Di benua Xuanyuan yang luas, di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, keluarga besar Lin menguasai wilayah Selatan dengan gemilang. Lin Feng, putra sulung dari garis keturunan utama, seharusnya menjadi harapan masa depan keluarga. Namun, saat upacara pembukaan dantian di usia 12 tahun, kebenaran kejam terungkap: dantiannya rusak parah sejak lahir, meridiannya tersumbat, dan qi langit & bumi tak mampu mengalir masuk.
Sejak saat itu, julukan "Tuan Muda Sampah" melekat padanya. Saudara-saudara tiri yang iri, tetua keluarga yang kecewa, serta para pelayan yang dulu merendah kini berani menghinanya secara terang-terangan. Tunangannya yang cantik dari sekte terkemuka membatalkan pertunangan dengan alasan "tak layak", dan ayahnya sendiri, Patriark Lin, hanya bisa menghela nafas sambil menatap sedih anaknya.
Namun, takdirnya mulai berubah ketika Lin Feng mewarisi kekuatan Dewa Api.
Bagaimana kisah Lin Feng? Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wang Qiu'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Malam menyelimuti Gunung Lin keluarga dengan kegelapan yang tebal. Bulan sabit bersembunyi di balik awan, seolah enggan menyaksikan apa yang akan terjadi di paviliun utama.
Lin Feng mendorong pintu kamar lamanya dengan telapak tangan. Kayu pintu yang dulu ia sentuh dengan penuh harapan kini terasa dingin di bawah jari-jarinya yang hangat. Ruangan itu masih sama—tempat tidur besar berukir naga, meja kayu cendana, rak buku penuh gulungan teknik kultivasi, dan jendela besar menghadap danau bulan di belakang gunung. Tapi aroma debu dan kesepian masih menempel di setiap sudut.
Ia melangkah masuk. Dua pelayan muda yang mengikuti di belakangnya gemetar. Mereka membawa peti-peti kayu berat berisi sumber daya yang “dikembalikan” atas perintah Patriark.
“Tuan… Tuan Muda Lin Feng,” kata pelayan perempuan dengan suara bergetar. “Ini… ini jatah satu bulan untuk garis utama. Seratus batu roh kelas rendah, tiga puluh pil Qi Penyempurna, sepuluh pil Api Roh, dan… dan satu gulungan teknik tinju kelas bumi.”
Lin Feng tidak menjawab. Ia hanya melambai tangan, menyuruh mereka meletakkan semuanya di tengah ruangan. Pelayan itu buru-buru meletakkan peti-peti, lalu mundur sambil membungkuk dalam-dalam, wajah mereka pucat seperti kertas.
Begitu pintu tertutup, Lin Feng duduk bersila di atas karpet sutra di tengah kamar. Matanya tertutup. Di dalam dadanya, Tungku Api Abadi berputar pelan, seperti jantung yang baru lahir dan lapar.
“Napas Api Jiwa… mulai.”
Ia membuka peti pertama. Batu roh kelas rendah—batu-batu transparan bercahaya biru lembut—ditumpuk rapi. Biasanya, kultivator biasa menyerap qi di dalamnya melalui meridian. Tapi bagi Lin Feng, itu hanya… bahan bakar.
Ia mengulurkan tangan. Api merah gelap keluar dari telapaknya, membungkus seluruh tumpukan batu roh. Dalam sekejap, batu-batu itu retak, lalu meleleh menjadi cairan qi murni yang langsung disedot masuk ke Tungku Api Abadi.
WHOOSH!
Energi panas mengalir deras ke seluruh tubuhnya. Meridian yang dulu tersumbat kini seperti sungai lava yang meluap. Dantiannya—yang kini berbentuk tungku api hitam-merah—berdenyut semakin kencang.
Lin Feng tersenyum tipis.
“Ini… baru permulaan.”
Ia membuka peti kedua. Pil-pil Qi Penyempurna berwarna hijau zamrud. Pil-pil itu seharusnya diserap perlahan selama berjam-jam agar qi tidak meledak. Tapi Lin Feng hanya menelan semuanya sekaligus—tiga puluh butir.
Api di dalam tubuhnya langsung menyala ganas. Pil-pil itu terbakar di dalam Tungku Api Abadi, diubah menjadi energi api murni yang jauh lebih kuat daripada qi biasa. Rasa sakit yang biasa dirasakan kultivator saat breakthrough kini terasa seperti pelukan hangat bagi Lin Feng.
Tubuhnya mengeluarkan uap panas. Kulitnya memerah, lalu kembali normal. Aura di sekitarnya naik tajam—dari tingkat awal kultivasi api, langsung melonjak ke tingkat menengah.
