bangunlah". Ucapnya dengan tangisan.
Aira terus berlari ke arah jasad kakak-kakaknya. "Kak Corvus tolong aku". Avia mengguncang tubuh kakak keempatnya.
Namun Aira menghentikan tangisannya sejenak setelah menyadari sesuatu. "Dimana tubuh kak Ember?". Gumamnya.
Tiba-tiba terdengar suara yang memanggil namanya. "Aira...Aira..."
"Kak Ember? Kak!".
"Kakak dimana?". Teriak Aira menyadari bahwa itu adalah suara kakak kelimanya, Ember.
Tak lama kemudian, Ember datang dengan berlari kencang ke arah Aira. "Kakak! ". Aira menyambar tubuh kakaknya lalu menangis.
Aira merasakan kalau punggung kakaknya basah dan menarik tangannya melepaskan pelukan. "Tubuh kakak berdarah..". Aira khawatir
"Kita harus pergi, Aira". Ajak Ember
"Tapi bagaimana dengan mereka kak?". Aira mengkhawatirkan jasad keluarganya.
"Aira dengar ini, mereka sudah tinggal jasad dan kita tidak mungkin membawanya pergi".
"Tapi kak, Aku-..."
Ember yang memiliki langkah seribu bayang, tidak membiarkan Aira menuntaskan kalimatnya. Ia segera berlari membawa Aira pergi. Aira berhasil menghentikan laju larinya Ember. "Kakak hentikan!"
"Apa yang kamu tunggu Aira? Bangunan ini akan hancur! Kita harus segera pergi sebelum kita ikut terkubur". Sergah Ember sedikit kesal.
"Tapi kak-... Tidak...tidakkkkk..."
Teriak Aira saat tubuhnya terasa melayang saat Ember membawanya berlari kencang. Aira tidak berniat menghentikan tangisannya.
Aira yang masih menangis, merasa tubuhnya terlempar ke udara saat Ember berlari kencang. Dia mencoba untuk berteriak, namun suaranya tenggelam oleh suara bangunan yang runtuh.
"Ka...kak..." Aira mencoba untuk memanggil Ember, namun kakaknya tidak menoleh.
Ember yang berlari kencang, tidak memperdulikan suara Aira. Dia hanya fokus pada satu hal, yaitu menyelamatkan adiknya.
Tiba-tiba, sebuah ledakan besar terjadi di belakang mereka. Aira yang masih menangis, melihat ke belakang dan melihat bangunan istana yang runtuh.
"Ne...negaraku..." Aira menangis dengan sedih.
Ember yang melihat ke belakang, menggulung bibirnya. "Kita harus pergi dari sini, Aira. Raja Api tidak akan berhenti sampai dia menghancurkan kita."
Aira yang masih menangis, tidak menjawab. Dia hanya memandang ke depan, mencoba untuk memahami apa yang terjadi.
Ember yang berlari kencang, akhirnya berhenti di sebuah hutan yang lebat. Dia meletakkan Aira di tanah dan memeriksa luka-lukanya.
"Aira, kamu tidak apa-apa?" tanya Ember, suaranya lembut.
Aira yang masih menangis, menggelakkan kepala. "Ka...kakak...kenapa...kenapa ini terjadi?" tanya Aira, suaranya lemah.
Ember yang melihat adiknya, merasa sakit hati. Dia memeluk Aira dan mencoba untuk menenangkannya.
"Kita akan baik-baik saja, Aira. Kita akan membalas dendam kepada Raja Api. Aku berjanji," kata Ember, suaranya penuh dengan tekad.
Namun setelah mengucapkan hal itu, tubuh Ember terkulai lemah. Aira yang mencoba menopang tubuh kakaknya, tak kuasa karena tubuh kakaknya lebih besar darinya. Tubuh Ember pun terjatuh ke tanah.
"Kakak!...." Teriak Aira
Suara gemuruh dan ledakan dari arah bangunan kerajaan menjadi latar belakang kepanikan Aira.