Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.
Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.
Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.
Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DOA DAN HARAPAN DI LEMBARAN BARU
Keesokan harinya, suasana rumah sudah sibuk sejak pagi buta. Arlo, yang sepertinya paham akan pergi bermain, sudah bangun lebih awal dan sibuk menenteng sepatu kets kecilnya ke arah Arsen yang masih bersiap.
"Sabar ya, Jagoan. Kita sarapan dulu," ujar Arsen sambil menggendong Arlo menuju meja makan.
Setelah persiapan selesai, mereka berangkat menuju salah satu playground eksklusif di daerah Jakarta Selatan yang direkomendasikan oleh Dana. Tempatnya tertutup, dengan akses masuk yang dijaga ketat, namun memiliki area outdoor yang asri dan penuh permainan edukatif.
Begitu sampai, mata Arlo langsung membulat sempurna. Ia melihat perosotan berwarna-warni, kolam bola, dan beberapa anak sebayanya yang sedang asyik berlarian.
"Turun... Pa, turun!" pinta Arlo sambil meronta kecil di gendongan Arsen.
Rosa terkekeh melihat antusiasme putranya. "Sabar, Sayang. Kita daftar dulu ya."
Setelah menyelesaikan administrasi, Arlo langsung melesat menuju area balok susun. Arsen dan Rosa duduk di area tunggu orang tua yang tidak jauh dari sana, memantau setiap gerak-gerik putra mereka.
"Lihat itu, Sayang," bisik Rosa sambil menyandarkan kepalanya di bahu Arsen. "Dia langsung berani menyapa temannya."
Di kejauhan, Arlo tampak mendekati seorang anak laki-laki yang sedikit lebih besar darinya. Dengan bahasa planetnya, Arlo menyodorkan sebuah bola plastik, mengajak anak itu bermain bersama.
"Dia punya jiwa sosial yang bagus, mirip kamu," puji Arsen sambil mengecup kening Rosa.
Namun, di tengah keasyikan itu, perhatian Arsen teralihkan oleh sosok pria yang duduk tak jauh dari mereka. Pria itu tampak familiar, mengenakan kemeja rapi dan sedang menemani anak perempuannya. Pria itu menyadari tatapan Arsen dan tersenyum, lalu berdiri menghampiri.
"Arsenio Wijaya? Pengacara yang lagi viral itu, kan?" sapa pria itu ramah.
Arsen berdiri, menjabat tangan pria tersebut dengan waspada namun sopan. "Iya, saya Arsen. Maaf, Anda siapa ya?"
"Saya Adnan, dari firma hukum sebelah. Saya nonton konferensi pers kamu kemarin. Hebat, Sen. Jarang ada orang yang berani pasang badan segila itu buat anak yang... yah, kamu tahu sendiri maksud saya," ujar Adnan tulus. "Anak kita sepertinya seumuran. Mungkin mereka bisa berteman baik."
Rosa ikut tersenyum lega. Ternyata ketakutan mereka akan stigma negatif dari masyarakat pasca-berita kemarin tidak terbukti. Sebaliknya, banyak orang yang justru menaruh hormat pada integritas keluarga mereka.
Baru saja Arsen merasa tenang berbincang dengan Adnan, tiba-tiba terdengar suara "Buk!" kecil diikuti suara tangisan seorang anak perempuan dari arah area kolam bola.
Arsen dan Rosa spontan berdiri. Di sana, Arlo tampak terduduk dengan wajah bingung, sementara di depannya ada seorang anak perempuan sebayanya yang sedang menangis karena terduduk akibat tertabrak Arlo yang sedang asyik berlari.
"Arlo! Hati-hati, Sayang," seru Rosa sambil bergegas menghampiri.
Seorang pria paruh baya yang tampak sangat berwibawa dengan jam tangan mewah dan kemeja branding ternama lebih dulu sampai di sana untuk menggendong anak perempuan itu. Arsen segera menyusul dan membantu Arlo berdiri.
"Aduh, maaf sekali, Pak. Anak saya sepertinya terlalu bersemangat sampai tidak melihat jalan," ucap Arsen tulus sambil menepuk-nepuk debu di celana Arlo. "Arlo, ayo minta maaf sama temannya."
Arlo yang merasa bersalah langsung menunduk dan menyodorkan mainan mobil-mobilan kecil yang ia pegang. "Maaf... Maaf ya," ucap Arlo terbata.
Pria paruh baya itu menoleh, dan matanya seketika melebar saat mengenali wajah Arsen. "Lho? Arsenio Wijaya? Kamu yang menangani kasus sengketa lahan di Surabaya itu, kan?"
Arsen tertegun sejenak, menajamkan ingatannya. "Pak Hendrawan? CEO dari Logistics Group?"
Pria itu tertawa renyah, rasa kesalnya karena anaknya terjatuh hilang seketika. "Wah, kecil sekali dunia ini! Saya baru mau minta sekretaris saya buat atur jadwal meeting sama kamu senin besok terkait audit internal perusahaan saya. Ternyata kita malah ketemu di kolam bola!"
Rosa dan istri Pak Hendrawan yang baru datang hanya bisa saling pandang sambil tersenyum melihat kedua pria itu. Anak-anak mereka pun, yang tadinya menangis, kini sudah mulai berebut mainan kembali seolah tidak terjadi apa-apa.
"Maaf Pak, saya sedang tidak pakai jas, jadi agak kurang formal," canda Arsen sambil melirik kaus santai yang ia kenakan.