Tapi ia belum berhenti.
Pil Api Roh—pil berwarna merah menyala yang mengandung esensi api roh binatang buas—ia serap satu per satu. Setiap pil yang masuk, Yan Di Shen Zun di dalam kesadarannya tertawa pelan.
“Bagus… semakin banyak api yang kau makan, semakin cepat kau tumbuh. Tapi ingat, pewarisku… api yang terlalu lapar bisa membakar tuannya sendiri.”
Lin Feng tidak peduli. Ia terus menyuling. Satu jam berlalu. Dua jam. Tiga jam.
Pada jam keempat, sesuatu meledak di dalam tubuhnya.
CRACK!
Suara retakan halus terdengar di dalam dantiannya. Tungku Api Abadi membesar dua kali lipat. Api di dalamnya berubah warna—dari merah gelap menjadi merah keemasan yang lebih ganas, lebih murni.
**Breakthrough!**
Lin Feng membuka mata. Pupilnya berkilat seperti dua bola lava cair. Ia mengangkat tangan, dan di telapaknya muncul bola api seukuran kepalan—**Api Kebencian Primordial** tingkat kedua. Satu bola itu saja sudah cukup untuk membakar seluruh paviliun jika ia mau.
“Kekuatan… ini baru tingkat satu Api Abadi,” gumamnya. “Masih jauh. Tapi cukup untuk membakar mereka yang pernah menghinaku.”
Ia berdiri, meregangkan tubuh. Keringat di tubuhnya menguap seketika karena panas api.
Tapi malam belum selesai.
Tiba-tiba, di luar jendela, bayangan hitam bergerak cepat.
Lin Feng tersenyum dingin. Ia sudah menduga ini.
Dengan **Langkah Api Bayangan**, tubuhnya berubah menjadi bayangan api samar, menghilang dari tempatnya dan muncul di balik tirai jendela.
Tiga sosok berpakaian hitam melompat masuk melalui jendela yang terbuka. Mereka adalah pembunuh bayaran kelas menengah—masing-masing membawa pisau beracun berlumur qi hitam. Pemimpin mereka berbisik pelan, “Target di tempat tidur. Bunuh cepat, lalu bakar mayatnya. Lin Hao muda sudah bayar dua ribu batu roh.”
Mereka mendekati tempat tidur… yang kosong.
“Di mana—”
Belum selesai bicara, suara Lin Feng terdengar dari belakang mereka.
“Kalian terlambat dua jam.”
Tiga pembunuh itu berbalik cepat, pisau mereka menebas ke arah suara.
Tapi Lin Feng sudah bergerak.
**Telapak Api Menghancurkan Tulang – Bentuk Ketiga: Api Menelan Nyawa.**
Satu telapak tangan menyambar leher pemimpin mereka. Api merah gelap langsung masuk ke tubuh pria itu melalui pori-pori. Dalam sekejap, darahnya mendidih, tulangnya meleleh dari dalam. Pria itu tak sempat berteriak—tubuhnya hanya menyusut menjadi abu hitam yang jatuh berhamburan di lantai.
Dua pembunuh lainnya ketakutan. Mereka berusaha kabur ke jendela.
Lin Feng hanya menggerakkan jari.
Dua percikan api kecil melesat, menyusup ke punggung mereka. Api itu bukan membakar kulit, tapi langsung menuju dantian mereka. Qi hitam mereka disedot habis oleh **Napas Api Jiwa**, diubah menjadi bahan bakar bagi Tungku Lin Feng.
Dua tubuh itu jatuh lunglai, mata mereka kosong, meridian mereka kering seperti sungai yang terbakar matahari.
Lin Feng menatap abu di lantai dengan dingin.
“Katakan pada Lin Hao… besok pagi aku akan mengunjunginya. Secara pribadi.”
Ia melangkah ke jendela, menatap paviliun keluarga yang masih terang lampu di kejauhan.
Di dalam kesadarannya, Yan Di Shen Zun bergumam puas.
“Kau mulai belajar, anakku. Tapi ini baru awal. Besok… dunia di luar keluarga Lin akan mulai bergerak. Sekte Bunga Salju sudah mengirim utusan. Dan klan saingan—Klan Huo—sudah mendengar kabar tentang ‘Tuan Muda Sampah yang bangkit’.”
Lin Feng mengepalkan tangan.
“Biarkan mereka datang. Semakin banyak kayu bakar, semakin besar api yang akan kubuat.”
Ia kembali duduk bersila, melanjutkan penyulingan sisa sumber daya. Malam itu, di paviliun utama yang seharusnya tenang, api baru saja mulai membara lebih ganas.
Dan tak ada yang bisa memadamkannya lagi.