NovelToon NovelToon
Pewaris Terahir Murim

Pewaris Terahir Murim

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Cintapertama / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:991
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:

**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**

Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.

Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.

Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: PERTARUNGAN MELAWAN TEMAN

Babak perempat final berlangsung seperti badai.

Empat pertarungan, empat kemenangan, dan dua mayat meninggalkan arena. Para petarung semakin kehilangan kemanusiaan mereka, berubah menjadi mesin pembunuh demi mencapai puncak. Darah segar masih membasahi lantai batu hitam saat petugas membersihkannya dengan tergesa-gesa, menyiapkan arena untuk pertarungan berikutnya.

Ha-neul menyaksikan semua dari ruang tunggu. Ia melihat Hyeon Mu, petarung berjubah merah, melumat lawannya dalam waktu tiga menit. Ia melihat petarung bertato naga di lengan, yang dijuluki "Naga Hitam", mengirim lawannya ke rumah sakit dengan luka parah. Ia juga melihat Seo Jun-ho bertarung.

Jun-ho menang.

Pertarungannya sengit, hampir dua puluh menit penuh tekanan. Lawannya adalah petarung tangguh dari grup B, tapi Jun-ho berhasil memanfaatkan kecepatannya dan tip dari Ha-neul beberapa hari lalu. Di akhir pertarungan, ia berdiri dengan tubuh penuh luka, tapi senyum kemenangan terpancar di wajahnya.

Kini mereka berdua di semifinal. Berhadapan.

---

Matahari tidak pernah bersinar di Sekte Iblis, tapi entah bagaimana udara terasa lebih panas sore itu. Ribuan penonton memadati tribun, bersorak untuk petarung favorit mereka. Anehnya, banyak yang meneriakkan nama Kang Woo—kejutan turnamen ini. Yang lain mendukung Jun-ho, petarung lincah yang tak pernah menyerah.

Ha-neul dan Jun-ho berdiri di tengah arena, berhadapan. Wasit di antara mereka, siap memberi aba-aba.

Jun-ho tersenyum lebar. "Akhirnya, Kang Woo. Aku sudah nunggu ini dari awal."

Ha-neul menatapnya. Matanya mencari sesuatu di wajah temannya—ketakutan? Keraguan? Tidak ada. Yang ada hanya semangat murni.

"Jun-ho, kau yakin ingin ini?"

"Yakin banget." Jun-ho mengayunkan pisau pendeknya, pemanasan. "Aku mau lihat kemampuan aslimu. Jangan tahan-tahan, Kang Woo. Aku nggak mau menang karena lawanku kasihan."

Ha-neul mengangguk pelan. "Baik. Akan kutunjukkan."

Wasit mengangkat tangan. "Mulai!"

Jun-ho langsung menyerang.

Kecepatannya luar biasa—lebih cepat dari pertarungan sebelumnya. Mungkin ia menyimpan tenaga khusus untuk saat ini. Pisau-pisaunya menari di sekitar Ha-neul, menusuk dari segala arah. Ha-neul menghindar, mundur, kadang memblok dengan pedang kayunya.

"Dia serius," bisik Hyeol-geon.

Aku tahu.

Jun-ho terus menekan. Serangan demi serangan datang bertubi-tubi, tidak memberi Ha-neul waktu untuk mengatur napas. Ini strategi yang cerdas—melawan petarung tusuk seperti Ha-neul, tidak memberi kesempatan untuk fokus.

Tapi Ha-neul sudah terbiasa dengan tekanan.

Di tengah hantaman pisau, ia menemukan celah. Jun-ho terlalu fokus menyerang, lupa menjaga keseimbangan. Setiap kali menusuk dengan pisau kanan, bahu kirinya terbuka.

Ha-neul menunggu saat yang tepat.

Jun-ho menyerang dengan pisau kanan. Ha-neul memiringkan tubuh, menghindar, dan dalam gerakan yang sama, pedang kayunya menusuk—bukan ke titik vital, tapi ke bahu kiri. Tepat di otot.

Jun-ho tersentak, serangannya kendor. Tapi ia tidak berhenti. Dengan gigi terkatup, ia terus menyerang dengan pisau kiri.

Ha-neul terkesiap. Jun-ho luar biasa—bisa mengabaikan rasa sakit.

"Dia petarung sejati."

Ha-neul mengangguk dalam hati. Ia harus menghormati itu.

Pertarungan berlanjut. Ha-neul mulai membalas lebih sering, tapi tetap tidak melukai fatal. Ia menusuk di titik-titik yang melumpuhkan sementara—lengan, bahu, paha—tapi Jun-ho terus bangkit. Setiap kali jatuh, ia bangkit lagi. Setiap kali terluka, ia mengabaikannya.