"Ah, lupakan jas itu! Di sini kita cuma dua orang bapak yang lagi jadi asisten anak-anak," sahut Pak Hendrawan sambil menepuk bahu Arsen. "Tapi jujur, Sen, keberanian kamu di TV kemarin buat saya makin yakin. Saya butuh pengacara yang punya prinsip seperti kamu untuk jaga aset perusahaan saya dari orang-orang seperti Hadi Pramono."
Sambil mengawasi Arlo yang kini asyik main perosotan dengan anak Pak Hendrawan, kedua pria itu malah terlibat pembicaraan bisnis yang cukup serius namun santai di pinggir area bermain.
Sore itu, perjalanan pulang terasa jauh lebih tenang. Arlo sudah tertidur pulas di car seat belakang, kelelahan setelah puas berlarian dan bermain dengan anak Pak Hendrawan. Sinar matahari senja masuk menembus kaca mobil, menciptakan suasana hangat di dalam kabin.
Arsen sesekali melirik ke arah Rosa yang tersenyum memperhatikan wajah damai Arlo melalui spion tengah. Ia kemudian meraih tangan Rosa dan menggenggamnya erat dengan satu tangan lainnya tetap di kemudi.
"Arlo memang bawa rezeki dan kebahagiaan buat kita, ya," ucap Arsen tulus, suaranya terdengar penuh syukur. "Siapa sangka, niatnya cuma mau ajak dia main, malah dapat kepercayaan dari klien besar seperti Pak Hendrawan."
Rosa menoleh, matanya berbinar haru. "Mungkin itu cara Tuhan membalas semua kebaikan dan ketulusan kamu menjaga Arlo selama ini, Sayang. Arlo itu magnet rezeki buat Papa-nya."
Arsen tersenyum lebar, lalu tangannya berpindah mengusap lembut perut Rosa yang mulai sedikit menonjol.
"Belum lagi sekarang kandungan kamu sudah masuk tiga bulan. Sehat-sehat terus ya, Sayang. Sebentar lagi Arlo beneran punya adik," tambahnya dengan nada penuh semangat. "Aku nggak sabar lihat Arlo nanti belajar jaga adiknya. Dia pasti bakal jadi Kakak yang protektif banget."
Rosa mengangguk, menyandarkan kepalanya di bahu Arsen saat mobil berhenti di lampu merah. "Aku juga, Sayang. Rasanya semua drama kemarin benar-benar terbayar dengan ketenangan ini. Kita sudah melewati badai, sekarang waktunya kita jemput pelangi kita."
Arsen mengecup punggung tangan Rosa berkali-kali. Kebahagiaan mereka kini terasa lengkap. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi ketakutan. Hanya ada harapan baru yang tumbuh seiring dengan detak jantung kecil di dalam rahim Rosa dan dengkur halus Arlo di kursi belakang.
Beberapa bulan berlalu, dan kediaman Arsen serta Rosa kini tampak meriah dengan dekorasi bunga-bunga segar bernuansa pastel. Hari ini adalah acara syukuran empat bulanan kandungan Rosa—sebuah momen untuk memanjatkan doa bagi calon buah hati mereka sekaligus merayakan kebersamaan keluarga besar yang telah melewati badai bersama.
Rosa tampil anggun dengan gamis berbahan sutra yang longgar, namun tetap memperlihatkan perutnya yang kini sudah mulai membuncit nyata. Di sampingnya, Arsen tidak sedetik pun melepaskan pandangan protektifnya, sesekali mengusap punggung sang istri untuk memastikan Rosa tidak kelelahan.
"Duh, yang lagi syukuran. Auranya beda ya kalau hatinya tenang," goda Bram, kakak Rosa, sambil menyalami Arsen.
"Iya dong, Mas. Berkat doa kalian juga," jawab Arsen mantap.
Acara berlangsung khidmat. Suara lantunan doa menggema di ruang tamu yang luas itu. Arlo, yang kini sudah semakin pintar berbicara, duduk di antara kakek dan neneknya dengan memakai baju koko kecil yang senada dengan Arsen. Dia tampak tenang, seolah mengerti bahwa hari ini adalah hari spesial untuk calon adiknya.
Setelah sesi doa selesai, keluarga besar berkumpul di area taman belakang untuk makan siang bersama. Ayah Arsen dan Ayah Rosa tampak asyik mengobrol di sudut taman, sementara Ibu mereka sibuk membicarakan perlengkapan bayi.
"Arlo, nanti kalau adeknya lahir, mau diajak main apa?" tanya Vino sambil menggendong keponakannya itu.
"Main... bola! Sama adek!" seru Arlo dengan suara cadelnya yang menggemaskan, memancing tawa semua orang.
Arsen merangkul pundak Rosa sambil menatap ke arah Arlo. "Lihat, Sayang. Arlo sudah nggak sabar. Dia benar-benar sudah siap jadi kakak."
Rosa mengangguk, menyandarkan kepalanya di dada Arsen. "Aku merasa sangat beruntung, Sayang. Dari malam hujan itu, sampai hari ini... Tuhan benar-benar menuliskan skenario yang luar biasa buat kita."
"Ini baru permulaan, Sayang" bisik Arsen sambil mengecup kening istrinya. "Kita akan pastikan anak-anak kita tumbuh di lingkungan yang penuh cinta, tanpa ada lagi orang jahat yang bisa mengusik mereka."
Di tengah tawa keluarga besar dan keceriaan Arlo yang berlarian di rumput, Rosa merasakan tendangan halus dari dalam rahimnya. Ia tersenyum, menyadari bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang hidup tanpa masalah, melainkan tentang bagaimana mereka tetap berdiri bersama saat badai menerjang.