Darah mengucur dari beberapa luka di tubuh Jun-ho. Napasnya tersengal. Matanya sayu. Tapi ia masih berdiri.

"Kenapa... kau tahan?" tanya Ha-neul, hampir berbisik.

Jun-ho tersenyum. Darah membasahi giginya. "Karena... aku ingin lihat... seberapa jauh... aku bisa bertahan... melawan yang terbaik."

Ha-neul terharu. Ia tidak pernah menyangka akan bertemu orang seperti Jun-ho di tempat mengerikan ini.

"Jun-ho, cukup. Kau sudah buktikan."

"Be-lum." Jun-ho tertatih maju. "Aku belum... lihat... jurus andalanmu."

Ha-neul diam. Lalu ia mengangguk.

"Baik. Akan kutunjukkan."

Ia mundur tiga langkah, memberi jarak. Pedang kayunya diangkat, di depan dada. Matanya terpejam sejenak, lalu terbuka—kini bersinar merah samar.

"Bayangan Seribu Pedang."

Lima pedang energi terbentuk di sekelilingnya, berkilauan merah. Jun-ho terpaku, matanya membelalak.

"Cantik..." bisiknya.

Pedang-pedang itu melesat—tapi bukan ke arah Jun-ho. Mereka melesat ke samping kanan dan kiri, menancap di lantai batu, membentuk setengah lingkaran di sekeliling Jun-ho. Tidak ada yang mengenai tubuhnya.

Ha-neul menurunkan pedangnya. "Itu dia."

Jun-ho menatap pedang-pedang energi yang masih bergetar di tanah. Lalu ia tertawa. Tawa lepas, tawa kagum, tawa pasrah.

"Luar biasa..." Ia jatuh berlutut, kelelahan. "Aku kalah."

Wasit mendekat. "Seo Jun-ho tidak bisa melanjutkan! Pemenang: Kang Woo!"

Sorak-sorai menggema. Tapi Ha-neul tidak mendengarnya. Ia berlari ke Jun-ho, membantunya berdiri.

"Kau bodoh," katanya pelan. "Bisa mati."

Jun-ho tersenyum lemah. "Tapi... aku lihat... mimpiku... jadi kenyataan."

Ha-neul menghela napas. Ia memapah Jun-ho keluar arena, di tengah sorak-sorai penonton yang tak mengerti arti persahabatan di balik pertarungan itu.

---

Di tribun khusus, Penguasa Sekte Iblis tersenyum lebar.

"Menarik sekali," gumamnya. "Anak itu menyembunyikan kemampuannya. Lima pedang energi... level itu sudah setara dengan petarung kelas menengah." Ia menoleh ke ajudan. "Pastikan ia masuk tiga besar. Aku ingin melihat ritual itu padanya."

Ajudan mengangguk. "Dan lawannya di final, Tuan? Hyeon Mu atau Naga Hitam?"

"Siapa pun yang menang, mereka akan jadi lawan yang cocok." Mata Penguasa Sekte berkilat. "Aku ingin lihat apakah Kang Woo bisa bertahan melmereka."

---

Di ruang perawatan, Ha-neul duduk di samping Jun-ho yang terbaring. Tubuh pemuda itu dibalut perban di beberapa tempat—luka tusuk Ha-neul sebenarnya tidak parah, tapi akumulasi kelelahan membuatnya ambruk.

"Kang Woo..." Jun-ho membuka mata. "Maaf... gua bikin lo repot."

"Diam. Istirahat."

"Lo... harus menang, Kang Woo. Lo harus... jadi juara." Jun-ho meraih tangannya. "Gua nggak tahu misi lo apa, tapi gua tahu... lo bukan orang biasa. Lo punya tujuan besar. Jangan berhenti di sini."

Ha-neul menatapnya. "Jun-ho..."

"Ayo... janji sama gua. Lo akan menang. Dan suatu hari... lo akan cerita semuanya ke gua."

Ha-neul diam lama. Lalu ia mengangguk.

"Janji."

Jun-ho tersenyum, lalu terlelap.

Ha-neul bangkit, melangkah keluar. Di koridor, ia bertemu petugas yang membawa jadwal pertarungan final.

"Kang Woo, pertarungan semifinal kedua sudah selesai. Hyeon Mu menang. Kau akan bertarung melawannya besok di final."

Ha-neul menerima kertas itu, membaca sekilas. Hyeon Mu—petarung berjubah merah yang melumat lawan-lawannya. Mungkin lawan terberat sejauh ini.

Ia memandang ke arah bangunan pusat yang menjulang.

"Besok," gumamnya. "Satu langkah lagi."

1
Riska Purwati
👍👍👍👍👍👍
maklie_
aku mampir 💪
Asepsolih Sutarman
ceritanya seru, suka banget.....top markotop
Asepsolih Sutarman
makin seru ceritanya...👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!